
Saat ini Rissa benar-benar kesal kepada Andi karena merasa telah ditipu dan semangatnya sudah luntur gara-gara 'hadiah' tadi. Bayangkan saja, masa orang udah capek-capek kerja serta di embel-embel dapat hadiah, malah hadiahnya membuat semangat luntur seketika.
Dasar muka tembok php, muka tembok sialan. Nyesel gue nerima jadi sekretaris sementara dia tadi. Kalo aja bunuh orang itu gak dosa, udah gue bunuh sekarang dia, batinnya kesal.
"Nih mbak, sudah saya fotocopy semua file nya," ucap pemilik fotocopy.
"Oh iya mas, nih uangnya. Makasih ya." Rissa tak lupa juga untuk membayarnya.
"Iya mbak sama-sama."
Selesai mem-fotocopy file yang disuruh Andi, Rissa kembali ke kantornya dengan perasaan yang campur aduk, mulai dari kesal, marah dan capek.
Karena saking kesalnya, Rissa masuk ke ruangan Andi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung saja menerobos masuk.
"Nih, udah saya fotocopy semua file yang bapak suruh dan mulai sekarang saya gak mau jadi sekretaris sementara bapak lagi." Rissa langsung pergi meninggalkan Andi dan menutup pintunya kasar alias dibanting.
BRAKK!!!
Sementara Andi yang melihat Rissa sedang kesal kepadanya, hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk menjahili istrinya tapi memang Rissa sendirilah yang tidak sabaran atas maksudnya.
"Rissa... Rissa. Lucu juga kamu, dasar ngambekan." Andi kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kekesalannya pada Andi karena telah menjadi korban php, membuat Rissa semakin benci kepada Andi. Kalau aja ada laut terdekat disini, Rissa pasti akan menenggelamkan Andi sekarang juga.
Sahabatnya yang melihat Rissa datang dan sedang kesal, langsung menghampirinya. Seperti biasa, mereka akan kepo dan bertanya ada apa sebenarnya dengan Rissa setelah ia keluar dari ruangan bosnya.
"Rissa lo kenapa? Kok muka lo kayak lagi kesal gitu?" tanya Fina.
"Emang gue lagi kesal," ketusnya.
"Biar gue tebak. Lo pasti lagi kesal sama pak Andi kan," ucap Cintya.
"Iyalah, siapa lagi," jawabnya cepat.
"Emang lo diapain sih sama pak Andi sampe kesal gini? Cerita dong," pinta Fina.
"Iya nih, cerita dong Rissa. Kita kan pengen tau juga. Siapa tau aja kita bisa bantu dan menghibur lo," timpal Cintya.
"Ogah ah. Males gue buat ceritain, yang ada malah gue jadi malu," ucap Rissa.
"Ayo dong Rissa... Ceritain ke kita. Masa lo gak mau cerita sih sama sahabat lo sendiri." Cintya berusaha membujuk Rissa agar mau bercerita.
Rissa berpikir sejenak, "Yaudah deh, gue ceritain."
Kedua sahabatnya pun merasa senang dan merapat untuk bersiap mendengarkan cerita Rissa. Mereka bertiga ini memang cukup unik, bukannya bekerja malah menggibah. Apalagi gibahnya di jam kerja seperti ini. Semoga saja bos mereka tidak mengetahui hal ini karena kalau tidak, kalimat keramat akan keluar.
"Jadi tadi gue disuruh ke ruangannya dan nyuruh gue buat jadi sekretaris sementara dia karena nenek sihir lagi sakit, jadi gak bisa datang ke kantor," ucap Rissa.
"Trus, trus," kedua sahabatnya ini memang pendengar dan pengamat cerita yang baik sampai Rissa selesai bercerita.
"Bentar, gue minum dulu." Rissa mengambil botol minuman yang ada di meja kerjanya.
"Yah... padahal gue udah siap-siap nih mau denger lagi." Cintya merasa sedikit kecewa.
"Sabar dong, anggap aja ceritanya masih bersambung. Ntar juga Rissa bakalan lanjut cerita lagi," ucap Fina.
"Iyadeh." sahabatnya masih duduk manis sambil menunggu Rissa selesai minum.
"Oke gue lanjut lagi ceritanya. Sampe mana tadi gue? Gue lupa nih?" Rissa berpikir mengingat sambungan ceritanya.
__ADS_1
"Sampe nenek sihir sakit dan gak datang ke kantor," ucap Cintya.
"Oh iya. Setelah itu awalnya gue emang nolak buat jadi sekretaris sementara dia. Terus dia janjiin bakal kasih hadiah buat gue. Hadiahnya itu kayak kotak cincin gitu. karena gue tertarik, ya gue langsung terima aja. Gue pikir kotak itu isinya beneran cincin, kalung, ataupun gelang, eh... ternyata isinya flashdisk," jelas Rissa.
"What? Flashdisk? Wah... Keterlaluan ya pak Andi. Masa dia tega sih ngerjain lo, gak nyangka deh gue," ucap Cintya.
"Makanya itu gue kesal. Udah gue capek-capek kerja, malah di php-in," sambung Rissa.
"Terus flashdisk itu buat apa?" tanya Fina.
"Gue disuruh fotocopy file yang ada didalam flashdisk itu," jawab Rissa.
"Ya ampun... Dari dulu pak Andi seneng banget ya ngerjain lo. Gue kira setelah kalian nikah, dia bakalan berubah. Ternyata sama aja gak ada bedanya." Fina juga ikut kesal karena bosnya telah menipu sahabatnya.
"Malah sekarang makin parah," kesal Rissa.
"Yaudah, sekarang kita makan siang yuk. Gue traktir deh lo sampai puas," tawar Cintya.
"Lo gak php-in gue kayak muka tembok kan?" Rissa memastikan kalau sahabatnya ini tidak akan menipunya seperti Andi tadi. Karena ia tidak mau terjadi yang kedua kalinya.
"Ya enggak lah. Lo kira gue kayak pak Andi, suami lo itu yang php-in sahabat gue," jawab Cintya.
"Yaudah deh, gue mau." Rissa menerima tawaran manis dari Cintya. Lumayanlah, walaupun ia sedang kesal akibat si muka tembok, tapi ternyata ada hikmah juga yang datang.
"Gue juga di traktir kan?" tanya Fina yang tak mau kalah dan pengen di traktir juga.
"Iyadeh... Lo bakal gue traktir juga," ucap Cintya.
Fina langsung merasa senang, "Yeayy... Eh btw, ada apa gerangan nih lo pada traktir kita segala?" tanyanya.
"Anggap aja sebagai tanda bahagia gue karena gue udah punya pacar," jawab Cintya dengan senyumannya.
"Udah berapa lama lo punya pacar?" tanya Rissa.
"Udah dua minggu sih," jawab Cintya.
"Selamat ya." Rissa memeluk Cintya dan ikut bahagia juga atas kebahagiaan sahabatnya.
"Yah... Kalo kalian udah pada punya pasangan, trus gue sama siapa dong?" Fina merasa sedih karena cuma dia yang jomblo disini.
"Lo pacaran sama pak Udin aja, kan dia jomblo juga kayak lo. Hahaha..." ejek Cintya.
"Kampret lo, masa gue dijodohin sama yang tubang sih," Kesal Fina.
Pak Udin merupakan seorang pria berusia hampir lima puluh tahun, tapi statusnya masih melajang alias belum menikah. Udah gitu, pak Udin sangat suka menganggu ataupun merayu banyak wanita demi mencari perhatian. Jelas saja Fina menolaknya mentah-mentah karena Pak Udin itu sudah tua dan pekerjaannya adalah seorang penjual bakso diseberang kantor.
"Udah deh, kuy lah kita ke resto," ajak Cintya.
"Let's Go," semangat Rissa dan Fina.
Rissa bersumpah tidak akan mau berbicara dengan Andi lagi. Bahkan sampai dirumah pun, saat melihat Andi ia langsung memalingkan wajahnya. Saat makan malam saja, ia hanya memakan roti dengan selai coklat.
Makan malamnya kali ini sangat singkat dari biasanya. Rissa lebih memilih untuk masuk ke kamar dan bersandar di ranjang king size sambil memainkan handphonenya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, muncullah Andi yang sedang berjalan ke arah Rissa dan duduk disebelahnya. Seperti sumpahnya tadi, Rissa tidak akan mau berbicara dengan Andi apalagi melihat wajahnya yang menyebalkan.
"Rissa," panggil Andi tetapi Rissa hanya diam dan fokus menatap handphonenya.
__ADS_1
"Rissa saya ngomong sama kamu loh." Rissa masih tidak menggubris ucapan Andi.
Andi menghela napasnya, "Saya berasa kayak ngomong sama tembok."
Lo yang tembok, muka lo juga kayak tembok. Datar, bahkan lebih datar muka lo, batin Rissa.
"Rissa saya tau kamu kesal sama saya, tapi ada sesuatu yang mau saya kasih untuk kamu." Andi mengambil dompetnya dan mengeluarkan Black Card.
Rissa tau kalau Black Card itu gak sedikit jumlah uangnya
"Mulai sekarang saya percayakan kebutuhan rumah tangga sama kamu," jelas Andi sambil memberikan kartunya ke tangan Rissa dan membuat Rissa terkejut.
"Dan kalau kamu mau pake untuk kebutuhan pribadi kamu juga boleh," tambah Andi.
"Beneran pak? Bapak gak php-in saya lagi kan?" Rissa memastikan kalau Andi tidak menipunya lagi.
"Enggak lah, buat apa saya nipu kamu. Tapi kamu harus hemat ya, kalau kamu boros saya ambil lagi kartunya" ucap Andi.
"Makasih ya pak. Tapi. Sebenarnya saya masih kesal sama bapak karena-
Belum selesai Rissa berbicara, didepannya ada sebuah kalung cantik yang dipegang oleh Andi. Rissa langsung melotot melihatnya dan merasa apakah yang dilihatnya sekarang memang benar atau cuma khayalan.
"Saya tau kamu pasti kesal karena merasa dibohongin kan? Sebenarnya itu memang kotak kalung ini, tapi saya sengaja ngetes kamu tadi," ucap Andi.
"Jadi tadi bapak sengaja ngerjain saya?" Rissa kesal dan memukul Andi dengan bantal.
"Aduh. Stop Rissa, dengerin saya dulu. Saya gak ngerjain kamu, kamunya aja yang ngambekan. Rencananya tadi saya mau kasih kalung ini setelah kamu fotocopy file tadi. Tapi kamu langsung marah dan banting pintu, untung aja kantor saya gak rubuh," jelas Andi.
Rissa tersenyum mendengar penjelasan dari Andi, tapi ia juga merasa malu sekarang. Bagaimana tidak, ternyata ia telah salah sangka terhadap suaminya yang mempunyai sifat yang sulit ditebak.
"Yaudah sekarang saya pakein kalungnya ya." Andi memakaikan kalungnya ke leher Rissa.
Kalung berwarna gold dengan berlian yang berbentuk hati cantik itu sangat cocok dipakai oleh Rissa. Ternyata pilihan Andi memang tidak salah sebagai hadiah pertama untuk istrinya. Tapi entah mengapa pula, tiba-tiba ia kepikiran untuk memberikan istrinya sebuah kalung.
"Cantik," ucap Andi kagum.
"Iya dong... Saya kan emang cantik dari lahir," pedenya.
"Bukan kamu, tapi kalungnya yang cantik," canda Andi.
"Ih... Bapak mah." Rissa kembali memukul Andi lagi dengan bantal.
"Aww... Iya iya kamu yang cantik Rissa." Andi mengalah dan Rissa tersenyum kemenangan.
"Makasih ya pak. Maaf juga karena tadi saya marah sama bapak," ucap Rissa.
"Iya gapapa. Saya juga minta maaf karena udah buat kamu kesal," balas Andi.
Muka tembok ternyata so sweet juga ya. Emang sih dia kadang nyebelin, sifatnya juga gak bisa ditebak. Tapi kali ini dia baik banget sama gue, jadi baper deh gue, batinnya senang.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!
__ADS_1