
"Mana nih Hayes?, lama banget, Ji.... udah lu telfon belum?" tanya Juna pada Jinnar yang sudah duduk di bangku penumpang belakang.
"Udah daritadi, gak diangkat angkat" jawab Jinnar.
"Duluan aja lah, lagian si Hayes bawa motor kan" timpal Jerome.
"Ngawur, tadi pagi dia nebeng gue" saut Mahesa.
Sudah 15 menit lamanya mereka menunggu Hayes didalam mobil Juna, mereka hendak menuju kerumah Hans hanya untuk sekedar main.
"Woi bang*e!! cepetan!" teriak Jinnar.
Harus diteriakin dulu, Hayes baru mencepatkan jalannya, sesampainya di mobil Juna, Hayes pun langsung membuka pintu mobil.
"Geseran dong" ucap Hayes.
"Ribet ih, lo duduk sebelah sana aja lah" usir Jerome menunjuk ke sebelah Junko yang kosong.
"Tinggal geser aja napa, ribet bener"
Karena malas berdebat, akhirnya Junko pun menggeser duduknya sehingga Jerome berada ditengah, dan Hayes disamping kirinya.
"Ada yang pernah kerumah Hans gak?" tanya Juna, karena dia sendiri belum pernah ke rumah Hans, meskipun sahabatan dari SMP.
"Belum" jawab mereka serempak. Hans terlalu misterius, sekalipun mereka tak pernah diajak ke rumahnya.
"Ini bener gak sih dia Share Lock nya?" tanya Juna.
"Coba ikutin aja, kalo gak ketemu tinggal telfon orangnya" timpal Yudis.
Juna pun mengangguk dan mulai menancapkan gas mobilnya menuju rumah Hans menurut hasil share lock pemilik rumah.
****
Sesampainya dirumah Hans, sang pemilik rumah langsung menyambut mereka dengan hangat.
"Masuk guys" cowok itu langsung menggiring teman temannya menuju ke ruang tengah.
Disana terlihat sudah tertata rapi berbagai makanan enak, pizza 4 box, donat 3 kotak dan beberapa kaleng Coca cola.
"Wihh enak nih kalo tiap hari ke rumah Hans" celetuk Junko.
__ADS_1
"Sok dimakan, buka aja sekarang kalo udah laper" ucap Hans, cowok itu tidak bersikap dingin jika bersama teman temannya.
"Yee, Junko sama Esa mah gausah disuruh. Ntar juga habis sama mereka berdua" timpal Jinnar, lolos membuat yang lain tertawa.
Tanpa berbasa basi lagi, mereka pun langsung men unboxing pizza dan donat yang berada diatas meja tersebut, sembari diselingi obrolan dan candaan, siang ini rumah Hans benar benar ramai oleh mereka.
"Abaaang, Airil pulang!!" teriak seorang gadis yang baru saja memasuki rumah, sontak Juna dan yang lain langsung terdiam dan menatap ke arah anak perempuan yang baru saja datang itu, dia membeku menatap cowok cowok didepannya.
Airil adalah adiknya Hans, dia masih berumur 17 Tahun, Airil baru saja datang dari kerja kelompok dirumah temannya, dikomplek sebelah, ia tidak mengetahui kalau akan ada teman teman kakaknya yang datang kerumah. Airil dibuat terkejut saat mengetahui ruang tengahnya ramai cowok, mukanya pun memerah, begitu malunya.
"Permisi" Airil menunduk kemudian berjalan pelan melewati 11 cowok tersebut, yaitu teman teman kakaknya.
"Sttt" Hans menarik baju yang tengah dipakai adiknya, sehingga membuat Airil terhenti.
"Bajunya gimana sih dek" Hans membenarkan baju Airil yang sedikit terbuka dibagian dadanya.
Ada secercah senyuman dibibir Jerome ketika melihat tingkah adik dan kakak didepannya itu. 'lucu banget sih' batinnya.
Hayes, Jinnar, Yudis dan Devano mengamati Jerome yang sedari tadi senyum senyum sendiri melihat hubungan beradik kakak didepannya, penuh kehangatan. Mereka berempat terkekeh geli melihat Jerome.
"Ehhhem" dehem Hayes, langsung membuat Jerome tersentak dari lamunannya.
Airil menyengir saat kakaknya membenarkan posisi bajunya didepan teman temannya, menggemaskan sekali tingkah mereka. Kemudian, Airil pun masuk kedalam kamarnya.
"Ehhhem ehhem" lagi lagi Hayes berdehem.
"Ya gapapa lah clingy sama kakaknya sendiri, daripada sama elo" timpal Devano.
"Njir! kok bisa gue?" Jerome mengerutkan keningnya.
"Halah sok nolak lu, padahal mah ngarep! pas tidur di kos nya Aksha aja, elo sering melukin Devano sambil ngelindur nyebut nyebut nama Airil" celetuk Jinnar membuat yang lain tertawa, kecuali Hans yang hanya terkekeh cool sembari menggelengkan kepalanya.
"Bilang aja lo suka sama Airil, minta restu dulu sama kakaknya" ucap Yudis.
Dari candaan teman temannya, langsung membuat wajah Jerome merah padam, layaknya udang rebus, sepertinya cowok itu benar benar salah tingkah. Entah seperti apa perasaannya sekarang, sepertinya ia sedang dimabuk cinta, Airil.
'Gila!! gue ter Airil Airil nih' Jerome merebahkan badannya sembari menutupi wajahnya.
"Yuk guys makan dulu, bibi udah nyiapin makan" ucap Hans saat melihat ART nya sudah siap menata makanan.
"Yuk yuk, serbu!!"
__ADS_1
"Habiskan!!"
Mereka pun duduk di meja makan dengan piring yang sudah siap didepan masing masing, tinggal mengisi nasi dan lauk saja.
"Dek!! sini makan juga, kamu belum makan dari tadi pagi kata mama!!!" teriak Hans mendekat ke arah kamar Airil yang tertutup rapat.
"Iya bentar!" teriak Airil dari dalam kamar, 5 menit kemudian, Airil keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda dengan tadi, wajahnya juga terlihat lebih fresh dan natural tanpa make up, nyatanya Airil sudah cantik dari lahir mesti tanpa polesan make up.
Terpaksa, Airil pun makan bersama kakak dan teman teman kakaknya, mau bagaimana lagi, kalau ia makan terakhir pasti lauknya sudah habis, sekarang saja perutnya sudah memberontak ingin diberi makan.
"Kamu duduk sini" ucap Hans menepuk kursi kosong disebelahnya, Airil berada ditengah, sebelah kanan adalah kakaknya dan sebelah kirinya adalah Jerome, Hans sengaja menyuruh Airil duduk disebelah Jerome, untuk melihat wajah salah tingkah temannya itu yang begitu lucu.
"Parah!! curang lo Hans! masa Airil duduk disebelah Jerome sih" ucap Yudis.
Airil langsung menatap kakaknya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Udah gapapa, lagian gak bakalan diapa apapin sama bang Jerome kok" jawab Hans menjawab segala pertanyaan Airil, layaknya telepati.
"Airil! hati hati, Jerome pedofil!" ucap Juna dengan tawa yang begitu keras, diikuti yang lain.
"Uhuk uhuk!!" candaan itu sontak membuat Jerome tersedak.
"Eh ehh, minum dulu kak" dengan penuh perhatian, Airil memberikan air minum pada Jerome.
Keduanya saling tatap, betapa salah tingkahnya Jerome ditatap oleh Airil.
"Dih salting, curutnya salting coyy!!" Jinnar tertawa terbahak bahak.
Hans pun ikut tertawa melihat Jerome yang salah tingkah.
"Si curut jatuh cinta euyy" sorak Juna.
'kurang ajar para bang*e!' batin Jerome dengan tatapan tajam menatap temannya satu persatu.
Airil tertawa kecil, "Makanya hati hati kalo makan kak" senyum manisnya dilayangkan untuk lelaki yang duduk disebelahnya.
Dengan hati yang begitu berdebar debar, Jerome hanya mengangguk sok cool, kemudian mengambil sesendok nasi lagi dengan tangan yang bergetar hebat.
Hans tak henti hentinya tertawa melihat tingkah temannya yang terlihat grogi duduk disebelah adiknya. Disisi lain, Hans sudah merestui Jerome jika ia akan menyatakan cinta pada adiknya, Hans sendiri tau bagaimana sifat Jerome.
Hans tidak akan menyetujui jika yang menyatakan cinta pada adiknya itu, Devano, Jayden, Yudis, dan Jinnar. Karena mereka berempat termasuk playboy kelas kakap, Hans tak mau adiknya dipermainkan oleh lelaki seperti mereka berempat, ia juga tak ingin adiknya merasakan patah hati. Setidaknya, Jerome dapat dipercaya untuk menjaga adiknya dan untuk mencintai adiknya dengan tulus.
__ADS_1
~•~