COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Andi cemburu


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam, tapi sampai sekarang Rissa belum tidur juga dan matanya masih melek. Rissa sedang memikirkan sesuatu, mulai dari memikirkan Andi yang sifatnya susah ditebak dan memikirkan perkataan sahabatnya apakah Andi mencintainya.


Sebenarnya Rissa ingin menanyakan hal tersebut kepada Andi, tapi dia masih ragu-ragu. Ia melirik Andi yang berbaring disebelahnya. Rissa pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Pak," panggilnya.


"Hmm." Andi berdehem sambil memejamkan matanya.


"Bapak udah tidur belum?" tanyanya.


"Udah," jawab Andi.


Rissa mengernyitkan dahinya, "Udah tidur tapi bisa ngomong."


Andi diam dan tidak menanggapi ucapan Rissa. Entah mengapa kali ini Andi jadi ikutan tidak bisa tertidur pula padahal biasanya, paling lama ia akan tertidur di jam sepuluh malam. Posisi Andi saat ini sedang tidur membelakangi Rissa sambil menatap ke arah dinding kamar.


"Pak." Rissa kembali memanggil Andi.


"Apa Rissa?" Andi masih berusaha memejamkan matanya. Ia tidak bisa tidur tenang karena setiap mau tidur, Rissa selalu mengganggunya.


"Gak jadi deh." Rissa masih ragu untuk menanyakan perasaan Andi padanya.


"Aneh," gumam Andi.


"Pak, saya mau nanya." Rissa menganggu tidur Andi lagi.


"Saya mau tidur Rissa, dari tadi kamu manggil saya terus." Andi mulai kesal.


"Maaf Pak, tapi saya mau nanya sesuatu." Rissa memberikan diri untuk bertanya.


"Tanya apa?" sahut Andi.


"Bapak cinta gak sama saya?" tanya Rissa to the point.


Andi jadi melek lagi karena mendengar pertanyaan Rissa, bahkan posisinya berubah jadi menghadap ke istrinya. Kenapa tiba-tiba istrinya ini menanyakan hal tersebut? Apakah Rissa tidak bisa menebak dari sikap Andi selama ini yang selalu dingin, cuek, bahkan tidak peduli padanya?


"Apa kamu bilang?" tanya Andi, ia memastikan kalau ia tidak salah dengar.


"Saya tanya, bapak cinta nggak sama saya?" Rissa kembali mengulang pertanyaannya.


"Nggak," jawab Andi singkat.


Rissa pun sempat murung mendengar jawaban Andi. Apakah cintanya bertepuk sebelah tangan? Ya enggak lah... Rissa juga gak cinta sama Andi. Ia kan hanya sekedar bertanya saja, bukannya mengharap cinta dari seorang pria kaku seperti Andi.


"Bener nih bapak nggak cinta sama saya?" tanyanya lagi.


"Hmm," balas Andi.


"Tuh kan bener tebakan gue, kalo muka tembok itu orangnya susah ditebak," gumamnya pelan.


"Kalau saya punya pacar, bapak cemburu nggak?" Rissa sengaja bertanya itu untuk memancing Andi.


"Nggak," jawab Andi.


"Bener nih Pak?" godanya.


"Iya," balas Andi.


"Berarti saya boleh pacaran dong pak?" entah kesurupan setan mana, sehingga Rissa berani mengucapkan hal tersebut.

__ADS_1


"Terserah," balas Andi.


"Tapikan pak


"Udah deh Rissa, saya mau tidur. Mendingan sekarang kamu tidur juga, besok kan harus kerja," setelah mengucapkan itu, Andi langsung membelakangi Rissa dan tidur.


Rissa kesal dengan Andi karena ia belum selesai berbicara tadi. Mau tidak mau, ia pun tidur juga sambil memikirkan rencananya untuk mengetes Andi besok. Mudah-mudahan saja rencana manisnya ini berjalan dengan baik sesuai skenarionya.


Keesokannya setelah selesai sarapan, Rissa dan Andi berada di garasi mobil untuk bersiap berangkat ke kantor. Tapi saat Rissa menstarter, mobilnya tidak mau hidup.


"Duhh... Kenapa nih mobil gue?" Paniknya saat keluar dari mobil. Andi yang hendak masuk kedalam mobil, melihat Rissa sedang panik dan langsung menghampirinya.


"Kamu kenapa Rissa?" tanya Andi. "Ini pak, mobil saya gak bisa hidup waktu di starter," jawab Rissa.


"Terakhir kali kamu bawa mobil ke bengkel kapan?" tanya Andi.


Rissa berpikir "Emm... Saya udah lupa pak. Karena biasanya yang bawa mobil saya ke bengkel itu bang Tio."


"Yaudah, kamu ke kantor sama saya aja," ajak Andi.


"Eh, gak usah pak. Saya bisa telepon pacar saya kok untuk jemput saya." Rissa mulai menjalankan rencananya dan menelfon Aldo.


"Halo Aldo."


"Iya tuan putri, kenapa?"


"Kamu bisa jemput aku gak? Mobil aku mogok nih."


"Yaudah aku jemput kamu dimana?"


"Kamu jemput aku disimpang empat dekat rumah sakit ya."


"Oke, makasih ya..bye." Rissa memutuskan panggilannya.


"Saya jalan dulu ya pak, pacar saya udah nunggu disimpang." Rissa pergi berjalan ke simpang empat yang ia janjikan tadi. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.


Sambil menunggu Aldo, Rissa duduk di kursi terminal bus kota. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Aldo datang dan keluar dari mobilnya menghampiri Rissa.


"Hai, selamat pagi tuan putri," candanya.


Rissa tersenyum "selamat pagi juga."


"Yaudah yuk kita langsung berangkat aja." Aldo membukakan pintu mobil untuk Rissa. Sementara mereka tidak tau kalau mobil Andi ada dibelakang.


Selama didalam mobil, Rissa dan Aldo


terus bercerita sambil bercanda. Kalau ia satu mobil dengan Andi, pasti kejadian seperti ini mustahil terjadi. Tau sendiri kan kalau si muka tembok adalah orang yang irit ngomong dan jarang menjawab pertanyaan Rissa. Tiba-tiba Rissa tidak sengaja melihat dari spion bahwa mobil Andi sedang mengikutinya.


Rasain lo... Emang enak gue kerjain! Hahaha, batinnya.


Sampai diparkiran kantor, mobil Aldo dan Andi sama-sama berhenti. Aldo yang melihat bosnya, langsung tersenyum dan menyapanya. Aldo adalah orang yang ramah terhadap siapapun serta berbanding terbalik pula dengan Andi.


"Selamat pagi pak," sapa Aldo sementara Andi hanya mengangguk dan berjalan masuk ke kantor mendahului mereka.


"Ngapain sih kamu nyapa dia segala? Kayak gak tau aja dia gimana." Rissa cukup kesal kepada Aldo.


Aldo tersenyum "Ris... Walaupun dia sifatnya kayak gitu, kita tetap harus sopan. Kan dia bos kita."


"Iya deh. Yaudah yuk kita masuk aja," ajak Rissa.

__ADS_1


Sampai saat ini Rissa masih jadi sekretaris sementara Andi, karena Dina si nenek sihir belum bisa datang ke kantor. Jadi pagi ini Rissa harus melaporkan jadwal kegiatan Andi dan dokumen penting.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak. Saya mau menyerahkan dokumen ini dan harus bapak tandatangan sekarang," ucap Rissa. Andi mengambil dokumen tersebut dan membacanya lalu menandatanganinya. Semenjak kejadian miris beberapa jam lalu, Andi jadi banyak diam kepada Rissa. Entah karena kesal atau karena cemburu, yang pasti Rissa telah berhasil mempengaruhi pikirannya.


"Hari ini bapak akan meeting dengan klien yang datang dari Bali. Nanti kalau sudah ada info lanjut tentang klien bapak, saya akan kasih tau," jelas Rissa dan Andi mengangguk.


Dari sikap dan raut wajah Andi, Rissa bisa menebak kalau rencananya sudah hampir berhasil. Sekarang, kita lihat dan tunggu saja bagaimana kelanjutannya nanti.


Tepat pukul 10.00 pagi, klien Andi yang dari Bali akhirnya datang. Kliennya kali ini akan membahas tentang proyek Andi serta tentang pembangunan cabang perusahaannya di Bali nanti.


Tok! Tok! Tok!


"Maaf Pak, klien bapak sudah datang dan menunggu di ruang meeting," ucap Rissa.


Andi pun pergi menemui kliennya yang sudah menunggu di ruang meeting. Kali ini ia harus bisa mengendalikan pikirannya setelah itu, ia akan membicarakannya dengan Rissa.


Meeting hari ini berjalan selama tiga jam dan Andi juga bersyukur karena ia bisa fokus serta bisa mengendalikan pikirannya dengan baik. Rasanya, dirinya ini tiba-tiba saja berubah dari biasanya akibat istrinya sendiri.


Sekarang waktunya adalah jam makan siang, Andi biasanya makan siang bareng Rissa. Jadi ia mendatangi meja kerjanya. Saat akan kesana, ia sempat menerbitkan senyum diwajahnya walaupun hanya senyuman tipis.


Tapi saat sampai disana, ia melihat Rissa sedang makan sambil disuapi Aldo yang katanya adalah pacar Rissa. Senyumannya yang tadi pun langsung luntur dan sepertinya hatinya menjadi panas saat melihat pemandangan menyakitkan. Apakah saat ini Andi benar-benar cemburu?


"Eh pak Andi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rissa saat baru mengetahui keberadaan Andi.


"Saya kesini cuma mau bilang, tolong kamu periksa lagi laporan pemasukan dan pengeluaran kantor." Andi sengaja berbohong padahal tujuan sebenarnya bukanlah ini.


Rissa menganggukkan kepalanya, "Iya Pak, nanti saya periksa lagi laporannya."


Andi pergi dan kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya. Rissa tau kalau tujuan Andi tadi kesini bukan untuk membahas kerjaan, tapi untuk mengajak makan siang. Tapi ia tidak peduli, karena memang inilah rencananya.


Andi tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya, karena ia terus memikirkan Rissa. Ia juga bingung dengan dirinya sendiri sampai akhirnya, ia hanya bisa melamun sekarang. Karena melamun, ia tidak sadar kalau Rissa ada didepannya.


"Pak," Panggilnya dan Andi tersentak kaget.


"Kenapa kamu gak ketuk pintu Rissa?" Andi cukup kesal karena Rissa telah mengganggunya.


"Saya udah ketuk pintu berkali-kali tapi bapak aja yang gak dengar," ucap Rissa.


Andi menghela nafas sambil memejamkan matanya, "Jangan dekati dia," ucap Andi tiba-tiba.


"Apa pak?" tanya Rissa bingung.


"Enggak, Saya gak bilang apa-apa." Andi mengelak.


Rissa tersenyum jahil,


"Tapi tadi kayaknya bapak ngomong sesuatu deh," godanya.


"Enggak, kamu pasti salah dengar tadi." Andi kembali mengelak.


Ada apa dengan saya sebenarnya? kenapa saya jadi salah tingkah didepan Rissa? Apa saya cemburu sama dia? Gak, gak, gak, mana mungkin saya cemburu sama pacar Rissa itu. Orang saya jauh lebih ganteng, batinnya.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like dan voment ya!

__ADS_1


__ADS_2