COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Dihukum lagi


__ADS_3

Sudah dua hari Andi sama sekali tidak mau bicara dengan Rissa. Tapi sampai saat ini pun, Rissa masih belum menyerah untuk membuat Andi tidak marah dan mau bicara lagi dengannya. Contohnya sekarang Rissa sedang menyiapkan baju untuk Andi, mulai dari kemeja, jas, celana dan dasi. Setelah beberapa menit kemudian, Andi keluar dari kamar mandi.


"Pagi pak, saya udah nyiapin baju kerja untuk bapak," ucapnya sambil memberikan kemeja untuk Andi. Tapi Andi sama sekali tidak menggubris Rissa dan berjalan saja melewatinya menuju lemari dan mengambil baju kerjanya sendiri, setelah itu Andi kembali lagi masuk ke kamar mandi.


"Apa segitu bencinya pak Andi sama aku sampai-sampai dia gak mau pake semua yang aku siapin? Padahal aku udah rela bangun pagi-pagi untuk nyiapin semua ini," gumamnya sedih.


Rissa benar-benar merasa sedih. Ia juga tidak tau kenapa Andi bisa marah padanya dan dimana kesalahannya sampai Andi tidak mau bicara dengannya sampai berhari-hari. Karena Rissa tau kalau Andi tidak mau melihatnya, ia memilih keluar saja dan menyiapkan sarapan untuk Andi.


Andi pun turun ke bawah untuk sarapan. Rissa tidak ada disana karena ia sedang berada di dapur. Andi melihat sudah ada roti dan susu yang tersedia di meja makan.


"Siapa yang menyiapkan sarapan ini?" tanya Andi ke maid nya.


"Nyonya Rissa yang menyiapkannya untuk tuan," jawab maid itu.


"Tolong kamu buatkan saya sarapan yang baru. Saya tidak mau makan sarapan yang ini," ucap Andi.


"Tapi tuan---


"Apa kamu tidak dengar apa yang saya bilang tadi?" ucap Andi dengan suara tinggi.


"Iya... Baik tuan" maid itu langsung membuatkan sarapan yang baru untuk Andi. Rissa mendengar ucapan Andi kalau ia tidak mau memakan sarapan buatannya. Rissa benar-benar merasa sedih dan pergi duluan ke kantor tanpa sarapan.


Sampai di kantor, Rissa hanya diam dan melamun. Sahabatnya yang melihat Rissa sedih, langsung mendekatinya berniat untuk menghibur sahabatnya supaya tidak sedih lagi.


"Rissa, lo kenapa diam aja sih?" tanya Cintya.


"Iya nih... lo ada masalah ya? Cerita dong sama kita, jangan dipendam sendirian," ucap Fina.


Rissa hanya menggelengkan kepalanya tanpa melirik sahabatnya. Kedua sahabatnya semakin bingung dengan sikap Rissa yang tidak seperti biasanya.


"Rissa... kalau lo sedih, kita kan jadi ikut sedih juga," ucap Fina.


"Ngomong dong sama kita," bujuk Cintya.


Rissa pun melirik kedua sahabatnya dan tersenyum tipis. Ia berusaha menutupi kesedihannya agar kedua sahabatnya ini tidak ikut bersedih. Tapi, kalau ia pendam sendirian rasanya sangat sesak dan membuatnya tidak tenang.


"Sebenarnya, gue emang lagi sedih dan punya sedikit masalah," ucap Rissa.


"Sedih kenapa?" tanya Fina.


"Gue sedih karena pak Andi," jawab Rissa sambil menunduk.


"Pak Andi? Emang kenapa sama pak Andi?" tanya Cintya penasaran.

__ADS_1


Rissa menghela nafasnya, "Sejak pulang dari camping itu... Pak Andi sikapnya jadi dingin sama gue. Kayaknya dia lagi marah, tapi gue gak tau dimana salah gue."


"Ya ampun... Kok bisa gitu sih? Emangnya lo gak nanya sama pak Andi salah lo itu dimana?" tanya Fina.


"Gue udah berusaha nanya sama dia, tapi dia selalu menghindar dari gue. Bahkan gue udah rela setiap hari bangun lebih awal untuk siapin baju sama sarapan. Tapi dia malah cuek dan gak mau pakai yang gue siapin," jelas Rissa.


Kedua sahabatnya pun langsung memeluk Rissa, mencoba untuk menghiburnya. Kedua sahabatnya ini memanglah yang terbaik dan selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.


"Sabar ya... Ini semua adalah cobaan buat lo. Tapi lo harus yakin kalau pak Andi itu sebenarnya sayang banget sama lo," ucap Fina.


"Iya, buktinya pak Andi selalu jagain lo dengan baik waktu kemping itu. Dia juga selalu nanyain lo itu udah makan apa belum, udah istirahat apa belum. Pokoknya banyak deh, cuma dia bilangnya sama kita aja. Supaya yang lain gak curiga tentang hubungan kalian," ucap Cintya.


Rissa menatap kedua sahabatnya, "Lo berdua yakin kalau pak Andi itu beneran sayang sama gue?" tanyanya.


"Iya... Kita seratus persen yakin banget. Kayaknya dia juga udah mulai cinta sama deh lo," goda Cintya.


"Cie... Cie..." tambah Fina yang ikut menggoda Rissa.


Rissa tersenyum bahagia karena kedua sahabatnya yang berhasil menghiburnya.


"Nah, gitu dong... Lo harus senyum. Biar makin cantik dan pak Andi makin klepek-klepek," ucap Fina.


Rissa tertawa bahagia dan tidak sedih lagi. Mulai sekarang ia berjanji akan membuka hatinya dan berusaha untuk mencintai Andi, suaminya.


"Wahh... Ide yang bagus tuh. Kita juga bakal nonton nanti di bioskop, soalnya ada film keluaran terbaru nih. Lo mau kan Rissa?" tanya Fina


Rissa mengangguk "Iya, gue mau kok ikut sama kalian." jawabnya.


Setelah pulang kantor, mereka langsung pergi jalan-jalan bersama. Tempat yang mereka tuju adalah mall. Banyak hal yang mereka lakukan disana, mulai dari belanja, foto-foto, nonton film dibioskop, dan makan bareng.


Andi pov


Sementara Andi sedang bingung dan khawatir kenapa sampai sekarang Rissa belum pulang juga. Ditelepon pun nomornya tidak aktif. Walaupun Andi sedang marah, tapi ia tetap khawatir dengan istrinya. Mau menelepon teman Rissa, tapi ia tidak punya nomornya.


"Kemana Rissa sebenarnya? Kenapa sampai sekarang belum pulang juga?" Andi benar-benar khawatir dengan istrinya.


Ia hanya berjalan mondar-mandir dikamarnya, berharap Rissa segera pulang. Sampai waktu menunjukkan pukul 23.00, Rissa masih belum pulang juga.


Tepat pukul 23.30, akhirnya Rissa pulang ke rumah dan ia berharap kalau Andi sudah tidur. Awalnya saat ia sampai di ruang tamu, keadaannya gelap, sampai tiba-tiba lampunya menyala dan terlihatlah Andi yang berdiri didepannya sambil melipat kedua tangannya dengan tatapan tajam.


"Dari mana kamu?" tanya Andi dingin.


Rissa hanya diam dan menunduk. Ia takut menatap Andi dan takut kalau Andi akan marah padanya.

__ADS_1


"Saya tanya dari mana kamu?" tanya Andi lagi.


"Saya... saya... Tadi pergi jalan-jalan," jawab Rissa gugup.


"Jalan-jalan? Saya khawatir dan panik karena kamu belum pulang, ternyata kamu jalan-jalan?" ucap Andi tegas.


"Maaf pak," ucap Rissa menunduk.


"Maaf? Asal kamu tau Rissa, saya udah ketakutan karena menunggu kamu sampai jam segini belum pulang. Ditambah lagi nomor kamu gak bisa dihubungi." Andi mulai marah dengan Rissa.


"Maaf pak, tadi handphone saya mati," ucap Rissa.


"Apa kamu tidak bisa meminjam handphone teman kamu, untuk mengabari saya?" tanya Andi.


Rissa hanya diam, ia benar-benar lupa dan tidak teringat untuk mengabari Andi. Kecerobohannya ini memang kelewat dan memang pantas kalau suaminya memarahinya.


"Sepertinya kamu itu senang ya membuat saya khawatir sama kamu?" ucap Andi dan Rissa langsung menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa? Atau kamu memang sengaja ya, membuat saya khawatir dan ketakutan seperti tadi, hah?" ucap Andi dengan suara tinggi.


Rissa semakin takut karena Andi semakin marah padanya. Ia benar-benar bingung harus berkata apa. Sementara Andi berjalan menghampiri Rissa.


"Saya benar-benar bingung sama kamu. Saya juga gak tau hukuman apa yang pantas untuk kamu," ucap Andi.


Rissa yang mendengar kata hukuman, sontak saja terkejut dan menatap Andi. Apakah ini adalah hukuman yang kedua kali baginya?


"Sekarang, berikan kunci mobil dan black card yang saya kasih ke kamu," ucap Andi to the point.


"Kenapa harus itu hukumannya pak?" tanya Rissa.


"Kenapa? Kamu keberatan dengan hukuman saya, atau kamu mau handphone kamu saya ambil juga?" ucap Andi menantang.


"Tapi pak---


"Kasih sekarang atau saya ambil paksa dari kamu," ancam Andi.


Mau tidak mau, Rissa harus memberikan kunci mobilnya dan black card kepada Andi Setelah Andi menerimanya, ia langsung pergi meninggalkan Rissa.


Mungkin sekarang pak Andi makin benci sama aku. Maafin aku pak Andi, aku bener-bener gak bermaksud buat bapak khawatir dan marah sama aku, batinnya dan tanpa sadar, air matanya jatuh.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.

__ADS_1


Like, fav dan voment ya!


__ADS_2