
Setelah selesai membereskan barang barang, Juna pun mengendarai mobilnya menuju ke dessert shop lebih dulu sebelum kerumah mama mertua.
Selama menunggu pesanannya, Juna membuka ponselnya lebih tepatnya pada aplikasi whatsapp, Juna membalas pesan chat di grup pertemanannya, yang mereka beri nama Tadika Mesra. Masih asik menimbrung di grup, tiba tiba terdapat notif pesan lagi, yaitu dari Ryena. Juna pun langsung membuka pesan tersebut.
Ryena
Lo beneran gak bisa sekarang ya, jun?
Ini penting banget, gue gak lega
Kalo belum ngomong ke elo.
Gue sekarang ada di cafe Leo
Kalo lo penasaran, temuin gue sekarang
Gue tunggu!
Juna mengerutkan keningnya, sepertinya apa yang sempat ia pikirkan tadi memang benar. Juna menimbang nimbang, tapi kalau sudah begini, lebih baik dibicarakan secepatnya, supaya semuanya cepat kelar.
"Ini, sudah mas" suara tersebut, berhasil mengalihkan pandangan Juna dari layar ponsel ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Makasih" jawabnya, kemudian langsung keluar dari toko tersebut karena tadi telah membayar cake nya di awal pemesanan.
Juna masuk kedalam mobilnya, kemudian memutar arah, memutuskan untuk menemui Ryena.
****
Sesampainya di cafe Leo, Juna turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam tanpa memesan makanan atau minuman.
"Rye" sapaan Juna membuat Ryena lega.
Ryena mendongak, "Gue tau, pasti lo datang" senyumnya mulai simpul. Juna menarik kursi didepannya, tetap dengan wajah datarnya, ia duduk didepan Ryena, matanya menangkap dua gelas minuman.
"Satunya buat elo"
"Apa yang pengen lo omongin?" Juna tetap dengan wajah datarnya, bahkan cara bicaranya juga sama datarnya.
Ryena memainkan kukunya, mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengatakannya pada Juna. Gadis itupun menarik nafas, sebelum mengatakan sesuatu pada Juna.
"Gue suka sama lo" suaranya lirih dan begitu pelan, hampir tak terdengar oleh Juna.
"Sejak 4 bulan terakhir jun. Gue suka sama elo, sejak elo nolongin gue dari anak anak berandalan musuhnya Yaya itu, entah, elo masih inget apa enggak. Dan sejak saat itu, gue terus perhatiin elo, akhirnya gue suka sama elo" ia memberanikan diri mengangkat kepalanya, dan menatap mata Juna. Selama ini, Ryena mencintai Juna secara diam diam.
__ADS_1
"Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri, disisi lain, gue masih sayang sama Haikal, tapi gue juga butuh perhatian lebih secara langsung, bukan virtual, gue gak sanggup ldr, tapi gue gak bisa lepasin Haikal, gue juga gak bisa lepasin elo dari hati gue. Entah kenapa, gue bisa suka 2 orang sekaligus dalam satu waktu" lanjutnya.
"Tapi elo tau sendiri kan Rye? Gue bukan cowok yang bebas lagi? Jadi, perlahan, lo coba lepasin gue dari hati lo. Lo udah punya Haikal, gue percaya, Haikal selalu jaga perasaan lo disana. Timbal balik lah Rye, lo juga harus jaga perasaan Haikal"
"Gue kecewa jun! Kenapa kalian sembunyiin ini? Gue juga jadi ngerasa bersalah, secara tidak langsung, gue hampir ngerebut suami sahabat gue sendiri. Bahkan kalau gue tau semuanya dari awal, gue gak bakal biarin perasaan ini tumbuh" sangat terlihat, Ryena menahan tangisnya, hingga suaranya serak.
"Iya rye. Gue minta maaf, gue juga menghargai perasaan lo, ini sepenuhnya bukan salah lo juga" Juna mengusap wajahnya.
"Status gue sama Julia masih sama sama mahasiswa Rye, ga gampang terbuka dengan status menikah gini di era anak anak kampus, perhatian mereka pasti akan tertuju pada kita berdua, ga semua orang pikirannya positif kan? Masih banyak mereka mereka stigma negatif tentang nikah muda"
"Tapi seenggaknya, jujur sama temen deket kalian jun, apa salahnya? lagian kita kita gak bakal ngumbar kok, apa kalian gak percaya sama kita?"
"Bukan gak percaya, itu emang udah jadi keputusan kita berdua buat nutupin hubungan kita dari siapapun di kampus. Alesannya, cukup gue dan Julia aja yang tau"
"Gue sekarang ngerasa paling menyedihkan, suka sama suami orang"
"Elo masih punya Haikal, jadi jangan berharap lagi sama gue. Julia gak tau soal ini, dia juga gak tau gue ketemu sama elo sekarang, dia gak tau apapun soal perasan lo. Jadi, tolong jangan salahkan Julia dan jangan jauhin dia cuma gara gara ini!" tekan Juna, wajahnya masih sama datarnya sejak awal ia masuk kedalam cafe.
"Gue cuma perlu waktu untuk sendiri, gue gak bakal jauhi Julia. Gue akan mencoba terbiasa melihat interaksi kalian berdua, dan mencoba mengubur dalam dalam perasaan gue ke elo"
"Thanks, i respect your feeling. Gue duluan, Julia udah nunggu gue dirumah, see you" Juna melangkahkan kakinya keluar cafe, bahkan minuman yang Ryena pesan untuk Juna, sama sekali tak ia sentuh.
__ADS_1
Ryena masih tak percaya, Juna berlalu begitu saja, padahal ia berharap, Juna masih ada didepannya, berbicara dengannya, empat mata saja. Sangat sulit bagi Ryena untuk melupakan Juna, apalagi mereka satu kelas, mereka sama sama satu fakultas.
~•~