
Julia berjalan mengekori Juna yang berjalan didepannya mencari tempat duduk mereka, sedangkan Yaya dan Ryena berada dibelakangnya.
"Jun, aku duduk deket jendela ya. Sambil liat pemandangan" pinta Julia, setelah mereka menemukan tempat duduk mereka sesuai di tiket.
"Iya, sini tasnya, aku taruh diatas" Julia memberikan tasnya pada Juna.
"Sini, punya kalian juga" Yaya dan Ryena juga ikut memberikan tasnya pada Juna.
Saat para cowok cowok telah selesai menata barang bawaan, barulah mereka duduk. Aksha, Juna dan Julia duduk bersama dengan posisi Juna berada ditengah, Julia didekat jendela dan Aksha dipinggir.
Didepan mereka bertiga ada, Yoga, Ryena dan Yaya dengan posisi, Ryena didekat jendela dan Yaya di tengah, jadi Yoga yang dipinggir. Sedangkan yang lain pisah, tapi tak terlalu jauh dari mereka berenam.
"Kalo kaki kamu pegel, selonjorin aja diatas paha aku" ucap Juna pada Julia.
"Oke" Julia tersenyum.
"Gue juga, boleh?" timpal Aksha berharap.
"Dih! mending lo tiduran aja dibawah noh. Puas tidur, ga ketekuk badan lo" jawab Juna dengan wajah julidnya. Sontak Julia, Ryena, Yaya dan Yoga tertawa mendengar jawaban Juna bersama wajah julid khasnya.
****
Setelah beberapa jam diperjalanan, sekarang sudah memasuki jam 8 malam, pemandangan diluar kereta juga sudah gelap, beberapa penumpang ada yang tidur dan ada juga yang masih terjaga.
__ADS_1
"Kurang 3 jam lagi ya?" tanya Yaya, yang lain mengangguk sembari menyeduh pop mie masing masing di gerbong restorasi.
"Gila! bapak bapak disamping gue, nyanyinya asoy bener, mulai awal naik kereta sampe jam segini headsetnya ga copot dari telinga, kalian denger kan?" ucap Jinnar, sembari melirik pada Hayes, Jayden, Junko, Jerome dan Hans yang hanya mengangguk.
"Ga budeg apa tu telinga?, disumpel mulu" timpal Juna.
"Tau, gak inget usia aja" Jayden mengendikkan bahunya.
"Gimana, sejauh ini nyesel gak, Lia?" tanya Hayes.
"Enggak, seru malahan"
"Yaudah sih bagus"
"Menurut lo?" Julia menaikkan satu alisnya.
Hans mengangguk, ya beginilah jika es bertemu dengan es, mereka sedikit tidak akrab.
"Untung lo ajak Yaya sama Ryena, kalo bawa si Yura pasti ribet banget. Mending gue gak ikut" jawab Hans, sebenarnya ia akan menyebut nama Chantika juga, tetapi ia ingat kalau disini ada pacar dan sepupunya, sangat tidak pantas membicarakan Chantika didepan mereka berdua.
"Iya lah, gue kan cewe yang surviving skill nya keren abis!!" Yaya tersenyum smirk menatap ke arah Hans, membanggakan dirinya, sembari mengibaskan rambutnya.
'Nyesel gue nyebut nama Yaya' batin Hans sembari memutar bola matanya, malas.
__ADS_1
"Kutu lo anjir! nyemplung di pop mie gue" teriak Aksha.
"Pala lo! gue ga kutuan bego!" Yaya memukul lengan Aksha cukup keras.
Julia tertawa kecil, melihat satu es batu ini bercanda, ternyata dibalik sifat dinginnya Aksha, dia juga suka bercanda, tidak seperti Hans yang hanya diam dan selalu memasang tampang datar.
"Kita kan nyampe nya jam 11 malam nih, emang ada angkot ya disana malem malem?" tanya Mahesa.
"Iya juga ya, ntar gue pikir lagi" jawab Juna.
"Gimana kalo numpang tidur aja dulu di stasiun? baru paginya kita naik kendaraan umum kesana nya, gue search di google sih lumayan jauh dari stasiun ke daerah bromo" saran Jerome.
"Kalo dibolehin, ya... kita nginep aja di stasiunnya. Jam 4 pagi baru kita cari sarapan sekalian belanja bahan makanan, baru kita cuss ke bromo" jawab Jinnar. Semua setuju dengan saran Jerome dan Jinnar, jika rencana mereka diperbolehkan dengan pihak stasiunnya.
"Jadi, kita tidur seadanya aja dibawah. emperan" - Junko.
"Yaudah sih gapapa" - Devano.
"Ntar cewe cewenya tidur dikursi aja, kan ada tuh kursi panjang" ucap Juna. Julia, Yaya dan Ryena mengangguk.
Setelah pop mie masing masing telah habis dengan diselingi obrolan, mereka pun kembali ke tempat duduk masing masing, perut yang sudah terisi membuat Julia dan beberapa teman temannya mengantuk.
Julia pun menggenggam tangan kiri Juna kemudian menjatuhkan kepalanya dibahu Juna, mencari posisi yang enak untuk tidur.
__ADS_1
~•~