
Tepat pukul 2 malam mereka sudah siap untuk summit attack, semua sudah siap memakai head lamp, sarung tangan, jaket dan buff untuk menutup muka dari pasir. Mereka juga membawa air minum trekking pole masing masing.
"Pokoknya harus konsentrasi, kalo capek istirahat tapi jangan sampe tidur. Puncak itu bonus, jadi jangan nalu kalo kalian gak sanggup terus nyerah ditengah jalan" ucap Hayes.
"Keselamatan dan kesehatan yang lebih diprioritaskan, satu lagi, pasa telinga bener bener, kalo ada yang teriak mending minggir, atau ada batu langsung geser" lanjutnya. Semua mengangguk paham, kemudian beroda untuk kelancaran selama perjalanan menuju puncak bromo.
Sepanjang perjalanan, mulut Julia tak henti hentinya berdoa untuk keselamatan dirinya, Juna dan teman temannya, jalanan sudah mulai berubah menjadi bebatuan dan lautan pasir.
Pepohonan yang biasanya melindungi mereka dari hembusan angin, sudah tak ada lagi, pentingnya mereka membawa trekking poke untuk pengganti akar pohon, jika batu yang dipegang terkadang kondisi pasir tidak stabil akan membuat batu merosot terjatuh, dan membahayakan pendaki yang berada dibawah. Banyak kasus pendaki yang meninggal karena dihantam batu yang menggelinding dari atas.
"Jalannya zig zag, ikutin gue" ucap Aksha yang berjalan paling depan.
"Kenapa zig zag?" tanya Julia pelan.
"Soalnya jalur pasirnya ga stabil" jawab Jinnar dengan mata yang kelilipan pasir.
__ADS_1
Julia sudah mulai merasa sedikit pusing karena sudah beberapa jam berjalan menanjak, bahkan Julia melihat banyak para pendaki yang putar balik karena tidak sanggup melanjutkan sampai atas, ada juga yang meminta air karena kehabisan air.
"Awas, batu!!!" teriakan pendaki dari atas membuat Julia panik setengah mati, badannya gemetar, pikirannya langsung ngeblank hingga tak terasa badannya ditarik oleh Juna.
"Konsen! Lia!" Juna berteriak membentak Julia, saking paniknya.
"Semua aman?" Aksha teriak dari atas.
"Aman!!" jawab Yaya yang masih memegangi lengan Yoga karena kaget.
Semua pendaki yang ada disana saling memberi ucapan selamat karena tak mudah untuk sampai di titik ini. Juna menghampiri Julia yang masih berpelukan sambil menangis bersama Yaya dan Ryena, saking gak percayanya bisa sampai disini.
"Selamat, pengalaman pertama bisa naik sampe puncak bromo" Juna memberikan senyuman hangatnya, Julia pun langsung beralih memeluk Juna dengan erat tanpa sadar diamati oleh teman temannya.
Setelah semua puas menikmati sunrise dsn mengabadikannya dengan berdiri melingkar dan bergandengan tangan.
__ADS_1
"Sebuah kebanggaan bisa ada disini sama orang orang terbaik kaya kalian, selamat untuk kita semua" ucap Jinnar.
Julia menangis tambah deras saat mendengar ucapan Jinnar, ia menjadi flashback saat perjalanan menuju ke sini yang tentunya tidak mudah dari awal, tetapi yang cowok cowok dengan sabar menjaga mereka dari awal, bahkan sejak berangkat dari jakarta.
"Yeee nangis" ejek Juna dengan tertawa kecil.
Juna menarik Julia kedalam pelukannya, kemudian diikuti oleh yang lain, dan pada akhirnya mereka saling berpelukan untuk merayakan keberhasilan mereka.
Kemudian mereka berfoto bersama melalui bantuan pendaki lain, pastinya harus mengabadikan momen untuk kenang kenangan, momen ini pasti akan diingat seumur hidup dan karena batas waktu yang berada dipuncak bromo hanya sebentar, akhirnya mereka memutuskan untuk segera turun tepat di jam 8 pagi.
~•~
__ADS_1