
"Gimana sih,kamu bang? Masa,main tinggal ibu di Depa rumahnya mbak Adelia. Mana bagianku,bang,bu? Sudah jual rumah gak bilang-bilang, menyebalkan sekali. Aku ini anak ibu, adikmu bang. Masa lupa sama aku,ha". Bentak Nabila, dengan tatapan sinis.
"Untuk apa, memberitahu mu segala. Sedangkan kamu,tega sama ibu sendiri. Malah berpihak kepada suamimu, daripada ibu". Sahut bu Norma, langsung. Dia masih kecewa dengan anak dan mantunya itu.
"Hussssttttt....Yang jual bukan,abang. Melainkan Yuni,dia menjualnya diam-diam. Waktu itu, menemani ibu di rumah sakit. Aku tidak mendapatkan uang sepersen pun,dari penjualan rumah itu.Pahm! Aku dan ibu, mengontrak rumah dan tidak mau menyusahkan kalian yang sok belagu". Bentak Alfan, tangannya mengepal erat.
"Kok, bisa bang? Cemen sekali sama istri,kenapa gak temui dia? Ambil hak ibu dan abang,enak saja Yuni menikmati uangnya sendiri. Istri Abang Alfan,gak ada yang bener sama sekali. Bagusan mbak Adelia,tapi di buang". Decak Nabila, menghentakkan kakinya.
"Abangmu, tidak berani ke kampung halamannya Yuni. Mereka sudah bercerai di rumah sakit, Alfan menalaknya. Dulu mereka berdua, cuman menikah sirih saja". Kata bu Norma, dengan suara lemah.
"Ck,makanya bang. Lihat-lihat dulu lah,asal usul wanita itu. Ini malah main nyosor duluan, sekarang apa ha? Aku juga yang susahnya,kesal aku bang. Rupanya mbak Adelia, sudah punya segalanya. Suami ganteng,punya mobil, rumah juga. Beruntung banget sih,mbak Adelia dan gak kaya abang ini". Nabila, memuji mantan kakak iparnya itu.
"Gak usah kamu muji-muji, suaminya Adelia yang sombong itu. Gara-gara menikah dengan pria itu, Adelia ngelunjak gak mau jagain ibu. Aku cakep ngurus ibu,gak bisa ngapa-ngapain. Bahkan kerja pun susah,abang ini sudah di pecat dari perusahaan. Sekarang abang kerja di pencucian mobil, sementara di situ dulu. Nabila, beliau ibu kita. Kamu bantulah jaga ibu,cuman hamil doang kok. Masa gak bisa sih,aku kerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari ibu dan aku. Mau cari perawat untuk ibu,mana uangnya. Kamu mau bantu,bayar perawat untuk ibu?". Tanya Alfan, menatap tajam ke arah adiknya.
"Apaan sih,bang? Kamu itu,anak pertama ibu. Aku gai mau ngurus ibu, beres-beres rumah aja jarang. Yang ada bakalan bertengkar terus,sama suamiku dan uang gak di kasih nanti. Urus abang aja,aku gak mau keluar uang apapun. Dah lah,aku pulang dulu. Badanku pegal-pegal sudah," Nabila, melongos keluar dari rumah sewa Alfan.
__ADS_1
Alfan, terperangah mendengar ucapan sang adik. Begitu teganya membiarkan sang ibu, tanpa membantu sedikitpun.
"Ibu,gak setuju kamu kerja di pencucian mobil. Pasti gajihnya dikit,gak besar". Gerutu bu Norma,sontak Alfan menoleh ke arah ibunya.
"Masih untung dapat kerjaan bu, itupun aku cari-cari kerjaan lain. Doakan saja, semoga dapat kerja kantoran lagi. Sekarang kita berhemat dulu,aku tinggal kerja gak papakan. Jangan manja bu, berusaha untuk mengurus diri. Masa gak bisa apa-apa sih,ibu mengenakan pampers juga. Pahami keadaan ku sekarang bu, Adelia tidak bisa di harapkan lagi". Alfan, mengusap wajahnya dengan kasar.
Pikirannya berkecamuk kemana-mana,menyesal sudah mengkhianati pernikahan dia dan Adelia. Seandainya masih dengan Adelia, kemungkinan dia masih bekerja di perusahaan itu. Sekarang nasi sudah jadi bubur,mengulang kembali tak mungkin.
Mantan istrinya itu, sudah menikah dengan pria jauh lebih mapan darinya. Apa lagi Adelia, memiliki penghasilan sampingan dan mendapatkan warisan.
"Ibu,bisa menilai bagaimana sikap Nabila? Karena ibu, seringkali memanjakan dulu. Sekarang dia,malah ngulanjak gak tau diri. Ngurus ibu,mana mau dia". Kata Alfan,merasa kecewa dengan sikap adiknya tanpa memikirkan keadaannya sekarang.
"Sudahlah, apa yang di katakan Nabila memang benar. Kamu anak pertama ibu,harus dong kamu ngurus ibu dan lainnya. Adikmu tengah hamil,gak liat apa perutnya besar. Seharusnya yah,kamu nabung buat beli hadiah mewah untuk keponakanmu nanti. Ibu juga,mau minta uang dan mau ngasih hadiah sama cucu. Siapkan uang banyak, takutnya Nabila dan suaminya uangnya kurang untuk bersalin nanti". Perintah bu Norma, tanpa menoleh ke arah anaknya.
Alfan, ternganga lebar mendengar ucapan sang ibu. "Astaga! Jangan meminta aneh-aneh bu, keuangan kita semakin menipis. Ibu mau,tinggal di kontrakan kecil? Kalau mau,ayo bu! Kalau gak,ibu tinggal sama anak kesayangan itu. Aku sudah muak dengan sikap ibu, tidak pernah memikirkan perasaanku. Aku gak papa, tinggal di kontrakan kecil. Bisa makan untuk bu, daripada kelaparan".
__ADS_1
"Gak,ibu gak mau tinggal di kontrakan kecil! Mau di taruh dimana wajahku, ibu? Malu di dengar Adelia,kalau kamu kerja di pencucian mobil. Semakin ke sini, penampilan kamu acak-acakan. Sam aja, membuat Adelia ilfil sama kamu". Bentak bu Norma, dengan tatapan tajam.
"Sudahlah bu,jangan membahas Adelia terus. Kepalaku pusing tau, cepat atau lambat kita akan pindah dari rumah ini. Aku tidak sanggup membayarnya,mau gak mau ibu harus mau. Kalau gak mau, silahkan ikut Nabila". Akhirnya Alfan, beranjak pergi meninggalkan ibunya yang mengomelinya.
Selesai membersihkan diri, Alfan menghela nafas beratnya. Matanya tertuju pada dapur, biasanya Adelia sigap menyiapkan makan malam. Bahkan, telaten mengurusi ibu yang duduk di kursi roda. Sekarang ibunya, belum mandi,ganti pakaian,ganti pampers,makan juga.
"Ibu, belum mandi Alfan. Airnya dingin,tolong masak air dulu. Setelah itu,ibu mau makan. Sudah lapar lagi nih, gara-gara Adelia kejam kepadaku. Masa tega, menelantarkan ibu di luar. Untungnya Nabila, langsung sigap datang dan membawa ibu pulang. Kamu kenapa diam,gak marahi suaminya Adelia? Jangan jadi pengecut loh,kamu sama dia sama laki-laki". Belum apa-apa,sang ibu mulai mengomeli lagi.
"Bu,bisa diam gak? Baru beberapa menit yang lalu, sekarang ngomel lagi. Aku capek bu,mandi sendiri saja. Di biasakan mandi air dingin,siapa tau ibu sembuh langsung. Jangan menguji kesabaran ku,bu. Takutnya aku sudah tak sanggup menghadapi ibu,lalu mengantar ke panti jompo. Ibu,mau gak?". Tanya Alfan, dadanya kembang kempis mengontrol dirinya.
"Apa! Kamu jangan jadi anak durhaka, Alfan! Setega itu,kamu sama ibu. Ingat Alfan,aku ibumu yang melahirkan mu. Paham! Jadi jangan sampai menelantarkan ibu,di panti jompo". Bu Norma, meninggikan suaranya itu.
"Ya sudahlah,besok aku kerja bu. Tinggal di rumah Nabila dulu,masa gak mau ngurus ibu. Sama aja kan,dia mau jadi anak durhaka. Bukan begitu kan,apa yang di katakan ibu?". Tanya Alfan, tersenyum smrik.
Bu Norma, langsung bungkam dan tidak berkata apa-apa lagi. Alfan, tersenyum mampu mendiamkan ibunya selalu membela anak bungsunya itu.
__ADS_1