
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu hari pernikahan Rissa dan Andi. Semua persiapan pernikahan sudah seratus persen dan hanya tinggal menunggu ijab qabul saja.
Pernikahan Rissa dan Andi diadakan di sebuah gedung secara besar-besaran dan mewah. Acara ini dihadiri oleh keluarga dekat dan rekan kerja. Rissa bahkan tidak mengundang satupun temannya karena ingin menjaga privasinya, alias malu karena ia menikah sebab perjodohan, apalagi ia dijodohin sama Andi si muka tembok kampret.
Saat ini Rissa sedang didandani di ruang make up. Tidak butuh waktu lama untuk mendandaninya karena ia mau make up yg natural. Baginya make up yang tebalnya sampai Sepuluh senti meter itu bisa membuat dirinya seperti hantu. Makanya ia lebih memilih make up yang natural saja. Setelah selesai didandani, Rissa segera memakai gaun pernikahannya.
Setelah Rissa selesai, Andi pun sudah bersiap untuk mengucapkan ijab qabul didepan Papa Rissa.
"Rissa, ingat pesan mama ya, sekarang kan kamu akan jadi seorang istri. Kamu harus jadi istri yang baik untuk suami kamu, layani suami kamu dan jangan ngebantah suami kamu. Karena surga seorang istri ada pada suaminya," nasehat mamanya.
"Iya Ma, Rissa bakal berusaha jadi istri yang baik." Rissa mulai sedih dan tak terasa air matanya jatuh.
"Maafin Mama sama Papa juga, karena kamu menikah sebab perjodohan. Tapi kami melakukan ini demi kebaikan kamu juga," ucap Mamanya tersenyum.
Rissa memeluk Mamanya sambil menangis. Tentu saja hal ini membuatnya terharu apalagi ia harus berpisah dari keluarganya dan tinggal bersama Andi. Tak lama kemudian Tio datang menghampiri mama dan adik kesayangannya.
"Kok adek abang yang jelek dan manja ini nangis sih?" ucap abangnya sambil mencubit pipi adiknya.
"Aissh.. Abang mah..." rengeknya.
"Hehehe... Becanda. Adek abang ini memang cantik. Nggak terasa ya, kamu itu udah nikah. Padahal kayaknya baru kemarin kamu itu masih main-main sama abang, manja sama abang, lucu dan gemesin deh pokoknya," ucap Tio yang membuat Rissa merasa sedih.
"Tuh kan, gara-gara Abang Rissa jadi sedih," ucap Rissa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya iya... Sini abang peluk." Rissa langsung memeluk abangnya. Walaupun sering berantem kayak Tom and Jerry, tapi abangnya selalu perhatian dan sayang padanya.
"Abang sayang banget sama kamu, jadi istri yang baik ya," ucap Tio dan Rissa hanya mengangguk sambil menghapus air matanya.
Sementara Andi, sekarang ia sedang menjabat tangan dengan Papa Rissa, untuk mengucapkan ijab qabul.
"Saudara Andi Bagaskara, saya nikahkan kamu dengan putri saya Larissa Adriana binti Suryadi Ramadhan dengan mahar uang 190 juta, emas 78 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Larissa Adriana binti Suryadi Ramadhan dengan mahar tersebut dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sahh!!"
__ADS_1
"Alhamdulillah..."
Rissa yang mendengar kata 'sah' tersebut memejamkan matanya dan menangis. Sekarang statusnya adalah seorang istri dari Andi. Entah apa yang ia rasakan saat ini, jujur saja ia bingung. Akankah ia harus merasa bahagia atau bersedih.
"Ayo sayang kita susul suami kamu." ajak Mamanya.
Rissa berjalan didampingi mamanya menuju ke arah Andi, suaminya. Semua orang tertuju pada Rissa, sedangkan ia hanya menunduk malu. Sampai ia duduk disebelah Andi pun, Rissa masih saja menunduk. Ada perasaan deg degan juga yang ia rasakan sekarang saat duduk disebelah Andi yang berstatus sebagai suaminya sekarang.
"Ayo Rissa, salam suami kamu," ucap Papanya.
Rissa menyalam tangan suaminya dengan perasaan ragu-ragu dan malu yang menjadi satu. Lalu Andi mencium istrinya. Mungkin sekarang pipi Rissa sudah merah karena ia merasa malu.
Setelah itu Andi memasangkan cincin dijari manis Rissa, begitu pula sebaliknya dengan Rissa.
la masih ingat tragedi gara-gara cincin yang ia pakai sekarang. Karena cincin inilah yang menyebabkan gajinya dipotong oleh Andi Alias muka tembok.
Selama dipelaminan, Andi terus melirik ke arah Rissa yang berada disebelahnya. Tiba-tiba muncul sebuah ide dikepala Andi untuk menjahili Rissa. Andi sangat merasa bosan duduk terus dipelaminan dan hanya melihat sekeliling ataupun menyalami para tamu undangan. Makanya sekarang Andi berniat untuk menjahili Rissa supaya ia tidak bosan lagi. Rissa sendiri merasa risih karena Andi terus melirik dirinya.
"Kenapa dia ngeliatin gue terus sih?" gumamnya.
Sesekali juga Rissa melirik Andi yang terus melihatnya seperti kagum akan kecantikannya. Tentu hal ini membuat Rissa langsung kepedean tingkat dewa.
"Saya tau kok kalau saya ini cantik, jadi bapak biasa ngeliatinnya," Pedenya.
Andi menaikkan alisnya satu, "Pede banget kamu, saya ngeliatin kamu bukan karena itu," ucap Andi.
Rissa mengernyitkan dahinya "Trus?" tanyanya.
"Alis kamu miring sebelah," jawab Andi cepat.
WHAT THE HELL???
Rissa langsung terkejut dan melotot mendengarnya "Hah, masa sih?"
__ADS_1
"Makanya jadi orang itu jangan kepedean," ucap Andi dan pergi meninggalkan Rissa.
"Duuh.. Malu banget gue. Masa sih alis gue miring sebelah," ucap Rissa pada dirinya sendiri.
Rissa turun dari pelaminan untuk memastikan benar atau tidak perkataan Andi tadi. Sampai Mamanya melihat Rissa turun dari pelaminan, langsung menghampiri Rissa yang sedang terlihat kebingungan.
"Rissa kamu mau kemana?" tanya Mamanya.
"Ma... Alis Rissa miring sebelah ya?" tanya Rissa cepat.
"Enggak kok, alis kamu gak miring sebelah," jawab Mamanya dan memperhatikan alis Rissa.
"Masa sih Ma?" tanya Rissa lagi.
"Nih, kamu liat kalo gak percaya." Mamanya memberikan handphone kepada Rissa. Rissa mengamati betul-betul alisnya.
Iya mama bener alis gue gak miring sebelah kok. Berarti tadi dia bohongin gue dong? batinnya.
"Emang siapa sih yang bilang kalau alis kamu miring sebelah?" tanya Mamanya.
"Pak Andi ma," jawabnya kesal.
"Hahaha... Ada-ada Aja. Kamu jangan marah dong, Suami kamu pasti cuma becanda," ucap Mamanya.
"Ya tapikan gak gini juga becandanya Ma," rengeknya.
"Sudah, sudah... Sana kamu balik ke pelaminan. Tuh liat suami kamu duduk sendirian disana, ntar dikira pengantin wanitanya lari lagi," ejek mamanya
"Iya, Iya. Rissa balik lagi deh kesana," ucap Rissa terpaksa.
Rissa naik kembali ke pelaminan dan duduk disebelah Andi. Rissa terus menggerutu dan mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya karena Andi berani menjahilinya.
Selama di pelaminan, Rissa terus melihat Andi dengan perasaan kesal dan marah. Ia juga berpikir akan membalas dendam kepada Andi. Sementara Andi hanya bersikap biasa saja dengan muka datarnya, seakan tidak ada kejadian apa-apa. Padahal dalam hatinya, ia sedang tertawa karena berhasil menjahili Rissa. Mungkin sekarang ini, hal baru yang paling menyenangkan bagi Andi adalah menjahili Rissa.
Dasar muka tembok sialan. liat aja gue bakalan balas dendam sama lo, batinnya kesal.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
__ADS_1
Like dan voment ya!