COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Cemburu


__ADS_3

Rissa benar-benar bingung dengan sikap dua laki-laki yang sedang memperebutkannya. Ia hanya bisa pasrah melihat kelakuan dua lelaki tersebut. Daripada pusing gara-gara tingkah mereka yang aneh, lebih baik ia duduk manis sambil minum teh hangat sendirian.


"Ris, kamu kok duduk sendirian disini?" tanya Aldo yang baru datang dan ikut duduk disebelahnya.


Rissa tersenyum "Gapapa, aku cuma pengen sendiri aja."


"Jangan ngelamun loh, entar kamu kesambet lagi," tegur Aldo.


"Enggak kok, aku gak melamun sama sekali," ucap Rissa.


Setelah itu tidak ada percakapan diantara keduanya. Aldo berpikir, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rissa.


Tapi Aldo masih ragu untuk mengucapkannya. Ia bingung untuk bilang sekarang atau tidak. Jantungnya sudah berdegup kencang dan sedikit gugup.


"Emm... Ris?" Panggilnya.


"Ya, kenapa Aldo?" sahut Rissa.


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Aldo ragu-ragu.


"Bilang apa?" tanya Rissa.


Aldo masih diam dan berpikir apakah ia harus mengungkapkannya sekarang atau tidak. Sementara dibelakang mereka ada Andi yang melihat dan mendengar pembicaraan mereka berdua. Ia hanya memperhatikan saja serta menunggu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kamu mau gak jadi pacar aku?" ucap Aldo to the point


Rissa langsung terkejut mendengarnya, begitu pula dengan Andi yang mendengarnya juga dibelakang mereka. Hatinya sangat sakit melihat istrinya sendiri berduaan dengan lelaki lain dan parahnya lagi, lelaki tersebut malah mengungkapkan rasa cintanya.


"Aku... Aku..." Rissa benar-benar bingung harus berkata apa. Sebenarnya ia juga masih memiliki perasaan kepada Aldo. Tapi, sekarang semuanya sudah terlambat karena statusnya adalah seorang istri.


"Ris," Panggil Aldo lembut.


Rissa langsung menangis karena merasa sedih. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Kenapa Aldo harus mengungkapkan perasaannya setelah ia menikah? Aldo langsung memeluk Rissa dan mengelus rambut Rissa lembut.


"Ssttt... Kamu jangan nangis Ris, kalau kamu belum bisa jawab sekarang gapapa kok, aku bisa nunggu kamu," ucap Aldo.


Rissa semakin menangis karena perkataan Aldo. Ingin sekali rasanya ia bilang sekarang kalau ia sudah menikah. Tapi ia belum siap dan takut mengecewakan Aldo.


"Hiks... Hiks... Maafin aku Aldo, maaf," ucap Rissa sesegukan.


"Udah dong... Jangan nangis lagi, entar cantiknya hilang loh," ucap Aldo sambil memeluk erat Rissa.


Andi yang melihat istrinya dipeluk laki-laki lain, hanya mengepalkan tangannya dan menahan emosi. Karena kesal, ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintai kamu. Karena kamu adalah wanita yang paling aku cintai, yang selalu membuat aku nyaman sama kamu," ucap Aldo tulus dari hatinya.


Rissa melepas pelukannya dan Aldo menghapus air mata dipipi Rissa dengan lembut.


"Sekarang kamu tidur ya. Besok pagi kan kita harus kembali lagi ke kota," ucap Aldo.

__ADS_1


Rissa mengangguk dan tersenyum tipis. Mereka berdua pun masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat dan bersiap untuk pulang besok pagi.


Tak terasa acara kemping mereka sudah empat hari dan pagi ini mereka semua sedang berkumpul untuk bersiap-siap naik ke bus.


Akhirnya satu persatu dari mereka masuk ke dalam bus, termasuk Andi. Tapi saat didalam bus, ia melihat hal yang ia benci yaitu istrinya sedang duduk sebangku dengan Aldo.


Andi benar-benar merasa kesal dan emosi melihat mereka. Belum lagi saat di perjalanan, Rissa sedang tidur dan tanpa sengaja kepalanya jatuh di bahu Aldo.


Setelah beberapa jam diperjalanan, akhirnya mereka semua sampai di kota dengan selamat.


"Ris, kamu pulang sama siapa?" tanya Aldo.


"Aku pulang sama Fina," jawab Rissa bohong. Ia terpaksa berbohong karena tidak mungkin ia menjawab kalau ia akan pulang dengan Andi.


"Oh.. Yaudah kalo gitu aku duluan ya?" pamit Aldo.


"Iya, kamu hati-hati dijalan ya," balas Rissa.


Aldo tersenyum dan pergi ke parkiran untuk pulang duluan. Setelah Aldo pulang, Rissa menyusul Andi yang sudah menunggunya di parkiran kantor.


"Bapak udah lama nunggunya?" tanya Rissa saat di dalam mobil.


Andi tidak menjawab pertanyaan Rissa.. Jangankan menjawab, melirik Rissa saja ia tidak mau. Ia benar-benar marah dan kesal pada istrinya sendiri, ditambah lagi rasa sakit hati serta cemburu yang sudah menjadi satu. Andi langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.


Kenapa pak Andi diam aja ya dari tadi? Bahkan dia gak mau liat muka aku sama sekali. Apa dia marah ya sama aku? batin Rissa.


Setelah sampai di rumah, Andi mengambil kopernya di bagasi mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun. Rissa benar-benar bingung dengan sikap Andi yang mendadak dingin lagi terhadapnya.


"Kayaknya pak Andi beneran marah deh sama aku?" gumamnya.


Rissa pun menyusul Andi ke kamar dan melihat Andi sedang sibuk dengan handphonenya. Ia menghampiri Andi bermaksud untuk bicara baik-baik dengannya.


"Bapak butuh sesuatu nggak? Atau bapak mau saya buatin minuman kesukaan bapak?" tanyanya basa-basi.


"Gak usah," balas Andi cuek dan langsung. mematikan handphonenya, lalu tidur membelakangi Rissa.


Rissa langsung cemberut karena sikap cuek Andi. Ia juga ikut menyusul suaminya tidur, tapi tidak membelakangi melainkan menghadap punggung suaminya. Tak lama kemudian, ia pun tertidur juga.


Keesokannya, Rissa bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan khusus untuk Andi. Saat Andi datang, ia langsung tersenyum manis.


"Sekarang bapak makan ya. Saya udah buatin sarapan untuk bapak." ucap Rissa.


Andi hanya meminum air putih sambil berdiri tanpa mau duduk dekat dengan Rissa.


"Tolong kamu buatkan saya roti dan susu. Setelah itu kamu bawa ke ruang kerja saya." Ucap Andi ke maid nya.


"Baik tuan," balas maid itu..


Setelah itu, Andi langsung berjalan menaiki tangga untuk ke ruang kerja pribadinya. Rissa merasa sedih karena Andi sama sekali tidak mau memakan bahkan menyentuh sarapan buatannya yang khusus untuk Andi.

__ADS_1


"Bella, ini sarapan untuk pak Andi kan?" tanyanya ke maid itu.


"Iya nyonya," jawab Bella.


"Sini, biar saya aja yang bawakan untuk pak Andi." ucap Rissa sambil mengambil nampan yang berisi makanan.


"Baiklah nyonya, kalau gitu saya permisi mau lanjut kerja lagi," pamit Bella.


Rissa membawa nampan berisi makanan itu ke ruang kerja pribadi Andi. Semoga saja suaminya menyukai ini dan berharap, mau bicara lagi dengannya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, ini saya bawakan sarapan untuk bapak," ucap Rissa sambil meletakkan nampan tersebut.


"Bapak butuh sesuatu lagi nggak?" tawarnya.


"Gak," jawab Andi singkat.


Rissa tersenyum "Yaudah kalau gitu saya permisi pak. Kalau butuh sesuatu, bilang aja sama saya."


Andi tidak menjawabnya, ia hanya fokus ke laptopnya. Rissa segera pergi keluar dan turun ke bawah. Setelah Rissa pergi, ia menghubungi maid nya.


"Iya tuan?" sahut Bella.


"Tolong kamu bawakan lagi sarapan untuk saya." perintahnya.


"Tapikan, barusan saja nyonya Rissa membawakan sarapan untuk tuan." ucap Bella.


"Saya mau kamu yang membawakan sarapan untuk saya. Sekarang juga." tegas Andi.


"Baik tuan." ucap Bella dan Andi mengakhiri panggilannya.


Rissa sedang berjalan ke arah dapur dan melihat Bella sedang membawa nampan berisi makanan yang sama dengan yang dibawanya tadi.


"Loh, ini sarapan untuk siapa?" tanya Rissa heran.


"Ini sarapan untuk tuan, nyonya," jawab Bella.


"Tapikan, saya barusan aja bawain sarapan untuk pak Andi?" tanyanya bingung.


"Iya nyonya, tapi tuan mau sarapannya saya yang bawakan. Kalau tidak, tuan bisa marah sama saya," ucap Bella.


Rissa pun terdiam mendengarnya. Ada rasa sedih dan sakit hati yang ia rasakan sekarang.


"Kalau gitu, saya permisi nyonya," Pamit Bella dan diangguki Rissa.


Apa segitu marahnya ya pak Andi sama aku? Bahkan dia gak mau sama sekali makan makanan yang aku bawain tadi. Kayaknya pak Andi benci banget deh sama aku? batinnya sedih.


To be continued...

__ADS_1


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like, fav dan voment ya!


__ADS_2