
Rissa merasa bersalah karena selama ini telah berbohong dan menutupi statusnya. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk membohongi sahabatnya, hanya saja ia belum siap untuk menerima akibat dari menikah dengan Andi.
Akibatnya yaitu sahabatnya akan mengejeknya, mem-bully nya, dan akan menertawainya karena selama ini kedua sahabatnya itu selalu menjodohkannya dengan Andi dan itu menjadi kenyataan sekarang.
Rissa hanya melamun saat ini karena memikirkan kedua sahabatnya yang mulai curiga terhadap hubungannya dengan Andi.
"Huh.. Daripada gue pusing, mending gue makan es krim aja." Rissa beranjak keluar dari kamarnya menuju dapur. Tapi saat membuka kulkas, es krim yang Rissa inginkan tidak ada.
"Lah, kok es krimnya gak ada sih? Ini juga kulkas isinya sepi banget kayak kuburan?" Rissa menggerutu kesal.
"Cari apa nyonya?" ucap maid yang tiba-tiba datang dan membuat Rissa terkejut.
"Kamu ini ngagetin saya aja," ucapnya sambil mengelus dadanya.
"Maafkan saya nyonya, tapi kayaknya saya liat nyonya lagi cari sesuatu dikulkas. Mau saya bikinin sesuatu?" ucap maid itu.
"Gak usah, saya tadi cuma mau makan es krim tapi ternyata gak ada. Malah stok kulkas hampir kosong lagi," keluh Rissa.
"Oh iya, Saya lupa untuk belanja nyonya, soalnya seharian ini saya sibuk bersihin rumah," ucap maid itu.
"Gapapa, saya ngerti kok. Nama kamu siapa?" tanya Rissa.
"Nama saya Bella nyonya," jawab maid itu.
"Jangan panggil saya nyonya, panggil aja saya Rissa," ucapnya tersenyum. Sebenarnya ia kurang suka kalau dipanggil dengan sebutan 'nyonya' karena menurutnya hal itu membuat dirinya seperti orang yang sudah tua.
"Maaf nyonya, tapi saya tidak bisa." Bella menolak permintaan Rissa.
"Kenapa gak bisa?" tanya Rissa heran.
"Nyonya kan istrinya tuan, lagipula saya takut nanti tuan marah sama saya kalau memanggil nyonya hanya dengan sebutan nama," jelas Bella.
"Gitu ya. Yaudah deh, gapapa. Kamu udah berapa lama kerja dirumah muka tembok?" Rissa spontan mengucapkan mengucapkan nama Andi dengan sebutan 'muka tembok'.
"Muka tembok? Muka tembok itu siapa nyonya?" tanya Bella bingung.
"Siapa lagi kalau bukan pak Andi," Jawab Rissa santai dengan senyumannya yang lebar.
Maid itu tertawa mendengar perkataan Rissa, "Nyonya ini ada-ada saja." Bella cukup terhibur dengan adanya Rissa.
"Emang bener kok dia itu muka tembok." Rissa tertawa bersama Bella.
Entah Rissa ini memang terlalu polos atau malah memang sengaja mengejek Andi dari belakang, yang penting ia bahagia dan mengucapkan apa yang ada didalam hatinya. Rasa bencinya terhadap suaminya sendiri belumlah berkurang sedikitpun apalagi kalau ia sudah dicuekin oleh Andi.
"Nyonya itu lucu juga ya." Bella masih geli dengan ucapan Rissa tadi ya memberikan nama unik dan khusus untuk majikannya.
"Saya itu biasanya becanda sama abang saya, jadi udah terbiasa kalo soal becanda sama orang lain," ucap Rissa.
"Oh... Gitu ya. Pasti nyonya punya keluarga keluarga yang baik dan sayang sama nyonya." Bella bisa menebaknya dari sorot mata dan senyuman wanita cantik didepannya ini.
"Iya, saya bersyukur sekali punya keluarga yang baik."
Rissa jadi teringat serta rindu dengan keluarganya yang baru saja ia tinggalkan. Jauh dari keluarga tercinta itu memang berat bagi setiap orang tak terkecuali pula bagi Rissa sendiri. Karena ia sudah menikah, jadi ia harus ikut dan tinggal bersama suaminya. Walaupun pernikahan mereka karena sebuah perjodohan, ia yakin kalau orang tuanya telah memberikan yang terbaik padanya.
"Nyonya beruntung ya." Bella menunduk dan terlihat sedih.
"Kamu kenapa Bella?" tanya Rissa khawatir saat melihat ekspresi sedih dari Bella.
__ADS_1
"Gapapa nyonya, saya cuma sedih teringat orang tua saya." Bella juga merindukan keluarganya tercinta yang saat ini sedang jauh darinya.
"Memangnya orang tua kamu kenapa?" tanya Rissa penasaran.
"Ayah saya sedang sakit saat ini dan ibu saya yang bekerja keras untuk mencari uang. Sementara saya juga punya adik yang masih sekolah. Makanya saya memutuskan untuk bekerja di kota dan saya juga sudah setahun bekerja dirumah ini," jelas Bella.
Rissa merasa sedih dan terharu mendengar cerita tentang keluarga Bella. Sebagai seorang wanita, ia juga bisa merasakan kesedihan yang dialami Bella terutama tentang keluarganya.
"Sabar ya, semua ini adalah cobaan bagi kamu. Tapi kamu harus yakin kalau dibalik semua ini pasti ada hikmahnya dan kesedihan kamu saat ini akan terganti dengan kebahagiaan." Rissa langsung memeluk Bella dan mengelus punggung Bella dengan lembut, berharap bisa memberikan ketenangan.
"Terima kasih nyonya, ternyata nyonya itu baik sekali orangnya." Bella kagum akan sosok Rissa yang ternyata baik dan ramah. Sosok Rissa berbeda sekali dengan tuannya yang killer dan menakutkan. Semoga saja cepat atau lambat nanti, tuannya bisa merubah sikapnya menjadi lebih baik seperti Rissa.
"Kamu bisa anggap saya teman kamu," ucap Rissa sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak nyonya." Bella sangat senang atas ucapan Rissa barusan. Ia sangat beruntung bisa bekerja di rumah ini dan mempunyai majikan yang baik.
"Iya, kamu mau kan jadi teman saya?" tanya Rissa yang menawarkan kebaikan.
"Iya nyonya, saya mau jadi teman nyonya," ucap Bella dengan senang hati.
"Yaudah, saya mau ke kamar dulu ya," pamit Rissa.
"Iya nyonya, saya juga permisi mau lanjut kerja lagi." Rissa mengangguk dan Bella pun pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Rissa berjalan untuk kembali ke kamarnya. Namun saat didepan pintu kamar, ia tidak sengaja melirik pintu ruangan kerja pribadi Andi yang berada di sebelah kamarnya. Karena merasa penasaran dan ada maunya, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam.
Saat Rissa masuk ke dalam ruangan kerja Andi, ia melihat pria berperawakan tinggi itu sedang menelfon. Mungkin pria itu sedang membicarakan hal bisnis dan dari raut wajahnya saja, Rissa bisa menebaknya.
Sambil menunggu Andi selesai menelfon, Rissa duduk dikursi kebesaran milik bos yang saat ini sudah berstatus sebagai suaminya dan sesekali melihat berkas kerjanya. Setelah selesai menelfon, Andi cukup terkejut melihat Rissa yang duduk di kursi kebesarannya.
"Bapak lagi sibuk nggak?" Rissa bukannya menjawab pertanyaan Andi barusan, malah ia bertanya ke hal lain.
"Kenapa emangnya?" tanya Andi yang sedang berdiri di depan Rissa.
"Stok kulkas udah kosong pak." Rissa mengadu seperti anak kecil kepada Ayahnya.
"Trus?" ucapnya sambil membaca dokumen di tangannya. Andi memang begini orangnya yang selalu dingin, cuek dan memasang gaya sok cool.
"Kita ke mall yuk pak," Ajaknya.
"Ngapain?" tanya Andi tapi masih dengan nada cuek dan raut wajah yang tenang.
"Ya belanja lah, masa berenang," Ketusnya. Pertanyaan Andi tadi adalah sebuah hal yang cukup konyol untuk dijawab. Masa seorang CEO terkenal tidak tau apa tujuan orang kalau pergi ke mall.
"Yang biasa belanja kan maid rumah ini. Kenapa kamu jadi ngajak saya?" tanya Andi tapi nadanya seperti orang yang mau ngajak berantem.
"Gapapa lah pak, Sekali-sekali. Lagian saya juga mau beli sesuatu." Rissa berusaha membujuk Andi supaya mau mengikuti kemauannya.
"Kamu mau beli apa?" tanya Andi.
"Ada deh... Makanya ayo kita ke mall sekarang pak," rengeknya.
"Yaudah. Tapi kali ini aja ya, lain kali...
"Oke, kalo gitu saya siap-siap dulu." Rissa memotong ucapan Andi dan segera keluar dari ruangannya.
"Kebiasaan ya nih anak motong ucapan saya." Andi hanya menggeleng dan bersiap-siap juga.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap-siap, Rissa dan Andi pergi ke mall. Ini pertama kalinya bagi Andi ke mall untuk belanja bulanan dan itupun karena desakan dari istrinya sendiri. Biasanya yang belanja adalah maid nya tapi sekarang malah kebalikannya.
Sesampainya di parkiran mall, Andi keluar dan berjalan disusul Rissa dibelakangnya. Rissa malas untuk berjalan disamping suaminya tapi sisi lain, Andi malah tidak menyukai hal ini.
"Ck, udah berapa kali saya bilang sama kamu Rissa, jangan berjalan dibelakang saya," kesalnya.
"Emangnya kenapa sih pak? Saya juga gak bakal hilang kalau jalan dibelakang bapak," ucap Rissa.
"Iya tapi kamu itu istri saya Rissa, bukan pengawal saya. Sini gandeng tangan saya," perintah Andi.
Rissa sempat terkejut mendengarnya dan bukannya menggandeng tangan Andi, ia malah memegang ujung kemeja berwarna maroon milik Andi dengan dua jarinya.
"Kamu jijik ya sama saya?" Protes Andi.
"Enggak kok pak," ucap Rissa.
"Trus kenapa kamu megang saya kayak jijik gitu? Emang kamu pikir saya ini najis apa?" Andi mulai kesal dengan Rissa.
Mulai deh si muka tembok ngoceh kayak emak-emak, batinnya.
Tanpa disadarinya Andi tiba-tiba menggandeng tangannya dan berjalan masuk ke dalam mall. Ini pertama kalinya ia bergandeng tangan dengan Andi yang membuatnya sedikit merasa malu walaupun sebenarnya pria ini adalah suaminya sendiri.
Saat belanja bulanan, Rissa yang memilih bahan-bahannya sedangkan Andi yang mendorong trolli belanjaan.
"Apa lagi ya, yang kurang?" pikir Rissa.
"Udah semua belum? Atau masih ada yang mau kamu beli?" tanya Andi.
"Bentar, bentar. Saya mikir dulu pak. Oh iya... Saya kan mau beli es krim," sekarang Rissa sudah tau apa tujuannya mengajak Andi ke mall.
Andi menyernyitkan dahinya, "Es krim?"
"Iya. Ayo pak kita cari es krim." Rissa menarik tangan Andi ke tempat stok es krim.
Sampai ditempat es krim, Rissa mengambilnya banyak seperti stok setahun. Padahal sebelumnya, ia sudah mengambil banyak cemilan serta minuman favoritnya.
"Banyak banget sih kamu ngambilnya, mau kamu apakan semua es krim ini?" protes Andi.
"Hehehe... Saya emang pecinta es krim pak. Biasanya kalo dirumah, saya juga stok es krim sama coklat di kulkas. Sekarang kita cari coklat ya pak," pintanya.
"Yaudah, tapi setelah ini kita pulang." Andi terpaksa harus mengikuti kemauan Rissa lagi, tapi ini untuk yang terakhir.
"Oke." Rissa dan Andi berjalan untuk mengambil stok coklat Rissa dan setelah itu mereka ke kasir untuk membayar belanjaan.
Saat di antrian, Fina tidak sengaja melihat Rissa dan Andi sedang membayar barang belanjaan. Ia cukup terkejut bahkan tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Itu kan Rissa. kenapa dia sama pak Andi? Jangan-jangan bener lagi kalau Rissa itu memang punya hubungan lebih sama pak Andi?" gumamnya.
Fina sempat mau menghampiri Rissa, tetapi Rissa dan Andi sudah selesai membayar belanjaan dan berjalan keluar.
Kayaknya Rissa sama pak Andi memang punya hubungan lebih deh. Gue harus tanya sama Rissa besok, batinnya curiga.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
Like dan voment ya!
__ADS_1