
Saat ini, Rissa dan Andi sedang menyiapkan persiapan untuk pergi kemping. Mulai dari baju, jaket, syal, sepatu, sarung tangan dll.
Kalau soal kemping, Rissa cukup berpengalaman makanya ia tau segala kebutuhan apa saja dan barang-barang penting apa saja yang wajib dibawa. Rissa adalah mantan anak pramuka waktu sekolah dan setiap ada acara kemping, ia pasti tidak pernah absen.
Berbeda sekali dengan Andi yang sama sekali tidak pernah berpengalaman ikut kemping. Saat masih sekolah dulu, orang tuanya selalu melarangnya ikut kemping dengan berbagai alasan, mengingat bahwa ia adalah anak satu-satunya serta pewaris kebanggaan keluarganya. Kalau bukan karena istrinya, mungkin ia tidak akan pernah kemping seumur hidupnya.
"Rissa," Panggil Andi.
"Hmm." Rissa hanya berdehem karena ia sedang sibuk menyiapkan pakaian mereka berdua.
"Nanti kita kesana naik apa?" tanya Andi.
"Ya naik bus la, masa naik odong-odong," jawab Rissa.
"Kenapa gak naik mobil aja sih?" tanya Andi dan menghampiri Rissa.
Rissa menghela nafasnya dan menatap Andi, "Kita ini kan perginya rombongan pak, tapi kalau kita cuma pergi berdua baru naik mobil."
"Yaudah deh... Saya telfon Ryan dulu, biar dia yang ngurus semuanya." Andi mengambil handphone disakunya untuk menghubungi Ryan.
"Hallo Ryan."
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong kamu urus semua persiapan kemping kantor kita, termasuk bus nya juga."
"Iya Pak, hari ini juga akan saya siapkan semuanya."
"Hmm, makasih ya."
"Sama-sama Pak."
Andi mengakhiri panggilannya dengan Ryan, tangan kanannya.
"Ryan itu siapa, pak?" tanya Rissa.
"Ryan itu adalah tangan kanan saya, dan saya juga udah lama kenal dengan dia sejak SMP," jawab Andi.
"Berarti Ryan itu sahabat bapak juga?" tanyanya lagi.
Andi mengangguk "Iya."
"Emangnya dia bisa menyiapkan semua persiapan kemping dalam satu hari?" tanya Rissa ragu.
"Bisalah, kamu jangan sepele sama dia. Bahkan saya pernah keluar kota mendadak dan dia bisa menyiapkan semuanya hanya dalam satu hari." jelas Andi.
Rissa mengangguk paham dan melanjutkan kegiatannya menyiapkan barang-barang mereka, serta memastikan bahwa semuanya sudah lengkap. Ia juga sempat berpikir kalau besok adalah hari yang menyenangkan dan paling ditunggu-tunggu dalam hidupnya.
Setelah semuanya selesai, Rissa menghembuskan nafasnya lega. Ia pun segera naik ke ranjang king size untuk beristirahat, lalu setelah itu disusul Andi.
"Bapak pernah kemping nggak sebelumnya?" tanya Rissa.
"Belum pernah, ini pertama kalinya saya pergi kemping," jawab Andi..
"Masa sih pak?" Rissa tidak percaya dengan jawaban Andi.
"Iya bener, ini memang pertama kalinya saya pergi kemping," jawabnya lagi.
"Oke, karena ini pertama kalinya bapak kemping, saya jamin pasti nanti bakalan seru dan buat bapak ketagihan," ucap Rissa.
"Kalau saya sih... Yang penting ada kamu di samping saya, itu udah cukup dan buat saya bahagia," goda Andi.
"Hmm, mulai deh gombalnya. Udah deh, daripada dengerin gombalan receh bapak, mending saya tidur," awalnya Rissa tidur membelakangi Andi, tapi Andi menarik Rissa menghadapnya dan memeluknya.
__ADS_1
"Kamu jangan pernah tidur membelakangi suami kamu yang ganteng ini," bisik Andi ditelinga istrinya.
Rissa hanya pasrah dipeluk Andi tanpa bisa berkata dan berbuat apapun. Kalau tidak menuruti perkataan suaminya ini, maka bersiaplah mendapat hukuman.
"Good night my wife," ucap Andi dan mencium pipi istrinya.
Keesokannya, Rissa beserta para karyawan sudah berkumpul di luar kantor, menunggu bos mereka memberikan arahan. Semuanya sudah siap siaga dan bisa dipastikan seratus persen.
Mereka semua benar-benar bersemangat untuk pergi kemping bersama plus gratis. Kejadian seperti ini sangat jarang terjadi, bahkan bisa dikategorikan langka.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bos mereka menampakkan batang hidungnya dan saat ini sudah berdiri dihadapan para karyawan. Gaya Andi sangat berbeda dari biasanya karena sekarang, bos killer ini sedang memakai kaus warna biru bertuliskan khusus, begitu juga dengan yang lainnya.
"Oke, dengar semuanya. Bagi kalian yang membawa kendaraan, kalian parkiran saja di parkiran kantor kita dan tenang saja, kendaraan kalian akan aman semuanya," jelas Andi sebelum mereka semua berangkat.
Mereka semua melakukan sesuai perintah dari bosnya untuk memarkirkan kendaraan di parkiran kantor. Kalau soal keamanan, tidak usah diragukan lagi. Semuanya dijamin aman dan tak jarang pula, para karyawan disini sering menitipkan kendaraannya.
Rissa hanya berdiri saja tanpa melakukan apapun karena saat ia datang ke kantor, ia pergi bersama suaminya. la sedang memainkan handphonenya sendirian, sementara teman-temannya tidak tau ada dimana.
"Hai tuan putri," ucal Aldo dibelakang Rissa dan membuatnya cukup terkejut. "Aldo, kamu ini ngagetin aja sih?" Rissa cukup kesal juga dengan Aldo.
"Iya deh, maaf tuan putri Rissa yang cantik. Pangeran ini tadi gak bermaksud buat ngagetin kamu," candanya.
"Iya, aku maafin deh pangeran kodok ini," tambah Rissa.
Mereka berdua saling tertawa bahagia dan hal itu dilihat oleh Andi. Andi sendiri tidak bisa diam melihat istrinya tertawa dengan lelaki lain. Ia pun langsung menghampiri mereka dengan perasaan yang campur aduk, tapi lebih besar rasa cemburunya.
"Ekhem, kalian berdua mau naik ke bus apa ketawa aja disini?" ucap Andi sedikit kesal.
"Maaf pak," ucap Aldo.
"Yaudah sana naik ke bus sekarang," Perintah Andi.
"Yuk Rissa, kita naik ke bus," ajak Aldo dan memegang tangan Rissa.
Andi semakin panas saat melihat Aldo memegang tangan istrinya di depan matanya. Aldo merupakan masalah besar baginya dan kalau saja tidak banyak orang disini, Andi pasti akan mematahkan tangan Aldo detik ini juga.
"Loh, emangnya kenapa pak?" tanya Aldo bingung.
"Kita semua itu mau pergi kemping, bukan untuk pacaran," tegas Andi.
Rissa hanya bisa tersenyum geli melihat Andi yang sedang terbakar api cemburu. Ia hanya bisa menyembunyikan rasa gelinya. Kalau mereka hanya berdua disini, pasti Rissa akan mencubit suaminya yang posesif serta cemburuan ini.
"Asal kamu tau ya, Rissa itu--
"Eh, udah-udah... Kenapa bapak sama Aldo jadi berantem sih? Daripada kalian berantem, mendingan kita langsung naik aja ke bus," ucap Rissa yang mencegah perang besar terjadi.
Rissa pergi meninggalkan mereka berdua. Untung aja tadi Andi tidak sempat mengucapkan kalau dia adalah istrinya. Kalau tidak, ia bersumpah tidak akan mau lagi bicara dengan suaminya yang menyebalkan.
Sampai di dalam bus, Rissa melihat kedua temannya yaitu Cintya dan Fina yang sudah duduk manis di bangku bus tersebut. Pantas saja dari tadi dicariin gak ada, ternyata mereka sudah tenang-tenang disini.
"Rissa, sini duduk di depan kita." Fina menunjuk bangku di depannya.
"Trus gue duduk sama siapa dong?" keluh Rissa.
"Kamu duduk sama aku aja Ris," ucap Aldo yang baru datang.
"Gak bisa, Rissa harus duduk sama saya," ucap Andi tak mau kalah.
"Gak bisa gitu dong pak, kan saya duluan tadi yang mau duduk sama dia," balas Aldo.
"Pokoknya Rissa harus duduk sama saya. Titik," tegas Andi.
Rissa dan kedua temannya hanya bisa diam melihat Andi dan Aldo bertengkar memperebutkan duduk satu bangku dengannya. Situasi seperti ini sangat menyulitkan dan benar-benar membuat pusing. Diantara lelaki ini tidak ada yang mau mengalah ditambah lagi egois demi memperebutkan satu wanita.
__ADS_1
"Daripada bapak sama Aldo berantem, mending Rissa duduk sama Fina aja dan saya duduk sama pacar saya," ucap Cintya.
"Iya bener tuh, kalau gitu saya langsung duduk aja ya sama Rissa." Fina pindah ke tempat duduk Rissa.
"Trus saya sama siapa?" tanya Andi.
"Bapak duduk sama Aldo lah," jawab Rissa.
"Tapi Rissa---
"Ayolah pak... jangan buat keributan disini, kan gak enak dilihat semua karyawan bapak," bujuk Rissa.
Andi mengalah demi permintaan istrinya untuk duduk berdua bersama Aldo. Padahal sebelumnya, ia sudah membayangkan duduk berdua dan bermanja dengan istrinya tercinta.
Kalau tau gini, mending dari awal saya kasih tau aja ke semuanya kalau Rissa itu sebenernya istri saya, batinnya.
"Kamu duduk dekat jendela aja," Perintah Andi ke Aldo.
"Kok saya sih pak?" protes Aldo
"Karena saya ini bos kamu, jadi kamu harus nurutin perintah saya," tegas Andi.
Mau tidak mau, Aldo pun akhirnya duduk di dekat jendela. Ia juga tidak mau jika harus berdebat lagi dengan bosnya ini karena hal sepele.
Andi sengaja menyuruh Aldo duduk di dekat jendela, karena Rissa duduk di sampingnya walaupun bersebrangan.
Beberapa menit kemudian, bus mereka pun berangkat untuk menuju ke puncak. Andi hanya menyandarkan kepalanya dan melirik Rissa yang sedang sibuk dengan handphone di tangannya. Lalu Andi mengambil handphonenya juga untuk mengirim pesan.
(Pesan masuk)
Muka Tembok
Rissa, saya maunya duduk sama kamu.
Rissa tersenyum geli melihat isi pesan Andi, Ia pun segera membalas pesan tersebut.
My Wife Rissa
Udah bapak duduk manis aja sama Aldo. Lagian kan saya gak jauh dari bapak..
Andi melihat balasan pesan dari istrinya.
Menurutnya Rissa tidak mengerti bagaimana perasaannya sekarang.
Muka Tembok
Tapi saya gak bisa peluk kamu dan bersandar sama kamu.
Rissa menggelengkan kepalanya karena melihat Andi yang manja.
My Wife Rissa
Udah deh gak usah lebay, nanti saya marah loh sama bapak.
Rissa memang paling tau ancaman apa yg paling bisa membuat Andi langsung diam.
Muka Tembok
Yaudah, saya bakal duduk manis disini demi permintaan istri saya yang cantik ini. I love you..
Rissa merasa lega karena akhirnya Andi tidak rewel lagi seperti anak kecil.
To be continued...
__ADS_1
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like, fav dan voment ya!