COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Pengakuan Rissa


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Rissa dan Andi keluar dari mobil lalu membuka bagasi mobilnya untuk mengambil barang belanjaan.


Belanja kali ini berbeda dari sebelumnya karena ulah Rissa sendirilah yang meminta ini dan itu sampai-sampai barang yang mereka beli seperti stok setahun. Dan lagi, bukannya membantu Andi membawa belanjaan, ia malah berdiri santai sambil memikirkan sesuatu.


"Ayo pak, cepetan bawa kedalam ya. Bye..." Rissa bukannya membantu Andi membawa barang belanjaan, malah berlari masuk kedalam rumah.


"Eh Rissa jangan lari kamu. Nih anak kayaknya sengaja ngerjain saya?" Andi hanya bersabar menghadapi Rissa dan memilih masuk ke dalam rumah.


Andi berjalan ke arah dapur dan melihat Rissa sudah menunggunya. Rissa yang melihat Andi datang, langsung tersenyum puas karena berhasil mengerjai Andi.


Rissa tersenyum tanpa dosa dengan posisinya yang sedang duduk di kursi mewah berwarna putih. Dapur ini benar-benar bersih, rapi serta didominasi cat warna biru,


"Udah puas kamu ngerjain saya?" Andi mulai kesal sementara Rissa hanya memasang muka polos.


"Harusnya bapak itu bersyukur, karena bapak udah bantuin saya. Jadi bapak dapat pahala deh." Rissa tersenyum semanis mungkin.


"Terserah." Andi membuka plastik berisi barang belanjaan mereka tadi.


"Nih, sekarang kamu susun semuanya di kulkas. Awas kamu kalau lari lagi." Andi memberikan plastik berisi sayuran kepada Rissa.


"Kalo saya lari lagi gimana?" tanyanya polos.


"Saya buang es krim sama coklat kamu," ancam Andi.


"Ehh, Jangan dong pak. Enak aja main buang-buang, saya itu gak bisa hidup tanpa mereka," drama khas Rissa sudah dimulai.


"Makanya cepat masukin semua sayuran, buah, susu, roti, es krim sama coklat kamu dikulkas," perintah Andi.


"Iya iya." Rissa mengerucutkan bibirnya.


Bibir Rissa tak berhenti berkomat-kamit sambil menggerutu kesal. Ternyata ia salah sasaran apalagi dalam mengelabui musuhnya yang satu ini. Seorang ANDI BAGASKARA memang tak ada yang bisa menyaingi apalagi melawannya, apalagi bagi orang tersebut tidak berpengalaman seperti Rissa.


Ini sih namanya senjata makan tuan niatnya gue mau ngerjain dia, malah gue dikerjain balik, batinnya.


Rissa memasukkan semuanya sesuai perintah Andi. Sebenarnya Rissa sangat ingin makan es krim dan coklatnya sekarang. Karena tidak sabar, ia meletakkan sayuran dan buah dengan asal-asalan.


"Susun sayuran sama buahnya yang bener, jangan asal-asalan. Kalau gak beneran saya buang nanti es krim sama coklat kamu," ucap Andi yang sedang duduk membelakangi Rissa.


Kok dia bisa tau sih? padahal kan dia lagi duduk belakangin gue. Dasar muka tembok cenayang, batinnya kesal.


Terpaksa Rissa harus menyusun semua sayuran dan buah-buahan dengan baik dan benar sambil menggerutu mengucapkan sumpah serapah untuk Andi, si muka tembok kampret.


Selesai menyusun semuanya, Rissa mengambil es krim dan coklatnya yang sudah lama ia nantikan untuk segera memakannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Andi saat Rissa hendak berjalan keluar dari dapur.


"Hongkong," jawab Rissa cepat dan kembali berjalan sambil membawa es krim dan coklatnya.


"Ditanyain bener-bener malah jawabnya gitu." Andi pun menyusul Rissa yang sedang duduk disofa ruang tamu sambil menonton TV dan memakan es krim.


Ruang tamu di rumah ini juga tidak kalah mewah dengan rumah-rumah artis yang di TV itu. Rumahnya saja sangat besar dan luas, apalagi kalau dilihat dari luar saja sudah bisa ditebak betapa mewahnya isi rumah seorang CEO muda seperti Andi.


Ruang tamu ini didominasi dengan warna gold, yang juga merupakan warna kesukaan Andi sendiri. Warna gold semakin menambah kesan mewah serta perabotan dengan merek terkenal dan mahal.


"Ngapain bapak kesini?" tanya Rissa saat Andi duduk disebelahnya.


"Suka-suka saya lah, orang ini rumah saya," jawab Andi yang ikut menonton TV bersama Rissa.


"Tadi katanya bapak lagi sibuk, kenapa gak lanjut kerja lagi?" tanyanya lagi.


"Itukan tadi, sekarang enggak," jawab Andi sambil fokus menonton TV.

__ADS_1


"Terserah." Rissa melanjutkan memakan es krimya yang tertunda karena berdebat dengan Andi.


Tiba-tiba Andi melirik Rissa yang sedang asik memakan es krim nya. Sepertinya istrinya ini memang sangat menikmati es krim ditangannya itu, sampai-sampai senyuman di wajahnya tak berhenti ditunjukkan.


"Apa liat-liat? Bapak mau juga? Jangan harap ya, saya mau nyuapin bapak lagi. Kalau mau, ambil aja sana sendiri." Rissa merasa risih karena diperhatikan terus oleh Andi.


"Siapa juga yang mau," ucap Andi cuek.


"Bagus deh." Rissa kembali menikmati es krim nya sampai habis dan setelah itu memakan coklatnya.


Tiba-tiba muncul sebuah ide yang dipikirkan Andi untuk menjahili Rissa. Gak ada angin gak hujan, entah dari mana pula ide untuk menjahili istrinya terpikir dikepalanya. Sepertinya hal ini akan sangat menyenangkan serta jarang pula terjadi.


"Rissa coba kamu liat itu deh, lucu banget loh," ucapnya menunjuk layar TV. "Mana pak, orang itu... eh bapak!!" Rissa terkejut karena tiba-tiba Andi mengambil coklatnya dan berlari. Rissa juga berlari mengejar Andi seperti anak kecil yang berebut coklat.


"BAPAK... KEMBALIIN COKLAT SAYA!!" teriaknya sambil terus berlari mengejar Andi.


Andi berhenti berlari dan menaikkan tangannya yang memegang coklat. Rissa kesulitan menggapainya dan terus berusaha melompat mengambilnya dari tangan Andi.


"Ambil dong kalau bisa. Dasar pendek, segini aja gak sampe," ejek Andi.


Tinggi Rissa hanya sebatas ketiak Andi. Makanya Andi mengejek Rissa pendek. Karena kesal tak berhasil mengambil coklatnya, Rissa membelakangi Andi sambil melipat kedua tangannya.


"Bapak nyebelin," kesalnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Andi tersenyum dan menghampiri Rissa "Iya iya... Nih saya kasih coklatnya."


Andi memberikan coklatnya dan Rissa langsung tersenyum. Jangan senang dulu karena permainan yang Andi rencanakan belum berakhir.


"Tapi bo'ong." Andi mengambil kembali coklatnya dari tangan Rissa.


"Tuh kan... Bapak nyebelin banget sih," kesal Rissa.


Ini gue mimpi gak sih? Atau jangan-jangan ini bukan muka tembok yang asli lagi? Pasti dia tadi keserupan jin tomang atau mungkin yang didepan gue ini muka tembok jadi-jadian? batinnya.


"Nih ambil coklat kamu, saya mau tidur dulu. Kamu juga jangan lama-lama ya tidurnya." Andi pergi meninggalkan Rissa yang masih mematung karena heran dengan perubahan sikap Andi.


"Kayaknya muka tembok beneran kesambet deh. Besok dia harus diruqyah atau jangan-jangan rumah ini banyak hantunya lagi? Kok gue jadi merinding ya? Mendingan gue tidur aja deh." Rissa naik keatas menyusul Andi untuk tidur dan bersiap kerja besok.


Keesokan harinya di kantor


Fina datang lebih awal ke kantor karena tidak sabar untuk bertanya langsung ke Rissa tentang apa yang ia lihat kemarin. Memang jarang-jarang bagi Fina untuk datang ke kantor sepagi ini dan kalaupun itu terjadi, pasti ia punya urusan yang harus diselesaikan dengan cepat.


"Fina, tumben lo datengnya cepat banget?" tanya Cintya yang baru datang.


"Sini deh lo, gue mau bilang sesuatu sama lo." Fina menarik tangan Cintya agar lebih dekat dengannya.


"Bilang apaan?" tanya Cintya kepo.


"Gue kemarin liat Rissa sama pak Arsen lagi belanja bareng." ucap Fina langsung ke intinya.


"Hah, yang bener lo?" Cintya cukup terkejut atas ucapan Fina barusan.


"Iya bener. Gue tuh kemarin lagi belanja bulanan juga, trus gue gak sengaja liat Rissa sama pak Andi lagi bayar belanjaan di kasir," Jelasnya.


"Trus lo samperin dia gak?" tanya Cintya.


"Nah itu dia, awalnya gue emang mau samperin dia, tau-tau dia udah pergi sama pak Andi," jawab Fina.


"Berarti bener dugaan gue kalau Rissa sama pak Andi itu memang punya hubungan lebih." Cintya semakin merasa curiga.


"Makanya gue datang ke kantor lebih awal hari ini karena gue mau nanyain langsung ke Rissa," ucap Fina..

__ADS_1


Mereka masih mengobrol santai tapi yang menjadi topik utamanya adalah sahabat mereka sendiri yaitu Rissa. Tak lama setelah itu, Rissa yang mereka nantikan akhirnya datang juga, lengkap dengan Andi yang berjalan disebelahnya.


"Morning beb," sapa Rissa.


"Morning," balas kedua sahabatnya secara serentak.


"Oke Rissa. Karena lo udah dateng, kita mau interogasi lo." Rissa yang baru duduk di kursinya, langsung dikelilingi oleh kedua sahabatnya seperti pencuri yang mau diinterogasi.


"Introgasi? Emang gue salah apa?" tanya Rissa bingung.


Mereka masih diam tapi matanya menatap Rissa serius. Tiba-tiba pandangan Cintya tertuju pada sebuah cincin yang dipakai Rissa dijari manisnya. Dari modelnya saja, ia tau kalau cincin itu bukanlah cincin sembarangan dan pasti harganya sangat mahal.


"Ini cincin apa Rissa?" tanya Cintya sambil mengangkat tangan Rissa yang memakai cincin.


Mampus gue. Gue lupa tadi lepas cincinnya. Harus jawab apa nih gue? batinnya ketakutan.


"Jawab kita Rissa." Cintya cukup mendesak Rissa agar menjawab pertanyaannya dengan jujur.


"Ini... Ini cincin biasa kok, bukan cincin apa-apa," jawab Rissa gugup.


"Oke. Trus jelasin ke kita tentang hubungan lo sama pak Andi?" tanya Cintya lagi.


Rissa hanya terdiam dan benar-benar bingung harus menjawab apa. Sepertinya posisinya saat ini serba salah untuk menjawab pertanyaan kedua sahabatnya. Kalau ia berbohong, ia takut nanti sahabatnya kecewa. Tapi kalau ia jujur, pasti kedua sahabatnya yang gak ada akhlak ini menertawainya sampai puas.


"Rissa, gue kemarin liat lo sama pak Andi lagi belanja bareng," ucap Fina.


Rissa langsung terkejut dan melotot mendengarnya. Bagaimana bisa sahabatnya ini tau kalau kemarin, ia sedang berbelanja bersama suaminya? Apa yang harus Rissa lakukan dan ia harus menjawab apa?


"Gue... Gue udah nikah sama pak Andi," jawab Rissa sambil menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa malu dan bersiap untuk menghadapi reaksi kedua sahabatnya.


"What?? Jadi lo udah nikah sama pak Andi?" Cintya sangat terkejut mendengarnya, begitu pula dengan Fina.


"ly-iya," jawab Rissa yang masih menunduk.


"Dan lo sembunyiin pernikahan lo dari kita?" tambah Fina tak kalah heboh.


"Maaf." Rissa merasa bersalah karena selama ini, ia sudah menyembunyikan status dirinya yang sebenarnya.


"Udah berapa lama lo nikah sama pak Andi?" tanya Cintya.


"Tiga bulan," jawab Rissa.


"Jadi lo udah sembunyiin pernikahan dan status lo dari kita selama tiga bulan?" Fina tidak menyangka bahwa selama ini Rissa telah berbohong padanya dan Cintya.


"Gue bener-bener minta maaf," ucap Rissa menyesal.


"Kenapa lo sembunyiin ini dari kita Rissa?" tanya Cintya.


"Gue takut kalian bakal nge-bully gue, dan ngetawain gue karena nikah sama dia. Apalagi gue itu nikah sama dia karena dijodohin," jelas Rissa.


"Jadi lo nikah sama pak Andi karena dijodohin? Tapi kalo gue pikir... bagus juga sih. Soalnya kan itu memang keinginan kita buat jodohin lo sama pak Andi" ejek Cintya.


"Iya, dan sekarang keinginan kita buat jodohin lo jadi kenyataan," tambah Fina.


Kampret nih sahabat gue yang dua ini. tadi marah, sekarang malah ngejekin gue. Nyesel gue ngasih tau mereka tadi, kesal Rissa.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.


Like dan voment ya!

__ADS_1


__ADS_2