
Adelia, mengoles make up tipis di wajahnya. Tak sabar menanti kedatangan, Wulan. Dia sengaja berpenampilan beda, wanita kampung seperti dirinya bisa berubah menjadi Cinderella.
Bimo, menatap ke arah istrinya yang tengah berdandan dan berpakaian rapi. Baru pertama kali ini, melihat Adelia berpenampilan glamor. Mengenakan pashmina,senada dengan warna gamisnya. Biasanya tidak berlebihan seperti ini,tetap cantik di mata para kaum pria.
Biasanya Adelia, mengenakan hijab langsung dan bertabrakan dengan warna pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Terkadang Adelia,cuman mengenakan pashmina biasa. Sat set, tusuk dengan jarum pentol sudah jadi. Kecuali pergi keluar jalan-jalan,barulah mengubah penampilannya.
"Biasanya di rumah tidak mengenakan jilbab. Lagipula yang bertemu wanita,bukan pria". Kata Bimo,masih menatap ke arah istrinya.
"Ini beda mas,yang bertemu dengan ku ulat bulu. Sudah tau punya istri,masih aja ngarepin kamu". Sahut Adelia, tersenyum kecil. "Aku akui mas,kamu memang sempurna di mata wanita lain. Tidak ada kekurangan apapun, pasti wanita luar sana banyak menginginkan mas".
"Eee...". Bimo, menggaruk-garuk kepalanya. "Bilang saja,kamu ingin balas dendam kan sama Wulan? Masalah wanita lain,aku cuman menganggap sebagai teman. Itupun tidak salahku, mereka menyukai ku atau tidak. Hehehehe...Jangan marah,aku cuman ngomong apa adanya".
"Terus,mas tidak setuju? Membela dia begitu, maksud kamu mas. Jika aku balas dendam kepada, Wulan? Ingat yah mas,jangan di ulangi lagi kesalahan mu itu. Cukup dulu dekat dengan wanita lain,ingat aku mas. Meskipun antara kita tidak ada rasa cinta dan sayang. Setidaknya aku dan kamu, menjalin rumah tangga serius dan tidak main-main". Kata Adelia, memancing reaksi suaminya.
Glekk....
Sialan,aku salah ngomong lagi. Aaarghhh...Jangan sampai Adelia,salah paham kepadaku.Batin Bimo,mencari akal untuk menenangkan hati istrinya. "Mana ada, lakukanlah apa yang kamu mau. Aku setuju dengan ide mu,agar Wulan tidak mengganggu lagi. Hammm....Aku paham apa yang kamu katakan,aku serius menjalani rumah tangga ini".
Adelia, tersenyum kecil dan menaruh rasa curiga kepada suaminya itu. "Cuman Wulan,atau banyak lagi wanita-wanita lainnya mas?".
"Adelia,dulu aku seringkali nongrong sama teman-teman. Seringkali di kenalin sama wanita lain, mereka ajak teman lainnya. Karena masih sendiri,gak masalahkan jalan-jalan. Cuman jalan-jalan,gak lebih kok". Jawab Bimo,membuang muka ke arah lain.
Adelia, menatap tajam ke arah suaminya. "Ck,terus seiring berjalannya waktu. Saling berduaan dan jalan-jalan, pasti ada perasaan lebih mas. Iya,bukan kamu tapi mereka. Pasti gak lama lgi,bukan Wulan saja tapi lain juga. Awas yah mas,kamu berani jalan-jalan dengan wanita lain. Aku tak segan-segan,membuka pawang buaya dulu". Ancaman Adelia,entah kenapa tiba-tiba dia berani dengan suaminya ini.
__ADS_1
"Eee..Sama juga,kalau kamu berani dekat-dekat dengan mantan suami. Aku tak segan-segan...".
"Tak segan-segan apa,mas? Mau balas balik, hmmmm...,". Mata Adelia, melotot sempurna.
Bimo,susah payah meneguk air liurnya. Baru kali ini,dia ciut menghadapi seorang wanita dan berstatus sebagai istrinya.
"Gak berani Del, maaf". Bimo, melemahkan suaranya dan menarik lengan Adelia ke dalam pelukannya. "Kamu cantik,". Bisiknya pelan,wajah Adelia sudah merah merona.
"Lepas mas, mangsaku sebentar lagi sampai loh". Kata Adelia, melerai pelukkan suaminya.
"Iiissshhh..Galak benar istriku,". Kekehnya Bimo, membiarkan Adelia keluar dari kamar.
"Biarin,aku galak mas. Agar kamu tau, wanita seperti apa yang kamu hadapi". Sahut Adelia, tersenyum kecil. Jantungnya berdegup kencang, tangannya memegang dada. Astaga,kenapa aku berlebihan terhadap mas Bimo? Sama saja kan,aku menunjukkan jati diri tidak mau kehilangan nya.
Adelia, sudah duduk di ruang tamu dan siap menyambut kedatangan tamunya. Sedangkan Bimo, menemui bi Suriah untuk menyiapkan minuman dan cemilan lainnya.
"Wulan, maupun wanita lain pernah ke sini mas?". Tanya Adelia, penasaran dengan jawaban suaminya.
"Iya, sekadar bertemu dengan ku. Cuman duduk di ruang tamu,gak ngapain. Kalau gak percaya,tanya sama bi Suriah". Jawab Bimo, tersenyum kecil.
"Gak yakin aku mas,sama kamu. Buktinya aja, waktu kita belum menikah. Bisa-bisanya kamu,bawa aku ke dalam kamar dan sedekat itu". Bantah Adelia,karena tak percaya dengan jawaban Bimo.
"Benaran,aku gak pernah ngapain sama mereka. Kemarin denganmu,karena mau membuktikan bahwa aku bukan gay atau impoten. Yang mancing-mancing duluan siapa? Sekarang sudah sah,apa aku pernah menerkam mu langsung? Gak ada kan,aku tidak senaif itu". Kata Bimo, menghembuskan nafas beratnya. Bisa-bisanya dia, menuduhku macam-macam segala. Aaarghhh...Aku terkam sekalian, baru tau rasa.
Adelia, cengar-cengir tidak karuan. Dia merasa tak nyaman dengan ucapan, Bimo. "Aku kan cuman nanya aja,". Gumam pelannya,melirik ke arah suaminya.
__ADS_1
"Bim!Bimo!". Seorang wanita, memanggil nama suaminya tepat di ambang.
Degggg..
Dadanya berdebar-debar kencang, bagaimana reaksi Wulan? Jika yang menemani dirinya adalah Adelia, keponakan orangtuanya.
Adelia, merapikan penampilannya jangan sampai ada yang kurang. Tidak akan membiarkan Wulan, membulinya seperti dulu.
"Berhentilah berteriak di kediaman ku,ini rumah bukan hutan". Kata Bimo, menyambut kedatangan Wulan atas perintah istrinya.
"Aku kesal Bim! Istrimu sudah keterlaluan sekali,lancang mengotak-atik ponselmu. Mana istri mu Bim? Apa dia tidak punya sopan santun, untuk menyambut kedatangan ku. Istri macam apa,yang kamu nikahin Bim?". Cecar Wulan, yang kesal dengan istri Bimo.
"Diam, Wulan! Jangan seenaknya kamu menjelekkan istri ku. Kau tidak pantas, apapun milikku. Itu juga milik istriku, tidak ada masalahnya. Seharusnya kamu yang sadar diri,aku sudah menikah apa belum?". Bimo, memarahi Wulan dan tidak terima mengatai istrinya.
"Loh,kenapa kamu jadi nyalahin aku? Kita teman loh, Bim. Aku kesal kepada istri mu,masa temannya minta bantuan malah di cegah". Gerutu Wulan, menghentakkan kakinya.
"Meminta bantuan apa,Andari? Menemani mu jalan-jalan, shopping, nonton,makan bersama,apa lagi ha?". Sahut Adelia, dengan tatapan tajam ke arah Wulan dan suaminya.
Degggg....
Wulan, mematung seketika dan terkejut melihat sesosok wanita yang dikenalnya.
"Haa! Kamu, Adelia! Iya,kamu.." Wulan,syok berat dan bersandar pada dinding. Hampir saja dia jatuh,namun tidak di bantu Bimo.
"Kenapa,kamu terkejut atau jantungan ha? Mana nyalinya tadi, meminta bantuan kepada suamiku ha? Meminta bantuan itu,ketika kamu kesusahan. Tau kesusahan seperti apa,hmmmm... Seperti kamu tertabrak mobil,di sambar petir,nabrak pohon,jatuh ke jurang,jatuh dari tangga!". Tegas Adelia, sambil menunjuk-nunjuk jarinya tepat di hadapan Wulan.
__ADS_1