
"Keterlaluan sekali bang Alfan,bu. Dia benar-benar gila, meninggalkan ibu di rumah ini. Aku capek mengurus ibu, yang banyak maunya. Mana gak ada ninggalin uang lagi, menyebalkan sekali". Bentak Nabila, lumayan keras.
"Huuuff.... Pokoknya kamu hubungi terus mbak Adelia,cari dimana bang Alfan. Aku gak mau loh,ibu lama-lama tinggal bareng kita. Nyusahin orang lain aja, pengeluaran keuangan juga tambah banyak". Sambung Fadly,sang mantu.
"Hubungi Adelia,suruh dia cepat pulang. Antar ibu ke rumahnya,kalian berdua keterlaluan sekali dengan ibu. Mana ibu tau, kalau Alfan pergi meninggalkan ibu di rumah kalian. Ini malah menyalahkan ibu,". Gerutu bu Norma, kesal dengan anak dan mantunya.
"Ini sudah di hubungi mbak Adelia,tapi tak kunjung di angkat telpon dan gak bales chat aku. Kayanya sih,mbak Adelia liburan ke suatu tempat. Baru beberapa menit yang lalu, dia mengunggah video dan foto di hotel. Mbak Adelia,memang keterlaluan sekali kepada ibu dan kita. Dia enak-enakan menikmati liburannya, sedangkan kita kerepotan gara-gara ibu". Decak Nabila, meletakkan ponselnya di meja.
"Enak banget yah,mantan kakak iparmu itu. Gak mikir kita yang kecapean, pokoknya kamu hubungi terus mbak Adelia. Sampai dia membalas chatmu". Sahut Fadly, langsung. Kenapa juga,nasibku sangat buruk? Menikah dengan Nabila,punya mertua lumpuh dan menyusahkan seperti ini.
Bu Norma,diam mendengar ucapan anak dan mantunya. Semua ini gara-gara Alfan,tega sekali meninggalkan aku dirumahnya Nabila dan suaminya. Bikin malu aja,awas kamu Alfan. Dasar anak durhaka, membohongi ibu sendiri.Batinnya bu Norma, menahan amarahnya.
"Semua ini terjadi, gara-gara bang Alfan. Menikah dengan Devi,kaya gak, miskin iya. Enakan mbak Adelia, bisa jaga ibu dan tidak merepotkan kami". Nabila, geram dengan sikap abangnya sudah menyia-nyiakan Adelia.
"Sudahlah,aku mau istirahat dulu. Mumpung libur kerja,jangan ganggu aku Nabila termasuk ibu". Fadly, berlalu meninggalkan istri dan ibu mertuanya.
"Mas,jangan gitu dong. Aku capek loh,ck. Menyebalkan sekali, gara-gara ada ibu di rumah ini. Suamiku seringkali marah loh". Kata Nabila, mengelus lembut perutnya sudah besar.
"Maafkan ibu, nak. Gak tau,kenapa Alfan meninggalkan ibu? Besok antar saja,ibu kerumahnya Adelia. Ibu yakin sekali, pasti dia sudah datang dari liburan. Siapa tau,kamu dapat oleh-oleh dari Adelia". Ucap bu Norma, membuat Nabila berbinar seketika.
"Benar bu, pasti mahal-mahal oleh-olehnya". Sahut Nabila, tersenyum sumringah dan tak sabar menunggu besok. "Rezeki kamu nak,". Gumamnya pelan,tak lupa mengelus-elus perutnya lagi.
*************
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Bimo menyelimuti tubuh polos istrinya. Besok paginya mereka akan cek out dari hotel ini, matanya tertuju ke ponsel di atas meja. Lagi-lagi Wulan, yang menghubunginya dan langsung memblokir nomornya langsung.
Bimo, beranjak berdiri dan menuju balkon kamar. Menikmati pemandangan dari atas, matanya melirik ke samping balkon kamar sebelah. Seorang wanita berambut pirang, melerai pelukannya dengan seorang pria dan masuk kedalam.
Ketika wanita itu, membalikkan badan dan memandang lekat ke arah Bimo. Sedari tadi,dia melihat dan sangat familiar dari samping.
"Juwita,". Lirih Bimo, terkejut sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Astaga! Bimo,kamukah itu?" Juwita nampak terkejut, mendekati diri ke arah Bimo yang berhalat tembok balkon saja.
"Hmmm...Lama yah,kita tak bertemu". Kata Bimo, menyunggingkan senyumnya.
"Eee...Iya,apa kabar Bim?". Juwita, nampak gelisah gusar bertatapan dengan Bimo.
"Seperti biasanya, aku selalu baik kok". Jawab Bimo, dengan santai."Siapa pria tadi, suamimu atau...". Bimo, sengaja menggantung ucapannya.
"Aku ke sini,biasa bulan madu sama istri". Jawabnya Bimo, cengengesan.
Deggg...
Hati Juwita, berdenyut nyeri mendengar jawaban Bimo. Apa katanya,bulan madu? Jadi Bimo, sudah menikah lagi. Apa jangan-jangan sama Wulan, sialan wanita licik itu. Gak papa sih,suami orang jadi kok.Batinnya Juwita, tersenyum manis. "Waw... Jadi kamu baru menikah lagi, Bim? Selamat yah,sama Wulan kan?". Tanya Juwita, mengepalkan kedua tangannya.
"Bukan,tapi sama Adelia. Masi tidur dia,di dalam". Jawabnya Bimo, merasakan sesuatu lega di hati Juwita.
__ADS_1
"Oh,gimana sore nanti kita makan sama-sama. Aku pengen kenalan sama istri kamu,aku kira balikkan lagi sama istri yang dulu. Yang tiap hari, meneror aku terus-terusan. Makanya aku jaga jarak sama kamu dulu,takut di katai perusak hubungan kalian". Kekehnya Juwita, sengaja melepaskan kancing baju di bagian atas dan memperlihatkan belahan dadanya. Sialan,kenapa aku dulu minder sama Bimo? Gara-gara Wulan dan mantan istrinya, berani mengancam ku. Terpaksa deh,cari mangsa baru. Ayolah,Bim pasti kamu tergoda dengan belahan dadaku.
"Maaf yah,ini momen kami berdua. Makan sama-sama nya,kapan aja. Ya sudah, aku masuk kedalam dulu". Pamit Bimo, melangkah masuk dan tidak memperdulikan panggilan Juwita.
Juwita, menghentakkan kakinya belum apa-apa saja. Bimo,tak sedikitpun tertarik dengannya.
Ketika Bimo,masuk kedalam dan melihat istrinya sudah bangun sambil mengotak-atik ponselnya.
"Serius amat main ponselnya,balas pesan dengan siapa sayang?". Tanya Bimo,duduk di tepi ranjang.
"Oh,ini loh mas. Nabila, terus-menerus mengirim pesan beruntun. Aneh banget yah,masa ibunya tak mau di urus. Mereka kira aku apa yah,mas?". Adelia,memijit pelipisnya.
"Sudahlah sayang,jangan kau hiraukan mereka. Kamu adalah istri ku, tidak akan membiarkan mereka semena-menanya". Kata Bimo, mendaratkan ciuman di pipi istrinya.
"Mas, kita besok pulang kan. Aku kepikiran kebun loh,kasian bi Suriah bolak-balik untuk menyiram kebun di belakang". Cicit Adelia, membujuk suaminya. "Aku sudah menepati janji,mau berapa ronde asalkan besok pulang. Mas Bimo,gak ingkar janji kan?".
Bimo, semakin gemes melihat mimik wajah istrinya. "Iya,kita pulang besok sayang. Kamu tenang saja,kebun kesayangan kamu daripada mas ini. Gak bakalan kenapa-kenapa, percaya dengan ucapan suamimu ini". Bimo,menarik kedua pipi Adelia.
"Aduhh...Sakit mas,cukup bagian bawah aja". Kekehnya Adelia, wajahnya merah merona.
"Yah... Padahal mas mau lagi loh, mumpung dan hotel dan gak ada yang ganggu". Bisik Bimo, langsung menyambar bibir istrinya.
Tangan Adelia, melingkar di leher sang suami. Sama saja, memberikan lampu hijau untuk suaminya. Ada rasa senang, Bimo memalui aksinya dan menyantap tubuh istrinya lagi.
__ADS_1
Juwita, mengigit bibir bawahnya karena sama-sama mendengar desa-han menggema dari kamar sebelah. Masih terdengar dari balkon kamarnya, cuman berhalat tembok sampai dada dan pagar sampai ke atas.
"Pasti Bimo, sangat perkasa di atas ranjang. Mana seorang PNS,mengajar di di sekolah SMP. Duhh...Jadi pengen rasain, tuh batang beruratnya Bimo". Gumam Juwita, bersandar di dinding sambil menghayal bermain dengan Bimo. Tak lua tangannya,masuk ke lembah sensitif dan ada lirihan des-ah.