
Pukul 6 pagi, Andi sudah bangun dari tidurnya. Ia bersyukur semalam tidurnya nyenyak tanpa ada gangguan dan gak ditendang Rissa lagi.
Ia melirik Rissa yang masih tertidur disampingnya. Tanpa pikir panjang, Andi langsung berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Andi melihat Rissa yang masih tertidur. Ia berjalan ke arah Rissa, berniat untuk membangunkannya.
"Rissa bangun kamu," ucapnya sambil menggoyang pelan lengan Rissa.
"Hmm... Lima menit lagi," ucap Rissa dengan mata masih tertutup.
"Kamu ini ya." Andi mulai frustasi melihat Rissa yg susah dibangunin.
"Lima menit lagi pak." Rissa masih menutup matanya.
"Awas kamu kalau terlambat ke kantor," ucap Andi kesal.
"Hmmm." Rissa melanjutkan tidurnya dan menyambung mimpinya yg tertunda tadi.
Andi menyerah membangunkan Rissa, baru kali ini ia bertemu dengan perempuan yang susah dibangunin.
Daripada pusing melihat Rissa, Andi segera bersiap-siap ke kantor dan sudah terlihat rapi, ditambah lagi dengan stelan jas nya yang membuat ia semakin gagah dan tampan.
Sebelum ia keluar dari kamar, ia melirik Rissa yang masih tertidur pulas. Andi yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah dan sarapan. Setelah selesai sarapan, Andi bergegas pergi ke kantor
Sementara Rissa yang masih tertidur, tiba-tiba terusik dengan sinar matahari yang mengganggu tidurnya.
"Jam berapa sih sekarang?" ucapnya dengan nyawa yang belum penuh alias masih setengah dan mata masih setengah watt. Saat ia melihat jam didinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit.
"Mampus gue.... gue telat!!!" Rissa langsung melotot dan secepat kilat ia berlari ke kamar mandi dan mandi asal basah alias mandi bebek.
Belum ada lima menit, ia sudah selesai mandi dan cepat-cepat menyisir rambutnya serta memakai bedak. Setelah selesai semuanya ia segera turun ke bawah.
"NYONYA SARAPAN DULU!!!" teriak salah satu maid. Tetapi Rissa tidak menghiraukannya dan berlari saja seperti orang dikejar setan.
Sampai dimobil, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena ia takut kalau Andi tau ia terlambat, Andi pasti akan mengamuk dan menghukumnya.
Sesampainya di kantor, ia segera berlari masuk ke kantor. Akhirnya ia sampai juga dimeja kerjanya dengan selamat. (Tapi hanya sementara)
"Wihh... Cepet banget lo datang. Kita udah mau pada pulang." ejek Cintya.
"Berisik lo," Kesal Rissa, sedangkan Cintya hanya terkekeh.
"Kok lo bisa telat sih Rissa?" tanya Fina.
"Gue... Gue kesiangan," ucapnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Eh, si muka tembok mana?" tanya Rissa.
"Ada di ruangannya," Jawab Fina.
"Trus dia tadi kesini gak? Atau dia nanyain gue gitu?" tanya Rissa lagi.
"Enggak kok, pak Andi dari tadi di ruangannya aja," jawab Cintya.
"Syukur deh, untung dia gak tau kalo gue telat, kalau gak dia pasti bilang gini. Rissa kenapa kamu bisa terlambat hah? Karena kamu terlambat saya potong gaji kamu," ucapnya dengan menirukan suara dan gaya Andi.
Sementara teman-temannya yang melihat gaya Rissa hanya tertawa terbahak-bahak. Sampai tiba-tiba Cintya dan Fina berhenti tertawa karena orang yang mereka bicarakan ada dibelakang Rissa, namun Rissa tidak menyadarinya.
"Hahaha... Emang dasar ya si muka tembok, bisanya cuma ngancem orang potong gaji aja." Rissa terus mengoceh, padahal teman-temannya sudah memberinya kode.
"Siapa yang kamu bilang muka tembok?" ucap Andi dibelakang Rissa.
__ADS_1
Rissa terkejut dan langsung melotot karena tiba-tiba ada Andi dibelakangnya. Posisi Andi saat ini adalah sedang berdiri tepat dihadapan Rissa sambil melipat kedua tangannya, Tatapan Andi sangat tajam seakan ingin memangsa seseorang
"Ehh, bapak," ucapnya sambil cengir.
"Bagus ya... Udah kamu terlambat, sekarang kamu malah gosipin saya," ucap Andi dengan senyum sinis.
"Emang saya bilang apa pak?" ucapnya polos tak berdosa.
"Kamu ini ya, Sekarang kamu ikut keruangan saya, cepat," ucap Andi dan langsung pergi ke ruangannya.
"Duhh... Gimana nih? Elo juga kenapa gak bilang sih kalau ada muka tembok dibelakang gue tadi." Rissa mulai panik.
"Kita udah kasih lo kode tadi, tapi lo aja yang gak peka," jelas Cintya.
"Aduh... Tamatlah riwayat gue." Rissa hanya bisa pasrah dan berdoa semoga ia tidak diberi hukuman berat.
"Udah, mendingan lo keruangan pak Andi sekarang. Entar dia makin marah lagi sama lo," ucap Fina.
"Haha haha... mampus kan lo, dimarahin." ejek Cintya.
"Kampret lo," ucap Rissa dan langsung pergi menuju ruangan Andi.
Sampai didepan pintu, Rissa ragu-ragu untuk mengetuk pintu ruangan Andi. Tetapi lama-kelamaan ia mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi pak," Ucapnya sopan padahal aslinya, jantungnya sudah mau copot.
"Sini kamu," perintah Andi agar Rissa mendekatinya.
Rissa berjalan ke arah Andi dengan perasaan takut. Sementara Andi berjalan mendekati Rissa dengan melipat kedua tangannya dan mengelilingi Rissa.
"Kenapa kamu terlambat?" tanya Andi dengan nada yang masih rendah.
"Maaf Pak," ucap Rissa pelan.
"Maaf?? Itu bukan jawaban yang saya mau. Saya tanya sekali lagi, kenapa kamu terlambat Larissa Adriana," kali ini Andi menyebut nama Rissa dengan lengkap, yang artinya dia sedang marah.
"Saya kesiangan pak," jawab Rissa dengan perasaan takut.
"Kesiangan? Bukannya tadi saya sudah membangunkan kamu? kamu tau kan kalau saya paling gak suka orang yang terlambat datang ke kantor saya," ucap Andi tegas.
"Jangan mentang-mentang kamu itu istri saya, jadi kamu bisa bebas dan suka-suka masuk jam kantor," nada bicara Andi mulai meninggi.
"Maaf pak," ucap Rissa menunduk.
Andi menarik nafas panjang dan berusaha sabar menghadapi istrinya. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa supaya istrinya ini jerah. Sebenarnya kalau Andi sudah marah apalagi menyangkut salah satu karyawannya datang terlambat ke kantor, ia tidak akan segan-segan untuk memotong gaji sebesar dua puluh persen.
"Oke, saya maafin kamu. Tapi bukan berarti kamu bebas hukuman dari saya," ucap Andi.
Rissa mengernyitkan dahinya, "Maksud bapak?"
"Karena kamu terlambat, saya mau kamu bersihkan seluruh ruangan di kantor saya," jelas Andi.
Rissa langsung melotot mendengar ucapan Andi. "Hah, gak salah pak?" tanyanya.
"Kenapa? Kamu keberatan? Atau kamu masih mau saya kasih hukuman lagi?" Andi mulai kesal lagi.
"Jangan dong pak," ucap Rissa memohon.
"Yaudah kerjakan tugas kamu dan bersihkan ruangan saya sekarang." Andi langsung berjalan ke arah meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
Rissa mulai membersihkan ruangan Andi, mulai dari menyapu, mengelap meja dan buku-buku. Kalau saja yang di depannya ini bukan bosnya, ia pasti akan melempar orang tersebut dengan sapu.
"Nih lagi belum bersih," ucap Andi yang menyuruh Rissa membersihkan kembali lantai di bawah mejanya.
Rissa langsung menyapu bawah meja Andi dan sengaja menyapu kasar kaki Andi. Padahal lantai ini sudah bersih kinclong tapi bosnya ini memang sengaja mengerjainya.
BERASA KAYAK PEMBANTU DEH GUE JADINYA.
"Kalo nyapu itu yang bener," Protes Andi.
"Maaf pak," ucap Rissa terpaksa.
Setelah selesai menyapu, rissat mulai mengepel ruangan. Sementara Andi sedang menelepon dan mondar-mandir berjalan hingga membuat lantai kotor lagi.
Ni orang sengaja ya ngerjain gue. Gue siram juga lo lama-lama pake air pel ini. Kalo kayak gini kapan gue selesainya, batinnya mengeluh.
Setelah semuanya beres dan bersih, Rissa berjalan ke arah meja Andi untuk laporan. Semoga saja sehabis ini Rissa boleh kembali ke meja kerjanya. Baru membersihkan ruangan satu ini saja sudah membuatnya capek setengah mati.
"Pak, ruangan bapak sudah saya bereskan dan bersih semua," ucap Rissa.
Andi memperhatikan sekelilingnya, memastikan semuanya benar-benar bersih. Ternyata istrinya ini cukup pandai dalam mengurus dan merapikan ruangannya. Andi sendiri memang tipe orang yang paling benci dengan hal kotor apalagi berantakan.
"Bagus, sekarang saya mau kamu buatkan saya minuman coklat hangat," perintah Andi.
Rissa yang awalnya senang, malah jadi murung lagi karena mendengar perintah dari Andi. Sepertinya hukumannya hari ini akan semakin bertambah. Ini sih namanya bukan hukuman melainkan penyiksaan.
"Tunggu apa lagi, cepat sana," Andi tidak suka kalau perintahnya lama dilakukan.
"Dasar muka tembok nyebelin, bisanya cuma nyuruh aja," Gumamnya namun bisa didengar oleh Andi.
"Saya dengar Rissa," sahut Andi dengan mata yang fokus menatap laptopnya.
"Bodo amat." Rissa langsung pergi dan membanting pintu dengan kuat.
BRAKKK!!!
Andi yang melihat tingkah istrinya bukannya marah, malah terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Menjahili Rissa adalah hal yang menyenangkan baginya. Mungkin mulai sekarang, menjahili istrinya sendiri adalah hobi barunya.
Rissa berjalan dengan kesal dan akhirnya sampai didapur kantor. Ia pun langsung minum dan entah sudah berapa gelas air yang dihabiskan.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya salah satu OB kantor.
"Mas, tolong buatin coklat hangat ya. Trus nanti mas anterin ke ruangannya muka tem.. ehh, maksudnya pak Andi," hampir saja ia keceplosan menyebut Andi dengan muka tembok.
"Oh iya, Segera saya siapkan."
"Satu lagi mas, nanti tolong bilang sama pak arsen kalau minuman ini saya yang buat ya," pinta Rissa.
"Kenapa gak mbak aja yang nganterin langsung?" tanya OB itu.
"Saya mau bersihkan seluruh ruangan di kantor ini mas. Soalnya saya lagi dihukum sama pak Andi," jelasnya.
"Ohh... Gitu. Yaudah deh mbak, nanti saya sampaikan,"
"Makasih ya mas," ucap Rissa dan OB itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!.
__ADS_1