Couple J

Couple J
She confessed to me


__ADS_3

Ketukan pintu kamar Julia sontak langsung mengalihkan semua pandangan cewek cewek didalam kamar tersebut.


"Cieeee lagi gosip nih!" timpal Juna sambil melongokkan kepalanya pada pintu yang terbuka sedikit.


"Yang digosipin muncul nih, bubar ah bubar!" seru Yaya.


Juna masuk kedalam kamar Julia sembari terkekeh kecil, ia membawa nampan yang berisi potongan kue yang ia beli tadi. Julia mengerutkan keningnya, karena tak biasanya Juna berinisiatif seperti ini.


"Waduh mas suaminya besti gue, besar ya effort nya" goda Chantika sambil senyum senyum.


"Wehh, iya dong" jawab Juna sembari menaikkan kedua alisnya berulang kali.


"Dih! geli gue liatnya Jun!! udah sono keluar, kita ini lagi girls time" usir Julia dengan wajah julidnya.


"Yee, udah dikasih perhatian gini malah diusir" Juna memutar bola matanya, kemudian berjalan ke arah pintu. "Buruan! Jam besuk 5 menit lagi, gak boleh lebih dari 5 menit, atau kalian semua kena denda 50 ribu!" ceplos Juna sebelum keluar dari kamar.


"Lo termasuk sabar ya ngadepin si Juna? untung gak darah tinggi" gerutu Yaya. Tak habis pikir dengan tingkah laku Juna yang sangat childish, Yaya benar benar membayangkan betapa pusingnya kehidupan Julia sehari hari.


****


Setelah hampir 4 jam lamanya, ketiga cewek itu berada dikamar Julia, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Juna pun mengantar mereka kedepan sambil membukakan gerbang untuk mobil Yaya keluar.


"Pulang, Jun!!" ucap Chantika dan Yura bersamaan, sedangkan Juna hanya mengangguk.


"Oh iya! apapun yang kita tau tentang hubungan kalian berdua, kita jamin, aman, gak akan bocor kemana mana, janji" ucap Yaya sembari menaikkan jari kelingkingnya dari kejauhan sebelum masuk kedalam mobil.


"Thanks!" jawab Juna sedikit berteriak, sambil tersenyum simpul.


'untung mereka pengertian' batin Juna.


Setelah mobil Yaya keluar dari halaman rumah, Juna pun langsung menutup gerbang kembali dan masuk kedalam rumah.


"Kamu udah makan jun?" tanya Rose yang sedang bersantai diruang tengah, duduk disofa sembari menonton tv.


"Belum ma, nanti aja. Juna masih belum laper banget"

__ADS_1


"Makan tuh jangan nunggu laper banget, jun"


"Hehe, iya ma" Rose hanya menggelengkan kepalanya, kebiasaan buruk anak jaman sekarang, memang suka menunda nunda makan. Juna pun kembali masuk kedalam kamar untuk menemui istrinya.


Juna masuk kedalam kamar sembari membawa camilan dan dengan wajah polosnya, cowok itu melambaikan tangannya pada Julia tanpa mendekat.


Begitu masuk kedalam kamar, Juna melihat Julia yang duduk diranjang sambil bermain handphone nya, sebenarnya Juna kasihan melihat Julia yang pastinya bosen tidak boleh beraktivitas lebih, karena takut kecapek an.


Tapi mau bagaimana lagi, dari ketentuan dokter, Julia harus istirahat total. Cewek itu mendongak saat melihat sosok laki laki dari ekor matanya, tatapan mata itu langsung menajam saat melihat Juna membawa camilan ditangannya.


"Santai santai... ntar aku beresin kok" Juna ketakutan saat melihat tatapan Julia, padahal cuma ditatap belum diomeli.


'tadi pas bawain kue buat temennya aja gapapa, giliran gini langsung di pelototin, pilih kasih!' batin Juna.


"Jun, aku barusan liat DM dari Leo" ucap Julia dengan suara tenang.


Sontak, wajah Juna langsung pucat, "bisa jelasin gak, kok ada kamu sama Ryena duduk di cafe?" lanjutnya.


****! 'jangan bilang tadi di cafe, ada si Leo' batinnya, terus mengutuki diri. Yaps, cafe itu adalah milik sahabat Julia dan Juna dari kecil, bahkan dia sudah tau kalau Juna dan Julia telah menikah. Bodohnya Juna mengapa dia mau bertemu dengan Ryena di cafe milik sahabatnya sendiri.


"Hah? Aku? salah orang kali" benar benar alasan yang sangat bodoh.


Julia tertawa kecil, tapi tawa itu terdengar tawa kebohongan, "dia, kirim langsung di ig aku, jelas wajah kamu sama Ryena!" dia pun menunjukkan ponselnya pada Juna yang terdapat foto dirinya bersama Ryena.


Bagus! Sepertinya Juna akan tidur diluar


Ucapkan selamat pada @arjunajoo


"Jun?" panggilan dari Julia langsung membuyarkan segala pikiran Juna.


"Dia ngirim pesan ke aku waktu aku ambil baju, dia minta ketemuan buat ngomongin sesuatu" Juna menunduk.


"Terus?" Julia menaikkan satu alisnya, mereka mengobrol dengan berjarak, Juna takut jika mendekat pada Julia.


"She confessed to me" cowok itupun mendongak, mencoba melihat ekspresi Julia yang sekarang masih terlihat tenang. "Dia bilang, dia suka sama aku sejak 4 bulan lalu, dia suka ke aku secara diem diem"

__ADS_1


"Jadi ini, alasan dia gak ngehubungin aku sama sekali? dia pasti marah sama aku" lirihnya.


"Gapapa, mungkin nanti dia akan ngehubungin kamu lagi, mungkin dia masih butuh waktu untuk nenangin diri sendiri" Juna pun akhirnya berani mendekat, lalu ia menggenggam tangan istrinya.


"Aku mau nelfon dia jun, aku mau minta maaf" tapi dengan cepat, Juna langsung mengambil handphone tersebut dari tangan Julia.


"Gausah! buat apa? ini bukan kesalahan kamu!" Juna menyimpan handphone milik Julia di sakunya.


"Ini salahku jun! aku udah nyembunyiin hubungan kita dari dia! aku ngerasa bersalah karena udah buat dia kecewa dan merasa dibohongi! aku gak mau gara gara ini, ngerusak hubungan persahabatanku sama dia!" suara Julia semakin mengecil.


"Kamu nyesel sama keputusan kita?" ucapnya menjeda, "Dari awal, kita udah setuju sama keputusan kita untuk menutupi hubungan kita! kalo ada hal hal yang terjadi, kenapa itu salah kita? kenapa kita yang bertanggung jawab atas perasaan mereka? toh kamu liat Jinnar sama Yura? Nyatanya, mereka baik baik aja setelah tau kenyataannya, emang Ryena aja yang sok dramatis!" Juna benar benar kesal.


"Lagian! aku ngga sedekat itu sama dia, aku cuma sekedar nolong dia dari anak berandalan itu! karena apa? karena aku masih punya hati nurani, dia nya aja yang kebaperan, lagian dia udah punya pacar kenapa masih ngejar aku? serakah banget, mau dua duanya" lanjutnya, tak henti henti mengomel, sedangkan Julia hanya terdiam, mencoba mencerna semuanya. Cowok itupun mengalihkan pandangannya dari Julia.


"Aku udah kehilangan bayiku! dan sekarang aku kehilangan sahabat ku!" bentak Julia. Juna mengacak rambutnya frustasi.


"Kenapa kamu malah bawa bawa masalah ini?! apa dia sebanding sama bayi kita?"


"Kenapa kamu selalu gak paham sih jun!"


"Ya! aku gak paham! kamu boleh perbaiki hubungan kamu sama Ryena, tapi asal jangan meminta maaf dan seolah itu semua kesalahan kamu! you don't always blame yourself, and as if all the mistakes were made by you, itu kesalahan dia sendiri!" kakinya pun melangkah keluar kamar, dia butuh menenangkan diri dan mencoba mengontrol emosinya yang siap membludak.


Langkahnya terhenti, tanpa menoleh ke belakang "Obatnya jangan lupa diminum, istirahat. Masalah ini jangan terlalu kamu pikirin, kita akan bicarakan ini nanti" ucap Juna dengan nada dingin.


Kondisi Julia sedang tidak stabil, ia lebih memilih pergi menghentikan obrolan sebelum mereka bertengkar lebih besar lagi, karena Juna juga tak ingin emosinya terluap pada Julia yang sedang dalam keadaan lemah. Ia juga malu untuk ribut sekarang, karena mereka masih dirumah orangtua, malu jika didengar oleh mertuanya.


Juna berulang kali menghembuskan nafas kasar, ia duduk di halaman depan rumah sembari memijit pelipisnya. Ia baru sadar, kalau ini adalah pertengkarannya dengan Julia yang cukup serius.


'kenapa masalah ini dateng bertubi tubi sih!' kesalnya, serasa ingin membenturkan kepalanya di tiang listrik.


~•~


Untuk readers ku tercinta, maaf untuk sebesar besarnya, kalau up nya suka telat 🙏😓 karena author masih sibuk ujian psb.


Mohon bersabar untuk seminggu ini, salam hangat dari author ecek ecek, jangan lupa makan ya! jangan kayak si Juna suka telat makan 🐱😘

__ADS_1


__ADS_2