
Pagi ini, semua karyawan kantor sedang berkumpul karena ada pengumuman yang akan disampaikan oleh bos mereka. Semua orang bertanya-tanya ada apa sebenarnya mereka dikumpulkan, termasuk Rissa dan teman-temannya.
"Eh Rissa, ini kita kenapa disuruh ngumpul sih?" bisik Cintya.
"Gue juga gak tau," jawab Rissa.
"Lo kan istrinya pak bos, masa lo gak tau sih?" tanyanya lagi.
"Sumpah, gue bener-bener gak tau," balas Rissa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Andi datang dan berdiri didepan semua karyawannya. Mereka yang awalnya berbisik-bisik, langsung terdiam saat bosnya datang.
"Selamat pagi semua," sapa Andi.
"Pagi pak," balas karyawannya serempak.
"Saya tau, kalian pasti bingung kan kenapa saya suruh berkumpul disini?" ucap Andi tegas.
"Iya Pak," jawab mereka serempak juga.
"Jadi gini, saya memang sengaja menyuruh kalian berkumpul karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Andi menunda ucapannya.
Mereka semua melihat kiri dan kanan. Mereka benar-benar bingung sebenarnya ada apa. Mudah- mudahan saja Andi tidak akan mengucapkan kalimat keramat yang paling ditakuti yaitu potong gaji.
"Karena sebentar lagi kalian akan cuti, jadi saya berencana akan mengajak kalian kemping ke puncak," ucap Andi.
Mereka semua sangat terkejut, tumben-tumbenan bosnya ini akan mengajak mereka semua pergi kemping bersama ke puncak dan ini merupakan pertama kalinya Andi mengajak seluruh karyawannya.
"Kalau soal biaya kalian tenang aja, karena semuanya saya yang akan membayar termasuk perlengkapan kemping nanti," jelas Andi.
Mereka semua langsung bersorak gembira mendengar pernyataan dari bosnya. Ini adalah momen yang sangat langka di kantor mereka yaitu pergi kemping plus dibayari oleh bosnya sendiri.
Sementara Rissa dan teman-temannya berbeda. Mereka bukannya gembira ataupun senang, malah ternganga mendengarnya.
"Rissa, ini maksudnya apaan sih? Rencananya kan cuma kita yang bakal pergi, kenapa pak bos malah ngajak semua karyawan?" Protes Cintya.
"Gue juga gak tau, beneran deh." Rissa sendiri juga sangat bingung dengan keputusan Andi tadi.
"Emangnya lo bilang apa sih sama pak Andi waktu lo izin mau ikut kemping?" tanya Fina.
"Sebenarnya... Pas gue izin sama pak Andi, awalnya dia emang gak ngasih gue pergi sendiri, tapi dia harus ikut kemping juga baru gue boleh pergi," jelas Rissa.
"Trus tentang semua karyawan diajak ikut juga, gimana?" tanya Cintya.
"Kalau itu gue beneran gak tau, karena semalam pak Andi juga gak ada bilang apa-apa sama gue tentang ini," jawab Rissa.
"Tunggu, apa gara-gara ada Aldo ya makanya pak bos mau ikut juga?" tanya Fina.
__ADS_1
"Maybe, soalnya semalam dia nanya juga sama siapa-siapa aja gue pergi camping. Trus gue jawab jujur dong, karena gue gak mau bohong dan malah jadi dosa nanti sama dia," jawab Rissa jujur.
Cintya dan Fina hanya menghela nafasnya dengan pasrah. Mereka juga tau kalau bosnya itu cemburu dan posesif karena ada Aldo yang bakal ikut kemping.
Setelah mereka semua bubar dan melanjutkan pekerjaannya masing- masing, Rissa justru datang keruangan Andi untuk meminta penjelasan.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi pak," ucap Rissa sedikit kesal.
"Rissa, tumben kamu pagi-pagi kesini. Ada apa? kamu kangen ya sama saya?" canda Andi.
Rissa tidak menanggapinya, "Saya kesini mau minta penjelasan dari bapak."
"Minta penjelasan apa? Kayaknya saya gak ada salah deh sama kamu?" ucap Andi bingung.
"Kenapa bapak ngajak semua karyawan ikut kemping juga?" tanya Rissa to the point.
"Memangnya salah kalau saya ngajak mereka semua?" tanya Andi.
"Memang gak salah, tapi kenapa bapak gak diskusi dulu sama saya? Bapak malah ngambil keputusan sendiri dan akhirnya semua temen-temen saya jadi marah." Rissa benar-benar kesal dengan Andi.
Andi berdiri dan mengajak Rissa duduk di sofa untuk menjelaskan semuanya. Apa yang dipikirkan Rissa sekarang bukanlah seperti itu, tapi ada maksud dan alasannya juga.
"Rissa saya tau, saya salah karena mengambil keputusan ini secara mendadak. Tapi saya melakukan ini karena ada alasannya juga," ucap Andi dan membuat Rissa langsung menatapnya.
"Kalau saya ikut pergi sama temen-temen kamu itu, pasti mereka bakal curiga tentang hubungan kita. Makanya saya mengajak seluruh karyawan untuk ikut kemping juga, karena saya tau kamu pasti belum siap untuk mengungkapkan hubungan kita yang sebenarnya kepada mereka semua," jelas Andi.
Rissa yang mendengarnya sangat terharu, karena Andi sangat pengertian padanya. Ia memang belum siap untuk mengungkapkan hubungannya kepada seluruh karyawan, cukup teman-teman sajalah yang tau.
Rissa pun reflek memeluk Andi. Ia benar-benar merasa bersalah karena tadi sempat marah kepada suaminya sendiri.
"Maafin saya ya pak, karena tadi saya salah paham dan marah sama bapak," ucap Rissa disaat memeluk Andi.
Andi tersenyum dan mengelus rambut Rissa, "Iya gapapa, saya ngerti kok," lalu Andi mencium kening istrinya.
"Apa yang saya lakukan ini, demi kamu juga. Karena apa? Karena saya sayang sekali sama kamu." Andi mengelus pipi istrinya lembut.
Rissa tersenyum dan kembali memeluk Andi. Ia sangat bahagia saat berada dipelukan suaminya ini, bahkan merasakan kenyamanan yang luar biasa. Suasana seperti ini membuat pasangan suami-istri ini semakin menambah rasa sayang satu sama lain.
"Kalau tau gini, mendingan bapak gak usah saya izinin ikut juga," canda Rissa saat dipelukan Andi.
Andi melepas pelukannya serta tak terima atas ucapan istrinya, "Trus kamu nanti bakalan pacaran sepuasnya gitu sama si Ronaldo itu?"
"Iya," jawab Rissa santai.
Andi langsung menggelitiki Rissa, "Kalo kamu pacaran sama dia, saya hukum kamu."
__ADS_1
"Hahaha... Iya iya, ampun pak." Rissa benar-benar merasa geli saat digelitiki Andi.
Akhirnya Andi berhenti menggelitiki Rissa "Berani kamu bilang lagi bakalan pacaran sama dia?" ancamnya.
"Iya deh... Maaf. Saya gak bakalan pacaran sama dia." Rissa menyerah, kalo gak bakalan digelitii Andi lagi nantinya.
Andi tersenyum senang "Bagus."
"Tapi habis ini saya mau nemuin Aldo buat pacaran di kantor," ucap Rissa dan berlari sebelum digelitiki lagi.
Awalnya saat mendengar itu, Andi ingin menangkap Rissa untuk dihukum lagi. Tapi Rissa udah lari duluan dan Andi pun segera mengejarnya untuk memberikan hukuman yang menyenangkan.
"Ayo dong pak, tangkap saya kalau bisa," ejek Rissa karena Andi belum berhasil menangkapnya.
"Awas kamu ya. Kalau kamu berhasil saya tangkap, saya hukum kamu sampai minta ampun," ancam Andi sambil becanda.
Mereka terlihat seperti anak kecil yang sedang berebut permen, lalu saling mengejar. Ruang kerja milik Andi memiliki ukuran cukup luas, ditambah lagi ruangannya ini selalu terlihat bersih dan rapi.
"Coba aja kalau bisa." Rissa berlari sejauh mungkin dari Andi. Sampai Akhirnya, ia berhasil ditangkap oleh suaminya.
"Akhirnya saya berhasil menangkap istri saya yang jahil sama suaminya ini." Andi menggendong Rissa ala bridal style dan membawanya ke sofa.
"Oke. Karena saya berhasil menangkap kamu, hukuman apa ya yang cocok saya kasih untuk kamu?" Andi mendekatkan wajahnya ke Rissa.
Rissa berusaha untuk lepas dari Andi, tapi apalah daya. Kekuatan pria itu jauh lebih besar dibandingkan dengan dirinya.
"Kamu gak akan bisa lari lagi Rissa. Meskipun nanti kamu lari, paling nanti saya tangkap juga," ucap Andi.
"Yaudah deh maaf. Sekarang bapak lepasin saya ya," pinta Rissa.
"Nggak, sebelum kamu saya kasih hukuman." Andi kembali menggelitiki Rissa hingga membuat sang empu tertawa geli.
Mereka sama-sama tertawa. Satu tertawa karena geli, satu lagi tertawa bahagia karena berhasil menghukum istrinya. Hukuman dari suaminya memang tidak main-main, bahkan jauh berbeda dari sebelumnya.
"Ampun pak... Saya nyerah," kali ini Rissa benar-benar menyerah dan Andi menghentikannya.
"Kalau kamu berani bikin saya cemburu lagi, saya akan hukum kamu lebih dari ini," ancam Andi.
"Iya Pak Andi... Saya janji gak bakal bikin bapak cemburu lagi," balas Rissa.
"Good." Andi mengelus pipi Rissa lembut dan menciumnya penuh sayang.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like, fav dan voment ya!
__ADS_1