
Setelah keluar dari ruangan neraka, alias ruangan bosnya. Rissa masih kesal dengan sikap Anak yang gak tau diri itu.
"Woy... Kusut amat tuh muka," tegur Cintya.
"Iya nih, kenapa lo? masa habis pacaran sama si bos muka lo kusut. Oh, atau Jangan jangan lo gak dapat jatah ya... Hahaha," ejek Fina yang tertawa puas.
Kedua sahabat ini memang sangat senang menjahili Rissa, apalagi kalau tentang menjodohkan Rissa dan Andi Mereka pasti akan terus mengejar dan menertawakan Rissa sampai puas.
"Brisik lo pada, gue tuh lagi kesel sama si muka tembok," ucap Rissa kesal.
"Lah, emang kenapa?" tanya Fina.
Rissa menghembuskan napasnya kasar "Masa gue di suruh ke ruangannya cuman buat beliin dia jus disebrang kantor itu. Udah gitu ya, dia gak bilang makasih lagi sama gue. Kan kesel gue jadinya," jawab Rissa.
"Gila ya si bos, ada-ada aja deh permintaannya," ucap Fina.
"Itu belum seberapa yang lebih parah lagi dia minta jus nya gak terlalu manis, airnya gak banyak, gak pake susu, dan gak pake lama," jelas Rissa.
"Wahh... Kayaknya si bos emang sengaja deh ngerjain lo, iya nggak?" ucap Cintya.
"Tau ah, Pusing gue," keluh Rissa
Rissa memijat kepalanya yang pusing karena memikirkan Andi yang selalu aneh dan menyebalkan. Dan tiba-tiba nenek sihir ehh... Maksudnya Dini sekretaris Andi datang lagi ke meja kerja Rissa.
"Eh Rissa, lo dipanggil lagi sama pak Andi ke ruangannya sekarang" ucap Dina to the point.
"Duh. Kenapa lagi sih dia manggil gue?" ucap Rissa frustasi.
Baru saja Rissa bernapas lega, tapi tiba-tiba Andi memanggilnya lagi ke ruangan neraka. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Andi si makhluk menyebalkan itu? Apakah dia belum puas melihat Rissa pusing tujuh keliling.
"Kayaknya si bos masih kangen deh sama lo," goda Cintya.
"Ciee ciee... Calon masa depannya pak Andi," tambah Fina.
"Berisik lo kampret," ucap Rissa kesal melihat kedua sahabatnya yang selalu mengejeknya.
"Bwahahaha," Kedua sahabatnya tertawa ngakak
Rissa pergi meninggalkan kedua Sahabatnya yang gak punya akhlak itu. Karena saking kesalnya, ia langsung masuk keruangan bosnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu itu gak punya sopan santun ya, main masuk aja gak ketuk pintu. Sana keluar ulangi lagi," ucap Andi kesal.
Ihh, ribet banget sih ni orang, batin Rissa kesal.
Rissa terpaksa keluar lagi untuk mengulang perintah dari bosnya. Orang seperti Andi memang susah untuk diajak kerja sama apalagi berkompromi. Lihat saja sekarang, sebenarnya Andi itu tau kalau Rissa sedang kesal padanya tapi hal inilah yang disukainya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi pak, bapak manggil saya?" tanyanya dengan terpaksa.
"Sini kamu," Perintah Andi.
Rissa berjalan ke arah meja kerja Andi tapi ia tidak mau duduk karena ia tidak diperintahkan. Bagi siapa yang berani melanggar perintah Andi, maka bersiaplah untuk mendapat ceramah dan siraman qalbu yang panjang kali lebar dan tinggi
"Tolong kamu tulis nomor handphone kamu, di handphone saya sekarang," Perintah Andi.
"Kenapa tadi gak sekalian sih pak? ucap Rissa sedikit kesal.
"Suka-suka saya lah, Saya kan bosnya. Lagipula, kamu lupa apa sama peraturan perusahaan ini?" tanya Andi.
"Gak pak," jawab Rissa.
"Coba kamu sebutkan pasal satu," perintah Andi.
"Isi dari pasal adalah bos selalu benar sedangkan karyawan selalu salah, jadi karyawan harus menerimanya," jelas Rissa walaupun terpaksa.
"Hmm... Itu kamu tau, jadi kamu gak usah banyak komen," ketus Andi.
__ADS_1
"Nih orang lama-lama cerewet banget ya? Dulu irit banget kalo ngomong, sekarang cerewet nauzubillah kayak emak-emak." gumamnya pelan.
Sambil menulis nomor handphonenya, sekalian juga Rissa mengumpat kata kata manis untuk bosnya. Ia tidak peduli dengan semua sumpah serapah yang telah ia ucapkan dalam hatinya untuk Andi walaupun itu calon suaminya. Toh mereka itu hanya dijodohkan dan tidak saling mencintai.
"Udah saya tulis dan saya simpan nomor saya dihandphone bapak," ucap Rissa.
"Yaudah, sana kamu kerja lagi," ucap Andi dengan nada mengusir.
"Gak ada lagi yang lain pak?" tanya Rissa memastikan
"Gak," jawab Andi.
"Bener nih? tanya Rissa.
"Hmm." Andi hanya berdehem.
"Yakin?" tanya Rissa lagi.
"Hmm." Andi hanya berdehem lagi.
"Bagus deh, kalau gitu saya permisi pak," pamit Rissa.
Setelah itu, Rissa keluar dari ruangan Andi dengan perasaan yang lumayan baik karena Andi tidak menyuruhnya lagi melakukan sesuatu. Akhirnya waktu menunjukkan pukul 12 siang. Rissa dan sahabatnya bersiap untuk pergi makan siang bersama, tapi tiba-tiba handphone Rissa bergetar tanda ada pesan masuk.
+62852******
Kamu makan siang bareng saya
"Nomor siapa nih?" batin Rissa.
"Pak Andi? Dia tau aja ya, apa yang baru gue bilang barusan. Jangan-jangan, dia cenayang lagi?" gumamnya.
"Maaf Pak, saya gak tau kalo ini nomor bapak. Kenapa bapak tumben ngajakin saya makan siang?"
+62852******
Rissa tidak membalas lagi pesannya.
"Emm. lo semua duluan aja deh pergi. gue masih ada urusan lagi nih," Alasan Rissa.
"Gitu ya. Yaudah deh, kita duluan ya," ucap Fina.
rissy hanya mengangguk, setelah kedua sahabatnya pergi jauh dan merasa situasi sudah aman, Rissa langsung berjalan ke parkiran untuk menyusul Andi.
"Lama banget sih kamu," Protes Andi.
"Maaf pak." ucap Rissa.
"Yaudah cepat masuk mobil," Perintah Andi.
Rissa masuk ke dalam mobil warna hitam dan Andi mengendarainya dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, tidak ada percakapan diantara keduanya. Hingga akhirnya Rissa memberanikan diri untuk bertanya pada Andi.
"Pak, Sebenarnya kita mau kemana sih?" Rissa bertanya pada Andi sedangkan Andi hanya diam dan fokus menyetir.
Ni orang budeg kali ya? ditanyain malah diam aja. Dasar muka tembok, batinnya.
Setelah itu Rissa hanya diam dan tidak mau lagi bertanya, lebih tepatnya ia sangat menyesal karena bertanya pada Andi si muka tembok.
Andi memberhentikan mobilnya di sebuah toko perhiasan. Rissa sendiri semakin bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya untuk apa andi membawanya kesini.
Rissa dan Andi turun dari mobil. Rissa hanya berjalan dibelakang mengekori Andi.
"Kamu jangan jalan dibelakang saya, kamu itu bukan pengawal saya," ucap Andi.
"Gapapa kok pak," ucap Rissa.
"Terserah." Andi kembali berjalan hingga ia mendapat sebuah ide. Andi sengaja berhenti berjalan hingga membuat Rissa menabrak punggungnya.
__ADS_1
"Aduhh.. Sakit banget," ucap Rissa sambil memegang keningnya.
"Makanya... saya kan udah bilang jangan berjalan di belakang saya. Sini jalan disamping saya," Perintah Andi sementara Rissa hanya melotot mendengar hal tersebut. Karena tidak ada respon, Andi menarik Rissa dan merangkulnya di depan umum.
Duhh... Malu banget gue, si kampret pasti sengaja ngerjain gue dan buat malu gue, batinnya.
"Selamat datang mas, mbak. Ada saya bantu?" tanya toko perhiasan. yang bisa salah satu karyawan
"Saya mau cari cincin pernikahan mbak," jawab Andi.
"Ayo kamu pilih Rissa," Perintah Andi.
Rissa mengernyitkan dahinya bingung "Kok saya pak?" tanyanya.
"Udah deh, kamu pilih aja gak usah banyak komen," protes Andi.
"Huh... Iya iya," ucap Rissa pasrah.
"Silahkan dipilih mbak cincinnya." ucap karyawan tersebut sambil mengeluarkan model cincin pernikahan.
"Bapak suka yang mana?" tanya Rissa.
"Terserah," jawab Andi.
"Kalau yang ini gimana?" tanya Rissa lagi.
"Terserah," jawab Andi singkat.
Dari tadi jawabannya terserah, Terserah. Gue kerjain lo, batinnya.
"Mbak, Saya mau cincin yang paling bagus dan paling mahal ya," ucap Rissa santai.
"Oh iya mbak, kebetulan kami punya model baru dan paling mahal mbak." Ucap karyawan tersebut.
"Oke, saya ambil yang itu aja mbak," ucap Rissa.
"Sebentar ya mbak saya ambilin cincinnya." Karyawan tersebut mengambil cincin yang Rissa inginkan tadi.
"Ini mbak, jadi semuanya 100 juta ya," ucap karyawan tersebut.
Andi langsung terkejut dan melototkan matanya karena mendengar harga cincin tersebut. Sedangkan Rissa hanya biasa-biasa saja sambil memasang muka polos tak berdosa. Yaa iyalah, yang bayar kan Andi... Hahaha.
Mau tidak mau, Andi harus membayar cincin itu dan ia pun merogoh sakunya untuk mengambil dompetnya dan mengeluarkan black card. Setelah selesai membayar cincin tersebut, Andi dan Rissa pergi.
"Bagus ya... Gara-gara kamu, saya harus mengeluarkan uang sebanyak 100 juta hanya untuk dua cincin." Ucap Andi kesal.
"Lah, kan tadi bapak sendiri yang bilang terserah, Yaudah saya ambil aja yang ini," jawab Rissa santai.
"Kamu ini ya, kamu sengaja mau ngerjain saya?" tanya Andi frustasi.
"Enggak, buat apa saya ngerjain bapak," jawabnya polos.
"Pokoknya saya gak mau tau, mulai sekarang gaji kamu akan saya potong karena kamu berani ngerjain saya," ucap Andi.
"Hah, gak bisa gitu dong pak, mau berapa bulan itu bisa lunas kalo pake gaji saya. Lagipula kan ini cincin pernikahan kita." Rissa protes tak terima.
"Bodo amat, saya gak peduli," ucap Andi dan langsung pergi meninggalkan Rissa.
"Ehh, Pak. Woyy!! Duhh... Sial banget sih gue," Kesalnya.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!
__ADS_1