COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Curiga


__ADS_3

Pagi ini Andi dan Rissa sedang sarapan bersama. Tidak ada percakapan diantara keduanya, hanya ada suara hentakan sendok yang terdengar.


Setiap pagi, Andi selalu sarapan dengan roti dan susu. Ia tidak pernah sarapan dengan makanan berminyak seperti nasi goreng, karena menurutnya makanan itu tidak baik dan terlalu berlemak. Sementara, Rissa sedang lahap memakan nasi gorengnya.


"Kenapa sih bapak gak mau sarapan nasi goreng?" tanya Rissa.


"Terlalu berminyak," jawab Andi.


"Tapi ini enak lo pak. Cobain deh, pasti bapak suka." Rissa berniat menyuapi Andi.


"Saya gak mau Rissa," tolak Andi.


"Dicoba dulu pak. Nih, saya suapin bapak ya, aaa..." Rissa menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut Andi seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya dan entah kesambet setan dari mana Andi mau menerima suapan dari Rissa.


"Enak kan pak?" tanya Rissa saat Andi menikmati nasi gorengnya.


"Kamu ini selalu aja asal masukin makanan ke mulut saya. Kemarin gulali, sekarang nasi goreng," protes Andi.


"Yee... Tapi bapak mau juga kan. Malah bapak ketagihan, iya kan?" Sindirnya.


"Gak," jawab Andi cepat.


"Gak salah lagi maksudnya," ejek Rissa dan membuat Andi terdiam.


Para maid yang melihat majikannya pagi-pagi sudah berdebat hanya karena hal sepele, tidak bisa menyembunyikan tawa mereka.


Tapi tidak tertawa sampai terdengar Andi, karena kalau Andi tau para maid nya sedang menertawakan dia, maka Andi akan mengeluarkan kalimat keramatnya yaitu potong gaji.


Seperti biasa, setelah selesai sarapan Rissa dan Andi pergi berangkat ke kantor naik mobil masing-masing. Rissa tidak mau satu mobil dengan Andi karena takut ketauan sama orang kantor kalau dia adalah istrinya Andi, si bos killer.


Setelah sampai dikantor, Andi keluar dari mobil dan disusul Rissa dibelakangnya. Cintya yang melihat bos dan sahabatnya datang secara bersamaan, membuatnya semakin curiga tentang kedekatan mereka.


"Good morning my friends," Sapa Rissa.


"Morning too beb," balas Cintya dan Fina.


"Kayaknya gue mencium aroma-aroma yang berbeda hari ini," ucap Cintya mengintimidasi.


"Apaan sih, biasa aja kok gak ada yang beda." Rissa sempat bingung dengan ucapan Cintya.


"Bener nih?" tanya Fina yang ikut curiga.


"Iya beb. Udah deh, mendingan kita siapkan semangat untuk bekerja keras hari ini," balas Rissa.


Cintya masih curiga dengan sahabatnya ini, karena ia mau memastikan secara pasti hubungan Rissa dan Andi. Mungkin sekarang Rissa bisa mengelak tapi nanti, sahabat kesayangannya ini tidak akan bisa lolos.


Cintya juga berpikir, tidak mungkin ia salah liat kalau Rissa sedang berduaan apalagi sampai tertawa bersama bosnya yang killer dan misterius.

__ADS_1


Beberapa menit sebelum istirahat makan siang, seperti biasa Rissa pergi keruangan Andi dan akhir-akhir ini ia jarang makan siang bersama sahabatnya. Hal ini juga semakin menambah kecurigaan bagi Cintya tentang hubungan antara bos dan karyawannya sendiri yaitu Rissa.


"Eh, lo merasa ada yang aneh gak sih sama rissa?" tanya Cintya kepada Fina.


"Maksud lo?" Fina bingung dengan ucapan Cintya.


"Coba deh lo pikir kalau akhir-akhir ini Rissa tuh jarang banget kan makan siang bareng kita. Malah dia selalu keruangan pak Andi kalau menjelang jam makan siang. Iya nggak?" jelas Cintya.


"Iya juga ya." Fina juga berpikir hal yang sama.


"Trus ya, pas waktu malam minggu itu, gue liat dia lagi duduk dan ketawa sama pak Andi," ucap Cintya.


"Hah, masa sih? Rissa kan benci banget sama pak Andi. Gak mungkin lah dia mau jalan sama pak Andi," elak Fina yang berusaha membela Rissa.


"Makanya itu gue juga bingung," ucap Cintya.


"Eh, tapi lo liat Rissa dimana waktu itu?" tanya Fina.


"Gue liat Rissa di taman dekat pasar malam dan gue kebetulan lewat mau ke pasar malam sama pacar gue," jelas Cintya.


"Pacar? Sejak kapan lo udah punya pacar? Lo kan jomblo," timpal Fina.


"Enak aja lo, gue udah punya pacar sekarang dan gue udah dua minggu pacaran sama dia." Cintya memasang muka sombong dan bangga atas status barunya.


"Wahh... Ternyata sahabat gue yang cerewet ini ada juga ya, yang mau. Hahaha," ejek Fina.


"Kampret lo," umpat Cintya kesal.


"Iya gue setuju. Nanti kita bakalan tanya sama dia. Sekarang kita makan dulu." Cintya setuju dengan saran Fina untuk menanyakan hal yang sudah meracuni pikirannya.


Cintya dan Fina melanjutkan makan siang mereka tanpa Rissa. Makan siang tanpa Rissa, rasanya sangat hambar serta kurang menyenangkan. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka hanya bisa menerima kenyataan.


Setelah jam makan siang selesai, Rissa kembali ke meja kerjanya dengan tangannya yang memegang coklat. Tidak salah lagi, pasti dugaan Fina dan Cintya itu memang benar kalau Rissa dan Andi punya hubungan lebih.


"Rissa, gue boleh tanya sesuatu gak sama lo?" Cintya masih basa-basi sebelum bertanya ke intinya.


"Tanya apa?" balas Rissa.


"Waktu malam minggu, lo pergi keluar gak? tanya Rissa.


"Iya," jawabnya sambil makan coklat dengan santai. Coklat merupakan makanan kesukaannya apalagi banyak pula yang menyebutkan bahwa coklat itu membuat perasaan setiap orang bahagia.


"Kemana?" tanya Fina yang ikut-ikutan mengintimidasi


"Ke pasar malam," jawab Rissa jujur.


"Trus lo duduk-duduk ditaman gak?" Cintya terus bertanya dan ia akan menggali sebanyak-banyaknya tentang status Rissa sekarang.

__ADS_1


"Iya," jawab Rissa santai dan singkat.


Mendengar jawaban dari Rissa, Cintya dan Fina langsung terkejut dan saling memandang, lalu kemudian menatap curiga Rissa seperti punya hutang seratus juta. Kali ini mereka hanya diam tapi matanya menatap tajam ke arah Rissa. Apakah kali ini Rissa akan jujur pada mereka?


Rissa yang ingin memakan coklat dan sedang membuka mulutnya karena coklatnya sudah diujung bibir, tiba-tiba berhenti.


"Kenapa lo berdua natap gue kayak gitu?" Rissa bingung dengan sikap kedua sahabatnya.


"Hmmm." Cintya semakin menatap curiga ke Rissa.


"Lo berdua kenapa sih?" Rissa semakin bingung dengan kedua sahabatnya ini.


"Lo... Ada hubungan apa sama pak Andi?" tanya Cintya to the point.


Rissa langsung terkejut mendengar pernyataan dari Cintya


Mampus gue. Apa mereka udah tau ya kalo gue ini istrinya muka tembok? Aduh.. Gawat nih, batinnya.


"Gue... Gue gak ada hubungan apa-apa kok sama dia," jawabnya gugup.


"Masa sih?" Cintya masih menatap curiga.


"Ya iyalah masa gue bohong, lagian kenapa lo tiba-tiba nanya gitu sih sama gue?" Rissa berusaha menetralkan rasa gugupnya.


"Gue waktu itu liat lo lagi duduk sama pak Andi sambil ketawa bareng ditaman pasar malam." Rissa langsung melotot mendengarnya.


"Itu beneran lo kan? Jawab sama kita dengan jujur Rissa," pinta Cintya meminta penjelasan lebih lanjut dari Rissa.


Duhh... Harus bilang apa nih gue? Terpaksa deh gue bohong sama kalian. Maafin gue ya, batinnya.


"Gue waktu itu emang pergi ke pasar malam. Tapi gue perginya sama abang gue kok," ucap Rissa.


"Yang bener?" tanya Fina.


"Iya bener. Lagian kalian itu tau kan kalau gue itu benci banget sama muka tembok. Ya nggak mungkinlah gue mau jalan bareng dia," jelas Rissa padahal sebenarnya ia sedang berbohong demi menutupi statusnya saat ini.


"Mungkin waktu itu gue salah liat kali ya?" pikir Cintya sambil mengusap dagunya.


"Udah deh... Lo itu terlalu sayang sama gue, jadi lo mikirin gue terus dan bayangin muka gue dimana-mana," canda Rissa.


"KEPEDEAN LO KAMPRET!!" teriak Cintya.


Rissa dan Fina langsung tertawa ngakak mendengar suara Cintya yang lucu dan cempreng karena teriakannya. Diantara mereka bertiga, suara Cintya lah yang paling lucu apalagi kalau sudah berteriak.


Gue gak tau sampe kapan gue mau nutupin status gue ini. Mungkin cepat atau lambat, sahabat gue bakalan tau yg sebenarnya tentang gue, batin Rissa.


To be continued...

__ADS_1


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like dan voment ya!


__ADS_2