
Tepat pukul sembilan malam, Rissa dan Andi pulang ke rumah. Hari ini Rissa tidak bisa bekerja sama sekali karena suaminya itu terus menyuruhnya ke ruangan Andi, karena takut ia akan berdekatan dengan Aldo.
Memang akhir-akhir Andi selalu ingin dekat dan tidak mau jauh ditinggal Rissa. Padahal masih satu kantor, tapi Andi ingin istrinya ada disampingnya.
Seperti biasa, Andi menggenggam tangan istrinya yang sudah menjadi kewajiban baginya kapanpun dan dimanapun. Sampai dimobil, Andi mengendarai dengan satu tangan, karena satu tangan lagi tetap setia menggenggam erat tangan sang istri.
Selama perjalanan menuju pulang tidak ada percakapan sama sekali, palingan hanya suara musik ataupun suara radio mobil. Tapi sesekali, Andi mencium punggung tangan istrinya apalagi saat lampu merah, bibirnya terus menempel untuk merasakan betapa halusnya kulit istrinya ini.
Sampai dirumah, pasangan suami-istri ini segera ke kamar untuk membersihkan diri sebelum makan malam. Memang jadwal makan malam hari ini terbilang cukup lama, mengingat pekerjaan kantor yang sangat sibuk.
"Bapak mandi duluan aja, biar nanti sekalian saya siapin baju untuk bapak, ucap Rissa.
Andi tersenyum manis ke istrinya. "Yaudah, saya mandi duluan ya."
Setelah Andi masuk ke kamar mandi, Rissa mulai menyiapkan baju tidur untuk suaminya. Rissa melakukan ini karena ada maunya, jadi dari sinilah rencananya untuk bersikap manis supaya Andi luluh. Ini merupakan pertama kali baginya untuk menyiapkan keperluan terutama baju tidur sang suami.
Beberapa menit kemudian, Andi keluar dari kamar mandi dan terlibat lebih segar. Rissa yang mengetahui hal tersebut, segera menghampiri Andi dengan tangannya yang memegang baju tidur suaminya.
"Nih pak bajunya, sekarang saya mau mandi dulu ya,"ucap Rissa.
"Makasih ya, Rissa istri saya yang cantik." goda Andi.
"Iya Pak Andi suami saya yang jelek," canda Rissa sambil tersenyum jahil.
"Kok jelek sih? Baru kali ini ada seseorang yang bilang saya jelek." Andi sempat tak terima dibilang jelek, apalagi hal ini diucapkan oleh istrinya sendiri.
Rissa tertawa mendengar ucapan Andi "Emang bapak jelek kok."
"Biarin, terserah kamu mau bilang saya apa. Tapi orang yang kamu bilang jelek ini adalah suami kamu sendiri," balas Andi.
"Iya deh... Saya mandi dulu ya pak," daripada berdebat dengan Andi, lebih baik Rissa langsung mandi aja.
Hari ini Rissa tidak terlalu capek karena kerjanya seharian ini cuma menemani Andi dan mendengar gombalan receh. Semoga saja kejadian seperti ini tidak berlangsung lama karena kalau tidak, Rissa pasti tidak akan tahan menanggapi perubahan sikap Andi yang aneh.
Setelah selesai mandi, Rissa keluar dan melihat Andi duduk di pinggir ranjang sambil memegang handphonenya Pandangannya pun tertuju pada sang istri yang sudah selesai mandi tapi posisinya masih berdiri di depan pintu.
"Akhirnya kamu selesai mandinya. Yaudah yuk kita makan malam, saya udah lapar banget karena nungguin kamu," ajak Andi.
"Kenapa bapak nungguin saya? Bapak kan bisa makan duluan kalau udah lapar" balas Rissa.
"Saya gak mau. Karena kalau makan tanpa kamu itu, rasanya kurang lengkap," sepertinya Andi mulai menggoda Rissa.
Rissa menghela nafasnya, "Yaudah deh... Yuk kita makan."
Andi tersenyum senang dan merangkul istrinya untuk turun ke bawah. Kalau seperti ini, ada rasa senang juga bagi Rissa terhadap perlakuan manis dari suaminya. Mereka yang biasanya tampak selalu cuek satu sama lain, sekarang terlihat lebih harmonis.
Sampai dimeja makan, Rissa mengambilkan nasi beserta lauk ke piring suaminya. Dipandangan Andi, Rissa sedang melayaninya dan melakukan tugas sebagai seorang istri. Tapi di dalam diri Rissa sendiri, ia melakukan semua ini demi melancarkan aksinya bersikap manis.
"Bapak makan yang banyak ya." Rissa mengambilkan lauk dan sayur yang banyak untuk Andi.
Andi hanya mengangguk dan memakan makanannya dengan lahap. Saat sayur yang Andi makan berkurang, Rissa mengambilkannya lagi dengan alasan supaya jadi sehat.
"Bapak harus makan sayur yang banyak biar sehat," ucap Rissa sambil memberikan lauk sayur ke piring Andi.
Andi mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya. Tapi kali ini, ia masih diam dan menganggap bahwa hal ini masih bersifat wajar..
Saat Andi selesai makan, ia hendak mengambil gelas untuk minum tapi dihalangi oleh Rissa.
__ADS_1
"Sini pak, biar saya aja yang nuang air minumnya." Rissa menuang air putih ke gelas Andi.
Andi semakin heran dengan Rissa, sebenarnya ada apa dengan istrinya ini? Ia pun meminum air putihnya sampai habis tak bersisa. Makan malam kali ini benar-benar sangat memuaskan, walaupun ada sedikit hal yang mengganjal.
"Saya mau lanjut kerja lagi. Kalau kamu ada perlu, datang aja ke ruang kerja saya," pamit Andi setelah menyelesaikan makannya.
Rissa mengangguk "Iya Pak."
Andi beranjak dari kursinya untuk melanjutkan pekerjaan di ruang kerja pribadinya. Saat menaiki tangga menuju lantai dua, Andi masih kepikiran tentang sikap Rissa yang aneh tadi. Sepertinya hal ini akan membuatnya tidak fokus bekerja lagi dan ia yakin kalau setelah ini, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Benar saja, hal yang dipikirkannya tadi memang terjadi dan kembali membuat kepalanya pusing. Baru saja ia merubah sikapnya, malah istrinya ikut berubah juga. Bukannya ia tidak suka dengan perubahan sikap istrinya, hanya saja hal ini terlalu berlebihan menurutnya. Biasanya kalau seorang wanita sudah begini, pasti ada maunya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi pak, ini saya bawain minuman coklat hangat kesukaan bapak biar makin semangat kerjanya." Rissa membawakan minuman kesukaan suaminya.
"Oh iya, taruh aja di meja," balas Andi.
Rissa meletakkan minuman coklat hangat tersebut di meja Andi plus dengan senyum manis. Hampir setiap orang menyukai minuman coklat ini baik hangat maupun dingin, karena dipercaya bisa meringankan pikiran.
"Makasih ya," ucap Andi.
"Iya Pak sama-sama. Emm... bapak butuh sesuatu lagi gak, biar saya ambilin?" tawarnya.
"Gak usah," jawab Andi.
"Bapak capek gak? Kalau bapak capek, saya pijitin ya?" Rissa berjalan ke belakang Andi dan memijat bahu suaminya.
Andi semakin curiga dengan sikap Rissa, biasanya Rissa itu paling anti dekat dengannya tapi sekarang, malah Rissa lebih perhatian dan peduli padanya. Kasus ini harus segera diluruskan dan diselesaikan.
Andi memegang tangan Rissa yang sedang memijat bahunya, lalu memutar kursinya menghadap ke Rissa.
"Maksud bapak?" Rissa pura-pura bingung dengan pertanyaan Andi.
"Pasti kamu ada maunya kan?" ucap Andi to the point.
Rissa hanya diam dan bingung harus berkata apa, karena Andi tau maksud dari sikapnya ini. Tapi kalau berbohong pun, pasti seorang Andi akan tau walau dengan cara apapun ditutupi. Melihat tatapan serius serta ekspresi suaminya saja, ia tidak sanggup untuk berbohong demi membongkar keinginannya.
Andi memegang kedua tangan istrinya, "Rissa, bilang sama saya kamu mau apa?"
"Saya mau minta izin pak," ucapnya ragu-ragu.
"Minta izin buat apa?" tanya Andi lembut.
"Saya mau ikut kemping sama temen-temen saya," jawab Rissa.
Andi menaikkan alisnya satu, "Kemping?"
"Iya Pak, soalnya kan bentar lagi cuti kerja, jadi saya sama temen-temen saya rencananya mau Kemping ke puncak," jelasnya.
Andi berpikir sejenak, "Sama siapa aja kamu pergi kemping?"
"Saya, Cintya, Fina, Aldo sama Robi," jawab Rissa.
Andi sempat terkejut saat mendengar nama Aldo, "Aldo? Ngapain dia ikut kemping sama kamu?"
"Dia kan temen saya juga pak, lagipun bagus kan kalo ada cowok yang nantinya jagain cewek disana," ucap Rissa.
__ADS_1
Gak, ini gak bisa saya biarkan. Nanti si Ronaldo itu malah pacaran lagi sama istri saya, batin Andi.
"Saya ikut," ucap Andi tiba-tiba.
Rissa terkejut dan ternganga mendengarnya. "Ikut? Ngapain bapak ikut?"
"Emang kenapa? Salah kalau saya ikut sama kamu? Lagian saya ini kan suami kamu, biar nanti saya aja yang jaga kamu disana." Andi tidak suka kalau permintaannya ditolak.
"Tapikan ada dua cowok pak yang bakal jaga saya disana," ucap Rissa bermaksud menolak permintaan suaminya ini.
"Gak, pokoknya saya ikut." Andi tetap kekeuh mau ikut kemping.
"Tapi pak---
"Saya ikut atau kamu gak pergi kemping sama sekali," ancam Andi.
Rissa tersenyum mendengarnya. "Bapak cemburu ya karena ada Aldo?"
Andi menarik Rissa agar duduk di pangkuannya, "Rissa, kamu tau kan kalau saya itu memang cemburu kalau kamu dekat sama dia."
Rissa menggelengkan kepalanya. Beginilah sikap lucu Andi kalau sudah mendengar nama Aldo, pasti dia langsung cemburu dan manja.
"Aldo itukan cuma temen saya pak." Rissa sengaja memancing rasa cemburu suaminya.
Andi memeluk istrinya manja, "Tapi saya gak bisa jauh dari kamu Rissa. Apalagi, kamu pasti bakal berduaan terus sama dia disana. Pokoknya saya mau ikut."
Rissa tersenyum geli mendengarnya, "Bapak kok jadi manja sih sama saya?"
"Manja sama istri saya sendiri gapapa dong." Andi semakin erat memeluk tubuh mungil istrinya.
Andi mengelus punggung Rissa lembut "Boleh ya, saya ikut kemping sama kamu?"
Rissa melepaskan pelukannya dan menatap Andi, "Yaudah deh, bapak boleh ikut. Mau saya larang juga pasti ujung-ujungnya bapak bakalan ikut."
Andi tersenyum bahagia mendengarnya, "Tapi sebenarnya ada satu syarat lagi kalo kamu mau ikut camping."
"Hah, syarat apa lagi sih pak?" tanya Rissa bingung.
Andi menunjuk pipinya "kiss me."
Sontak saja, Rissa membulatkan matanya saat mendengar permintaan aneh dari suaminya. Selain manja, bucin, dan jago menggombal, ternyata banyak sisi lain serta misterius dibalik seorang Andi.
"Kok kamu malah melotot sih? Yaudah gini aja, kamu yang cium saya atau saya yang cium kamu?" goda Andi. Demi apapun, ia akan melakukan cara apapun agar permintaannya terpenuhi.
Rissa mendekatkan wajahnya ke Andi dan memberikan ciuman.
Satu kecupan mendarat dipipi Andi dan membuatnya tersenyum senang. Sejenak, ia mengusap pipinya yang sudah terkena ciuman manis dari istrinya tercinta. Tangannya yang kekar itu mengusap pipi mulus sang istri, lalu menggendong ala bridal style menuju ke kamar mereka.
"Sekarang kita istirahat ya, saya udah capek seharian kerja."
Andi berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar mewah mereka. Setelah sampai di kamar, ia menurunkan Rissa secara perlahan, lalu menyandarkan kepalanya dipangkuan istrinya tercinta.
"Elus-elus kepala saya lagi ya. Saya maunya dimanja sama kamu," pinta Andi.
Rissa dengan senang hati mengelus lembut kepala suaminya yang manja dan mengecup pipi Andi lagi. Entah keberanian dari mana hingga ia menciumnya lagi tapi yang pasti, hal ini membuatnya sangat bahagia.
To be continued...
__ADS_1
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like, fav dan voment ya!