
Setelah sebulan istirahat total dirumah orangtua Julia, mereka pun kembali ke rumah mereka sendiri. Sesampai dirumah, Julia langsung sibuk memberesi rumah yang sudah ditinggal 1 bulan lebih, bahkan Juna melihatnya sampai pusing sendiri.
Julia memang sudah pulih, tapi Juna masih takut kalau Julia kerja yang berat berat. Pada akhirnya, Juna menawarkan dirinya untuk membantu Julia, cowok itu hanya membantu mengepel rumah dan memotong rumput rumput yang sudah lumayan tinggi dihalaman belakang rumah, bahkan tanpa disuruh juga, Juna dengan inisiatifnya membersihkan kolam ikan dan juga garasi.
Setelah Berjam jam bersih bersih rumah, akhirnya semua telah kembali seperti semula, bersih kinclong. Bahkan kaca kaca rumah, juga mereka bersihkan dengan bergotong royong.
"Yeay!! akhirnya bersih lagi rumah kita, makasih Junaaa" Julia mencubit pipi Juna, ia berjinjit untuk sampai menyentuh pipi Juna, begitu lucunya makhluk satu ini.
Juna hanya mengangguk angguk, benar benar capek rasanya. Juna berjalan gontai ke ruang tengah dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
"Mandi dulu Jun. Abis itu kita makan, terus istirahat" ucap Julia yang ikut duduk di samping Juna, tangannya mengusap dahi Juna yang berkeringat.
"Bentar lagi"
"Ntar ketiduran?"
"Engga kok"
"Awas kalo ketiduran!"
"Iya Julieeeet" Julia tertawa kecil, kalau Juna sudah memanggilnya Juliet dengan nada seperti itu, tandanya Juna sedang kesal.
Julia memainkan tangannya diatas perut Juna, "Jun, besok jalan yuk" ajaknya, Julia benar benar merasa bosan setelah selama 1 bulan hanya dirumah terus.
"Aku juga punya rencana gitu"
"Kemana enaknya?"
"Aku mau ajak kamu ke kebun teh, mau gak?"
"Dimana?"
"Di Bogor"
"Jauh loh"
"Gapapa lah, besok habis dari gereja kita langsung berangkat"
"Okeee"
__ADS_1
Yeay!! Akhirnya mereka jalan jalan setelah sebulan gak kemana mana.
"Jun, gak habis" Julia menyodorkan es krim yang sudah dia makan separuh, sudah biasa Juna menjadi tong sampah Julia.
"Apaan nih, masa yang diabisin rasa coklatnya doang" Juna berdecak kesal, es krim rasa coklat dan strawberry itu kini tinggal rasa strawberry saja, karena Julia menghabiskan semua rasa coklatnya.
Juna menatap es krim ditangannya dengan miris, tapi ujung ujungnya, cowok itu tetap menghabiskan es krim bekas sisa Julia.
Cowok itu melirik Julia yang asik menonton tv, ia mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisa eskrim di dekat bibir Julia menggunakan jempolnya, kemudian menjilat jempolnya sendiri.
"Ih jorok" Julia meringis melihat kelakuan aneh Juna.
"Engga lah, ini baru jorok" Juna menempelkan jempol yang tadi dia jilat ke pipi Julia, lalu ia tertawa terbahak bahak melihat Julia yang panik dengan muka memerah, kesal.
"Junaaaaa" teriak Julia terus menggesekkan pipinya di lengan Juna.
"Apaan sih lebay" cibir Juna sembari menarik hidung Julia, Julia pun membalasnya dengan mencubit paha Juna.
"Aw aw! sakit!" pekik Juna berulang kali mengusap pahanya.
"Mau lagi?!" Julia melotot ke arah Juna.
"Ga jadi deh. Nanti dia pasti curiga kalo kamu cerita ke aku.... mending aku pura pura ga tau aja" jelas Julia.
"Coba aja, waktu itu kamu mikirnya gitu. Pasti gak bakalan ada drama berantem berantem segala" sindir Juna.
"Salah aku?" Julia kembali melotot.
"Engga engga, salah ku" ngalah dan ngalah yang selalu Juna lakukan.
****
Julia bangun pagi pagi sekali, pukul setengah 5 dia sudah bangun, untuk menyiapkan keperluan yang harus dibawa nanti.
"Juna bantuin dong, nyiapin makanan biar cepet selesai" Julia menarik tangan Juna yang masih tidur dikamar.
"Beli aja lah... aku mau tidur, buat ntar nyetir dijalan"
"Aku gak mau beli, aku pengen buat sandwich sama hashbrown"
__ADS_1
"Aduh! ribet banget sih Lia"
"Gak ribet Jun! buruan cuci muka sama gosok gigi dulu, pasti ngantuknya ilang" Juna berdecak sebal tapi tetap melakukan apa yang Julia pinta.
Diarea dapur, Julia sibuk memotong sayuran, sedangkan Juna masih duduk menopang dagu diatas meja makan.
"Jun, tolong ambilin plastik wrap dong" Julia menunjuk le arah laci, dengan langkah gontai Juna pun berjalan ke arah laci untuk mencari apa yang disuruh Julia.
"Dimana?"
"Ya disitu Jun! cari aja"
"Gak ada, kamu pindahin kali"
"Yaudah aku yang cari, kamu yang potong sayuran ini, jangan gede gede!" Juna hanya mengangguk.
'emang si Juna, gak becus carinya' batin Julia terus menggerutu.
"Ini apa Jun?" Julia mengangkat plastik wrap itu hingga Juna menoleh, dengan kepala yang masih menoleh ke arah Julia, tangannya masih tetap memotong sayuran.
"Aw!!" pekik Juna melihat jarinya sendiri yang berdarah, bahkan pisau yang ia pegang sampai terlempar.
"Junaaa! kok bisa sih malah jari sendiri yang dipotong" Julia berlari ke arah Juna dengan wajah yang begitu panik.
"Sakit" gumamnya meringis. Julia pun membawa Juna ke arah wastafel untuk membersihkan jari Juna dari darah yang terus mengalir.
"Terus dialiri air jarinya, jun" Julia pun berlari mengambil kotak p3k.
Setelah mengambil kotak p3k, Julia langsung mengobati luka di jari telunjuk Juna. Lalu ia menenggelamkannya kedalam pelukannya, berusaha menenangkan Juna.
"Masih sakit gak?" Julia melepas pelukannya, kemudian meniup niup telunjuk Juna.
"Mendingan"
"Tetep jadi jalan gak?"
"Jadi lah! masa gini doang gak jadi" Juna langsung membusungkan dadanya.
Julia memutar bola matanya, 'tadi aja ngerengek' tanpa mengatakan sepatah katapun, Julia langsung meninggalkan Juna untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
~•~