COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Rasa sayang


__ADS_3

Selama bekerja, Andi tak bisa berhenti tersenyum memikirkan Rissa, istrinya. Seiring berjalannya waktu, Rissa berhasil membuat Andi yang dulunya adalah orang bersifat kaku dan dingin, perlahan-lahan mulai membuka hatinya. Bahkan sifat dingin yang ada pada dirinya mulai pudar seperti es mencair.


"Kenapa saya gak suka liat Rissa berdekatan dengan pria lain, dan kenapa saya selalu memikirkannya? Apa saya jatuh cinta dengan istri saya sendiri?" gumamnya.


Semuanya bagaikan mimpi yang indah bagi seseorang dimabuk cinta. Sudah lama ia tidak merasakan kebahagiaan seperti setelah bertahun-tahun lamanya, apalagi ditinggalkan oleh orang tersayang.


Tapi saat sedang asik melamun, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dan membuat Andi cukup terkejut.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, saya mau mengantar berkas dan harus bapak tandatangan sekarang."


Andi tersenyum dan membayangkan kalau yang didepannya ini adalah istrinya. Entah mengapa setiap isi kepalanya saat ini adalah istrinya. Wajah dan nama Rissa selalu terngiang-ngiang dipikirannya.


"Rissa." ucap Andi.


"Rissa? Pak, ini saya Dina sekretaris bapak. Bukan Rissa!" tegur Dina.


Andi langsung tersadar dan ternyata benar, yang didepannya ini bukan Rissa melainkan Dina sekretarisnya. Andi mengusap wajahnya sambil memijat pangkal hidungnya yang mancung.


"Oh iya maaf, kamu taruh aja berkasnya di meja saya. Nanti saya tandatangani karena sekarang saya masih sibuk," jelas Andi.


Dina mengangguk "Baik pak, kalau gitu saya permisi."


Setelah sekretarisnya keluar, Andi kembali mengusap wajahnya dan memijat pangkal hidungnya terus- menerus. Sepertinya akibat pekerjaan yang terlalu menumpuk, membuat kepalanya pusing dan satu-satunya cara menenangkannya adalah dengan istirahat sebentar.


"Ada apa dengan saya? Kenapa saya selalu memikirkan Rissa? Mungkin saya butuh istirahat sebentar."


Andi beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa. Ia menyandarkan kepalanya, lalu mengambil handphone di saku celana untuk mengirim pesan.


My Wife Rissa


Rissa tolong kamu keruangan saya sekarang. Saya butuh kamu.


Setelah mengirim pesan singkat ke istrinya, Andi kembali menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Kepalanya benar-benar pusing, ditambah lagi dengan suasana ruang kerjanya yang sepi karena ruangan ini kedap suara. Makanya ia tidak bisa mendengar aktivitas para karyawannya, demi kenyamanan dirinya juga.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak," ucap Rissa dan menghampiri Andi yang tengah menyandarkan kepalanya di sofa.


"Bapak kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir saat menghampiri suaminya.


Andi membuka matanya, "Rissa, boleh saya minta tolong sama kamu?"


"Minta tolong apa pak?" balas Rissa..


"Sini kamu duduk disebelah saya," pintanya dan Rissa menurutinya. Setelah Rissa duduk disebelahnya, Andi menyandarkan kepalanya dipangkuan istrinya.


"Tolong elus-elus kepala saya ya. Saya pusing banget seharian ini," pinta Andi dengan nada lemah..


"Bapak sakit?" tanya Rissa khawatir.


"Enggak, saya cuma butuh istirahat sebentar. Cukup dipangkuan kamu aja udah bikin saya tenang," jawab Andi.


Rissa merasa kasian kepada Andi, walau terkadang menyebalkan dan sifatnya susah ditebak, Andi tetaplah suaminya. la pun mengelus kepala Andi dengan lembut dan sesekali memijatnya..


Sementara Andi yang dielus kepalanya, hanya tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia tidak pernah merasa tenang dan nyaman seperti ini saat dipangkuan seseorang selain mamanya tercinta.

__ADS_1


"Bapak pasti capek banget ya?" tanya Rissa disela elusan tangannya.


Andi tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, "Ya kalau dibilang capek itu udah pasti. Tapi memang seperti inilah resiko yang harus saya hadapi menjadi seorang CEO."


"Emangnya pekerjaan CEO itu gimana sih sampe bisa bikin bapak capek?" tanya Rissa kepo.


"Saya setiap hari harus mengurus berkas yang menumpuk, meeting dengan klien, melihat perkembangan kantor saya ini gimana, laporan pemasukan dan pengeluaran juga harus saya pastiin setiap hari dan satu lagi, saya juga sibuk ngurusin proyek baru saya di Bali," jelasnya.


Perusahaan yang Andi urus sekarang adalah perusahaan milik keluarganya dan sebagai pewaris satu-satunya, ia diberi jabatan sebagai seorang CEO oleh papanya sendiri. Terkadang papanya juga memantau perkembangan perusahaan ini bagaimana, serta mengajarinya betapa besar tanggung jawab seorang CEO.


"Kalau bapak ngurusin satu kantor aja udah pusing, kenapa bapak buat proyek baru lagi di Bali?" tanya Rissa lagi.


"Saya melakukan ini untuk kamu dan juga masa depan kamu. Sebagai seorang suami, sudah kewajiban bagi saya menafkahi dan membahagiakan istrinya," jawab Andi.


Rissa benar-benar terharu mendengar penjelasan dari Andi. Semakin lama, ia semakin mengenal sifat Andi yang sesungguhnya. Awalnya Rissa memang sangat membenci Andi, tapi perlahan-lahan rasa bencinya mulai berkurang. Hanya satu saja kekurangan yang belum tumbuh dihatinya yaitu cinta.


"Bapak mau saya bikinin sesuatu gak?" tawarnya.


"Nggak usah, kamu cukup disini aja nemenin saya, karena saat ini yang saya butuhkan adalah ketenangan dan berduaan sama istri saya yang cantik ini." Andi kembali menggombal.


"Ihh bapak ini masih aja sempat-sempatnya gombalin saya," ucap Rissa sambil terkekeh.


Andi juga ikut terkekeh, "Gombalin istri sendiri gapapa dong... daripada saya gombalin istri orang lain?"


"Yaudah sana bapak godain cewek lain." Rissa sedikit jengkel.


"Emang kamu gak cemburu?" goda Andi.


"Enggak," balas Rissa.


"Bener nih?" godanya lagi.


"Cium saya sekarang," ucap Andi jahil.


"Iya," ucap Rissa keceplosan dan ia baru menyadarinya.


Andi tersenyum senang dan bangkit dari pangkuan Rissa. Sekarang posisinya sudah saling berhadapan dengan Rissa sambil memegang tangan istrinya. Senyumnya yang manis itu masih menghiasi wajah tampannya.


"Yaudah kalau gitu cium saya sekarang," ucapnya menunjuk pipinya.


"Apaan sih pak, orang saya tadi cuma keceplosan," ucap Rissa yang secara tidak langsung, menolak permintaan suaminya.


"Trus kamu gak jadi dong cium saya?" ucapnya sedikit kecewa.


"Enggak lah," ucap Rissa cepat.


"Yaudah deh." Andi kembali tidur dipangkuan istrinya.


"Bapak tuh kayak anak kecil deh." Rissa tersenyum geli melihat Andi kecewa seperti anak kecil.


"Kamunya sih bikin saya kecewa." Andi mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang tidak dikasih permen.


"Udah deh... tadi katanya bapak capek, istirahat dong," ucap Rissa.


Andi mengambil tangan Rissa dan menaruhnya kembali dikepalanya, "Elus-elus lagi dong kepala saya."


Rissa dengan senang hati mengelus kepala Andi dengan sayang. Ini pertama kalinya ia merasa bahagia dan nyaman saat bersama Andi. Kalau begini, kadar killer dari seorang CEO muda ini mulai berkurang bahkan cenderung ke kategori menggemaskan.

__ADS_1


"Rissa." Panggil Andi.


"Hmm." Rissa hanya berdehem.


"Kamu beneran gak sih pacaran sama Ronaldo?" tanya Andi tak terima.


"Aldo pak," ucap Rissa lembut.


"Iya itu maksud saya." balas Andi.


Rissa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya,


"Kenapa bapak nanya gitu? Bapak cemburu ya sama Aldo?"


"Menurut kamu?" tanya Andi.


"Menurut saya sih... Iya, bapak emang cemburu sama Aldo," jawab Rissa.


"Kalau kamu tau saya cemburu, kenapa kamu masih aja dekati dia?" ucap Andi kesal.


"Saya sama Aldo itu cuma temenan dan gak lebih, kenapa bapak harus cemburu?" Rissa berusaha meluruskan kesalah pahaman tentang dirinya dan Aldo.


"Suami mana yang gak cemburu liat istrinya dekat dengan pria lain, apalagi sampai ketawa bareng. Bahkan tadi kamu sama dia hampir makan siang bareng. Untung aja saya gak kalah cepat dari dia kalau gak, pasti kamu udah makan sama dia," keluh Andi.


"Tapi tadikan ada temen-temen saya yang lain juga," balas Rissa.


"Ya tetap aja saya gak suka." Andi masih merasa kesal karena sepertinya, istrinya ini tidak tau bagaimana perasaannya sekarang.


"Iyadeh... Maafin saya ya, pak Andi Bagaskara, suami saya yang posesif dan cemburuan," canda Rissa.


"Iya Larissa Adriana, istri saya yang cantik dan manis tapi bo'ong," talas Andi tak kalah jahil.


"Ihh... Bapak mah nyebelin." Rissa mengerucutkan bibirnya..


Andi tertawa karena berhasil mengerjai istrinya, "Emang bener kok yang saya bilang. Kamu itu aslinya kan manja, cerewet dan ngambekan."


"Ish bapak kok makin nyebelin sih!" Rissa mulai kesal dan berhenti mengelus kepala Andi.


"Iya Iya maaf, saya cuma becanda kok. Kamu itu memang istri saya yang paling cantik dan manis didunia," kali ini ucapan Andi memang benar dan tulus dari hatinya.


Rissa hanya tersenyum malu mendengarnya. Baru kali ini Andi memujinya dengan tulus serta tanpa diduga pula. Secara perlahan, tangannya kembali mengelus kepala suaminya. Kalau seperti ini, rasanya dunia ini hanya milik mereka berdua bahkan status mereka. bisa dikatakan sebagai suami-istri rasa pacaran.


"Rissa, saya minta maaf ya sama kamu. Selama ini saya selalu bersikap dingin dan cuek sama kamu. Pasti kamu benci banget kan sama saya?" Andi ingin mengetahui isi hati Rissa tentang dirinya.


"Iya... Awalnya sih saya memang sempat benci sama bapak. Tapi sekarang saya udah gak benci lagi kok," ucap Rissa.


"Makasih ya, kamu selalu sabar menghadapi sikap saya ini. Saya janji mulai sekarang, saya akan berubah dan berusaha untuk jadi suami yang baik dan membahagiakan kamu," janji suci dari Andi mulai di ikrarkan.


"Iya Pak, makasih ya," ucap Rissa senang sekaligus bahagia..


Andi mengambil salah satu tangan Rissa dan menggenggam erat. Baru kali ini ia merasakan betapa hangat dan lembutnya tangan istrinya ini, padahal usia pernikahan mereka sudah tiga bulan.


"Saya sayang sekali sama kamu. Istriku sayang Larissa Adriana." Andi mencium tangan istrinya lembut dan kasih sayang.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.

__ADS_1


Like, fav dan voment ya!


__ADS_2