
Sore ini, Juna dan teman temannya berada dikosan Aksha, kosan yang paling dekat dengan kampus, tempat yang emang biasa dijadikan basecamp oleh mereka untuk menunggu matkul berikutnya atau sekedar cuma main. Satu satunya sahabat Juna yang ngekost hanya Aksha, karena rumah Aksha yang berada di Surabaya tak memungkin untuk pulang pergi dari Jakarta - Surabaya.
"Beli gorengan sama kopi enak nih" ucap Hayes.
"Bener banget, cuacanya lagi mendukung soalnya" timpal Devano.
"Dingin ya?, apalagi kalo kelon sama ayang, beuh mantap" balas Yudis membuat yang lain geleng geleng tak habis pikir dengan satu playboy ini.
"Tai, ayang mulu yang dipikirin" kesal Junko.
Baru saja Juna ingin menimpali, tiba tiba ia teringat sesuatu.
"Woi! sekarang jam berapa?" tanyanya panik.
"Jam 5, emangnya kenapa?" jawab Jayden.
"Jangkrek! gue lupa jemput Julia, dia udah kelar kelas dari jam 4 tadi, mampus gua"
"Emang dia gak ngehubungin lo?" tanya Aksha.
"Tadi gue lupa, hp gue silent belum gue balikin modenya trus langsung gue charge" Juna pun langsung mencabut hp nya dan terkejut saat melihat banyak notif panggilan dari Julia.
JULIET
Missed Call [15]
Tanpa memikirkan gorengan lagi, Juna langsung menyambar kontak mobilnya dan buru buru keluar kost.
"Gue duluan" ucapnya buru buru.
Selama diperjalanan, Juna terus menelfon Julia, tapi jelas saja cewek itu tak mengangkat telfon dari Juna, mungkin dia kesal. Akhirnya, Juna pun menelepon Yaya, mungkin saja Julia ada dirumah Yaya sekarang.
📞 Halo ya?
📞 Apa Jun?
📞 Julia ada dirumah lo gak, sekarang?
__ADS_1
📞 Dia udah pulang sendirian, daritadi nungguin elo lama banget, ditelfon gak diangkat angkat lagi, parah banget, kasian si Julia, mana lagi sakit perut karena datang bulan lagi
Juna menerima semua omelan dari Yaya dengan lapang dada, karena memang ini adalah salahnya, dia juga harus siap menerima omelan dari Julia juga nanti.
📞 Dia pulang naik apa?
📞 Gocar, elo kemana aja sih?
📞 Panjang ceritanya, thanks ya
Juna pun langsung mematikan sambungan telfonnya dan segera menuju pulang kerumah.
****
Sesampainya dirumah, Juna langsung masuk kedalam rumah menggunakan kunci cadangan yang slalu ia bawa, ia tak punya keberanian untuk memencet bel, lebih baik ia buka pintunya sendiri, untung saja Julia mencabut kuncinya kalau tidak, mungkin dia akan tidur diteras sampai Julia membukakan pintunya.
Dengan hati hati, Juna menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, sesampainya didepan kamar, Juna berusaha membuka pintu kamar dengan pelan agar tak menimbulkan suara sekecil pun.
Saat berhasil membuka pintu kamar, cowok itu melihat Julia yang meringkuk diatas kasur kesakitan, menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Kamu kenapa? Julia, apanya yang sakit?" rasa takut Juna seketika berganti dengan cemas saat melihat istrinya yang meringkuk kesakitan.
"Lagi datang bulan ya?" Julia hanya mengangguk.
Juna pun langsung kembali turun menuju dapur untuk memasak air, setelah air cukup panas, ia masukkan air itu kedalam alat kompres untuk perempuan yang sedang haid.
Julia sudah mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, kemudian Juna pun memasangkan alat itu pada perut Julia dan tak lupa bantal yang ditaruh dibawah lutut, untuk meredakan sakit.
"Masih sakit?"
"Masih"
Juna pun duduk disebelah Julia yang sedang merebahkan badannya.
"Lia"
"Hm?"
__ADS_1
"Maaf ya tadi aku lupa jemput kamu, tadi aku dikosan Aksha sambil ngerjain tugas buat presentasi besok, hp nya lupa aku silent trus aku charge"
Juna pun ikut merebahkan badannya menghadap ke arah Julia, Julia membalikkan badannya ke arah Juna hingga mereka berdua saling tatap, kemudian ia memeluk Juna erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Juna, Juna pun lebih mengeratkan pelukannya dipinggang Julia.
"Aku tuh nungguin kamu lama banget tau, Yaya tadi nemenin aku setengah jam, sampe akhirnya dia pamit pulang duluan karena ada perlu sama kakaknya" ucap Julia lebih kalem dari biasanya.
Beruntung, Julia sedang sakit, biasanya Julia manja jika sedang sakit, tapi kalau lagi sehat, jangan harap Juna dapat hidup dengan tenang, pasti Julia akan memarahinya habis habisan dan menghukumnya membersihkan rumah sampai bersih.
"Jadi nunggunya sendiri?" tanya Juna benar benar merasa bersalah.
"Ditemenin kak Hansol" Hansol adalah kakak tingkatnya yang sempat berantem sama Juna dulu, karena Hansol sering kali menggoda Julia.
"Dia minta nomer aku Jun"
"Kamu kasih?"
"Iyalah, aku gak enak... orang dia udah nemenin aku, tadinya dia mau nganterin aku juga tapi aku nolak, aku tetep nunggu kamu"
Ucap Julia panjang lebar, tiba tiba ia merasakan kantuk akibat Juna yang mengusap punggungnya sangat candu.
"Kok kamu kasih sih" sebel Juna.
"Ehehe bukan nomer aku kok, yang aku kasih ke dia itu nomer kamu" ucapnya dengan polos, sontak membuat Juna tertawa terbahak bahak dan mencium pipi Julia berulang kali dengan gemas.
"Kamu tuh gemesin banget"
Julia tertawa dengan perlakuan Juna yang begitu memanjakannya.
"Udah bisa ketawa nih, brarti udah gak sakit kan?" tanya Juna.
"Masih sakit tau" jawab Julia dengan sisa tawanya, masih erat memeluk Juna.
"Dih bohong ya? bilang aja mau peluk" Juna menempelkan hidungnya ke hidung Julia.
"Engga, beneran"
Juna hanya terkekeh kecil mendengar jawaban Julia, padahal Juna hafal sekali sama Julia kalau sakit dia pasti manja banget dan gak mau jauh jauh dari Juna. Meskipun Julia sudah tertidur, Juna masih terus mengusap punggung Julia.
__ADS_1
Kemudian, Juna mencium pipi Julia pelan dan lembut sebelum akhirnya ia ikut masuk ke alam mimpi.
~•~