
Setelah 2 hari berada di rumah sakit, Julia diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Seperti yang diperbincangkan sebelumnya, Juna setuju untuk tinggal dirumah orangtua Julia selama sebulan.
Karena Juna takut Julia mengalami pendarahan lagi akibat dampak dari keguguran. Belum lagi dampak dari emosional, kelelahan, kehilangan nafsu makan dan susah tidur. Juna juga tak selalu stay dirumah dan dia juga tidak mungkin untuk meninggalkan Julia sendirian dirumah.
Juna meletakkan tas yang berisi baju baju Julia selama dirumah sakit, di bagasi. "sayang, nanti aku nyusul ke rumah mama ya, aku mau ambil keperluan kita dulu dirumah"
"Iya" jawab Julia singkat.
"Kamu lagi pengen apa? ntar sekalian aku bawain"
"Engga deh, aku maunya kamu aja"
"Jun, mama titip matcha cake ya?" malah mama mertuanya yang mendengar ucapan mereka, menitip pada Juna.
"Siap, ma" jawab Juna dengan terkekeh kecil.
"Yaudah, kita duluan ya jun. Kamu hati hati bawa mobilnya" ucap Irina yang ikut mengantar Julia kerumahnya.
"Iya, ma" jawab Juna, kemudian memasukkan kepalanya lewat jendela mobil untuk memberi kecupan di kening istrinya.
"Cantik banget sih, istriku" bisik Juna sambil mengelus rambut Julia.
Mama Rose dan mama Irina senyum senyum melihat kemesraan anak anak mereka, walau sebenarnya pemandangan seperti ini sudah biasa mereka lihat. Juna dan Julia saling menyayangi dan terlihat lembut memberi kasih sayang pada masing masing, ya walaupun berantemnya juga sering.
****
Juna memasuki rumah yang sudah kosong selama 2 hari itu. Juna terkekeh kecil begitu memorinya mengingat saat Julia yang suka mengomelinya, berputar putar di kepalanya. Meskipun akhir akhir ini Julia tetap mengobrol dengannya dan sesekali tertawa, tetapi Juna merasa seperti ada yang kurang, seperti bukan Julia yang biasanya, Juna merindukan Julia walaupun dia sebenarnya selalu ada bersamanya.
Maklum, mungkin karena Julia masih merasa sedih atas kehilangan calon bayinya, maka dia sedikit berbeda beberapa hari ini.
Juna menghela nafas sebelum memulai membereskan keperluan mereka selama berada dirumah mama rose dan papa chaka. Tapi getaran di ponsel Juna membuat fokusnya teralihkan dan melihat layar handphone untuk tau siapa yang mengiriminya pesan.
Ryena
__ADS_1
Jun, gue minta maaf atas kejadian 2 hari lalu, tapi bisa gak kita bicara? ada yang mau gue omongin
Juna mengerutkan keningnya membaca pesan dari Ryena, bahkan dia saja sudah lupa dengan kejadian 2 hari lalu, Juna adalah tipe orang yang gampang melupakan masalah, jika masalahnya kemarin, yasudah, biarlah kemarin, seterusnya dia akan baik baik saja.
Tetapi menurutnya, reaksi Ryena sungguh berlebihan untuk sekedar dibohongi. Toh banyak juga yang dibohongi oleh mereka, bukan hanya Ryena. Tetapi apa? Reaksi mereka biasa saja, apalagi Jinnar dan Yura. Jinnar pernah menyukai Julia, sebelum akhirnya ia beralih pada Yura, karena dia pikir tak ada kesempatan lagi pada Julia.
Sama seperti Jinnar, Yura juga pernah menyukai Juna, bahkan gadis itu pernah menyatakan perasaannya pada Juna, namun sayangnya Juna menolak, dan dia pun beralih pada Jinnar. Sebenarnya ada rasa kecewa dihati Jinnar dan Yura, karena mereka masih sama sama ada rasa untuk Juna dan Julia.
Hubungan keduanya, semata hanya karena untuk melupakan Juna dan Julia, mereka berdua sebenarnya tak saling menyukai.
Sebenarnya, ada satu kemungkinan yang tersemat di benak Juna dan agak menganggu, "halah, gak mungkin. Lagian selama ini juga gue gak deket deket banget sama Ryena, dia kan udah punya pacar. Ngobrol sama dia aja kalo ada yang penting penting doang" gumamnya, lalu membalas pesan Ryena.
^^^Anda^^^
^^^Sans, sorry gue ga bisa hari ini.^^^
^^^Next time aja ya^^^
Setelah membalas pesan dari Ryena, Juna juga menghapus seluruh history chatnya, takut Julia membacanya dan bertanya, ada kejadian apa 2 hari lalu, Juna tidak mau menambah beban pikiran Julia.
"Anjir siapa sih!" cowok itupun mengambil ponselnya yang tergeletak diatas kasur, kemudian melihat nama yang tertera.
Seluruh kekesalannya hilang saat melihat layar handphone nya, videocall dari Julia. Senyumnya yang lebar muncul saat menjawab panggilan dari Julia dan disambut pemandangan Julia yang sedang tersenyum lebar juga kepadanya.
"Ya ampun Junaaaa, kamarnya berantakan banget" omel Julia, shock melihat kondisi kamar melalui layar ponselnya.
Juna tertawa, saat Julia yang bawel kembali, ia merindukan Julia yang bawel dan sering memarahinya.
"Hehe" Juna menyengir. "Oh iya, kenapa telfon?"
"Gapapa, cuma pengen liat kamu packing aja"
"Kamu kangen rumah ya? aku home tour mau gak?"
__ADS_1
Julia tertawa kecil. "Gausah deh, mending kamu cepetan packing sambil aku pantau, sekalian ngecek takut kamu ada yang lupa bawa"
"okee" Juna pun mengatur posisi handphone nya, supaya Julia bisa melihat dia dengan jelas packing baju baju sekaligus barang yang dibutuhkan, termasuk skincare milik Julia.
"Ihh grogi tau, diliatin sama cewek cantik" canda Juna sembari melipat celana jeans nya.
"Apaan sih jun" jawabnya dengan tertawa, bahagia sekali memilki suami yang humoris.
"Aghhh Juliaaa, aku ngga bisa tanpa kamu tau. Susah banget ya ternyata beres beres gini, capek!" keluhnya sembari merebahkan badannya diatas karpet berbulu.
"Lain kali aku gak bakal berantakin kerjaan kamu lagi deh, ternyata susah yaaaa... aku capek, padahal cuma ngelipet baju doang. kalo kamu ngomel ngomel, aku bakal terima.." lanjutnya masih sambil packing, dengan wajah kusut.
"Beneran ya?" tanya Julia, terus tertawa melihat tingkah Juna, cowok itu benar benar menggemaskan, apalagi kalau wajahnya kusut, dia terlihat seperti bayi koala.
"Iyaaaa, serius deh" ia memanyunkan bibirnya. Kemudian menatap ke layar hp. "Ihh cieeee, baju kita samaan deh, sama sama putih"
"Apaan sih jun, kayak anak sd aja"
"Emang, anak sd gitu ya?" Juna menaikkan satu alisnya.
"Iya, kamu dulu gitu lo"
"Ahh masa sih? Sama siapa?"
"Ada deh. Yang waktu anak baru dulu yang heboh karena cantik terus kamu ikut ikutan godain dia"
Juna sampai lupa dengan kegiatan packing nya, mereka sekarang malah keasikan mengobrol.
"Jun! Kok malah ngobrol sih, ayo lanjutin. Cepet kesini, aku kangen" rengek Julia.
"Oh iya iya, lupa, kamu sih! Ngajakin ngobrol" Juna pun sadar dan langsung cepat cepat packing, karena tidak sabar bertemu mbak istri.
__ADS_1
~•~