
Sekitar pukul 06.00 pagi, Rissa terbangun dari tidurnya dan melihat ada tangan kekar dan putih yang melingkar di perutnya, yaitu tangan Andi. Rissa melihat setiap sudut wajah Andi yang tenang dan sangat tampan. Hidungnya mancung, bibir tipis, rahang tegas, kulit putih dan bersih.
Rissa mengelus pipi Andi dengan lembut, lalu ia perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Andi sebelah kiri. Tiba-tiba, Andi menunjuk pipi sebelah kanannya sambil tersenyum, tapi matanya masih terpejam.
"Ihh, ternyata bapak udah bangun. Nyebelin banget sih," ucap Rissa sambil memukul lengan Andi, sedangkan Andi hanya terkekeh dan menarik Rissa ke pelukannya.
"Kok berhenti sih ciumnya, lagi dong. Anggap aja morning kiss," goda Andi.
"Gak mau," ucap Rissa karena ia merasa malu terciduk mencium Andi diam-diam.
"Kenapa? Saya ini kan suami kamu, jadi wajar dong. Malah saya senang," goda Andi lagi.
"Bapak nyebelin," ucap Rissa dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Andi. Dan tiba-tiba handphonenya bergetar tanda ada pesan masuk. Rissa mengambil handphonenya dan melihat yang mengirim pesan adalah operator kartu.
"Siapa yang SMS?" tanya Andi.
"Operator kartu," jawab Rissa.
"Coba sini saya liat," ucap Andi dan mengambil handphone tersebut untuk memeriksanya. Sampai tiba-tiba, ia melihat kontak dengan nama Muka Tembok. Karena merasa penasaran, Andi bertanya kepada Rissa.
"Rissa, muka tembok itu siapa?" tanya Andi.
"Pak Andi," jawab Rissa dengan santai.
Andi langsung terkejut mendengarnya. Masa mukanya yang ganteng ini dibilang muka tembok? Apalagi yang bilang itu adalah istrinya sendiri.
"Kok kamu kasih nama saya muka tembok?" tanya Andi dengan nada protes.
"Muka bapak kan emang kayak tembok, datar dan gak ada ekspresi," jawab Rissa dengan polos dan jujur.
"Enak aja kamu bilang muka saya kayak tembok," protes Andi.
"Makanya, bapak tuh harus selalu senyum. Jadi muka bapak gak datar lagi deh kayak tembok," Ucap Rissa mengejek suaminya.
Andi hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Rissa lagi. Anggap saja kali ini ia sedang merajuk seperti anak kecil tanpa sebab.
"Pak?" panggil Rissa tapi Andi tidak menyautnya.
"Pak Andi?" panggil Rissa lagi.
"Saya ini suami kamu Rissa, bukan bapak kamu," balas Andi.
"Terus saya harus manggil apa dong?" tanya Rissa bingung.
"Yaa terserah, yang penting bukan bapak," balas Andi.
"Yaudah kalau gitu, saya panggil om, atau kakek, atau paman, atau pakcik, atau---
"Emangnya saya setua itu apa?" protes Andi dan memotong ucapan Rissa yang belum selesai.
"Bapak kan emang tua," ucap Rissa dengan santai.
Andi melototkan matanya "Enak aja kamu, emang kamu pikir umur saya ini berapa?"
Rissa berpikir sejenak, "Emm... 35 tahun." jawabnya dan Andi melotot lagi.
"Kenapa? Jangan bilang kalau umur bapak lebih tua dari itu. Atau jangan-jangan, umur bapak udah empat puluhan ya?" tanya Rissa.
"Umur saya masih 28 tahun Rissa," sahut Andi.
__ADS_1
"Hah, berarti kita beda empat tahun dong? Eh, tapikan tetap aja bapak tua," ejek Rissa
Karena merasa sedikit kesal, Andi langsung mengunci kedua tangan Rissa dan menatapnya tajam. Sementara korbannya sudah deg-degan bukan main, apalagi ditatap seperti ini.
"Berani panggil suaminya bapak."
*CUP
Satu kecupan mendarat dipipi sebelah kiri Rissa.
"Berani bilang suaminya tua."
*CUP
Satu kecupan mendarat dipipi sebelah kanan Rissa.
"Berani ngejekin suaminya."
*CUP
Satu kecupan lagi mendarat dikening Rissa.
"Kayaknya saya harus menghukum istri saya ini, karena berani ngejekin suaminya yang ganteng ini," ucap Andi dan menggelitiki Rissa dan membuatnya tertawa karena merasa geli digelitiki, begitu pula dengan Andi yang tertawa bahagia.
Rissa memang termasuk orang yang sensitif dan mudah geli, dimanapun digelitiki. Katanya kalau orang gampang geli, berarti dia adalah tipe pencemburu.
"Iya.. Iya, ampun. Saya gak bakal ngejek bapak lagi." Rissa menyerah dan pada akhirnya, Andi berhenti menggelitiknya.
"Mulai sekarang panggil saya mas. Coba kamu panggil saya mas," perintah Andi.
"Kalau saya gak mau?" tantang Rissa.
"Iya iya... Mas Andi," ucap Rissa dan membuat Andi senang.
Karena suaminya tadi meminta sesuatu, ia juga akan meminta tapi bukanlah dalam bentuk harta ataupun barang-barang. Sebenarnya hal ini sudah lama ia inginkan dari suaminya sendiri.
"Pak, aku boleh minta sesuatu nggak?" tanya Rissa sedikit ragu.
"Minta apa?" sahut Andi.
"Mulai sekarang kita ngomongnya jangan pake kata 'saya' karena menurutku, itu terlalu formal," pinta Rissa.
Andi tersenyum menanggapinya, "Oke, jadi mulai sekarang kita pake 'aku-kamu' aja ya?" ucap Andi dan dibalas anggukan oleh istrinya.
Pria yang mempunyai bibir tipis ini mencium istrinya dengan penuh kasih sayang, lalu memeluknya erat.
"Rissa, kita joging bareng yuk! Udah lama banget nih aku gak joging pagi," ajak Andi.
"Boleh. Yaudah kalau gitu, aku siap-siap dulu ya pak eh, maksudnya mas Andi," ucap Rissa dan beranjak dari tidurnya untuk bersiap joging.
Kegiatan joging pagi ini, Andi mengenakan kaos polos warna putih dan celana training warna hitam. Sementara Rissa mengenakan kaos feminim warna pink disertai celana training warna putih.
Setelah pasangan suami-istri ini selesai bersiap-siap, mereka langsung keluar untuk joging pagi bersama.
Selama joging, Rissa selalu ketinggalan jauh dari Andi karena suaminya itu terlalu cepat larinya. Langkah Andi pun lebih cepat darinya karena kaki pria itu lebih panjang dibandingkan dengan dirinya.
Rissa benar-benar merasa lelah dan memutuskan untuk berhenti sejenak, lalu duduk di salah satu kursi taman.
"Rissa, kok kamu udah berenti sih?" tanya Andi dan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Aku udah capek banget ngikutin langkah mas Andi yang lebih cepat daripada aku," keluh Rissa.
"Kaki kamu aja yang pendek," ejek Andi dan membuat Rissa cemberut. "Yaudah, kita pulang aja yuk," ajak Andi karena ia tidak tega melihat istrinya kelelahan.
"Tapi kakiku masih pegel dan gak bisa jalan." Rissa terus mengeluh serta merengek. Jujur saja, ia memang sangat jarang dalam kegiatan olahraga seperti ini, makanya baru beberapa menit berlari, ia sudah mengeluh.
"Aku gendong belakang aja ya," tawar Andi dan diangguki Rissa.
Andi berjongkok dan Rissa pun naik ke punggungnya. Selama di perjalanan, banyak orang yang melihat dan membicarakan mereka. Tapi Andi tidak peduli, malah dia merasa senang dan bangga sebagai seorang suami yang baik.
"Mas, kenapa semua orang pada ngeliatin kita?" tanya Rissa saat digendongan suaminya.
"Udah biarin aja, mereka semua itu iri sama kita," ucap Andi biasa saja.
"Iri kenapa?" tanya Rissa lagi.
"Karena kamu beruntung punya suami yang baik dan ganteng kayak aku," jawab Andi pede.
"Emangnya Mas gak malu karena gendong aku di depan umum gini?" tanya Rissa.
"Enggak, buat apa aku malu. Malah aku merasa senang karena bisa membantu istriku yang cantik ini," goda Andi.
Kalau Andi udah mengeluarkan gombalan recehnya, Rissa langsung diam dan tidak mau menanggapinya lagi. Karena kalau gak, Andi pasti gak bakalan berhenti menggodanya terus.
Sampai dirumah, Andi membaringkan Rissa diranjang dengan hati-hati dan menyuruhnya istirahat.
"Kamu tunggu disini bentar ya, biar aku ambilin makanan untuk kamu." Perintah Andi dan diangguki Rissa.
Andi pergi keluar dari kamar untuk mengambilkan makanan. Setelah beberapa menit kemudian, Andi kembali membawa nampan berisi makanan dan segelas susu.
"Sekarang kamu makan ya, biar aku yang suapin kamu." Ucap Andi sambil menyodorkan sesendok nasi. Rissa dengan senang hati menerima suapan dari Andi.
"Mas Andi gak makan?" tanya Rissa.
"Ini aku lagi makan," ucap Andi dan memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Mas gak keberatan kan, kalau kita makan pakai satu sendok?" tanya Rissa memastikan.
Andi tersenyum "Enggak lah, buat apa aku keberatan, kamu kan istriku." jawabnya.
Mereka berdua makan sampai habis dan setelah itu Andi menyuruh Rissa untuk meminum susu.
"Sekarang kamu minum susunya ya," ucap Andi sambil memberikan segelas susu coklat dan Rissa pun meminumnya sampai habis.
"Maafin aku ya mas, gara-gara aku mas jadi repot sekarang," ucap Rissa tidak enak hati.
"Gapapa kok. sebagai seorang suami, aku wajib membantu istriku dan selalu ada untuk kamu," balas Andi sambil mengelus kepala istrinya.
"Makasih ya, mas Andi," ucap Rissa dan memeluk suaminya.
"Iya, sama-sama istriku yang cantik," goda Andi lagi sedangkan Rissa hanya tersenyum, lalu ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya lekat.
"I love you my husband," ucap Rissa dan langsung membuat Andi tersenyum senang.
"I love you too my wife," balas Andi dan mencium kening istrinya sayang.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
__ADS_1
Like, fav dan voment ya!