
"Kenapa,kaget liat aku?". Tanya Wulan, tersenyum smrik. Cuih... Rupanya kamu dan Bimo,mau kencan berduaan. Makan malam bersama,di restoran mewah dan romantis.
Adelia, berubah masam wajahnya. Di kira sang suami yang datang, untuk menjemput dirinya. Ternyata Wulan,yang datang dan tersenyum.
"Ngapain kamu sini? Sana pergi,kurang kerjaan banget". Gerutu Adelia, membuang muka ke arah lain. Astaga! Kenapa,dia yang datang duluan? Menyebalkan sekali,huuf.
"Aaaaaa....!" Pekik Adelia,ketika Wulan mendorong tubuhnya masuk kedalam rumah. Dorongan Wulan, lumayan keras dan jatuh ke lantai.
"Aarrrghh... Kurang ajar kamu, Wulan! Pergi dari rumah ku, pergi!". Teriak Adelia, dengan tatapan tajam.
"Hahaha...Mana mungkin aku pergi,aku mencari uang hasil penjualan kebun itu". Wulan, tersenyum sumringah dan melenggang menuju kamar Adelia.
Adelia, segera bangkit dan mencekram rambut Wulan dengan kencang.
"Aaaakkhh...!Lepas, Adelia! Sakit,lepas!". Wulan, meringis kesakitan dan menahan rambutnya.
"Lancang sekali kamu, sudah berani masuk kedalam rumah ku. Lalu,aku tinggal diam begitu saja? Oh, tidak bisa Wulan". Adelia,menyeret tubuh Wulan keluar dari rumahnya.
"Tidak! Aku harus mengobrak-abrik kamarmu, pasti kamu menyembunyikan uangnya di dalam sana. Lepas, Adelia! Brengseeekk....Sakit!". Wulan, berusaha keras melepaskan cengkraman tangan Adelia.
"Aauukk....!". Rupanya Wulan,juga menarik rambut Adelia yang sudah tertata rapi.
"Hahahaha... Rasakannya Adelia, aku acak-acakan rambutmu. Enak saja,mau jalan-jalan dengan pria yang aku suka". Wulan, tersenyum dan menarik rambut Adelia.
Mereka berdua saling menarik rambut, satu sama lain. Tanpa ada yang tau, mereka tengah berkelahi.
Adelia,juga menendang perut Wulan dan menampar wajahnya.
Wulan, ingin membalasnya dengan tamparan. Tetapi, Adelia lebih dulu menghantamkan kepala Wulan ke tembok.
Bughhh....
__ADS_1
Wulan, terhayung ke belakang dan jatuh ke lantai. Dia merasa pusing dan sakit,di bagian kepalanya.
Adelia, ngos-ngosan mengatur nafasnya dan tersenyum.
"Sialan,awas kamu ******! Aku tuntut kamu, lihatlah apa yang kamu lakukan!". Teriak Wulan,benar sekali kepalanya mengeluarkan darah. Di dinding masih ada paku yang menancap,belum sempat di cabut oleh Adelia.
"Tuntut saja,kalau berani. Aku juga menuntut balik, ingin mencuri uangku. Buktinya kamu ke rumah ku ini,aku melakukan kekerasan terhadap mu. Sekedar pembelaan diri, aku tidak akan tinggal diam. Cctv di depan rumah, sudah jelas dan orangtuamu datang juga ke sini tadi siang". Ucap Adelia, menyunggingkan senyumnya.
"Aaaarrgghh....Awas kamu, Adelia!". Teriak Wulan,tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mendengar ancamnya Adelia, sangat takut jadinya. Sudah pasti nama baiknya tercoreng, sedangkan dirinya berstatus guru.
"Apa,ha? Aku tunggu yah,jangan ngomong doang. Apa perlu aku duluan menuntut mu,ha? Sebagai efek jera,agar kalian semua jangan menggangguku. Ini adalah peringatan terakhir ku, beritahu dengan orangtuamu Wulan. Kita bukan lagi keluarga,jika kalian mengusik kehidupan ku lagi. Siap-siap saja,kita bertemu di pengadilan". Peringatan Adelia, sorotan matanya memerah manahan amarahnya.
"Adelia,kamu kenapa?". Bimo, langsung masuk kedalam rumah dan memeluk istrinya. Tepat di hadapan Wulan, hatinya terasa teriris-iris melihat pemandangan begitu romantis.
"Aku tidak apa-apa,mas". Jawab Adelia, tersenyum kecil.
"Wulan! Ngapain kamu ke sini,ha? Apa perlu aku melaporkan ke kantor polisi,biar jera dan masuk kedalam jeruji besi". Ancam Bimo, langsung memarahinya.
"Aku tidak perduli, untung saja kamu yang terluka. Kalau istri ku, siap-siap masuk penjara. Aku peringatkan kepadamu, termasuk kedua orangtuamu. Jangan pernah mengganggu kehidupan istri ku lagi,atau berhadapan langsung dengan ku". Tegas Bimo, menatap tajam ke arah Wulan.
Glekkkk...
Wulan,yang mendengar ancaman Bimo. Tak bisa berbuat apa-apa, dia mengangguk pelan. Bergegas mengambil tas,lalu melewati Adelia dan Bimo.
Ada rasa iri hati terhadap Adelia, hidupnya sangat beruntung memiliki Bimo.
Takut dengan ancaman Bimo,dia berlalu pergi meninggalkan perkarangan rumah Adelia. Sepanjang perjalanan, menangis kesegukan dan membiarkan kepalanya keluar darah. Bukan kepala yang sakit, melainkan hatinya.
Sedangkan di rumah Adelia, Bimo memeluk erat tubuh istrinya. Dia merasa bersalah dengan Adelia, gara-gara dia dirinya seperti ini.
"Maafkan aku, semua ini salahku. Aku tidak tau, Wulan kenapa nekad seperti itu? Apa karena kamu keponakan bapaknya, sampai berani". Bimo,mengelus pipi mulus istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah mas,aku tidak apa-apa kok. Aku siap-siap dulu, penampilan sudah berantakan. Perutku keroncongan nih". Cicitnya Adelia, sangat gemes di mata Bimo."Aku kira kamu mas, yang datang tadi. Eee...Malah nenek lampir duluan". Kekehnya pelan.
"Saking semangatnya yah,gak ngintip dulu siapa yang datang". Ledek Bimo, cengir kuda.
"Ee...Mana ada mas,". Adelia, tersipu malu-malu karena ketahuan saking semangatnya menyambut kedatangan Bimo.
Penampilan Adelia, sudah rapi seperti tadi. Bimo,memuji kecantikan istrinya itu. Mereka sama-sama keluar rumah, masuk kedalam mobil dan meninggalkan perkarangan rumah. Acara makan malam bersama, akhir terwujud juga. Walaupun mendapatkan masalah dulu, beruntung sudah selesai.
******************
Wulan, langsung masuk ke dalam kamar. Tidak memperdulikan panggilan kedua orangtuanya,masih dalam keadaan menangis.
"Loh, Wulan kenapa mas?" Tanya Irni,heran dengan sikap anaknya.
"Ayo,kita susul ke kamarnya bu". Jawab pak Ramli, langsung ke kamar anaknya. Beruntung kamar Wulan, tidak terkunci dan menangis kesegukan di atas ranjang.
"Wulan,darah apa ini?" Tanya pak Ramli, terkejut melihat darah di kepala anaknya.ketika sang istri membalikkan badan Wulan dan memeluknya.
"Jawab pertanyaan bapakmu, Wulan. Kenapa kepalamu, nak?". Tanya Irni, langsung bergegas untuk mengobatinya.
"Tadi,hiks....Hiks...Tadi,aku ke tempatnya Adelia pak". Jawab Wulan, menyeka air matanya. "Ssstttt...Sakit bu". Meringis kesakitan,ketika sang ibu mengobati luka di bagian keningnya.
"Terus, Adelia melakukan ini? Kurang ajar sekali,kita harus meminta tanggung jawab darinya mas. Enak saja,dia sudah melukai anak kita". Sahut Irni, sudah berselimut emosi.
"Tunggu dulu bu,jangan gegabah dan dengarkan perkataan Wulan. Lalu,kenapa kamu bisa mendapatkan lula ini". Tanya pak Ramli, sebenarnya dia geram dengan Keponakannya itu.
Wulan, menceritakan tentang kejadian tadi. Tak lupa menceritakan ancaman Wulan, orangtuanya bungkam tak berkutik lagi.
Pak Ramli, mengusap wajahnya dengan kasar. "Sialan Adelia,dia berani mengancam kita. Kalau di biarkan saja, enak banget hidupnya. Aaaarrgghh...Kamu memang ceroboh Wulan, ngapain kamu ke sana segala? Awalnya baik-baik saja, tanpa ancaman segala".
"Loh,kenapa nyalahin aku pak. Jelaslah aku kesana,mau cari uang hasil penjualan kebun. Kalau nunggu bapak, untuk bertindak tegas. Sampai kapan pak,kita keburu kehilangan uangnya". Wulan, memasang wajah masamnya. melihat sang ayahnya,tak ada tanda-tanda melawan Adelia.
__ADS_1