
"Lia, gapapa kan ditinggal sendiri disini?" tanya Juna melihat Julia yang masih sibuk mengetik dan mencari referensi dibuku yang ada di perpustakaan.
Julia hanya mengangguk, "Yaudah aku tinggal dulu ya, bentar lagi dosennya dateng" Juna pun beranjak dari duduknya dan mengusap rambut Julia.
"Kalo udah selesai, gausah kesini. Langsung chat aja, aku tunggu di parkiran" ucap Julia.
"oke" cowok itu pun melenggang pergi, berlari menuju ke ruang kelasnya.
Saat Juna sudah tidak ada disamping Julia lagi, tiba tiba seseorang datang dan duduk disebelahnya disaat Julia masih sibuk menatap layar laptopnya, Julia tau seseorang itu siapa, tapi ia tetap cuek, soalnya dia malas sekali basa basi kalau tidak disapa lebih dulu.
"Julia" panggilnya.
'gue lagi males ngobrol, kok malah ada dia sih' batinnya, kesal.
"Eh, kak Hansol" Julia tersenyum tipis, kak Hansol adalah kakak tingkatnya, jadi dia harus bersikap sopan.
"Sendirian?"
"Sama Juna, tapi dia masih ada kelas. Barusan keluar"
"Kamu lagi ngerjain apa?"
"Cuma cari referensi dibuku"
"Kalo ada kesulitan ngerjain tugas, kamu bisa hubungin aku. Siapa tau aku bisa bantu"
__ADS_1
"Iya kak. Makasih" jawabnya singkat.
"Btw, akun aku kok diblokir?" sebenarnya, Julia malas menanggapi laki laki itu. "Juna yang ngeblok?"
"Iya, Juna" Hansol tertawa mendengar jawaban dari Julia.
"Aneh ya sepupu kamu, yang punya masalah sama aku kan cuma dia, kok jadi larang larang kamu deket sama aku?"
"Maaf ya kak. Aku udah kenal Juna dari kecil, kita selalu bersama, aku tau semua sifat Juna. Aku percaya sama Juna, apa yang Juna anggap itu nggak baik buat aku dan perlu dihindari, ya aku nurutin apa kata dia" Julia pun menutup laptopnya dengan kasar karena sudah terbawa emosi.
"Permisi kak" gadis itu pun pergi meninggalkan Hansol sendiri di perpustakaan.
****
Setelah kelas berakhir, Juna tak sengaja bertemu Yoga, mereka berbeda fakultas tetapi sama sama sudah selesai pelajaran. Keduanya pun berjalan bersama menuju ke parkiran.
"Iya, mau nebeng?" tawar Juna, karena arah rumah mereka sejalan dan searah.
"Enggak. Gue bawa mobil hari ini, mau keluar sama Chantika, tapi ada hal penting yang harus gue omongin ke elo"
Juna mengerutkan keningnya, "tentang apa?"
Yoga pun merangkul Juna, "sebaiknya sih elo cepetan cari pacar, gue ga yakin elo bakal berada dijalan yang lurus"
"Hah? maksudnya apaan? emang selama ini, gue ikut ajaran sesat? padahal gue tiap minggu rajin ke gereja" polosnya jawaban Juna.
__ADS_1
"Gak gitu beg*, kita kan sama sama cowok-"
"Jangan bilang, lo suka sama gue" Juna langsung melepas rangkulan Yoga.
Yoga pun memukul tengkuk Juna pelan, "Lo emang bener bener tolol nya kelewat batas ya Jun. Gila apa gue suka sama elo! masih bohay an Chantika"
"Terus, yang lo maksud apaan?"
"Makanya, kalo ada orang ngomong tuh jangan dipotong dulu, monyet!"
"Iya iya"
"Gue ngerti gimana perasaan elo ke Julia, kadang gue takut elo kelewat batas, apalagi lo kan cuma tinggal berdua sama Julia di satu atap yang sama, dia saudara lo Jun! sadar!"
"Apa sih! gue gak paham elo ngomong apaan"
Yoga pun mendekatkan bibirnya ke telinga Juna, dan membisikkan sesuatu. "semalem, pas kita lagi kumpul kumpul, gue gak sengaja liat sesuatu di paha Julia pas Julia jalan ngambil air minum. Ada bekas kissmark di paha Julia, dan gue tau pasti elo yang ngelakuin itu kan?"
Juna pun kembali flashback pada tadi malam, ia mengingat saat Julia yang berjalan mengambil air minum, ia lupa kalau di paha Julia terdapat bekas kissmark, apalagi semalam Julia memakai celana pendek diatas lutut.
'mampus!' batinnya, mengusap wajahnya frustasi.
"I-iya, gue khilaf. Tapi Julia masih aman kok" jawab Juna, Yoga hanya menggeleng.
"Jangan diterusin! dia saudara lo! yaudah gue duluan, Chantika udah ada di dalem mobil, nungguin gue daritadi" Juna hanya mengangguk.
__ADS_1
~•~