COLD CEO IS MY HUSBAND

COLD CEO IS MY HUSBAND
Rissa manja


__ADS_3

Semenjak Rissa sakit, Andi jadi baik dan selalu memperhatikannya. contohnya sekarang Andi sedang menyuapinya makan bubur dengan telaten, bahkan bubur tersebut nyaris tak bersisa. Walaupun sebenarnya Rissa masih kesal sama muka tembok, tapi ada rasa senang juga yang ia rasakan.


Tekstur bubur yang lembek serta membuat kenyang, lama-lama membuat Rissa muak apalagi sebenarnya dia itu tidak terlalu menyukai bubur. Lidah orang sakit memang berbeda dari lidah orang sehat. Kalau lidah orang sakit, akan cepat merasa muak terlebih lagi mulutnya terasa pahit. Sedangkan orang sehat, pasti dengan cepat akan menghabiskan bubur seperti ini.


"Saya udah kenyang pak," ucap Rissa menolak untuk disuapi lagi.


"Tapi ini tinggal dikit lagi Rissa, kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh." Andi menyodorkan sesendok bubur ke Rissa, namun Rissa menutup mulutnya seperti anak kecil yang tidak mau disuapi ibunya.


"Ck, Rissa... Kamu jangan kayak anak kecil deh." Andi mulai kesal.


Rissa menggeleng "gak mau."


Andi menghela nafasnya panjang, "Yaudah gini deh, kalau kamu mau makan sampai habis, saya akan nurutin apa yang kamu minta," ucapnya dan membuat Rissa langsung senang berbinar.


"Benar nih?" tanya Rissa dengan mata berbinar.


"Iya," jawab Andi serius.


Wahh.. Kesempatan gue nih buat balas dendam sama muka tembok. Gue kerjain lo... Hahaha, batinnya.


"Yaudah, Sekarang makan lagi ya," bujuk Andi dan kembali menyuapi Rissa.


Rissa menerima suapan dari Andi, "Habis ini beli boneka ya," Pintanya


Andi mengernyitkan dahinya, "Boneka?"


"Iya, Rissa mau boneka teddy bear sama boneka panda yang besar," ucap Rissa.


Beginilah sifat asli Rissa kalau sudah sakit, maka ia akan manja sekaligus meminta sesuatu seperti anak kecil. Kalau keluarganya mungkin sudah terbiasa dan maklum, tapi kalau Andi tentu saja cukup terkejut. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika istrinya ini bermain boneka sementara umurnya sudah dewasa.


"Kamu itu udah besar Rissa, masa masih main boneka?" ucap Andi sedikit kesal.


"Yaudah kalau bapak gak mau nurutin permintaan saya, saya gak mau makan," ucap Rissa kesal sambil melipat kedua tangannya seperti anak kecil yang lagi ngambek.


Dugaannya memang tidak salah mengenai istrinya ini, apalagi tadi permintaannya sempat ditolak, sikapnya semakin kekanakan. Sebagai pria dewasa, Andi harus sabar dan mengalah menghadapi situasi sulit ini. Satu hal lagi, kamarnya yang super mewah ini sebentar lagi akan berubah menjadi toko boneka.


"Iya iya, nanti saya beliin boneka yang kamu mau." Andi mengalah demi Rissa mau makan lagi.


Rissa yang mendengarnya langsung senang dan matanya berbinar lagi. Memang inilah yang diinginkannya apalagi menyuruh Andi si bos killer untuk menuruti segala kemauannya. Anggap saja ini sebagai tahap pertama untuk memulai balas dendam pada si muka tembok


"Yeayy... Bener ya pak?" tanya Rissa memastikan.


Andi mengangguk "Iya, tapi habis ini kamu harus minum obat."


"Oke, aaa.." Rissa kembali menerima suapan dari Andi.


Setelah buburnya habis, Andi memberikan obat ke Rissa. Sebenarnya Rissa itu paling benci yang namanya obat karena rasanya sangat pahit bahkan membuat dirinya hampir muntah. Rissa memang sudah dewasa tapi tingkahnya seperti anak kecil berusia lima tahun, apalagi kalau sedang sakit seperti ini.


"Sekarang minum obat dulu ya," ucap Andi.


Rissa menggeleng "Gak mau, Pasti itu rasanya pahit."


"Rissa... Yang namanya obat ya memang pahit," ucap Andi.


"Gak mau." Rissa tetap kekeuh menolak.


Andi berusaha sabar menghadapi sikap Rissa "Rissa, tadi kamu sendiri kan yang bilang mau minum obat?"


"Emm... Iya sih, tapi habis ini beli coklat yang banyak ya," pinta Rissa.


"Iya... Nanti saya beliin kamu coklat yang banyak sekalian sama pabriknya." Andi mulai kesal sedangkan Rissa tersenyum bahagia. Karena inilah yang diinginkannya, yaitu membuat Andi kesal.


"Jangan lupa sama bonekanya," ucap Rissa mengingatkan.


"Iya Rissa" balas Andi.


"Trus nanti boneka teddy bear nya yang warna pink ya?" Rissa terus menguji kesabaran Andi.

__ADS_1


"Iya Rissa... Iya," ucap Andi cepat.


Setelah puas membuat Andi kesal dan mengetes kesabarannya, akhirnya Rissa mau meminum obatnya. Awalnya ia sempat mual saat mencium obat pahit ini tapi karena ada suatu unsur paksaan, secara tidak sadar obat itu sudah berada di perutnya.


Sesuai permintaan Rissa, Andi pergi keluar untuk membelikan boneka teddy bear warna pink, boneka panda dan coklat sebanyak-banyaknya. Tapi gak sama pabriknya, karena tadi Andi hanya sedang kesal dan spontan bilang sekalian beli coklat dan pabriknya.


Setelah semua pesanan Rissa sudah dibeli, Andi kembali pulang ke rumah. Sementara Rissa sedang menunggu Andi sambil menonton kartun kesukaannya. Rissa yang melihat Andi datang sangat bahagia. Bukan bahagia karena Andi pulang, tapi bahagia karena boneka dan coklat pesanannya sudah di depan matanya.


"Ini boneka dan coklat pesanan kamu," ucap Andi sambil memberikan boneka dan coklat yang diinginkan Rissa.


"Yeay. Makasih pak." Rissa langsung mengambil boneka teddy bear serta boneka pandanya dan memeluknya persis seperti anak kecil yang dapat hadiah.


"Masih pusing gak kepala kamu?" tanya Andi yang duduk di sebelah Rissa sambil meletakkan tangannya didahi Rissa untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Sedikit," jawab Rissa.


"Yaudah kamu istirahat aja dulu," titah Andi.


"Bapak gak ke kantor?" tanya Rissa.


"Nggak." jawab Andi.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Mana mungkin saya pergi ke kantor, sementara kamu lagi sakit," jawab Andi.


Rissa sempat terkejut mendengar jawaban dari Andi, ia sempat luluh dengan kata-kata mutiara seorang Andi yang ternyata peduli padanya. Tapi jangan salah, dibalik sikapnya ini hanya simbol sebagai permintaan maaf.


Rissa langsung menggelengkan kepalanya, Gak.. gak. gak. Gue gak boleh luluh sama kata-kata dia. Kan gara-gara dia juga gue jadi sakit, batinnya.


"Kan ada maid rumah ini yang bakal jagain saya," ucap Rissa.


"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya, karena gara-gara saya kamu jadi sakit," balas Andi.


Dugaan Rissa memang benar mengenai sikap perhatian ini, pasti hanya sebagai simbol permintaan maaf belaka. Tapi ia masa bodoh, yang penting segala keinginannya harus dituruti bagaimana pun caranya. Karena seorang CEO terkaya ini tidak akan kehabisan uang demi permintaan Rissa.


Rissa menggeleng "Enggak pak, Saya mau istirahat aja."


Andi berjalan mengambil laptopnya untuk bekerja. Walaupun ia tidak ke kantor, tapi ia tetap bekerja dirumah. Andi duduk di sofa kamarnya sambil fokus pada laptop dan juga berkasnya. Sebenarnya Andi punya ruang kerja sendiri dirumahnya. Tetapi ia tidak mau bekerja di ruang kerjanya, karena untuk Jaga-jaga kalau Rissa membutuhkan sesuatu.


Setelah beberapa jam kemudian, Rissa terbangun dari tidurnya, lalu melihat Andi sedang sibuk bekerja. Kepalanya benar-benar pusing ditambah lagi badannya lemas tak berdaya. Situasi seperti ini memang menyusahkan tapi mau bagaimana lagi, setiap orang pasti akan merasakan sakit walau selalu melindungi dirinya.


"Pak," Panggilnya.


"Hmm." Andi hanya berdehem sambil fokus ke laptopnya.


"Saya mau ke toilet," ucap Rissa dengan nada manja.


"Trus?" tanya Andi cuek.


"Ck, saya gak bisa berdiri, kepala saya masih pusing," ucap Rissa yang mulai merengek.


Andi segera menghampiri Rissa dan meninggalkan pekerjaannya sebentar. Sementara Rissa yang melihat Andi di hadapannya langsung merentangkan kedua tangannya.


Andi mengernyitkan dahinya, "Mau apa kamu?" tanyanya.


"Gendong," rengek Rissa.


"Emang kamu gak bisa jalan sendiri?" tanya Andi.


"Kepala saya pusing pak, susah buat jalan sendiri," jawab Rissa manja.


Ternyata benar kata bang Tio kalau Rissa itu manja. Sabar Andi sabar, batin Andi.


Mau tidak mau, Andi pun menggendong Rissa ala bridal style ke kamar mandi. Sungguh suatu kebahagiaan karena hari ini Rissa berhasil memperbudak suaminya sendiri. Ada hikmahnya juga kalau sakit gini?


"Bapak tunggu diluar aja," pinta Rissa.

__ADS_1


"Iya," balas Andi.


Setelah beberapa menit kemudian, Rissa keluar dari kamar mandi. Saat melihat Andi, ia merentangkan kedua tangannya kembali memberi isyarat untuk digendong. Dan mau tidak mau, Andi harus menggendong Rissa lagi dan menurunkannya di ranjang.


Tok! Tok! Tok!


Andi membuka pintu kamarnya dan salah satu maid nya membawakan makan siang untuk Rissa.


"Permisi tuan, ini saya bawakan makan siang untuk nyonya," ucap maid itu.


"Makasih ya." ucap Andi.


"Iya tuan, kalau gitu saya permisi tuan," maid itu pergi dan Andi berjalan ke Rissa yang sedang menonton TV sambil memeluk bonekanya.


"Sekarang kamu makan ya." Andi berniat menyuapi Rissa lagi.


"Gak mau, gak nafsu," tolak Rissa.


"Tapi kamu harus makan Rissa," ucap Andi.


"Tadi pagi kan saya udah makan pak," ucap Rissa.


"Itu sarapan pagi Rissa, sekarang beda lagi. Kalau ini kan makan siang dan setelah ini kamu harus minum obat lagi," ucap Andi.


"Kok minum obat lagi sih? Tadi kan udah pak," rengeknya.


"Kamu harus minum obat tiga kali sehari. Pagi, siang dan malam," jelas Andi.


"Hah, kalau kayak gini mendingan saya gak usah sakit," keluh Rissa.


Ini juga gara-gara muka tembok gue jadi sakit, batinnya.


"Biasanya kalau saya lagi sakit, saya gak mau makan nasi," ucap Rissa.


"Jadi kamu mau makan apa?" tanya Andi.


"Mau makan roti aja," jawab Rissa.


"Yaudah, saya buatin kamu roti sebentar ya," ucap Andi dan Rissa hanya mengangguk.


Andi menuruti permintaan Rissa dan membuatkannya roti juga dengan segelas susu hangat.


Rissa memang selalu manja apalagi kalau sakit. Biasanya ia manja kepada abangnya. Tapi karena abangnya gak ada disini, Andi lah yang jadi korbannya. Jadi jangan heran kalau Rissa itu memang manja. Makanya abangnya selalu mengejeknya manja.


Andi kembali ke kamarnya dengan nampan berisi roti dan susu coklat.


"Nih rotinya dan ini susunya. Kamu makan ya, jangan lupa habiskan, setelah itu minum obat," perintah Andi.


"Iya Pak." Rissa memakan roti dengan lahap dan juga meminum Susu coklatnya sampai habis.


"Sekarang minum obatnya," ucap andi, dan Rissa menerima obat yang diberikan Andi lalu langsung meminumnya.


"Saya mau lanjut kerja lagi," ucap Andi.


"Kenapa gak dari tadi bapak lanjutin kerjanya. Saya kan bisa makan dan minum obat sendiri?" tanya Rissa.


"Saya mau kamu makan dan minum obat dihadapan saya," jawab Andi.


"Kenapa gitu?" tanyanya.


"Yaa siapa tau aja nanti obatnya malah kamu buang bukannya diminum," jawab Andi dengan nada menyindir.


Kok dia bisa tau sih? Jangan-jangan dia cenayang lagi? batin Rissa.


To be continued...


Silahkan memberikan kritik dan saran. Jangan sungkan untuk komen di setiap selesai membaca.

__ADS_1


Like dan voment ya!


__ADS_2