COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Hadiah misterius


__ADS_3

Saat ini kedua sahabat Rissa masih menertawakan dan mengejek Rissa sampai puas. Seneng banget ya sahabat Rissa ngejekin dia. Dasar sahabat gak punya ahklak.


Disisi lain, Rissa hanya mengerucutkan bibirnya saja karena kalau mau protes pun, ia tidak tau harus bilang apa. Bayangkan saja bagaimana jika kalian yang berada di posisinya apalagi ditertawakan oleh sahabatmu sendiri? Miris sekali bukan?


"Seneng banget ya kalian ngetawain gue," ketus Rissa.


"Ya iyalah... Akhirnya sahabat gue udah nemuin jodohnya," ucap Cintya.


"Dan jodohnya adalah pak Andi... Hahaha" tambah Fina.


Bukannya berhenti tertawa, kedua sahabatnya malah semakin tertawa ngakak. Kalau punya sahabat kayak gini, enaknya diapain ya?


Walaupun mereka sering mengejek Rissa apalagi tentang masalah menjodohkan, tapi mulut mereka tidak akan ember alias memberitahu kepada orang lain bahwa Rissa adalah istri dari bos perusahaan ini.


"Trus aja ngetawain gue," kesal Rissa.


"Ututu... Jangan marah dong nyonya Andi Bagaskara," ucap Cintya sambil mencolek dagu Rissa.


"Tau ah, kesel gue." Rissa melipat kedua tangannya.


Setelah puas tertawa ngakak, akhirnya kedua sahabatnya berhenti juga. Mungkin mereka sudah capek tertawa dan mungkin tenggorokan mereka sudah kering. Sekarang saatnya untuk mengetahui lebih dalam tentang hubungan pasangan suami-istri ini. Tau sendiri kan bagaimana sifat kedua sahabatnya yang super duper kepo.


"Terus lo udah isi belum?" tanya Cintya kepo.


"Isi apa? Isi pulsa?" Rissa memasang muka polosnya.


"Bukan itu kampret, masa lo gak ngerti sih?" Rissa hanya menggeleng.


"Duhh... Sahabat gue ini emang polos atau pura-pura gak tau ya? Maksud gue itu lo udah hamil belum?" tanya Cintya dengan jelas.


Rissa terkejut mendengarnya "Ya belum la, gue ini masih virgin. Lagian gue aja gak pernah bersentuhan sama dia. Tidur aja dibatasi guling ditengah antara gue sama dia," jawab Rissa jujur.


Cintya dan Fina ternganga tak percaya mendengarnya. Sahabat mereka yang satu ini benar-benar polos atau malah kelewatan polos? Masa seorang CEO setampan Andi yang banyak didambakan cewek-cewek malah disia-siakan? Kan sayang... Hehehe.


"Gila ya, kalian itu pasangan suami istri yang hebat dan langka," ucap Cintya takjub.


"Langka, langka. Gue jitak juga kepala lo sekarang," ketus Rissa.


"Hehehe... Maaf deh, becanda doang," balas Cintya.


"Btw, lo udah cinta belum sama pak Andi?" tanya Fina.


"Cinta apaan, cinta dari Hongkong? Gue malah makin benci sama dia, udah sikapnya gak berubah sama sekali, masih aja dingin kayak kulkas." Rissa mengingat betapa mirisnya hidupnya sekarang setelah menikah dengan Andi si muka tembok.


"Benci bisa jadi cinta lo," goda Cintya.


"Udah deh... Gak usah ngomongin muka tembok. Males gue, makin ancur mood gue kalau ngomongin dia." Rissa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Yaudah. Eh, Aldo udah tau belum kalau lo itu udah nikah sama pak Andi?" tanya Fina.


Rissa menundukkan kepalanya, "Emm... Aldo belum tau."


"Kenapa gak lo kasih tau?" protes Cintya.


"Gue belum siap untuk kasih tau Aldo kalau gue itu udah nikah," ucap Rissa.


"Emangnya kenapa sih Rissa?" tanya Fina.


"Gue belum siap kehilangan Aldo. Kalian tau kan kalau gue itu cintanya sama Aldo, dan kalau sampai Aldo tau pasti dia bakal marah dan benci sama gue," jelas Rissa dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Loh, kenapa lo nangis sih? Ada yang salah ya ma ucapan kita berdua?" Fina mengusap lengan Rissa.


Rissa menggeleng "Enggak kok, kalian gak salah apa-apa. Gue cuma kepikiran sama Aldo aja."


Cintya dan Fina mengelus lembut punggung Rissa,


"Sabar ya, mungkin lo sama Aldo gak berjodoh. Yang pasti kita akan selalu mendoakan yang terbaik buat lo supaya lo selalu tersenyum bahagia."


Rissa tersenyum "Makasih ya. Gue seneng banget punya sahabat terbaik yang selalu ada buat gue." mereka bertiga pun saling berpelukan.

__ADS_1


Tiba-tiba handphone Rissa bergetar tanda ada pesan masuk. Rissa tersadar dan melepas pelukannya. Siapakah orang yang telah mengganggu dan merusak momen mereka?


"Bentar ya, kayaknya ada pesan masuk nih di handphone gue." Rissa segera mengambil handphonenya.


Muka Tembok


Keruangan saya sekarang


"Ngapain sih dia nyuruh gue ke ruangannya? Merusak suasana aja," gumamnya.


"Siapa?" tanya Cintya.


"Muka tembok. Dia nyuruh gue ke ruangannya sekarang." jawab Rissa.


"Ohh, yaudah lo ke ruangannya aja sekarang. Siapa tau dia ada perlu sama lo," ucap Cintya.


Rissa tersenyum dan mengangguk, "Yaudah gue ke ruangannya dulu ya."


"Oke." jawab Cintya dan Fina.


Rissa bergegas ke ruangan Andi demi memenuhi perintah si bos kampret tukang penyuruh. Sebenernya Rissa malas jika harus ke ruangannya Andi karena pasti ada dua hal yang akan dihadapinya. Satu, Andi akan menyuruhnya melakukan sesuatu. Dua, Andi akan memarahinya karena kesalahan laporan berkasnya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, bapak manggil saya?" tanya Rissa saat sudah diruangan Andi.


"Saya ada perlu sama kamu," jawab Andi yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya


"Ada apa pak? Laporan berkas saya ada yang salah ya?" tanya Rissa.


"Bukan," jawab Andi singkat.


"Terus?" tanya Rissa lagi.


"Hari ini Dina tidak datang ke kantor karena sakit," jelas Andi.


Sementara Andi yang melihat Rissa senyum-senyum gak jelas, merasa heran. Tidak biasanya Rissa bersikap seperti ini apalagi senyum-senyum sendiri. Padahal tidak ada yang dari ucapannya barusan.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tegur Andi.


Rissa langsung terdiam dan cengengesan, "Hehehe... Gapapa kok pak."


Andi menaikkan satu alisnya, "Kamu masih waras kan Rissa?"


"Ya masih la pak," jawab Rissa cepat. Enak aja si bos killer ini bertanya apakah ia masih waras atau tidak? Emangnya Rissa itu orang gila apa?


"Syukurlah kalau kamu masih waras," ucap Andi.


"Udah deh pak, to the point aja ngapain bapak manggil saya?" tanya Rissa.


"Jadi gini, karena sekretaris saya tidak datang hari ini. Saya mau kamu yang jadi sekretaris sementara," jelas Andi.


Rissa langsung melotot mendengarnya. Gimana enggak, yang ada nanti bukannya kerja malah terus berdebat sama Andi hanya karena hal sepele. Ia juga heran kenapa sekretarisnya itu bisa tahan kalau terus-terusan berada didekat orang seperti Andi.


"Ya gak bisa gitu dong pak. Saya gak mau." Rissa menolak permintaan bosnya.


"Saya minta tolong Rissa." Andi memasang tampang muka yang sulit untuk ditebak.


Rissa masih diam sambil memendam kekesalannya. Inilah hal yang paling ia benci apalagi kalau urusannya menyangkut permintaan bosnya. Sepertinya ia edang dalam ditambah lagi ia bingung harus menjawab apa.


Kalau ia menolak, maka gajinya akan jadi taruhan dan ditambah lagi dengan hukuman sadis. Tapi kalau ia menerimanya, maka penderitanya akan semakin bertambah. Manakah yang harus ia pilih?


"Tenang aja, saya bakal kasih kamu hadiah kok," tawar Andi agar Rissa menerima permintaannya tadi.


Rissa yang mendengar kata 'hadiah' langsung melirik ke arah Andi. Kalau sudah dengar kata 'hadiah' itu, Rissa juga langsung bersemangat empat lima. Pikirkan saja jika kalian ditawarkan hadiah oleh orang kaya seperti Andi, pasti hadiah yang dimaksud bukanlah hal yang sembarangan. Sudah dipastikan pula kalau hadiahnya nanti, pasti adalah barang mewah dan mahal.


"Hadiah apa, pak?" tanya Rissa penasaran.


Andi mengambil sesuatu dari lacinya, lalu memegang sebuah kotak kecil berwarna biru tua. Rissa semakin penasaran dengan isi kotak tersebut dan kalau boleh menebak, pasti isinya adalah sebuah kalung, atau cincin, atau mungkin gelang emas yang indah.

__ADS_1


"Kamu mau apa enggak jadi sekretaris sementara saya?" ucapnya sambil memegang kotak itu didepan Rissa seperti sedang menantangnya.


Tanpa pikir panjang Rissa langsung menjawabnya "Yaudah deh pak, saya mau."


"Bagus, sekarang saya mau kamu atur jadwal saya hari ini sampai seterusnya. Setelah itu kamu periksa semua laporan hari ini," jelas Andi.


Ucapan bosnya barusan, berhasil membuat Rissa ternganga mendengarnya. Siksaan Andi sudah dimulai and welcome to the world of Andi.


"Kok banyak banget sih pak?" protesnya.


"Kamu mau hadiah, apa enggak?" tantang Andi.


"Iya, Saya mau tapikan---


"Yaudah sana kerjakan yang saya suruh tadi." Andi memotong ucapan Rissa seperti kebiasaan Rissa yang sering memotong ucapannya juga.


"Iya iya." Rissa terpaksa mengerjakan semua yang disuruh Andi. Bukan terpaksa sih, lebih tepatnya demi hadiah.


Saat ini Rissa sedang disibukkan dengan mengatur semua jadwal Andi sampai beberapa hari kedepan, sampai nenek sihir kembali bekerja di kantor. Ia cukup ahli dalam bidang menjadi sekretaris karena sebelum ia menikah, ia pernah menjadi sekretaris papanya sendiri.


Papa Rissa juga punya perusahaan sendiri yang cukup terkenal di kota ini. Tapi Rissa tidak mau manja dan lebih memilih untuk mandiri, makanya ia memutuskan bekerja di perusahaan Andi.


"Akhirnya selesai juga jadwal kerja muka tembok. Sekarang gue harus meriksa semua berkas hari ini. Semangat Rissa, hadiah lo udah di depan mata," ucapnya memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Selama beberapa jam kemudian, akhirnya semua pekerjaannya selesai. Sekarang tinggal menyambut hadiahnya yang dinanti-nanti. Kira-kira, apa ya isi hadiah misterius dari Andi tadi?


Tok! Tok! Tok!


"Permisi pak, ini sudah saya siapkan semua yang bapak suruh," ucap Rissa memberikan hasil pekerjaannya.


Andi mengambil berkas yang dikerjakan oleh Rissa dan memeriksanya dengan teliti. Rissa yang berdiri didepannya, hanya tersenyum manis dan Andi tau apa arti dari senyumannya tersebut.


"Bagus, saya emang gak salah percaya sama kamu," puji Andi.


Rissa langsung tersenyum puas mendengarnya "Jadi... Sekarang udah boleh dong pak?"


Andi mengernyitkan dahinya, "Boleh apa?" Andi pura-pura tidak tau karena ia memang sengaja memancing kesabaran Rissa.


"Aisshh... Masa bapak lupa sih? Hadiah pak, hadiah!! Kan tadi bapak yang janji mau kasih hadiah," jelas Rissa tak sabaran.


"Owh... Itu. Sebentar ya." Andi mengambil sebuah kotak yang ia janjikan tadi.


"Nih, hadiah kamu." Andi memberikan sebuah kotak kecil tersebut.


Rissa yang bersemangat karena hadiahnya, langsung mengambilnya cepat. Semoga saja usahanya tadi tidak sia-sia dan semoga saja isi hadiah ini sesuai dengan yang dipikirkannya tadi.


"Wahh... Ini isinya apa pak?" tanyanya.


"Buka aja," jawab Andi santai.


Pasti ini isinya cincin, atau kalung, atau mungkin gelang. Gue buka aja deh, batinnya dan membuka kotak berukuran mini tersebut.


Saat membuka kotak dan melihat isi kotaknya, senyum Rissa langsung pudar dan semangat empat limanya luntur, karena ternyata isinya bukan cincin, kalung ataupun gelang yang ia pikirkan. Melainkan flashdisk.


"Hah, apaan nih pak?" Rissa sangat terkejut dengan isi hadiahnya.


"Flashdisk," jawab Andi santai.


"Iya saya tau. Tapi ini buat apa?" kesalnya.


"Tolong kamu fotocopy kan file yang ada didalam flashdisk itu dan harus di fotocopy sebrang kantor," jelas Andi.


Whatt?? Gue udah capek-capek kerja dan ini hadiah yang gue dapat, dan sekarang dia nyuruh gue buat fotocopy file? Dasar muka tembok sialan, batinnya kesal.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like dan voment ya!

__ADS_1


__ADS_2