Cukup Satu Kali

Cukup Satu Kali
Bertamu


__ADS_3

Bimo, melihat sertifikat kebun itu dan lumayan luas. "Apa rencana mu Adelia,Ingin menanam kebun teh lagi?". Tanyanya, menatap wajah cantik Adelia.


"Rencananya sih,iya mas. Lumayanlah buat tabungan masa tua,apa lagi lahannya luas dan nganggur". Jawan Adelia, tersenyum.


"Jual saja,beli tanah sekitar sini. Kamu bisa membangun kontrakan, buat masa tua nanti. Jika kamu, menanam pohon teh lagi. Masa panennya lama, belum lagi bersaing dengan yang lainnya. Gak mungkin kebun teh,terbakar sendirinya. Pasti ada seseorang pelaku, misalnya karena iri atau lainnya. Yah... Terserah kamu,aku cuman menyampaikan saja. Jika kamu ingin membangun kontrakan,aku akan bantu dan tanya-tanya sama dengan lainnya. Kita bangun sama-sama,kalau kamu tidak percaya dengan ku. Aku serahkan semuanya dan atas nama mu". Ucap Bimo, menggenggam jemari istrinya.


"Hmmmm...Ide mas, memang ada benarnya. Aku pikir-pikir lagi,lahan seluas itu. Pasti sangat lama,agar laku di beli oleh seseorang". Adelia, tertunduk sedih.


"Tidak masalah,kita cari-cari tanahnya dulu. Dimana yang pas untuk membangun kontrakan,santai saja dulu". Kata Bimo, menghirup kopi yang sudah dingin.


"Iya,mas. Makasih loh, sarannya". Adelia,jadi malu-malu sendiri.


Dering ponselnya berbunyi, tertera nama bi Suriah.


"Assalamualaikum,ada apa bi? Iya,kami akan segera ke sana". Jawab Bimo,melirik ke arah istrinya.


"Ada apa,mas?". Tanya Adelia, penasaran sekali.


"Ayo,kita kerumah ku. Orangtuanya Wulan,datang dan ingin bertemu dengan mu". Jawab Bimo, mengelus lembut rambut istrinya.


Degggg....


Dada Adelia, berdebar-debar mendengar paman dan bibinya datang. Terduduk lemas,masih terngiang-ngiang kejadian masa lalu.


"Adelia,kamu tenang yah. Jangan takut,ada aku menemanimu. Tidak akan membiarkan mu, kenapa-kenapa". Bimo, membujuk istrinya dan memberikan kecupan hangat di kening.


Adelia, mendoakan kepalanya ke atas dan saling pandang.


"Iya,mas". Jawab Adelia, merasakan bibirnya di kecup pelan oleh sang suami.

__ADS_1


Lama-lama berubah menjadi ciuman panas, ketika Bimo menguasai mulutnya. Untungnya Bimo,masih menyadarkan diri dan cepat-cepat pergi.


Sialan, pasti ada aja yang ganggu.Batin Bimo, gairahnya sudah memuncak.


************


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai. Bimo, menggenggam jemari istrinya dan menarik ke dalam rumah.


Di ruang tamu, sudah ada Wulan dan kedua orangtuanya.


Begitu juga,kedua orangtuanya Wulan. Terkejut melihat sesosok Adelia,yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu.


Pantesan saja, Bimo menikahi Adelia. Rupanya anaknya,kalah cantik dengan Adelia. Membuat bu Irni, semakin geram dibuatnya. Tidak terima anaknya,kalah dengan anak keluarga suaminya itu.


"Wahh.... Sudah lama ya,kita tidak bertemu". Kata Adelia, memecahkan keheningan. Dia berusaha santai, menggenggam erat tangan suaminya. Dadanya berdebar-debar,ada rasa takut menghadapi mereka.


"Ya ampun, akhirnya kita bertemu nak Bimo. Wulan, seringkali bercerita tentang mu. Malas yah, seringkali membuat anak ibu senang". Bu Irni, tersenyum lebar dan terlihat senang bertemu dengan Bimo.


Gawat nih,gak bakalan dapat jatah. Batin Bimo, menggaruk-garuk kepalanya.


"Nak Bimo, panggil saja pak Ramli dan istri saya Irni.maaf malam-malam kami bertemu. Sebenarnya,ada hal penting dengan Adelia. Mungkin sudah tau,siapa Adelia dan kami? Pasti Adelia, sudah bercerita banyak". Pak Ramli,jadi salah tingkah dan cengengesan saja.


"Oh,itu jelas pak. Silahkan duduk dulu,bawa santai saja. Tolong jaga etika di rumah saya,jangan sampai menyinggung perasaan istri saya". Tegas Bimo,di akhir kalimatnya.


Pak Ramli,cuman mengangguk pelan. Matanya tertuju pada Adelia, berusaha menahan diri untuk tidak kebablasan.


"Adelia,kamu tidak malu ha? Wulan dan Bimo, seringkali jalan-jalan berduaan. Pasti mereka memiliki hubungan dekat, gara-gara kamu ada. Semuanya jadi berantakan, pasti kamu kan mengganggu hubungan mereka. Nak Bimo, Adelia bukan wanita baik-baik. Hati-hati kamu,dia kami usir karena bikin malu". Ucap bu Irni, langsung karena kesal melihat Adelia


"Bibi,jangan asal nuduh yah! Tanya dulu dong, Wulan dan suamiku memiliki hubungan dekat atau tidak? Jangan asap bicara bi, bisa jadi anak bibi gatel pengen nyantol sama suami orang". Kini Adelia,balik mengejeknya.

__ADS_1


"Adelia,jaga ucapanmu!". Wulan, langsung berdiri dan menunjukkan jarinya ke arah Adelia.


"Aduhh... Adelia,aku sebagai pamanmu sangat malu. Tidak ada sopan santun berbicara dengan yang lebih tua. Kasian nak Bimo, menikahi wanita bersifat bar-bar". Pak Ramli, ikut-ikutan berbicara.


"Apa yang di katakan istri saya,memang benar. Wajarlah dulu,saya sering jalan-jalan sebagai teman dan tidak lebih. Itupun saya masih sendiri,belum menikah. Bahkan bukan Wulan saja, saya sudah mengatakan kepada Wulan. Hubungan kami cuman sebatas teman, teman pak,bu". Ucap Bimo,penuh penekanan pada katanya.


Bu Irni, menatap tajam ke arah Wulan yang tertunduk kepala. Sekarang dia merasa malu,memang benar yang di katakan Bimo.


"Kenapa diam Wulan, kamu malu yah? Makanya jangan sok-sokan dulu melawanku,ck". Adelia, menyunggingkan senyumnya. "Satu lagi paman,kenapa kebun teh hangus terbakar?".


Glekkkk...


"Kamu ngomong apa, Adelia? Kebun teh, tidak ada sangkut pautnya dengan mu. Paham!". Bentak pak Ramli,dia terkejut mendengarnya.


"Kenapa paman, apa jangan-jangan kalian membakarnya? Agar juragan Karno, meminta tebusan murah tanpa bunga. Itulah harta bukan hak kalian, tidak selamanya berkah". Adelia, berusaha mengontrol dirinya.


"Adelia,jaga ucapanmu itu. Jangan berbicara melantur kemana-mana,bilang saja kamu ingin menjelekkan nama baik kami". Kini bu Irni, sudah gelisah gusar karena ketahuan licik oleh Bimo.


Gawat nih,kalau Adelia mengungkit harta orangtuanya. Aku malu sekali kepada Bimo,sialan kau adelia.Batin Wulan, langsung memiliki ide. "Pak,bu,ayo kita pulang. Cepat!". Wulan, menarik lengan ibunya.


"Loh,mau kemana kalian? Kenapa buru-buru sekali,aku belum selesai berbicara loh. Masalah harta kedua orangtuaku,yang kalian rampas begitu saja. Sertifikat kebun teh,masih atas nama bapakku". Ucap Adelia, tersenyum smrik.


"Ayo, kita pulang pak,bu". Lagi-lagi Wulan,menarik paksa tangan orangtuanya.


Bimo, menggeleng kepalanya karena Wulan sudah malu. Sungguh membuat Adelia,merasa senang. Tak perlu basa-basi lagi, mereka sudah kabur dari rumah suaminya.


"Jangan lupa paman, tanyakan soap kebun tehnya". Kekehnya Adelia, tersenyum sumringah.


"Kebun teh, tidak ada sangkut pautnya dengan mu. Kebun itu, milikku bukan milik orangtuamu. Jangan ngaku-ngaku kamu, Del". Timpal bu Irni, sudah marah padam terhadap Adelia.

__ADS_1


Suaminya Ramli, langsung menarik lengan istrinya dan memberikan kode. Jangan sampai terbawa emosi, bisa jadi Bimo ilfil dengan mereka.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa,karena ada Bimo. Jangan sampai sifat asli mereka, terbongkar. Bisa gawat nanti, takutnya Wulan malah susah mendekati Bimo. Biarkanlah kali ini, mereka mengalah dan datang lagi. Ketika Bimo, tidak ada di rumah.


__ADS_2