
Setelah kejadian Andi yang mengancam Rissa dicium didepan umum, ia benar-benar tidak bisa fokus bekerja. la selalu kepikiran dengan kata-kata Arsen tadi dan terus terngiang-ngiang dikepalanya.
Saat enak-enaknya melamun, tiba-tiba handphonenya bergetar tanda ada pesan masuk. Ternyata yang mengirim pesan adalah si muka tembok, suaminya sendiri. Kira-kira, apa lagi yang akan dilakukan oleh Andi? Semoga saja ini tidak berhubungan dengan hal aneh.
(Pesan masuk)
Muka Tembok
Hai Rissa istri saya yang cantik keruangan saya sekarang ya..
Rissa terkejut dan tak hentinya berkedip-kedip melihat isi pesan dari Andi. Bukan apa-apa, ia hanya terkejut dengan kata-kata lebay dari Andi si muka tembok yang lain daripada yang lain.
Tanpa menunggu lama, Rissa langsung beranjak dari duduknya dan segera keruangan Andi. Saat sampai didepan pintu bertuliskan CEO, ia tak lupa juga untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi pak," ucap Rissa saat masuk.
Andi yang melihat istrinya datang, membuat dirinya tersenyum senang dan menghampiri Rissa. Sepertinya dugaan Rissa tadi memang benar kalau suaminya akan melakukan hal aneh serta diluar dugaan. Seperti sekarang ini, Andi malah memeluknya erat tapi ia tidak mau membalasnya.
"Akhirnya istri saya yang cantik ini datang," ucap Andi sambil memeluk istrinya. Rissa sendiri hanya diam dan tak membalas pelukannya.
"Bapak kenapa manggil saya kesini?" tanyanya disela Andi sedang memeluknya.
"Saya kangen sama kamu," jawab Andi tanpa melepas pelukannya.
"Hah, kangen? Baru aja tadi pagi kita ketemu pak, lagian setiap hari kita ketemu juga," ucap Rissa heran.
"Tapi saya gak bisa jauh dari kamu. Satu jam aja rasanya kayak satu hari. Kamu disini aja ya temenin saya kerja." Rissa yang mendengar itu, sontak saja melepaskan pelukannya.
"Bapak sehat kan?" Rissa meletakkan tangannya didahi Andi.
"Ya sehat lah, apalagi kalau udah ketemu kamu," balas Andi.
"Bapak tuh kenapa sih? kok jadi aneh gini? Saya jadi takut dekat sama bapak," ucap Rissa.
"Aneh gimana? Saya itu sehat Rissa," ucap Andi meyakinkan istrinya.
"Trus kenapa bapak jadi bucin gini sama saya? Jangan-jangan bapak salah minum obat atau jangan-jangan bapak beneran kesambet ya?" Rissa masih menduganya.
Andi meletakkan telunjuknya dibibir Rissa,
"Ssttt... Kamu ini cerewet banget ya. Satu-satu dong nanyanya. Atau kamu mau saya cium sekarang juga?"
Rissa menepiskan tangan Andi, "Maaf Pak, saya harus kembali kerja lagi." Rissa sempat berbalik namun Andi menarik tangannya hingga ia menabrak dada bidang Andi.
"Tadi kan saya udah bilang kamu disini aja temenin saya kerja. Lagian kan saya bos kamu," pinta Andi.
"Kalau bapak gak lepasin saya. Saya bakalan marah dan gak mau ngomong sama bapak lagi sampai kapanpun," ancamnya.
Inilah ancaman yang Andi takutkan. niatnya ingin istrinya lebih dekat dengannya, malah diancam kayak gini. Terpaksa Andi melepaskan Rissa dengan perasaan tidak ikhlas.
"Oke, saya lepasin kamu. Tapi, ingat jangan dekat-dekat sama si Ronaldo itu." Andi memperingatkan Rissa.
"Ronaldo? Nama dia Aldo pak, bukan Ronaldo." Protes Rissa.
__ADS_1
"Ha iya itu maksudnya," balas Andi malas karena sebenarnya, ia memang sengaja memberi nama julukan itu untuk Aldo.
Rissa menggelengkan kepalanya, "Yaudah kalau gitu saya permisi pak."
Rissa segera cepat keluar dari ruangan Andi sebelum kejadian yang tak diinginkan terjadi. Untung saja tadi dia gak di apa-apain sama Andi, walaupun orang tersebut adalah suaminya. Sampai meja kerjanya, ia mengambil botol minum dan meminumnya sampai habis.
"Rissa lo kenapa? Kok kayak habis dikejar setan gitu?" tanya Cintya.
Rissa menghela nafasnya, "Lo tau gak, pak Andi sekarang lagi kesambet?"
"Hah, kesambet? Kesambet apaan?" tanya Fina.
"Iya nih, ceritain yang bener dong biar kita ngerti," pinta Cintya agar Rissa menceritakan kejadiannya secara detail.
"Jadi gini, awalnya gue itu cuma mau ngerjain dia doang kalo gue itu punya pacar. Gue ngelakuin itu karena gue pengen tau dia cinta sama gue apa enggak. Tapi malah dia jadi posesif dan bucin sama gue," jelasnya.
"Berarti pak Andi cinta dong sama lo, dan dia itu cemburu liat lo pacaran," ucap Cintya.
"Iya bener tuh. Eh btw, emang siapa pacar jadi-jadian lo?" tanya Fina kepo.
"Aldo," jawab Rissa cepat.
"Aldo? Pantesan aja pak Andi cemburu, lo kan emang dekat banget sama dia. Apalagi kalian itu satu kantor," ucap Cintya.
"Tau ah, pusing gue." Rissa memijat keningnya pusing karena terjebak dalam rencananya sendiri.
"Oh iya, kita kan sebentar lagi cuti kerja nih, menurut kalian enaknya kita kemana?" tanya Cintya meminta pendapat.
Rissa dan Fina berpikir untuk menentukan tempat liburan yang pas. Kesempatan emas ini tidak boleh disia-siakan demi mengisi jadwal liburan mereka nanti. Memang setiap tahunnya, mereka selalu merencanakan hal menarik untuk menghibur diri sekaligus refreshing.
"Bagus juga, gue setuju deh. Gimana sama lo Rissa? lo setuju kan?" tanya Cintya.
"Gue sih setuju aja, tapi kalian tau sendiri kan kalau gue itu udah nikah. Jadi gak bisa sebebas dulu." Rissa sebenarnya sangat minat dan antusias untuk liburan nanti tapi, sekarang semuanya sudah berbeda mengingat statusnya yang sudah menjadi seorang istri.
"Yaudah lo minta izin aja sama Pak Andi," ucap Fina.
"Tapi gue gak yakin dia bakal ngizinin gue," balas Rissa dengan raut wajah sedih.
Cintya memikirkan cara agar Andi mengizinkan sahabatnya ini ikut juga untuk kemping bersama. Kalau status sudah menikah, memang cukup sulit untuk bepergian apalagi kalau suaminya adalah tipe orang posesif.
"Gue punya ide. Gimana kalau lo baik baikin aja pak Andi buat ngambil hatinya supaya lo diizinin ikut camping sama kita," Cintya.
"Maksud lo, gue harus bersikap manis gitu didepan dia?" sambung Rissa.
Sintia mengangguk "Iya."
"Ihh ogah gue, mau taruh dimana nanti harga diri gue?" Rissa paling malas untuk bersikap pura-pura manis didepan orang seperti Andi, yang ada malah nanti semakin buruk. Cukup kali ini saja ia kapok dengan rencananya sendiri.
"Lo mau ikut gak?" Cintya semakin menekan Rissa.
"Iya gue mau," rengeknya.
"Makanya ikutin saran yang gue kasih tadi. Lagian nanti ada Aldo juga loh." Cintya menggoda Rissa.
"Yaudah deh, gue mau," jawabnya cepat karena mendengar Aldo ikut kemping juga.
__ADS_1
"Sekarang kita makan siang yuk. Udah laper nih gue," ajak Fina.
"Yuk deh," saat akan pergi makan siang, Aldo datang dan menghampiri Rissa.
"Hai Ris." Sapanya dengan senyuman manis seperti biasanya.
"Eh, ada pangeran kodok datang," canda Rissa.
"Kamu ini ya... Kalo ini gak di kantor udah aku gigit kamu," ucap Aldo gemas.
"Cie cie... Liat situasi dong, kan kita masih ada disini," canda Cintya dan membuat mereka tertawa.
Sementara disisi lain, Andi melihat Rissa dan teman-temannya termasuk ada Aldo. Ia tau kalau kedatangan Aldo pasti ingin mengajak istrinya makan siang bersama. Andi tidak mau kalah, lalu dengan cepat ia langsung menghampiri Rissa.
"Rissa," panggilnya dan membuat Rissa menoleh ke arahnya.
"Iya Pak, ada apa ya?" sahut Rissa.
"Tolong kamu ikut keruangan saya sekarang karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," alasan Andi supaya yang lain tidak curiga.
Rissa melirik Aldo dan ia mengangguk tanda setuju. Kenapa Aldo harus menganggukkan kepalanya padahal, bukan itu jawaban yang ia harapkan. Gara-gara ini pula, ia harus kembali terjerumus dalam permainan suaminya sendiri.
"Yaudah deh pak," pasrahnya.
Andi berjalan dan diikuti Rissa dibelakangnya. Sampai didalam ruangan, di meja sudah terdapat banyak makanan yang tersedia. Andi memang sudah memesan banyak makanan sebelum jam makan siang berlangsung. Makanya tadi ia datang menjemput istrinya dengan tujuan makan bersama.
"Ini maksudnya apa pak?" tanya Rissa bingung dengan apa yang dilihatnya.
"Saya mau makan siang sama istri saya yang cantik ini," ucap Andi memeluk Rissa dari belakang.
"Tadi kata bapak ada sesuatu yang ingin dibicarakan?" Rissa mulai bisa menebak tujuan Andi memanggilnya.
"Iya, maksudnya saya mau makan siang sama kamu." Andi memegang tangan Rissa dan mengajaknya duduk di sofa.
"Sekarang kamu suapin suapin saya makan ya." Andi memberikan styrofoam berisi makanan ke istrinya.
"Bapak kan punya tangan sendiri." Rissa sedang malas melayani bayi besar dihadapannya.
"Tapi saya maunya disuapin sama kamu. Emang kamu lupa sama janji kamu tadi, kalau kamu akan suapin saya makan dirumah dan dikantor," pinta Andi dengan manja serta wajah yang menggemaskan.
Sebenarnya Rissa paling malas untuk menyuapi Andi si bayi besar ini. Tapi ia teringat kata-kata Cintya bahwa ia harus bersikap manis agar Andi mengizinkannya pergi kemping.
Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya Rissa mau menyuapi Andi makan walaupun terpaksa. Biarlah, setidaknya saat ini ia sedang berusaha menjadi seorang istri yang baik dan patuh pada suaminya.
Saat makan, Andi selalu melihat wajah istrinya yang saat ini sedang menyuapinya makan. Rasanya sangat bahagia bahkan, ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Mungkin inilah yang dinamakan cinta sedang bersemi.
"Kenapa bapak liatin saya gitu?" tanya Rissa.
"Ternyata makan sambil liatin istri saya yang cantik ini jadi jauh lebih enak ya? Saya Jadi makin cinta deh sama kamu," gombal Andi.
Duhh... Gue gak kuat kalo kayak gini. Kamera mana nih kamera? Gue nyerah, batinnya.
To be continued...
Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.
__ADS_1
Like dan voment ya!