
[Devi dan mas Alfan, sudah bercerai mbak].
Sebuah pesan masuk dari Yuni,ada senyuman kecil di sudut bibir Adelia.
[Kenapa mereka bercerai, Yuni? Ini kesempatan mu, mendekati mas Alfan. Yah.. Itupun kalau kamu mau sih].
Balas Adelia,karena mencurigai gerak-gerik Yuni. Terlihat jelas dia menyukai mantan suaminya itu,bagus jika mereka bersatu. Karena Alfan dan ibunya,tak mengganggu dirinya lagi.
[Katanya Devi, menggadaikan sertifikat rumah ini. Mas Alfan dan Devi, sama-sama melunasinya langsung. Rupanya mas Alfan, banyak uang juga yah. Eee...Aku mana pantas Mbak,sama mas Alfan. Aku dengar-dengar mas Alfan,mau balikan sama mbak Adelia. Apa benar mbak,mau?]. Tanya Yuni, langsung.
Adelia, cekikikan tertawa membacanya. Akhirnya rencananya berjalan dengan lancar, rumah tangga mantan suaminya hancur berantakan. Sekarang Devi, mendapatkan karmanya yang setimpal.
[Astagfirullah, Devi benar-benar keterlaluan. Kasian sekali mas Alfan, melunasi semuanya. Masalah uang mas Alfan,aku tidak tau Yun. Karena dulu mas Alfan, tidak bercerita tentang uang kepadaku. Masalah rujuk,memang sih. Mas Alfan, ingin rujuk kembali. Tetapi,aku tidak mau Yun]. Balas Adelia,dia berhati-hati dengan Yuni.
Wajahnya sok polos dan lugu,bisa saja ular yang berbisa di kemudian hari.
[Devi,menuduh mbak Adelia menggadaikan sertifikat rumah ini. Apa bener mbak, kalau benar gak papa. Baguslah Devi, mendapatkan ganjaran yang setimpal]. Yuni.
"Oh, rupanya Yuni mencari informasi terkait pegadaian sertifikat rumah itu. Kalau aku berkata sejujur,ini bisa jadi senjata ampuh nanti. Dia bisa menceritakan kepada mas Alfan, memperlihatkan pesan ini. Hahahaha..Aku tidak bodoh Yuni, walaupun kita bekerjasama menyingkirkan Devi". Gumam Adelia, tersenyum smrik.
[Apa! Kurang ajar sekali Devi, ingin memfitnah ku macam-macam. Ck, wanita ular itu. Aku mana tau,soal sertifikat rumah bu Norma. Sama sekali tak ada keberanian]. Balas Adelia,dia bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi.
[Iya,mbak. Baguslah kalau bukan mbak,aku sibuk dulu. Biasa mau masak,laper].
Adelia, mengabaikan pesan dari Yuni. Dia yakin sekali, Devi tidak akan membiarkan mas Alfan tenang.
Mungkin saja dia tengah memikirkan sesuatu, untuk menyakiti Alfan dan ibunya. "Aku harus berhati-hati,apa lagi mereka sudah bercerai. Bisa jadi mas Alfan, memaksa untuk rujuk kembali kepadanya. Duhhh... Jadi pusing memikirkannya". Gerutu Adelia, menghela nafas panjang.
************
Esok harinya Devi, melirik tajam ke arah Alfan yang baru datang bekerja.
__ADS_1
Alfan,acuh saja tanpa menghiraukan keberadaan mantan istrinya.
Sella, tersenyum sumringah karena ada kesempatan untuk mendekati Alfan. Sudah berstatus duda, seorang manager keuangan di tempat kerjanya.
Devi, mendekati seorang pria bernama Riko. Teman kerjanya Alfan dulu, sebelum di naikan jabatannya.
"Riko,aku ingin bekerjasama dengan mu". Devi, tersenyum smrik.
Riko, mengerutkan keningnya dan mencerna perkataan Devi.
"Bekerjasama dalam hal,apa?". Tanya Riko, penasaran.
"Kamu mau gak menggantikan posisi Alfan, pasti mau kan?". Tanya Devi, memainkan kedua alisnya.
"Siapapun pasti mau lah,kenapa? Tumben ngajak bekerjasama, emangnya ada masalah apa. Hemm...". Riko, penasaran dengan tujuan Devi.
"Asal kamu tahu, Riko. Pak Alfan,menolak cintaku dan mencampakkannya. Lalu,aku ingin balas dendam. Mau gak bekerjasama,cuman kamu yang bisa". Devi,mengelus lembut dada bidang Riko dan menggodanya.
"Baiklah,aku tergoda dengan mu Devi". Riko, ingin mengecup bibir Devi. Seketika Devi, menepisnya langsung dan menggelengkan kepalanya.
Riko,paham dan mengangguk kepalanya. Jabatan yang di duduki Alfan, gajihnya lumayan besar dan banyak menginginkannya.
Devi, langsung meninggalkan Riko dan tak sabar menunggu mantan suaminya hancur-sehancurannya. "Aku sudah kehilangan mu mas Alfan, sudah waktunya kamu kehilangan pekerjaan ini. Jangan main-main dengan Devi, tanggung akibatnya sendiri". Gumamnya pelan
***************
Sore harinya Adelia, tengah menyapu teras rumah dan sebuah mobil berhenti di depan.
Adelia, memejamkan matanya dan menghela nafas beratnya. "Ngapain lagi sih,mas Alfan ke sini?". Gumamnya pelan, memaksa untuk tersenyum ketika Alfan mendekati dirinya.
"Adelia,aku belikan martabak untuk mu. Apa perlu kita makan sama-sama,". Kekehnya Alfan, tersenyum manis.
__ADS_1
"Hehehehe... Makasih banyak mas,bawa aja buat ibu. Aku kenyataan sudah makan,". Adelia, menolaknya saja.
"Aku sudah membelikan martabak untuk ibu,ini spesial untuk mu. Terimalah Adelia, anggap saja usahaku untuk meluluhkan hati mu". Alfan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Terpesona dengan kecantikan sang mantan, Adelia banyak berubah kali ini.
"Makasih mas,". Kata Adelia, menyambut kresek berisi martabak yang di berikan mantan suaminya itu.
Alfan, memandang Adelia menyapu halaman rumah. Banyak dedaunan yang gugur,padahal dirinya menunggu Adelia menyuruh masuk kedalam rumah dan berbincang hangat berdua.
"Adelia, bisakah kita masuk kedalam dan berbicara tentang hubungan kita?". Kata Alfan, sedari tadi di abaikan.
Adelia, menoleh ke arahnya. "Maaf mas,aku sibuk nyapu. Kalau mau makan martabak itu, silahkan. Tentang hubungan kita,masih sama mas. Tidak ada apapun,jangan salah paham dulu karen aku menerima martabak itu. Lalu, hubungan kita membaik".
Degggg....
Alfan,jadi salah tingkah mendengarnya. Memang benar Adelia,tak seperti dulu yang di kenalnya dan banyak berubah.
"Aku sudah berpisah dengan Devi,". Kata Alfan, mendekati ke mantan istrinya.
Adelia, menghembuskan nafas kasar. "Mau berpisah atau tidaknya,bukan urusan ku mas. Terakhir kalinya aku bilang,aku tidak ada niat untuk kembali. Terlalu sakit mas, setega itu kamu kepadaku".
"Itu masa lalu, Adelia. Waktunya kita membuka lembaran baru bersama, membina rumah tangga lagi". Ucap Alfan, terdengar lemah lembut.
"Aku akan menikah dan membuka lembaran baru. Bukan dengan mu mas, melainkan dengan pria lain". Tegas Adelia, mendelik tajam ke arah Alfan.
Mendengar pria lain,hati Alfan terasa di remas dan perih. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu menikah lagi, ingat itu". Alfan, mencekal lengan Adelia.
"Ck,bukan urusanmu mas. Aku dan kamu, sudah bercerai paham! Secepatnya akan aku urus surat perceraian kita,". Adelia, menepis tangan mantan suaminya itu.
"Apa! Aku tidak mau Adelia,kamu cuman milikku seorang". Tegas Alfan, dadanya naik turun mengontrol emosi. Dia tidak menduga bahwa Adelia, bisa senekat itu. Bahkan mau mengurus surat perceraian di pengadilan agama,di balik polosnya tersimpan belati tajam.
"Kamu kira aku bodoh mas,selama ini aku selalu menuruti perintah mu. Menjadi babu gratisan, meninggalkan urusan duniawi ku. Berbakti kepada mu, bahkan ibumu yang bukan ibuku.Setiap hari mencuci kotoran ibumu dan buang air kecil, tanpa ada keluhan sedikit pu. Sedangkan kamu, membalas dengan penghianatan". Mata Adelia, sudah berkaca-kaca sekuat tenaga untuk tidak menangis.
__ADS_1
Alfan,dibuat bungkam oleh mantan istrinya. "Maaf,". Lirihnya pelan dan menundukkan kepala. "Beri aku kesempatan lagi,akan memperbaiki hubungan kita". Pinta Alfan,menyeka air matanya.
Adelia, nampak tak percaya jika Alfan menangis juga. Akan dia luluh,atau skenario licik semata.