
Saat diperjalanan.
"Julia, Yaya, sama Ryena kalo capek, bilang ya?" ucap Jerome saat mereka sudah mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak.
"Apapun yang kalian liat dan denger, simpen semua sampe kita turun, jangan diceritain pas masih digunung" ucap Aksha mengingatkan, mendengar ucapan Aksha, Julia langsung bergidik ngeri.
Aksha dan Yoga berjalan paling depan, cewek cewek ditengah, sedangkan dipaling belakang Hayes dan Jinnar.
Awal perjalanan mereka masih melewati perkebunan sayur milik warga sekitar, kemudian berbelok masuk ke gapura taman Nasional Bromo Tengger yang masih dengan pemandangan perkebunan. Selang beberapa menit, tanda masuk jalur pendakian walaupun masih belum terlalu menanjak.
"Waktu tempuh kita ke pos 1 kira kira berapa jam?" tanya Ryena.
"Kayaknya sekitar 1 jam an" jawab Jayden yang berjalan dibelakangnya.
"Kalo berangkat jam segini, emangnya nyape di Ranu Kumbolo jam berapa?" tanya Julia.
"Sekitar empat atau lima jam an lagi sih, kalo mulai jam satu gini, mungkin paling cepet sampe jam lima ...masih bisa liat sunset lah" jawab Aksha, Julia membelalak saat mendengar jawaban Aksha.
'masih harus jalan, selama itu?' batinnya. 'oke, Julia gak boleh lemah... semangat!!' batinnya menyemangati diri sendiri.
"Gapapa, gak bakalan kerasa kok... nikmati perjalanannya sambil liat pemandangan sekitar, tapi harus tetep hati hati dan fokus" timpal Juna yang berjalan dibelakangnya pas.
Sepanjang perjalanan menuju ke pos 1 mereka bertemu beberapa pendaki yang dalam perjalanan turun, mereka tetap bersikap ramah, saling bertegur sapa dan mengasih semangat. Ciri khas para pendaki memang gampang akrab.
Tak terasa, akhirnya mereka telah tiba di pos 1, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum memulai perjalanan lagi, para cewek cewek duduk sembari saling sender sambil meminum air putih yang dibawa.
"Yuk lanjut!!" ucap Yaya dengan semangatnya.
"Masih semangat kan?" tanya Hayes.
"Masih!!" jawab Ryena, Yaya dan Julia bersamaan.
Dari pos 1 ke pos 2 ditempuh dengan waktu kurang lebih 40 menit, jadi untuk mempersingkat waktu agar bisa melihat sunset di Ranu Kumbolo, mereka memilih untuk tidak berhenti di pos 2 dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.
Perjalanan dipenuhi dengan obrolan dan candaan jadi suasana tidak terlalu sunyi, julia merasa nafasnya sudah berat belum lagi beban ranselnya yang membuat bahu dan punggungnya menjadi pegal, sebenarnya ingin sekali ia mengeluh tetapi ia berfikir semua temannya pasti merasakan hal yang sama dengannya, ini sudah konsekuensi yang harus ia tanggung.
"Kenapa?" bisik Juna pada Julia, karena sedaritadi memperhatikan Julia yang sudah mulai kurang nyaman.
"Gapapa" jawabnya singkat.
"Mau aku bawain ranselnya?" tawarnya, tapi dengan cepat Julia menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin membiarkan cowok itu membawakan ranselnya, apalagi sekarang cowok itu sedang memikul tenda.
"Lia, kenapa?" tanya Jerome, menoleh ke belakang.
"Gapapa kok, i'm fine" jawab Julia singkat
"Ryena sama Yaya, are u okay?" tanya Jerome.
__ADS_1
"Fine" jawab keduanya bersamaan.
"Ntar kita istirahat di pos 3 aja, soalnya dari pos 3 kita bakal ngelewatin tanjakan lumayan curam sih, jadi harus nyiapin tenaga ya guys" ucap Aksha memberitahu teman temannya, karena dia yang sudah pengalaman mendaki di gunung Bromo.
"Semangat semangat!!! bentar lagi pos 3" ucap Devano menyemangati teman temannya, padahal dirinya sendiri juga lumayan ngos ngosan.
Kurang lebih 1 jam setengah, akhirnya mereka telah sampai di pos 3 . Setiap pos ditandai dengan shelter yang cukup besar dan beberapa warung yang menjual gorengan dan minuman hangat, tetapi harganya lumayan mahal.
"Nih, gorengan" Juna memberikan 1 gorengan tempe menjes pada Julia yang duduk sendiri sembari melihat keadaan sekitar.
"Meskipun ga laper, usahain tetep beli, jadi kita harus bawa duit lebih" ucap Juna sembari memakan gorengan, mulutnya penuh minyak.
"Harus ya? emangnya kenapa?" Julia mengernyit.
"Bantu yang jual, jualan diatas gini mana mudah" Julia langsung mengingat perjuangannya berjalan sejauh tadi, pasti tidak mudah naik turun gunung setiap hari hanya untuk menyiapkan bahan di warung untuk menafkahi kehidupan sehari hari.
Tak jauh dari mereka berdua, keduanya melihat teman temannya yang lain sedang asik mengobrol bersama beberapa pendaki lain, sedangkan Ryena dan Yaya masih berada di warung, memesan beberapa gorengan lagi, sepertinya mereka berdua sudah lupa dengan program dietnya, Julia saja sudah cukup makan 1 gorengan, ia tidak mau pulang dari Bromo badannya jadi gemuk kebanyakan makan makanan berlemak.
"Rombongan dari mana mas?" tanya seorang cowok, menghampiri Juna dan Julia yang sedang duduk santai.
"Dari Jakarta, mas sendiri?" Juna tersenyum ramah.
"Dari solo mas, ini kita mau turun" jawabnya, "Mas, kesini sama berapa orang ya?"
"Kita ber 15 mas, 12 cowok sama 3 cewek" jawab Juna.
"Ohh, semangat!!" ucapnya menyuguhkan senyum yang begitu ramah.
"Lima, 2 cewek, 3 cowok"
"Ohh, jauh ya dari solo"
"Iya mas, mari... saya duluan"
"Iya mas semangat"
Julia hanya diam dan sesekali tersenyum, menyimak pembicaraan Juna dan lelaki tadi.
"Ngantuk?" Juna menyenggol siku Julia, saat melihat Julia menguap.
"Dikit"
"Bentar lagi kok, tahan jangan tidur dijalan loh" padahal sejak 2 jam yang lalu, Juna terus mengatakan sebentar lagi.
Setelah cukup istirahat, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan, tanjakan yang dibilang Aksha tadi memang cukup mengerikan untuk Julia.
"Berapa lama lagi sih? daritadi bentar lagi mulu, please jawab jujur!!" Julia menoleh ke belakang, membentak Juna, ia sudah cukup lelah, rasanya ingin sekali marah marah, apalagi sedaritadi Juna terus menjawab sebentar lagi.
__ADS_1
"30 menit lagi" jawab Juna pelan, ia tau Julia sudah benar benar capek, sebenarnya ia tidak tega tapi mau bagaimana lagi, yang lainnya pasti juga sama merasa capek.
Hingga ditengah perjalanan, lutut Julia merasa lemas sekali sampai tiba tiba ia berhenti dan terjatuh, Juna amat panik melihatnya.
"Julia!!" Juna menepuk pipi Julia yang nafasnya tidak beraturan, Julia tidak sanggup lagi untuk bersuara.
"Break dulu!!" ucap Jerome mengeraskan suaranya.
"Lia, tarik nafas terus keluarin pelan pelan, tenang ya... netralin nafas kamu dulu, kakinya diselonjorin" titah Juna sembari menopang tubuh Julia.
"Minum minum" ucap Jinnar ikut panik, mencari minum di ransel teman temannya.
Juna berulang kali mengusap keringat di wajah Julia, ia terus menggenggam tangan Julia yang teramat dingin. "Gimana?" tanya Juna, saat Julia telah meminum air yang diberikan oleh Jinnar.
"Mendingan" jawabnya pelan.
"Yakin? masih sanggup?"
Julia mengangguk.
Setelah Julia merasa cukup tenang, mereka melanjutkan perjalanan lagi, hari sudah semakin gelap dan udara semakin dingin, mereka berjalan dibantu dengan senter dan head lamp sebagai penerangan. Dan akhirnya sesampainya di pos 4 mereka beristirahat, mereka membutuhkan waktu 30 menit lagi untuk sampai di Ranu Kumbolo.
"Liat tuh!" Juna menunjuk ke bawah, Ranu Kumbolo sudah mulai terlihat dari atas.
"Wahh bagus banget!!" Julia berdecak kagum, rasanya semua capeknya seketika hilang.
Mulai dari pos 4 perjalanan mereka sudah tidak berat lagi, rasa cepak seolah hilang setelah melihat indahnya Ranu Kumbolo ditambah lagi warna warni tenda pendaki.
"Kamu kalo gak kuat, bilang ke aku. Nanti aku bilang ke yang lain, kita istirahat dulu di Ranu Kumbolo kalo yang lain masih mau lanjut, jangan maksain diri ya sayang" ucap Juna yang hampir berbisik pada Julia agar obrolannya tidak didengar oleh teman temannya.
Juna sengaja membiarkan teman temannya jalan lebih dulu agar dia bisa mengobrol dengan Julia.
"Aku beneran masih kuat kok"
"Yakin? sampe sini aja udah hebat loh, apalagi kamu masih pemula, naik gunung itu gak melulu soal puncak" Juna mengusap kepala Julia.
"Aku ngerti. Tapi aku tau kondisi badanku sendiri jun, aku beneran masih kuat kok... besok pasti udah full lagi tenaganya" Julia tersenyum, nadanya berbicaranya begitu pelan dan lembut.
"Oke, pokoknya kalo kamu ngerasa capek atau gak nyaman, langsung bilang ke aku, jangan diem aja ya" Julia mengangguk.
"Woi!! buruan bangun tenda! dingin banget nih" teriak Yudis mengagetkan mereka berdua, sontak keduanya menoleh ke arah Yudis, lalu berjalan menghampiri yang lain.
Mereka tiba di Ranu Kumbolo pukul 8 malam, gagal untuk melihat sunset disana, terlihat sudah banyak sekali tenda yang terpasang disana, rasa lelah perjalanan akhirnya sudah terbayarkan sesuai seperti ucapan Jinnar waktu di stasiun, Ranu Kumbolo benar benar indah.
Julia benar benar terharu, sungguh perjuangan yang besar untuk sampai disini, ia benar benar tidak menyangka kalau dirinya benar benar sampai disini, tempat yang selama ini ia ingin datangi. Udara sangat dingin tapi hati Julia menghangat saat mengingat semua perlakuan Juna yang sabar menjaganya selama di perjalanan.
Bukan hanya Juna, tapi semua teman temannya, Julia begitu bersyukur mempunyai teman teman yang begitu perhatian dan sabar padanya, meskipun Julia berulang kali meminta istirahat, dengan lapang dada, mereka menurutinya.
__ADS_1
~•~