
Setelah kejadian yang menyebalkan itu, selama diperjalanan Rissa hanya diam dan menatap ke samping mobil. Beberapa menit kemudian, Andi memberhentikan mobilnya di sebuah restoran.
"Turun," ucap Andi singkat dan padat.
"Kok kita kesini pak?" bukannya menjawab, Andi malah keluar dari mobilnya.
"Mulai deh, kumat budeg nya si muka tembok." Rissa turun juga dari mobil Andi.
Saat turun dari mobil, Rissa tidak sengaja melihat mobil yang mirip dengan mobil papanya.
"Kayak mobil papa deh? Ah, gak mungkin lah... Emang papa aja yang punya mobil kayak gini," gumamnya.
Rissa terus berjalan mengikuti Andi dari belakang. Sebenarnya ia bingung, tapi ia malas juga untuk bertanya karena pasti nanti pertanyaannya gak akan dijawab Andi. Hingga sampailah mereka di sebuah meja yang sudah terdapat beberapa orang.
"Siang semuanya." Sapa Andi.
"Eh... Akhirnya kalian berdua datang juga." ucap Mama Andi yang menyambut kedatangan anak dan calon menantunya dengan ramah.
"Tuh kan bener ada mama sama papa. Pantesan aja si kampret tadi gak mau jawab pertanyaan gue," gumamnya pelan.
"Ayo duduk disini sayang," ucap Mama Andi ke Rissa.
Rissa hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia pun duduk disebelah Mama Andi lalu disusul Andi juga disebelahnya.
"Kita makan siang dulu ya, Setelah itu ada yang mau Papa bilang sama kalian," ucap Papa Andi.
Mereka semua makan siang bersama dan menikmati makanannya dengan lahap, kecuali Rissa. Sebenarnya Rissa tidak selera sama sekali karena pikirannya masih campur aduk. Pertama, gajinya dipotong seenaknya oleh Andi karena cincin tadi. kedua, ia sangat kesal dengan Andi dan ketiga, ada hal apa yang akan dibicarakan oleh keluarganya. Setelah selesai makan siang, papa Andi sudah bersiap untuk bicara.
"Kalian pasti bingung kenapa papa ada disini kan?" tanya papa Andi. Andi dan Rissa hanya mengangguk saja tanpa berkata apapun.
"Jadi begini, Setelah kami perbincangkan tentang perjodohan kalian, kami memutuskan untuk menikahkan kalian dua minggu lagi." Jelas papa Andi.
Rissa langsung melotot mendengar hal tersebut, sementara Andi hanya memasang muka datarnya tanpa ekspresi apapun. Penderitaan Rissa sudah dimulai dari sekarang.
"Bagaimana, kalian setuju kan?" tanya papa Andi.
"Tapi itu gak terlalu cepat?" tanya Rissa dengan nada yang tidak terima.
"Enggak dong sayang... Lebih cepat kan lebih baik," ucap Mama Andi.
Nih si muka tembok kok diam aja sih, kalo ini bukan ditempat umum udah gue cekik lo, Batin Rissa.
"Kalau soal persiapan pernikahan kalian tenang aja, karena kami sudah mempersiapkan semuanya. Jadi kalian tinggal menunggu hari pernikahan saja," jelas Papa Rissa.
Rissa hanya bisa pasrah menerimanya dan sebentar lagi ia akan menikah dengan bosnya sendiri. Andi Bagaskara, si muka tembok yang super duper nyebelin sedunia, killer, sok cool dan tukang penyuruh seenak jidatnya.
"Yaudah kalau gitu kita pulang yuk, dan jangan lupa besok kalian fitting baju, oke?" ucap Mama Andi.
Rissa dan Andi hanya mengangguk paham. Setelah itu, mereka semua berjalan keluar dari restoran dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing kecuali orang tua Rissa karena mereka ada urusan yang harus diselesaikan. Rissa sendiri memang tidak tau kalau orang tuanya ada urusan sebab papanya mendapat panggilan mendadak dari kantor.
"Kita gak kembali ke kantor pak?" tanya Rissa saat berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Nggak, hari ini saya mau istirahat." jawab Andi dan Rissa cuma ber-oh saja. Andi pun menjalankan mobilnya untuk mengantar Rissa pulang.
Seperti biasa, Andi dan Rissa hanya saling diam selama diperjalanan menuju pulang. Andi fokus menyetir, sedangkan Rissa fokus pada handphonenya.
Bukannya Rissa sombong atau tidak mau berbicara dengan Andi, tapi kalaupun Rissa bertanya pasti nanti Andi hanya diam saja seperti orang yang tuli dan bisu. Jadi lebih baik, Rissa memilih diam saja daripada harus menguras kesabarannya menghadapi makhluk seperti Andi.
Setelah beberapa menit diperjalanan menuju pulang, mobil Andi terparkir di halaman rumah Rissa. Rissa keluar dari mobil Andi sementara Andi tetap duduk di dalam mobilnya.
"Emm... Bapak gak mampir ke rumah saya?" tanya Rissa basa-basi.
"Nggak, saya langsung pulang aja." jawab Andi.
Bagus deh, hahaha... Gue juga males nerima tamu kayak lo, batin Rissa.
"Yaudah kalau gitu saya masuk dulu ya pak,"pamit Rissa.
"Oh iya, besok saya jemput kamu jam sembilan untuk fitting baju," ucap Andi mengingatkan.
"Iya pak," balas Rissa dan masuk ke dalam rumahnya.
Setelah Rissa masuk ke rumah, Andi melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
Rissa yang sudah didalam rumah, mencari keberadaan mama papanya. Namun tidak ada, hingga ia melihat abang kesayangannya yang datang dari arah dapur sambil membawa cemilan.
"Bang, mama sama Papa mana?"tanya Rissa.
"Belum pulang," jawab Tio dengan nada santai.
"Ohh... yaudah deh, gue ke kamar dulu ya. Capek mau istirahat," ucap Rissa.
"Makasih abangku yang jelek... Hahaha," balas Rissa.
"Enak aja lo, abang lo yang paling ganteng dan tampan sedunia ini dibilang jelek," ucap Tio kepedean sambil menyisir rambut dengan tangannya.
"Ganteng apaan, ganteng dari Hongkong? Udah deh gue mau ke kamar."
Rissa berjalan ke atas menaiki tangga, sampai dikamarnya ia menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Sekarang, ia hanya bisa meratapi nasibnya yang sangat miris dan ditambah lagi harus menikah dengan orang yang paling ia benci.
"Huh... Sial banget sih gue, mimpi apa coba nikah sama orang paling nyebelin sedunia? Kalau temen-temen gue tau, pasti gue bakalan di bully. Ya Allah cobaan apa yang engkau berikan pada hamba..." keluhnya.
Setelah selesai bermonolog, Rissa pun tertidur pulas berharap ini semua hanya mimpi.
Keesokan harinya, Rissa bangun dan bersiap untuk mandi, karena hari ini ia akan fitting baju bersama Andi. Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Rissa turun ke bawah dan melihat semua keluarganya sudah berkumpul di meja makan.
"Pagi semuanya," sapa Rissa.
"Pagi juga sayang," balas mamanya.
"Mama sama Papa kemana semalam? Rissa sampai rumah tapi kalian gak ada?" tanya Rissa.
"Semalam mama nemenin papa kamu ke kantor karena ada urusan sebentar," jawab mamanya.
__ADS_1
"Ohh... Pantesan," ucap Rissa.
"Udah kamu cepat sarapan, hari ini kan kamu mau fitting baju sama Andi," ucap mamanya.
Mereka semua pun menikmati sarapan bersama. setelah selesai sarapan tak lama kemudian ada suara bel berbunyi. Rissa membukakan pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang. Dugaannya benar, ternyata Andi lah yang datang.
"Ayo kita berangkat sekarang." ucap Andi to the point tanpa basa-basi.
"Iya Pak," ucap Rissa padahal sebenarnya ia malas sekali.
"Ma... Rissa pergi dulu ya," ucap Rissa sedikit berteriak.
"Iya, kalian hati-hati di jalan ya," ucap mamanya saat datang ke arah Rissa.
Rissa menyalami papa dan mamanya sebelum pergi, begitu pula dengan Andi. Setelahnya mereka berangkat ke toko baju pengantin. Rissa sempat mencuri pandang ke arah Andi yang sedang fokus menyetir. Ternyata semua ini bukan mimpi melainkan memang nyata kalau orang yang ada disebelahnya sekarang sudah menjadi calon suaminya.
Sampai di butik, Rissa melihat mama Andi sedang membaca majalah. Toko butik ini merupakan tempat terkenal yang menyewakan baju pengantin dengan harga mahal dan kualitas yang sempurna.
"Eh, calon menantu mama udah dateng," ucap Mama Andi senang saat melihat kedatangan calon menantunya.
"Iya tante," ucap Rissa sedikit gugup.
"Kok tante sih? Panggil mama dong, sebentar lagi kamu kan jadi menantu mama." Mama Andi tersenyum melihat kepolosan Rissa.
"Iy-Iya ma." jawab Rissa ragu-ragu.
"Bagus, yaudah kamu ikut mama yuk ke dalam, kita pilih gaun pengantin yang paling bagus buat kamu," ajak Mama Andi.
Rissa mengangguk dan mengikuti Mama Andi untuk memilih gaun pengantin untuknya. Setelah selesai memilih, Rissa mencoba memakai gaunnya. Ia pun keluar dan berjalan ke arah Andi dan Mamanya. Disana Andi sudah memakai tuxedo nya dan kagum melihat kecantikan Rissa
"Wahh... Cantik sekali ya calon istri kamu Andi?" Mama Andi sangat takjub melihat kecantikan calon menantunya.
"Biasa aja," balas Andi cuek. Sebenarnya ia kagum, tapi ia gengsi untuk bilang kalau Rissa itu cantik.
"Biasa aja tapi ngeliatinnya sampe gitu. Dasar muka tembok gengsian." gumam Rissa pelan.
"Kamu gak boleh gitu dong sama calon istri kamu. Dipuji dong calonnya, masa udah cantik gini dibilang biasa aja." Mama Andi mulai kesal dengan putra tunggalnya yang dilengkapi dengan gengsi yang tinggi.
"Iya iya... Kamu cantik Rissa," ucap Andi terpaksa.
"Nah... Gitu dong, mama jadi makin nggak sabar kalian menikah," ucap Mama Andi.
"Ma, yang mau nikah itu kan kita, bukan Mama. Kenapa jadi mama yang nggak sabar sih?" tanya Andi.
"Ya gapapa dong, emangnya kenapa sih? kamu itu komen aja bisanya." marah mama Andi yang membuatnya langsung terdiam.
Hahaha.. Rasain lo.. Seneng banget gue liat lo dimarahin sama mama. Sering-sering aja ya ma kayak gini, batin Rissa senang.
To be continued...
__ADS_1
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!