
Kini, mereka telah sampai dirumah setelah berhari hari berada di alam bebas, makan dan tidur seadanya.
Sehabis makan, Juna dan Julia bersantai dikamar, rebahan diatas kasur empuk yang begitu mereka rindukan. Perjalanan dan Lumajang ke Jakarta sehabis mendaki benar benar melelahkan, apalagi untuk Juna.
Biasanya Juna mendaki bersama teman teman cowoknya lebih gampang, tapi karena bawa mbak istri sama temen temen ceweknya, jadi sedikit repot dan juga perjalanannya tak secepat biasanya.
"Jun, emang sesama pendaki gitu gampang akrab ya?"
"Iya, saling tolong menolong. Orang orang didesa setempat juga ramah ramah"
"Tentrem ya kayaknya kalo tinggal disana"
"Mau pindah kesana?"
Sontak Julia langsung memukul lengan Juna, sekalipun ia tidak berfikiran untuk tinggal dilereng gunung meskipun pemandangan disana indah, "ngaco!"
Ada satu hal yang Julia sadari sehabis mendaki, Juna dan temen temannya memang bener bener sosok yang sabar dan bisa diandalkan walau awalnya mereka terlihat tidak meyakinkan, Julia kira, kalau ia mengomel sedikit pasti akan ada konflik diantara mereka, tapi ternyata tidak, hanya saja ia tidak suka dengan cara bicara dan cara Hans bersikap padanya kemarin.
Meskipun mereka sedikit gesrek, tetapi mereka begitu baik. Julia yang merasa sangat lelah, tiba tiba ia memeluk Juna yang duduk disampingnya, sibuk bermain game.
"Susah ihh, jangan ganggu!" kesal Juna, saat Julia iseng menutupi layar handphone Juna.
'emang kamu doang yang bisa iseng' batin Julia dengan terkekeh kecil.
Juna berdecak kesal dengan kelakuan Julia, "Apaansih Lia, tadi kamu telfonan sama Chantika ada aku diem, gak ganggu kamu sama sekali" omel Juna.
"Bodoamat" Julia mencubit cubit pipi Juna, agar Juna tau rasanya diganggu gitu rasanya tidak enak apalagi kalau pas sibuk, Juna sering sekali iseng.
"Berhenti dulu, makanya" Julia merampas ponsel Juna.
"Apa sayang? ada apa istriku yang cantik? kesayanganku? merah darahku, putih tulangku bersatu dalam semangatmu?" ucapnya Juna malah bernyanyi lagi kebray kebyar langsung membuat Julia tertawa.
__ADS_1
"Liat deh kantung mataku, gegara tidur malam terus beberapa hari yang lalu, sejak penilaian akhir" Juna menghela nafas, mencoba sabar, ternyata hanya masalah itu saja membuatnya harus berhenti bermain game, dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya Juna tidak mempermasalahkan kantung mata istrinya, apapun kondisinya, Julia tetap cantik dimatanya.
"Gapapa lah sayang, apapun kondisinya, kamu itu tetep cantik dimata aku, aku gak peduli sama kantung mata kamu" Juna mencium kening Julia.
"Tapi aku malu! liat nih, rambut aku juga keliatan kusut banget gara gara beberapa hari gak keramas. Pokoknya besok, kamu anterin aku ke salon!" tatapannya berubah sendu saat melihat rambutnya.
"Iya iya, sayangku" Juna mencium sekilas bibir Julia.
"Oh iya, besok kamu harus nunggu sampe selesai ya, soalnya nail Polish aku juga udah jelek banget" ia kembali menatap kuku kukunya.
"Buat apa disalon masang nail polish? lagian kamu sendiri udah beli banyak"
"Suka aja sama packagingnya" Juna langsung menggelengkan kepalanya mendengar jawaban simple dari Julia.
"Aku boleh coba pake ga sih?" tanyanya iseng. Julia langsung mengalihkan pandangannya dari tv ke Juna yang ternyata sudah ada didepan meja rias Julia, memegang kutek kecil berwarna tosca.
"Yaudah coba aja" Julia menahan tawa, saat Juna memilih warna tosca, apalagi dirinya belum pernah sekali mencoba warna tosca. "Sini, aku pakein... kalo kamu sendiri, ntar berantakan"
"Aku mau pake sendiri aja, kamu punya cleanernya juga kan?"
Saat mendaki kemarin, Julia seperti melihat sosok Juna yang baru, yang berbeda dari biasanya, Juna terlihat berkharisma, soalnya Juna jarang sekali terlihat seperti itu, tapi sekarang, selamat tinggal untuk kharisma Juna dan kembali lagi pada Juna yang gesrek.
"Aduuuuu pengen eeq. Tapi ini belum kering, gimana dong?" Juna menunjukkan kukunya.
"Yaudah sana berak dulu. Cuci sekalian kukunya!, lagian gabut banget pake nyobain nail polish cewek"
"Iya iya, bawel banget!" Juna beranjak bangun dan menoelkan kukunya ke pipi Julia, sengaja agar warnanya menempel dipipi Julia. Setelah melakukan aksinya, cowok itupun langsung berlari masuk ke kamar mandi, sebelum mendapat amukan dari istrinya.
"Junaaaaaaa!!!" teriak Julia.
****
__ADS_1
"Jun, kamu udah mulai tumbuh kumis. Cukur aja ih, jelek" Julia mengusap usap kumis tipis Juna yang sudah hampir tertidur dipelukannya.
"Hm" jawabnya singkat, sembari menenggelamkan wajahnya di dada Julia.
"Geli lah Jun! jangan disitu" Julia mendorong kepala Juna, yang ngedusel di dada Julia, tetapi Juna malah tambah merapatkan pelukan mereka.
"Hampir seminggu nggak cuddle, kangen tau"
"Tapi nggak disitu juga, emang biasanya kan gak disitu, geli" sinis Julia.
"Waduh, geli ya?" Juna menarik wajah Julia lebih dekat dengan wajahnya, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Julia.
Julia melepas ciuman yang belum terlalu dalam itu, dan menjauhkan wajahnya dari Juna.
"Apa sih Jun, gak mood tau!" Julia benar benar lagi emosional.
"Yaudah, jangan dimarahin kalo aku mau cuddle"
"Itu barang barangnya Jinnar sama Hayes yang kecampur masuk di ransel kamu, mau diambil kapan?"
"Besok, mereka mau kesini katanya" Juna mengusap usap punggung Julia, kemudian beralih lagi menyatukan bibirnya dengan bibir Julia, Julia tau ini akhirnya bakal seperti apa, lagi lagi Julia melepas tautan kiss itu.
"Katanya ngantuk"
"Udah gak ngantuk lagi" Juna kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Julia, Juna benar benar tak pantang menyerah.
"Jun, aku lagi gak mood!" Julia menahan kepala Juna.
"It's okay, i have another way, which can make your mood better again" bisik Juna dengan tatapan mengerikan.
Cowok itupun beralih ke leher Julia yang membuat Julia memejamkan matanya dan menarik rambut belakang Juna. Juna pun mulai iseng menyelipkan tangannya ke dalam piyama Julia, keduanya pun mulai tenggelam dalam aktivitas mereka yang bisa dibilang ini adalah kali pertama mereka.
__ADS_1
Mereka meluapkan rasa lelah perjalanan dari Lumajang kembali ke Jakarta dengan cara seperti ini, cara yang saling mengisi energi.
~•~