
Sertifikat kebun teh, sudah di tangannya. Juragan Karno, sangat senang mendapatkan uang. Baginya lahan itu, tidak ada gunanya lagi karena hangus terbakar.
Untuk menanam pohon teh kembali, memerlukan waktu yang lama untuk panen. Namun di sisi lainnya, bakalan jadi salah saingan berat juragan Karno.
Selesai dengan urusannya, Adelia pamit pulang kepada bu Wahdah. Tetapi, ada sesuatu yang janggal.
Terlihat jelas wajah bu Wahdah,nampak kecewa berat. Begitu juga dengan Rafi,sang anak. Awalnya merasa senang mendengar ucapan Adelia,agar mereka mengurus kebun teh miliknya. Tetapi,kebun teh tersebut malah hangus terbakar.
"Maafkanku bu,kebun tehnya hangus terbakar. Aku jadi membuat kalian kecewa berat,". Kata Adelia,merasa tak nyaman.
"Kamu bodoh sekali Adelia,kenapa malah menebus sertifikat kebun itu? Kamukan bisa membuka usaha apa kek,biar anakku mendapatkan pekerjaan bagus". Kata bu Wahdah,nada suaranya terdengar aneh.
Loh, kenapa bu Wahdah berkata seperti itu? Apakah beliau, kecewa dengan hasilnya. Apa jangan-jangan,ada sesuatu yang tidak beres. Adelia, seharusnya kamu tidak mudah percaya dengan ucapan mereka. Apa lagi,sifat manusia gampang berubah.Batin Adelia, tersenyum kecil. "Lahan itu, sangat luas bu. Siapa tahu, ada seseorang yang membutuhkan dan membeli dengan harga tinggi. Anggap saja, tabunganku masa depan". Jawabnya Adelia, walaupun dia mencurigai bu Wahdah.
"Mbak Adelia, begitu gampangnya menebus sertifikat kebun itu. Hasilnya mana mbak,katanya mau ngasih aku pekerjaan. Menyebalkan sekali, kenapa tidak memberikan modal untuk ku. Lalu,membuka usaha bengkel di sini". Sahut Rafi, sifatnya sama berubah juga.
"Sama saja,mbak Adelia memberikan harapan palsu kepada kami". Sambung sang istri, menatap sinis.
"Loh, kenapa kalian berbicara seperti ini? Namanya juga musibah,lahan itu sangat luas. Aku menginginkannya, uangku juga untuk menebus sertifikat kebun itu". Kata Adelia, mengerutkan keningnya.
"Sudahlah Adelia,kami benar-benar kecewa kepada mu. Sana pergilah,demi kebun hangus terbakar. Kamu membiarkan uang 50 juta,melayang begitu saja. Mendingan buka usaha untuk ibu, berikan kami modal. Sekarang kebun itu, tidak ada gunanya lagi. Sedangkan uangmu saja, sudah habis menebus sertifikat itu". Bu Wahdah, langsung masuk kedalam rumah.
"Ck,lain kali jangan ke sini lagi. Kami sudah kecewa karena mbak, pembohong!". Ucap Rafi, berlalu meninggalkannya juga.
"Astagfirullah, lagi-lagi aku hampir di bohongi mereka. Awalnya baik, tapi ada maunya. Untungnya Tuhan, berpihak kepadaku dan membuka topeng mereka. Lalu,kenapa dulu mereka jadi kerabat dekat bapak dan ibu? Apa jangan-jangan,cuman di manfaatkan oleh mereka saja. Sudahlah,aku pulang saja. Yang penting sertifikat ini, sudah ada di tanganku". Kata Adelia, langsung meninggalkan kediaman bu Wahdah.
Awalnya baik-baik aja Adelia dan bu Wahdah. Namun berubah drastis,ketika Rafi ingin meminjam uang senilai 50 juta. Katanya untuk membuka usaha bengkel juga, beri jangka setahun balik modal dan akan mencicil hutangnya.
__ADS_1
Tetapi, Adelia langsung menolaknya dengan halus. Kemungkinan saja, Rafi dan bu Wahdah ambil hati atas penolakannya.
Bukannya tidak mau meminjamkan uang, kepada ibu Wahdah dan anaknya. Teringat masa lalu,bu Wahdah sempat meminjam uang kepada orangtuanya dan tak kunjung di bayar. Itulah Adelia,takut ujung-ujungnya menyesal dan kehilangan uangnya.
Karena kesal tidak dapat pinjaman uang dari Adelia, mereka langsung marah-marah tak jelas.
Apa lagi bu Mega, istri juragan Karno. Sempat berbisik kepadanya, berhati-hati dengan bu Wahdah. Bisa jadi kebaikannya, tersimpan muslihat lain.
Entah kenapa,bu Mega meminta nomor ponselnya. Lalu, bertanya dimana perawatan Adelia? Tentu saja, Adelia langsung mengatakan sebenarnya. Bu Mega, langsung ramah dan tidak sinis lagi. Namun,di sisi lainnya bu Wahdah memasang wajah masam.
********************
Malam harinya, Adelia tengah santai di ruang tamu sambil menunggu sang suami membawakan makanan.
"Lama tidak pergi kemana-mana, apa lagi menempuh perjalanan jauh. Badanku pegal-pegal semua,mana hujan tadi". Gumam Adelia, sepanjang perjalanan menuju pulang.Tiba-tiba hujan deras, untung ada jas hujan.
[Adelia,ibu sakit. Badannya panas sekali,kamu ke sini yah. Tolongin mas, untuk merawat ibu. Jangan membantah lagi,kamu sudah puas seharian jalan-jalan dan membiarkan aku merawat ibu. Kalau seperti ini terus, bagaimana aku bekerja? Emangnya kamu mau, memberikan makan kepada kami ha?].
Adelia, cekikikan tertawa membaca pesan dari mantan suaminya. "Ck,darimana dia aku pergi? Apa jangan-jangan mas Bimo, memberitahu jika aku pergi liburan. Aaah... Baguslah,".
[Ya sudah mas,kalau kamu tidak sanggup merawat ibu. Antar saja beliau ke panti jompo,apa susahnya sih. Aku dan kamu sudah mantan mas,aku sudah menikah paham! Jadi aku tidak ada urusannya dengan kamu, maupun ibumu. Alhamdulillah, hidupku sekarang jauh lebih baik. Mendingan kamu nikah lagi mas, biasanya juga seperti itu. Untungnya ada istri setia merawat ibumu,tapi apakah ada seperti aku? Aaahh...Aku yakin sekali,mana ada wanita bodoh yang mau menuruti kemauan mu].
Adelia, membalas pesan Alfan langsung. Dupa Alfan, menggunakan nomor baru untuk menghubunginya.
"Besok saja,aku ganti nomor. Agar mas Alfan, tidak menggangguku lagi". Gumamnya, tercengang mendengar pintu rumah di ketuk. Sudah pasti sang suami datang,tak sabar untuk makan bersama.
Ceklekk...
__ADS_1
Adelia, tersenyum sumringah menyambut kedatangan Bimo. Meraih kantong plastik di tangan suaminya,lalu ke dapur menata makanan. Tadi Adelia, meminta di belikan sate ayam untuk makan malam.
"Bagaimana perjalanan tadi,apa ada kendala?". Tanya Bimo, menghirup kopi buatan Adelia.
"Alhamdulillah, tidak ada apa-apa mas. Tapi, hujan deras sepanjang perjalanan". Jawab Adelia, tersenyum kecil.
"Mau di angetin gak,malam ini? Sesuai kesepakatan kita". Bisik Bimo, membuat Adelia terdiam sejenak.
Glekkkk....
Astaga! Mas Bimo, mengingat kembali. Batin Adelia, mengangguk pelan.
"Baguslah, kamu tidak lupa dan tidak ingkar janji. Aku akan melakukannya dengan pelan,". Bisiknya lagi, seketika Adelia bergidik ngeri melihat seringai tajam suaminya.
"Makam dulu mas,jangan memikirkan macam-macam". Adelia, mengalihkan pembicaraan mereka. Wajahnya sudah memerah merona, menahan malu dan kegugupannya.
"Bagaimana,enak gak? Kalau gak enak,lain kali jangan beli di tempat itu lagi". Kekehnya Bimo, mencairkan suasana tegang.
"Alhamdulillah mas,enak banget. Mas,aku mau cerita sesuatu penting". Kata Adelia, tersenyum kecil.
Bimo, mengerutkan keningnya dan merasa sesuatu yang tidak beres. Apakah menyangkut tentang,belah duren? Aaarghhh..Masa di tunda lagi, sampai kapan? Si Juna, sudah gak tahan dalam sangkarnya untuk keluar masuk.Batin Bimo, mengubah ekspresi wajahnya dengan masam.
"Hmmmm... Katakanlah,apa itu?". Tanya Bimo, menepis kecurigaannya.
"Mas,aku tadi menebus sertifikat kebun teh. Tapi,kebun tehnya hangus terbakar. Jadi,lahannya kosong melompong cuman sisa-sisa kebakaran saja". Kata Adelia, berwajah sedih dan membuat Bimo semakin gemes terhadap istrinya.
Bimo,yang terpesona dengan kecantikan istrinya. Apa lagi rambut Adelia, terurai bebas dan masih basah. Pandangannya tak teralihkan,lalu melamun seketika.
__ADS_1