
Sampai dirumah pun, Rissa masih belum kehabisan ide untuk mengerjai Andi dan sengaja pura-pura menelepon Aldo tepat dihadapan Andi.
Andi sendiri juga sebenarnya masih kesal dan sedikit cemburu. Mau kerja aja jadi gak fokus gara-gara Rissa yang sengaja memancingnya. Pikirannya jadi terganggu akibat ulah istrinya ini bahkan sampai membuat hatinya terasa panas, padahal kamar mewah ini sudah dipasang AC mahal.
"Iya Aldo, aku juga sayang banget sama kamu." Rissa sengaja menguatkan suaranya saat berkata sayang dan melirik Andi.
Andi pura-pura gak tau dan tetap sok cool, padahal dia ngelirik dan nguping pembicaraan Rissa. Kalau saja orang yang bernama Aldo itu ada disini, ia pasti akan menggantungnya tepat dihadapan Rissa.
"Apa? Kamu besok mau ajak aku jalan-jalan. Oww kamu so sweet banget sih Aldo, jadi makin sayang deh. kamu tau aja kalau aku itu suka sama cowok yang romantis."
Kalo soal akting, Rissa juga jago. Buktinya dari tadi Andi gak berhenti liatin dia terus, sedangkan Rissa pura-pura cuek bebek aja.
"Yaudah... Sampai jumpa besok Aldo. Muaachh." Rissa sengaja menekankan Kata-katanya, ia yakin sekarang muka Andi pasti udah berubah jadi Hulk karena menahan kekesalannya.
Setelah akting menelfon Aldo selesai, Rissa beranjak keluar dari kamar. Tapi tiba-tiba Andi memanggilnya. Biar Rissa tebak, sepertinya rencananya kali ini pasti berhasil.
"Rissa tunggu, mau kemana kamu?" Andi berdiri dan menghiraukan pekerjaannya yang biasanya ia nomor satukan daripada yang lain.
"Saya mau minum pak. Saya haus karena telfonan seharian sama pacar kesayangan saya." Rissa mulai memancing Andi lagi.
Andi semakin panas saat Rissa mengatakan 'pacar kesayangan'. Seharusnya julukan 'kesayangan' itu hanya pantas untuk dirinya saja karena ia adalah suaminya Rissa. Kali ini Andi tidak bisa diam lagi, ia harus segera bertindak walaupun dengan cara yang nekat.
"Saya ikut," ucap Andi.
"Hah, ikut? Ngapain bapak ikut, orang saya cuma mau ke dapur kok." Rissa berusaha memasang muka tenangnya padahal aslinya, ia ingin sekali tertawa melihat ekspresi Andi yang sudah terbakar api cemburu.
"Saya mau minum juga," alasan Andi.
"Yaudah bapak tunggu disini aja, biar nanti sekalian saya ambilin," ucap Rissa.
"Gak, pokoknya saya ikut." Andi menghampiri dan menggenggam tangan Rissa untuk turun ke bawah.
Sampai didapur, Rissa merasa risih karena Andi enggan melepaskan genggamannya, padahal Rissa kan cuma mau minum. Beginilah efek samping dari seseorang yang berhati dingin sedang cemburu buta pada istrinya.
"Pak, ini gimana saya mau minum kalo tangan saya bapak genggam terus," protes Rissa.
Akhirnya setelah diprotes Rissa, Andi mau melepaskan genggamannya dan membiarkan Rissa minum. Ternyata pura-pura drama itu sangat melelahkan dan juga menguras energi. Karena tenggorokannya terasa kering, akan lebih enak kalau sekarang minum es.
"Bapak gak minum?" tanya Rissa.
"Gak," jawab Andi singkat.
"Lah, tadi katanya bapak mau minum juga?" Rissa jadi heran sendiri dengan sikap si muka tembok.
"Gak jadi," jawabnya singkat lagi.
Rissa mengedikkan bahunya acuh dan minum lagi sampai habis. Lega rasanya setelah meminum air es dari kulkas dengan dua pintu dan modelnya seperti lemari.
Sementara Andi hanya diam sambil memikirkan sesuatu dikepalanya, ditambah lagi dengan tangannya yang sudah siap siaga memegang kembali tangan istrinya. Kalau seperti ini, Rissa sama saja seperti seseorang yang dijaga ketat selama 24 jam oleh bodyguard.
Tenyata gini ya kalau muka tembok lagi cemburu, posesif banget sama gue. Rasain lo.. Emang enak gue kerjain, Rissa kok dilawan, batinnya.
__ADS_1
"Kamu udah selesai minumnya?" tanya Andi.
Rissa mengangguk "udah pak"
"Yaudah yuk kita ke kamar lagi," ajak Andi dan menggenggam tangan Rissa lagi seperti ayah yang mengajak anaknya pulang.
Rissa hanya bisa pasrah tangannya digenggam Andi, dan sampai dikamar Rissa naik ke atas ranjang disusul Andi disebelahnya. Demi menjaga Rissa, Andi sampai lupa atau mungkin memang sengaja mengabaikan pekerjaannya.
"Loh, bapak kok disini?" tanya Rissa heran.
"Emang kenapa? gak boleh?" Protes Andi.
"Bukan gitu, maksud saya bapak kok gak lanjutin kerjaan bapak," ucap Rissa.
"Males," jawab Andi singkat.
Rissa menggelengkan kepalanya dan mengambil remot TV menyetel film kesukaannya yaitu drakor. Drakor adalah sebuah drama yang sempurna dari negeri ginseng alias negara Korea serta banyak dikagumi, terutama pada kaum anak-anak muda.
Selama menonton, Rissa tak hentinya tersenyum karena dilayar TV ada oppa oppa ganteng idolanya yaitu Lee Min Ho. Dari SMA, Rissa mulai menyukai Korea dan sampai sekarang pun ia masih menyukainya.
Andi melihat reaksi istrinya dari tadi senyum-senyum karena menunjukkan wajah oppa di TV, yang menurutnya gak ganteng sama sekali karena menurutnya dia lah yang lebih ganteng.
"Kamu kenapa senyum-senyum Rissa?" tegur Andi.
"Liat deh pak, oppa Lee Min Ho ganteng banget ya, coba aja dia jadi suami saya," ucap Rissa halu.
"Apaan, jelek gitu dibilang ganteng. Masih gantengan saya lah, seharusnya kamu itu bersyukur karena punya suami ganteng dan tampan kayak saya," pedenya.
"Rissa," Panggil Andi.
"Hmm." Rissa hanya berdehem seperti saat Rissa memanggil Andi juga. Bukan karena balas dendam, tapi ia lagi fokus menonton drakor.
"Apa Maksud kamu nelpon sama pacar kamu itu didepan saya?" tanya Andi.
"Maksud bapak?" Rissa menatap Andi.
"Kamu itu nganggap saya apa? Saya ini suami kamu, pasti tadi kamu sengaja kan nelpon didepan saya biar cemburu. Iyakan?" Andi mulai merasa kesal serta cemburu.
Rissa menggeleng "Enggak, buat apa saya buat bapak cemburu. Lagian kan, bapak sendiri yang bilang waktu itu kalau bapak gak cinta sama saya. Dan bapak juga bilang terserah kalau saya mau pacaran," jelasnya.
Andi langsung terdiam mendengar penyataan dari Rissa karena semua yang dikatakan Rissa itu memang benar dan sekarang ia menyesalinya.
"Besok kamu berangkat sama saya," ucap Andi tiba-tiba.
"Tapi pak-
"Tidak ada bantahan." Andi memotong ucapan Rissa.
"Trus pacar saya gimana dong pak?" godanya lagi.
"Sekali lagi kamu sebut-sebut pacar kamu itu, saya pastiin besok dia jadi gelandangan," ancam Andi.
__ADS_1
"Ihh, bapak kok kejam banget sih?" Rissa mengerucutkan bibirnya.
"Biarin." Andi tiba-tiba memeluk Rissa seperti guling
"Ini juga bapak ngapain sih peluk-peluk saya segala. Saya gak bisa napas, emang bapak mau jadi duda sekarang." Rissa merasa risih akibat pelukan Andi yang seperti ingin membunuhnya.
"Kalau kamu mati, saya juga bakal nyusul kamu. Karena kita ditakdirkan sehidup semati," ucap Andi tepat ditelinga Rissa.
"Kok bapak jadi bucin sih sekarang? belajar dari mana?" Rissa semakin curiga, sepertinya suaminya ini memiliki sisi lain jadi orang bucin.
"Bucin sama istri sendiri gapapa dong." ucap Andi.
"Tapi saya--
"Ssttt... Sekali lagi kamu ngomong, saya cium kamu," ancam Andi tepat ditelinga Rissa serta nafasnya yang mengenai leher Rissa.
Rissa yang mendengarnya langsung merinding dan takut, lebih baik ia diam daripada ucapan Andi benar-benar terjadi nanti, atau mungkin bisa lebih nantinya.
Beginilah nasibnya sekarang yang hanya bisa diam dipeluk Andi seperti guling, mau tidak mau Rissa pun akhirnya tertidur juga menyusul Andi yang sudah tertidur dari tadi.
Keesokannya, tidur Rissa sedikit terganggu karena ada seseorang yang sedang mengelus pipinya. Akhirnya ia pun terbangun dan melihat siapa pelakunya.
"Selamat pagi istriku," ucap Andi sambil tersenyum manis. Ini pertama kalinya Andi tersenyum seperti itu didepan Rissa.
Ini gue masih mimpi kan, atau jangan-jangan gue udah di surga. Bangun Rissa bangun, batinnya.
"Sekarang kamu mandi ya, setelah itu kita sarapan dan pergi ke kantor bareng sama saya." Andi sudah mandi dan rapi dari tadi sebelum Rissa bangun.
Rissa hanya mengangguk dan masih tidak percaya itu tadi beneran Andi atau makhluk jadi-jadian yang menyerupai Andi. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lupa membawa bajunya.
Setelah selesai mandi, ia melihat Andi sedang duduk ditepi ranjang sambil memegang handphone. Andi yg melihat Rissa sudah selesai mandi, langsung menghampirinya sambil tersenyum.
"Kamu udah selesai mandinya? sini biar saya sisiran rambut kamu," ucap Andi perhatian.
Rissa ternganga mendengarnya, lalu Andi membalikkan badan Rissa ke arah cermin. Dari cermin itu ia bisa melihat Andi dengan telaten sedang menyisir rambut panjangnya.
"Bapak udah mandi?" tanya Rissa.
"Udah dong... kamu gak liat apa saya udah ganteng dan rapi gini," jawab Andi yang masih menyisir rambut istrinya.
"Kenapa bapak cepat banget mandinya?" tanya Rissa.
"Saya gak mau istri saya bangun duluan dan malah kabur, trus gak jadi ke kantor bareng suaminya yang ganteng ini," jawab Andi.
Kok rencana gue jadi gini sih? ini mah udah diluar skenario. Malah si muka tembok makin posesif lagi sama gue, batinnya.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!
__ADS_1