Cukup Satu Kali

Cukup Satu Kali
Bertemu


__ADS_3

Adelia, mendengar suara langkah kaki. Tak berselang lama, terlihat Alfan dan Yuni datang sudah.


"Baguslah,kalian sudah datang. Aku kira bakalan keluyuran gak jelas, untung saja bu Norma gak di tinggal sendirian. Aku pulang dulu,bu,mas, Yun. Jaga ibu baik-baik,kalau gak doyan makan masakan mu yang itu. Masak lah yang lain," Ucap Adelia,meraih tasnya di meja.


"Loh,aku capek Del. Harus masak yang lain-lain, ibunya aja suka seenaknya sendiri. Kalau kamu perduli dengan ibu,kenapa gak kamu aja yang masak?". Decak Yuni, dengan tatapan sinis. Masih untung aku masakin,makan gaknya. Aku tidak perduli dengan bu Norma,mati sekalian kek. Senang sekali nyusahin orang lain,sama dengan Adelia.


"Nanti dulu yah, pulangnya. Mas mau ngomong banyak hal, plissss..!" Pinta Alfan, menghentikan Adelia.


"Adelia,jangan tinggalkan ibu nak. Bawa ibu pergi juga,". Bu Norma,mencekal lengan Adelia.


Adelia, langsung melepaskan cengkalan bu norma. "Antara kita gak ada yang di omongin mas, apa lagi rujuk kembali". Tegasnya, melongos melewati mantan suaminya.


"Sudahlah Alfan, Adelia sudah tidak menginginkan kamu lagi. Ini terakhir kalinya, menjenguk keadaan ibu. Dia memang tega sekali, melihat ibu seperti ini". Isak tangisnya bu Norma, membuat Yuni enek melihatnya.


"Tuh, benar kata ibu mas. Mendingan kamu fokus sama aku,anak kita dan ibu. Ngapain lagi sih,mikir mau balikan sama mantan istri? Lagipula Adelia, sudah mencampakkan perasaan mu loh". Kata Yuni,pusing memikirkan suaminya.


"Yuni,diam! Jangan ikut campur dalam urusan ku, setelah kamu lahiran nanti. Aku ceraikan kamu, anak itu akan di urus aku dan Adelia. Kami akan hidup bahagia, dengan bergelimang harta". Bentak Alfan, dengan tegas."Semua ini gara-gara kamu,hamil segala. Ck,kalau akhirnya seperti ini. Aku tidak mengijinkan Devi, membawa mu ke rumah ini".


"Tega sekali kamu,mas". Yuni, menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan kamar ibu mertuanya. Tangisnya semakin menjadi-jadi,di luar.


"Ibu,kenapa meminta ku untuk tidak membujuk Adelia? Pasti Adelia, sudah berani mengancam ibukan. Katakan bu! Ibu, tiba-tiba berubah". Alfan,mengusap rambutnya ke belakang. Entah apa yang di bicarakan ibu dan Adelia,ketika dirinya pergi tadi.


Bu Norma,tak menjawab perkataan anaknya dan malah meninggalkan tidur.


Alfan, keluar dari kamar dan rahangnya mengeras seketika. Pasti Adelia, berbicara sesuatu yang di sembunyikan. "Aaarghhh....Awas kamu Adelia,". Geramnya.


*************


Bruuukk...

__ADS_1


"Maaf,maaf,maaf,aku tidak sengaja mas". Devil, meminta maaf dan beberapa kali membungkukkan badannya. Tidak sengaja Devi, menabrak seorang pria karena lengah melihat sekeliling supermarket.


"Tidak apa,". Jawab pria itu, dengan dingin.


Devi,mulai terpesona dengan pria di tabrak nya. Postur tubuhnya kekar, memperlihatkan dada pidang kokoh. Mengenakan seragam PNS,ini adalah idamannya selamanya. Sungguh Devi, beruntung tertabrak pria ini.


"Terimakasih,aku tidak sedikit ngelamun. Jadi tidak fokus berjalan,". Kekehnya Devi, menyelipkan rambut di telinganya.


"Lain kali hati-hati,bisa membahayakan orang lain". Kata pria itu,melirik sekilas ke arah Devi.


"Hmmm...Atas permintaan maafku,kita ke kafe. Bagaimana?". Devi, sekedar basa-basi. "Kenalkan aku Devi,". Mengulurkan tangannya, terlihat malu-malu kucing.


"Bimo,permisi dulu". Yah,pria di tabrak Devi adalah Bimo. Selesai pulang bekerja, Bimo sengaja mampir di supermarket dan membeli kebutuhannya. Tidak sengaja seorang wanita, menabrak tubuhnya yang sibuk memilih barang.


Devi, tidak putus asa karena sudah mengklaim pria itu akan jadi miliknya. Berlahan-lahan mengikuti langkah Bimo, apapun caranya untuk mencari perhatian Bimo.


Bimo,mengantri untuk bayar belanjaan di kasir. Devi, tergesa-gesa untuk mengantri di belakang Bimo. Karena dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini,pas untuk berbincang singkat.


"Banyak sekali belanjaannya,gak sama istri mas Bimo?". Kata Devi, salah tingkah.


Bimo, melirik di ujung matanya dan memang benar wanita tadi. "Tidak ada istri". Jawabnya ketus.


Apa! Dia tidak punya istri,yang benar saja. Baguslah kalau tidak ada,tapi pacar gimana?."Oh, pasti pacarnya ada di mobil yah". Tanya Devi,lagi penasaran dengan Bimo.


"Tidak ada,". Jawabnya Bimo,lagi dan menghela nafas beratnya.


"Sama mas,aku juga gak ada yang punya". Kekehnya Devi, hatinya kegirangan karena Bimo tidak memiliki siapapun.


"Maaf,tapi aku punya calon istri. Jangan dekat-dekat mbak,nanti calon istri saya salah paham". Bimo, menjaga jarak dengan Devi. Belum apa-apa, langsung nyosor seperti bebek.

__ADS_1


"Ee...Iya,mas". Devi, merasa malu karena dirinya di tolak Bimo. Tidak apa Devi, pria memang sok jual mahal. Kasih enak-enak,dia bakalan luluh kok.


Akhirnya Bimo dan Devi, selesai membayar belanjaannya.


Bimo, memasukkan barang ke dalam mobil dan Devi mendekatinya.


"Mas, sampai ketemu lagi yah. Aku senang aja, ngobrol dengan mas Bimo. Boleh minta nomor telepon?". Devi, mengulurkan ponselnya. Berharap Bimo, mengetik nomornya dan bisa menghubunginya nanti.


Bimo,menutup pintu mobil belakang dan menatap ke arah Devi. "Permisi dulu,mbak. Berharap kita jangan bertemu lagi,". Tegas Bimo, berlalu masuk kedalam dan meninggalkan parkiran.


Devi, dengan perasaan dongkol. Meremas benda pipih di tangannya, tidak terima atas penolakan Bimo.


Diam-diam mengikuti Bimo, sampai kediaman. Sekarang Devi, terpana dengan tempat tinggal Bimo rumahnya sangat besar dan memiliki halaman luas. Dia sampai tak sabar untuk mendapatkan Bimo, menjadikan dirinya seorang istri dan ratu di rumah besarnya itu.


ketika Devi, ingin menancapkan gas mobilnya. Terlihat mobil mewah, memasuki perkarangan rumah Bimo.


karena penasaran siapa yang datang, Devi menyaksikan dulu dari kejauhan. Mata melotot melihat sesosok wanita, keluar dari mobil dan berpenampilan menarik dan seksi.


Bimo, menatap tajam ke arah wanita yang baru datang. "Untuk apa kau ke sini?". Tanyanya dengan nada tegas.


Wanita itu, melepaskan kacamata hitam dan tersenyum manis. "Aku ke sini karena merindukanmu,mantan suamiku". Widya, tersenyum dan ingin memeluk tubuh Bimo.


Lagi-lagi Bimo, menghindar dan menepis langsung. "Jangan lancang kamu, tidak sudi di sentuh oleh mu". Bentak Bimo, dengan tatapan nyalang.


"Terus kenapa ha? Karena aku seorang janda,lalu apa bedanya dengan calon istri mu? Bimo,ayo kita rujuk kembali". Kata Widya, tersenyum semanis mungkin.


"Ck,jangan harap Widya. Aku tidak sudi bersama mu lagi, pergilah ke suamimu yang kere itu. Dulu, kau mencampakkan ku dan mengejek-ejek keuangan selama ini. Memuji suamimu,karena dia seorang pengusaha sukses. Nyatanya apa Widya,kau malah bertekuk lutut dan ingin kembali kepada ku". Bimo,puas merendahkan harga diri mantan istrinya itu.


Widya,yang malu dan menahan amarahnya. Tidak terima dengan perlakuan mantan kekasihnya, hatinya sakit sekali.

__ADS_1


__ADS_2