
Setelah mencari ketenangan, Juna kembali melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Julia, tapi langkahnya terhenti akibat getaran disakunya.
Juna menghela nafas saat tau siapa yang menelefonnya.
📞 iya ma?
📞 Jun, mama dapet kabar dari papanya Julia, apa itu bener sayang?
📞 bener ma
📞 gapapa sayang, mungkin emang belum waktunya, mungkin tuhan pengen kalian berduaan dulu, pacaran dulu gitu
( jawab sang mama, mencoba menghibur putranya, padahal dirinya sendiri pun sedang menahan tangis)
📞 iya, ma
📞 Julia sekarang, lagi apa?
📞 diruang rawat, mama sama papanya Julia tadi dateng, trus aku mutusin buat keluar bentar cari udara seger buat nenangin diri dulu ma, ini mau balik kesana
📞yaudah, sekarang kamu temenin dia. Kalo mau ngomong sama Julia, hati hati, pilih kalimat yang tepat, jangan nyakitin dia, kamu sama dia lagi sama sama merasakan kehilangan, Julia pasti juga sedih, pokoknya yang penting, kalian harus saling menguatkan ya nak
__ADS_1
📞 Iya ma, Juna ngerti
📞 Mama sama papa besok pulang, langsung nyamperin kalian. Maaf, mama gak bisa ada buat kamu sekarang
📞 gapapa ma. Juna minta maaf, ga ngabarin mama
📞 Gapapa sayang, mama paham kok. Titip salam buat Julia sama orangtuanya ya, sampein maaf dari mama karena besok baru bisa jenguk kalian
📞 iya ma
Sambungan telefon pun terputus. Juna telah sampai didepan ruangan, ia melihat sudah banyak teman temannya datang, ada Yaya, Ryena, dan teman teman cowoknya.
Yaya berdiri dari duduknya, saat Juna datang. "Kenapa lo rahasiain pernikahan lo sama Julia, jun?" tanya Ryena dengan emosi.
"Itu pirvasi mereka na, biarin" Chantika menyela.
"Tapi kalo mereka dari awal jujur soal hubungan mereka, mungkin ini semua gak akan terjadi, gue gak akan sesakit ini jun" mata Ryena berkaca kaca.
"Kenapa ini jadi soal perasaan lo? emang semua ini ada hubungannya sama elo? enggak kan?" balas Juna, sembari mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosinya.
Juna mengacak rambutnya, frustasi. Ryena pun memilih untuk pergi, "titip salam buat Julia" ucapnya kemudian melenggang pergi begitu saja.
__ADS_1
Saat hendak masuk kedalam ruangan, lagi lagi Juna menghentikan langkahnya, saat Jinnar menarik tangannya. "Jun, kita pulang dulu ya. Besok kita kesini lagi, salam buat Julia sama orangtuanya ya" Juna hanya mengangguk.
"Makasih ya, semua"
"Jangan lupa makan" Yoga mengusap bahu Juna, karena ia tau kebiasaan buruk Juna ketika ada masalah, Juna selalu telat makan atau bahkan tidak makan sama sekali.
****
Begitu masuk kedalam ruang rawat inap Julia, Juna melihat Julia tertidur, kali ini Juna tau kalau Julia benar benar sudah tidur, karena nafasnya tenang dan beraturan.
"Barusan tidur dia, jun" suara Rose mengalihkan pandangan Juna. Rose kemudian menepuk ruang kosong disofa, tempat yang tengah kini ia duduki.
"Sini, duduk samping mama" ucapnya lembut, Juna menurut lalu duduk disebelah mertuanya itu.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, ini semua sudah takdir" Rose, membelai lembut rambut Juna, seolah seperti pada putranya sendiri.
Juna hanya diam menunduk, "peluk mama" wanita itu merentangkan tangannya, kemudian menarik Juna kedalam pelukannya.
"Maafin Juna ya ma. Juna teledor jagain Julia" bisiknya.
"Sttt ga boleh bilang gitu. Mama makasih banget, kamu udah jagain Julia dengan baik. You've been taking care of her almost for your whole life, dari kalian kecil kan? And she is the happiest when she's with you" Juna hanya diam merasakan belaian lembut, dirambutnya.
__ADS_1
~•~