
Setelah selesai menenangkan pikiran, yang Juna lakukan hanya berjalan dipinggir jalanan menikmati indahnya gemerlap lampu lampu jalanan serta lampu lampu toko, Juna dengan mudahnya dapat menenangkan pikirannya.
Sedari Juna pulang, Julia tetap diam, tak ada percakapan diantara mereka, Juna yang duduk disamping Julia sama sekali tak dihiraukan, seolah olah Juna tak berada disampingnya. Hening, melingkupi ruang tengah, bahkan dirumah juga sepi tak ada siapa siapa selain mereka berdua.
Hingga akhirnya, bunyi aneh yang berasal dari perut Juna memecahkan keheningan, Juna baru ingat kalau dirinya belum makan nasi sama sekali hari ini.
"Belum makan juga daritadi?" tanya Julia tetap dengan nada dingin dan wajah datarnya.
Juna membelalak, 'what! perut pembawa berkah, akhirnya gue bisa disapa duluan sama Julia' batinnya.
"Belum" jawab Juna pelan, tetap stay cool.
"Makan sana, nunggu disuruh ya?"
"Temenin dong" rengeknya.
"Yaudah, buruan!" yuhuuuu!! akhirnya, Juna bersorak dalam hati, kemudian mengikuti langkah Julia menuju ruang makan.
Saat diruang makan, Julia hanya duduk menemani Juna makan, gadis itu terus memperhatikan suaminya yang kelaparan. Juna menyiapkan makanannya sendiri, tapi tidak apa apa, yang penting Julia mau menemaninya makan saja sudah bersyukur.
"Kamu udah makan?" tanya Juna sembari melirik Julia yang sibuk dengan ponselnya.
"Udah" jawabnya singkat.
"Jangan sibuk sama hp dong, kan disini masih ada manusia... ajak ngobrol kek" Julia pun menurut, ia mematikan ponselnya dan diletakkannya diatas meja makan.
__ADS_1
"Apa? mau sekalian disuapin?"
"Enggak kok, hehe" Julia hanya memutar bola matanya.
Entah, rasanya, suasana dingin masih mengitari mereka. Tak tau mau bagaimana lagi, Juna membujuk istrinya agar tidak ngambek lagi.
****
Daripada pusing mikirin es yang entah kapan akan meleleh, Juna pun memilih untuk berkutat dengan laptopnya mendengarkan video klip milik Hayes dan Jinnar.
Namun tiba tiba, dari belakang, sebuah tangan melingkar dilehernya, kepalanya pun bersandar di bahu Juna. Tetapi Juna memilih untuk diam, menunggu Julia membuka suara lebih dulu, tetapi tangan Juna tetap mengusap rambut Julia.
"Aku minta maaf, aku gak bermaksud ngebawa tentang kehilangan bayi kita di argumen kita. Emang, rasa sakit kehilangan dia gak sebanding sama rasa sakit kehilangan yang kita alami, Jun" Julia menjelaskan dengan suara yang parau.
Juna menolehkan kursinya menghadap Julia yang sedari tadi berada dibelakangnya. Cowok itupun membawa Julia pada pangkuannya.
"Jadi, kita selesai ya? jangan bahas masalah ini lagi, oke?" lanjutnya, yang hanya dibalas anggukan oleh Julia.
"Liat mukanya dong" Julia pun mendongak menatap wajah Juna yang sumringah menatapnya. Dengan secepat kilat, Juna mengambil ciuman di bibir Julia, gadis itu tak menolaknya.
"Kamu kemana aja?" tanya Julia setelah ciuman itu terlepas.
"Jalan jalan aja, liat lampu lampu"
Julia mengangguk, "besok, aku ngehubungin Ryena duluan gapapa ya? aku janji, gak ngungkit ungkit itu lagi"
__ADS_1
"Yaudah" Juna mengangguk, mengalah pada Julia. Ia tak mau memperpanjang masalah lagi. "Ngantuk?"
"Dikit"
"Yaudah, tidur duluan aja. Aku masih mau ngirim file ke Aksha"
"File apa?"
"Angket himpunan"
Mulut Julia, membentuk huruf o
"Kamu kok gak bilang kalo fakultas kamu ngadain event?"
"Oh ya ampun! aku aja sampe lupa sama itu, yang ada dipikiranku itu cuma kamu, apalagi waktu dirumah sakit itu, otakku serasa kosong" Juna menepuk keningnya. "Kamu tau dari siapa?"
"Dari Yaya"
"Ohh, kalo udah ngantuk. Bobo duluan aja sayang" Juna mengecup kening Julia.
"Engga deh, aku mau nungguin kamu aja"
"Yaudah bentar lagi, selesai kok"
Juna sekarang masih duduk di kursi putarnya berkutat dengan laptopnya dengan Julia yang masih berada di pangkuannya.
__ADS_1
~•~