Couple J

Couple J
Teledor


__ADS_3

Suasana ruangan menjadi hening ketika mereka mencoba menenangkan diri dan menghentikan air mata yang jatuh tanpa ada aba aba ketika mata mereka menatap satu sama lain.


Juna hanya terdiam, duduk dengan kepala menunduk, tapi tangannya tetap menggenggam erat tangan istrinya.


Juna rasanya masih belum sanggup untuk bertanya lebih jauh, Julia pun seakan akan tidak punya tenaga untuk menjelaskan pada Juna. Jadi kebisuan melingkupi mereka, sibuk dengan pikiran masing masing, pikiran mereka benar benar kalut.


Suara pintu ruangan yang terbuka, mengalihkan pandangan mereka, ternyata orangtua Julia lah yang datang.


"Ma, pa" Juna bangkit dan mencium punggung tangan mereka.


"Mama" lagi lagi tangis Julia pecah saat mamanya datang mendekat kearahnya. Juna memejamkan matanya, menahan rasa sakit mendengar tangisan istrinya.


"Sayang" Rosseanne, mengelus rambut putrinya kemudian memeluk Julia dan memberinya ciuman dikeningnya berkali kali, mata Juna menangkap mertuanya membisikkan sesuatu ditelinga Julia yang membuat Julia semakin terisak tangisnya.


"Mungkin belum rezeki, jun" mertuanya, papa Chandra mengusap punggung menantunya yang masih juga keponakannya.


"Iya pa" gumam Juna. Juna memilih untuk keluar ruangan, karena mendengar suara isak tangis Julia benar benar mengiris hatinya.


Pikirannya benar benar kalud, bercampur aduk, bagaimana bisa dia kehilangan calon anak yang bahkan mereka tidak ketahui kalau dia ada dan mencoba tumbuh didalam kandungan Julia. Juna benar benar menyesal telah mengizinkan Julia ikut naik gunung, mungkin karena Julia kecapek an sehingga membuat Julia mengalami keguguran.


Juna berulang kali menyeka air matanya yang jatuh diujung matanya.


****

__ADS_1


Saat Juna membuka pintu, terlihat Yoga dan Chantika yang duduk termenung dibangku depan ruangan.


"Please, jangan tanya tanya gue dulu" ucap Juna saat Yoga berdiri memegang tangannya, Juna pun langsung menepis tangan yang sudah memukulnya habis habisan itu.


"Jun, gue minta maaf udah mukul lo tadi. Gue kebawa emosi, gue pikir lo-"


"Gapapa" jawab Juna memotong ucapan Yoga.


"Jun, yang sabar ya" Chantika mengusap lengan Juna. Gadis itu menitihkan air matanya, merasa tidak kuat melihat Juna dan Julia harus mengalami kehilangan seperti ini.


"Lo mau kemana?" tanya Yoga.


"Beli air minum" jawabnya singkat, kemudian melenggang pergi begitu saja.


Yoga menghela nafas melihat keadaan Juna yang lagi kacau begini, jarang sekali ia melihat Juna yang seperti ini karena Juna orangnya santai dan ceria banget.


Jinnar, Hayes dan Yura yang masih didalam ruangan, mereka pun keluar, dan hanya menyisakan Julia dengan orangtuanya saja.


"Ceritanya gimana sih?" tanya Jinnar.


"Tadi tuh kita ke mall, terus tadi Julia mau liat baju gitu buat Juna, tiba tiba dia kesakitan megangin perutnya, minta anterin ke toilet. Nah pas keluar kamar mandi, dia keliatan lemes gitu, mukanya pucet kayak shock banget. Dia minta telfonin Juna tapi hp nya gak aktif jadi gue nelfon Yoga karena kebetulan mall yang kita kunjungi deket apartemennya Yoga, pas nunggu Yoga, tiba tiba Julia pingsan" ucap Chantika menjelaskan kejadian.


"Usia kandungannya?" tanya Hayes.

__ADS_1


"Masih 4 minggu" jawab Yura.


Hayes dan Jinnar membelalak saling tatap. Jadi selama hiking, Julia udah hamil? Mereka merasa bersalah. Walapun waktu itu mereka tidak tau kalau Juna dan Julia sudah menikah tetapi tetap saja, mereka begitu merasa bersalah.


Jinnar membayangkan betapa susahnya Julia waktu itu, memperjuangkan sampai puncak dengan trekking yang tidak mudah dan semua itu ia lalui dalam kondisi hamil. Jinnar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Juna saat ini.


****


"Ma... Apa ini karma buat Julia? Karena Julia nunda keberadaan dia? makanya dia diambil duluan? Tapi walaupun aku sama Juna berencana untuk nunda sampai kita lulus kuliah, kalo dikasih sekarang, kita pasti bakal ngerawat dia ma" ucap Julia dengan sesegukan, mama nya pun mengusap air mata putrinya, dan memeluknya dengan erat, mencoba menenangkannya.


"Jangan ngomong gitu nak. Itu namanya belum rezeki. Tuhan tau apa yang terbaik buat kamu sama Juna, kalian masih sama sama muda, masih 23 tahun kan?" ucap sang papa, Julia hanya mengangguk.


"Perjalanan kalian masih panjang, tuhan ambil yang ini, nanti pasti diganti kok, ikhlaskan ya sayang... boleh sedih, tapi jangan berlarut larut" papa Chandra mengelus rambut putrinya.


"Tapi ma, pa... Juna daritadi diem aja, ga ngomong apa apa sama Julia. Dia pasti kecewa banget ma... gimana bisa aku gak sadar kalo aku lagi hamil. Julia merasa bersalah... habis dari sini, Julia ikut mama sama papa ya? Julia gak mau ketemu Juna dulu" rengeknya.


Rose mengalihkan pandangan ke suaminya yang mengendikkan bahu, ibu itu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan putrinya.


"Harusnya kalian itu saling menguatkan. Toh yang memiliki rasa kehilangan ngga cuma dia, tapi kamu juga... Kalian sama sama merasakan kehilangan" ucap Rose.


"Tapi ma, Julia ngerasa bersalah banget setiap ngeliat Juna. Udah berapa kali Julia nolak Juna untuk melakukan itu, karena alasan Julia rasa masih terlalu muda untuk punya anak. Julia egois banget kan ma? Julia bener bener teledor sampe gak tau kalau Julia lagi hamil. Izinin Julia untuk tinggal sama mama papa sementara aja ya?"


Chaka menghela nafas berat, ia tidak tega melihat putrinya yang terus memohon, "Yasudah, nanti papa coba ngomong sama Juna" papa pun memeluk putri sulungnya itu.

__ADS_1


Julia memejamkan matanya, ia ingin istirahat sebentar, pelukan kedua orangtuanya memang menenangkan, tapi sebenarnya yang paling Julia butuhkan saat ini adalah pelukan Juna.


~•~


__ADS_2