
Lagi seru serunya ngerumpi sambil nyemil, tiba tiba terdengar suara dering telefon dari handphone Chantika membuat mereka perhatian mereka berempat teralihkan.
"Ngapain si Yura vc gue? masih inget juga dia sama kita" gumam Chantika.
"Iya nih! masa gue reply story nya gak dibales dong, gausah diangkat! tunggu dia nelfon kedua kalinya, biar ada usaha" balas Yaya menghentikan jari Chantika yang hampir menggeser tombol.
Dan mereka pun sepakat untuk tidak mengangkat video call dari Yura. Benar saja, Yura menelefon yang kedua kalinya, akhirnya Chantika pun mengangkatnya.
"Haloooo apa kabar teman temanku? Cieee lagi pada ngumpul nih, ga seru ya ga ada gue? kurang rame ya?" Yura tertawa kecil, layarnya memenuhi wajah dirinya.
"Dih! pede bener neng! buruan balik! pikirin tuh kuliah lo, trus sejak kapan lagi jadian ama Jinnar, gak bilang bilang ke kita" timpal Ryena.
Yura tersenyum menampilkan gigi rapinya, laku cewek itupun mengarahkan kameranya ke Jinnar yang lagi menyetir, lalu cowok itupun melambaikan tangannya ke arah Julia dan kawan kawan sambil senyum lebar.
"Udah pas dong kita!! sama sama punya ayang, ga ada yang jomblo" Yura dan Jinnar tertawa.
"Jagain temen gue disana! awas aja kalo pulang pulang ada yang lecet!" ancam Yaya sembari mengepalkan tangannya ke arah Jinnar dibalik layar.
"Kalo lecet, tinggal bawa ke bengkel lah... ya kan ra?" tanggap Jinnar sembari menaik naikkan satu alisnya ke arah Yura, Yura hanya terkekeh.
"Garing! udah deh byee, oleh oleh jangan lupa!!" akhirnya Chantika memutuskan sambungan telefon.
__ADS_1
Dan tak lama kemudian, Julia mendapat pesan chat dari Juna yang memberitahu kalah Juna sudah selesai kelas, Juna langsung menjemput Julia didepan rumah Ryena.
****
"Udah main bareng lagi nih?" tanya Juna pada Julia yang sedang memilih baju untuk di setrika.
"Udah dong" jawab Julia dengan senyum lebar, "tadi aku deg deg an banget, takut dia agak gimana gitu ke aku. Eh taunya engga, dia minta maaf duluan ke aku" lanjutnya.
"Bagus deh" Juna mengusap rambut Julia.
Julia memegang tangan Juna yang menyentuh rambutnya, Julia begitu terkejut saat merasakan suhu tubuh Juna yang begitu panas.
Juna geming.
"Jun, dahi kamu anget tau! pusing gak?" Julia menghentikan aktivitas nya.
"Pusing dikit, entar dibawa tidur juga ilang"
"Kamu tuh sukanya nyepelein terus! iya kalo mendingan, kalo engga?" omel Julia.
"Makanya, aku coba tidur dulu bentar, mana tau ntar mendingan"
__ADS_1
"Yaudah ayo tidur" Julia membatalkan aktivitasnya yang akan menyetrika, kemudian mengajak Juna rebahan.
Julia mengelus rambut Juna yang halus dengan penuh kelembutan, Juna memejamkan matanya menikmati elusan Julia dikepalanya. Sambil memeluk Julia dengan erat, cowok itu masih iseng memberi ciuman kecil di leher Julia.
"Udah! Iseng banget, lagi sakit juga" tatap Julia sinis, karena Juna masih sempet sempetnya.
"Jadi kepengen ya?" Juna menggoda dengan menaik naikkan kedua alisnya.
"Apaan sih jun!" Julia menimpuk wajah Juna menggunakan bantal.
"Kalo kamu pengen, aku masih sanggup loh"
"Apasih!! tidur gak!" Julia siap mencubit perut buncit Juna, tetapi wajahnya tidak bisa berbohong, wajah Julia merah padam bagai udang rebus.
"Iya iya, galak bener neng" Juna sengaja mengeratkan pelukannya sampai Julia sesak.
"Gemes" berulang kali Juna menghujani wajah Julia dengan ciuman.
"JUNAAAA PENGAP TAU!!" teriak Julia habis stok kesabarannya menghadapi kelakuan Juna. Tapi tetap saja betah sama Juna yang udah dia kenal sepanjang hidupnya.
~•~
__ADS_1