Couple J

Couple J
Aku sayang kamu


__ADS_3

Juna dan Rose masih berada ditempat yang sama seperti terakhir kali.


"Oh iya Jun, ada yang mau mama sampaikan ke kamu" ucap Rose.


"Soal apa ma?"


"Tadi kata dokter, karena usia kandungan Julia yang masih dibawah 12 Minggu, jadi, gak perlu ada proses kuretase. Tapi masih harus diawasi dalam waktu 2 Minggu dan istirahat total. Jadi, dalam waktu 2 Minggu ini, gapapa ya kalian tinggal dirumah mama dulu"


"Iya, ma. Rencana Juna juga gitu" Juna sebenarnya sudah memikirkan hal tersebut.


Tidak mungkin mereka tinggal berdua saja dirumah, setelah apa yang terjadi. Juna takut, terjadi apa apa pada Julia, karena Juna kurang tau dengan kondisi kewanitaan, mama lah yang lebih tau, maka Juna memutuskan untuk tinggal sementara dirumah orangtua Julia.


"Yasudah kalau kamu setuju, mama sama papa pulang dulu ya. Nanti jam sembilan, mama sama papa kembali kesini lagi, nganterin kebutuhan kamu sama Julia sekalian bawa makanan. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu juga, pokoknya, ya Jun" ucap mama Rose.


"Iya, ma" Rose bangkit dan mendekat ke ranjang Julia, wanita itupun mencium kening putrinya disaat Julia masih terlelap.


"Titip Julia ya. Dia butuh bicara sama kamu" ucapnya kemudian memberi kecupan di kening Juna, sama seperti yang ia lakukan pada putrinya sendiri.


****


Rasa nyeri tiba tiba datang, menganggu tidur nyenyak Julia. "Aw!" pekiknya.


Juna yang tertidur disamping ranjang Julia, tiba tiba terbangun saat mendengar istrinya memekik kesakitan.


"Perutnya sakit lagi?" tanya Juna, tangannya mengusap rambut Julia.


"Nyeri banget Jun" Julia meringis kesakitan sembari terus memegangi perutnya. Juna pun, kemudian mencari obat pereda nyeri, yang diberikan dokter.


"Minum obat dulu, biar sakitnya mendingan" Juna dengan penuh hati hati membantu mengatur posisi ranjang Julia menjadi sedikit naik dibagian kepala, agar Julia dapat bersandar.


Juna menyodorkan satu pil obat pada Julia, setelah Julia berhasil menelat obat tersebut, Juna pun mengulurkan segelas air.


"Mama sama papa udah pulang. Ntar kesini lagi jam sembilan" ucap Juna yang menyadari mata Julia mencari cari sosok kedua orangtuanya.


"Mama Irina sama papa Sofyan, kesini juga, pas aku tidur?"


"Belum, hari ini masih di amsterdam. Besok baru kesini, tadi mama sama papa titip salam buat kamu" Julia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu makan dulu ya, ini ada sup" lagi lagi, Julia hanya mengangguk. Juna mengambil mangkuk yang berada diatas nakas sebelah ranjang Julia, kemudian menyuapi Julia dengan telaten.

__ADS_1


"Udah, jun. Aku gak selera makan" ucapnya pelan. Pada suapan ke 3 pun, juna menghentikan aktivitasnya.


Julia benci suasana canggung yang melingkupi mereka, seperti saat ini, ini bukan seperti mereka biasanya. Julia seperti merasa asing pada Juna walaupun cowok itu tetap merawat dia dengan sabar dan telaten, tapi Juna sedari tadi hanya mengobrol seperlunya saja.


Bahkan Juna tak memeluk Julia sama sekali, padahal hal itulah yang paling dibutuhkan Julia saat ini.


"Kamu udah makan, jun?"


"Udah" jawabnya singkat.


'Semarah itu kamu jun, ke aku?' batinnya, benar benar merasa stres, Juna bersikap acuh padanya.


"Juna"


"Mmm?" pandangannya beralih dari ponsel, ke wajah istrinya.


"Kamu marah banget sama aku ya? sampe sampe, kamu ngga mau peluk aku" ucapnya sembari menunduk, Juna tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Julia.


Juna menatap istrinya yang sudah dibanjiri air mata dalam keadaan kepala menunduk, seolah ia menyembunyikan air mata tersebut. Dada Juna kembali sesak.


"Engga sayang. Aku ngga marah kok, aku cuma takut aja" Juna pun menarik tubuh Julia pelan, menenggelamkannya kedalam pelukan hangatnya.


Tempat ternyaman baginya adalah, pelukan Julia. Juna menggigit bibir bawahnya dengan memejamkan matanya, menahan air mata yang sebisa mungkin ia tahan agar tidak jatuh. Mendengar Julia menyalahkan dirinya sendiri, membuat dada Juna nyeri.


"Julia... Itu bukan salah kamu. Bukan sama sekali, sayang... malah aku yang lebih merasa bersalah. Mungkin itu karena semalam, karena apa yang kita lakukan semalam. Until i hurt you and our baby" suara Juna mulai pelan.


"No. Enggak, jun" Julia semakin mengeratkan pelukannya, ia mencium sekilas bibir Juna untuk menenangkannya.


Bahkan, air mata Juna sudah tak sanggup lagi untuk ditahan. Julia menghapus air mata Juna dengan sangat lembut. "No Juna, you never hurt me"


"Kalo, buat emosi?"


"Sering banget" akhirnya mereka sama sama tertawa.


Juna pun tersenyum, kemudian mencium kedua kelopak mata Julia yang membengkak. "Ini, katanya sih ritual. Kalo dicium ga bakal nangis lagi, coba kita buktiin, bener apa engga" lagi lagi, Julia tertawa dengan ucapan Juna. Kehadiran Juna sungguh selalu membuatnya tenang, bahagia, dan terlindungi.


"Berhasil ga ya?" Juna mendekatkan wajahnya.


"Kayaknya sih berhasil" Julia terkekeh.

__ADS_1


"Gitu dong. Jangan nangis terus, cantiknya ilang. Eh... Julietku kan selalu cantik, dia selalu cantik dan sempurna dimataku, dia itu perempuan yang paling aku cintai setelah mama" ucapnya sembari tersenyum, dan mengecup sekilas hidung Julia.


Julia memajukan bibir bawahnya, "Masa sih?"


"Iya dong. Sampai aku kakek kakek pun, cintaku tetep Juliet"


"Iyaaa romeo" Julia mengecup kedua pipi Juna, membuat Juna tersenyum.


"Juliet" panggilnya, Julia pun mendongak.


"Eum?"


"Aku boleh gak, bobo samping kamu?" pintanya dengan wajah imut.


"Boleh, aku mau bobo dipelukan kamu" Julia pun menggeser posisi tidurnya.


"Bagian mana perutnya yang sakit?" Julia menunjuk ke bagian perut bawahnya sebelah kanan.


Juna pun mengelus perut Julia dengan lembut, berharap tangan ajaibnya dapat mengurangi rasa nyerinya.


"Jun"


"Apa Liaaaa, sayangku, gemesku, cintaku, yang paling istimewa dari jogja?" lagi lagi Julia tertawa dengan sikap Juna yang begitu menggemaskan.


"Aku sayang kamu" bisiknya.


"Aku juga"


"Juga apa?"


"A-ku ju-ga sa-yang, sa-ma ka-mu" Juna mengeja, lagi lagi membuat Julia tertawa.


"Kayak bocil, masih ngeja" ucap Julia di sela sela tawanya.


"Biarin, bocil beristri. Kalo si Jerome yang alay baru bahaya, ga ada yang mau sama dia" celoteh Juna, asal ceplos.


Hari yang terasa berat ini, akhirnya berhasil mereka tutup dengan tawa, mencoba melupakan masalah dengan perlahan, menghapus luka kehilangan. Dalam hati, mereka mencoba mengikhlaskan.


Mungkin benar ucap orangtua mereka. Semua yang hilang pasti ada gantinya, kelak mereka akan digantikan dengan bayi lucu, sembari menunggu waktu itu tiba mereka akan mempersiapkan diri, siap menjadi orangtua.

__ADS_1


~•~


__ADS_2