
"Tidaaaakkkk....Bimo,ini tidak mungkin kan? Kamu, menikahi wanita ini. Astaga, Bimo! Kamu seperti kekurangan wanita lain". Ucap Wulan, melihat penampilan Adelia. Mulai ujung kepala sampai ujung kaki, sungguh membuat Wulan syok berat.
Dia benar-benar Adelia, astaga aku sampai pangling melihatnya. Dia sudah berubah drastis, kulitnya jauh lebih putih di bandingkan aku. Lihatlah, pakaiannya tidak lusuh lagi. Apa itu, gelangnya lumayan besar. Sial aku kalah dengan, Adelia.Batin Wulan, tangannya mengepal kuat .
"Aduhhh...Kamu nanya,mas Bimo kekurangan wanita ha? Haruskah dia menikahi mu,model ondel-ondel gak laku ha! Ck,beda level". Ejek Adelia, menyunggingkan senyumnya.
"Bimo, kamu terkena jampi-jampi sihir apa sama dia? Ck,aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang. Bimo,asal kamu tau yah. Dia itu, keponakan orangtuaku dan orangtuanya sangat licik. Merampas harta orangtua ku, untungnya kedua orangtuanya meninggal karena karma". Kata Wulan, tersenyum smrik.
Plakkkk....
Adelia, melayangkan tangannya dan menampar pipi Wulan.
Bimo, melonjak terkejut melihat aksi keberanian istrinya. Rupanya istriku bar-bar juga, baguslah tidak tinggal diam.Batin Bimo, tersenyum kecil.
"Lancang sekali kamu, Wulan! Rupanya kamu berani membalikkan fakta yang sebenarnya,ck munafik. Nyatanya orangtuamu lah, merampas harta orangtua ku dan mengusirku dari rumah. Karena aku masih belum berpikir dewasa, sebagai keponakannya cuman diam dan menangis. Tapi,kali ini jangan harap aku diam". Tegas Adelia, sorotan matanya memerah manahan amarahnya.
"Aku lebih mempercayai istri ku,kau paham!". Sahut Bimo, merangkul pinggang istrinya.
Wulan, semakin memanas melihat mereka berdua begitu dekat. "Aku kecewa dengan mu, Bim. Apa alasannya selama ini,kamu perhatian kepada ku dan jalan-jalan berdua. Aku kira kamu menyukaiku, nyatanya malah menikah dengan dia".
"Astaga,kau salah paham Wulan. Bukankah aku sudah mengatakan kepada mu,aku jalan bukan 1 wanita saja. Lagipula kamu duluan menemui ku dan merengek-rengek menemani jalan-jalan. Daripada bosan di rumah,aku iyain aja. Dari dulu sampai sekarang,cuman sebatas teman gak lebih". Bimo, menjelaskan semuanya kepada Wulan.
"Kamu jahat Bim! Jahat!". Isak tangisnya, Wulan. Berlalu meninggalkan kediaman Bimo, berharap Bimo mencegah dan menyusulnya.
"Aaarghhh.... Kurang ajar sekali Adelia,aku harus mengadu kepada bapak dan ibu". Gerutunya Wulan, sesekali memukul setir mobilnya.
Kepergian Wulan, membuat Adelia gerah. Melepaskan pashmina,menggantikan pakaian yang enak di tangan tubuhnya. Membiarkan rambut indahnya, terurai bebas.
"Pasti dia mengadu ke orangtuanya mas, Wulan emang seperti itu. Walaupun dia salah". kata Adelia,duduk di samping suaminya.
__ADS_1
Ting...
Sebuah pesan masuk di ponselnya Adelia, dengan sekejap mata ponselnya sudah di tangan Bimo.
[Adelia,ini nomor baruku. Jangan di blokir yah,mau minta bantuan. Besok aku cari kerjaan,ibu gak ada yang jaga. Bolehkah ibu,tinggal di tempat mu dan ada yang mengurusnya. Cari pengurus ibu,uangku sudah menipis Del. Rumah di jual Yuni,aku kehilangan jejak dia. Rencananya aku mau ke kampung halaman Yuni, meminta bertanggungjawab atas penjualan rumah ibu].
[Kamu kira istri saya pengasuh gratisan? Dia adalah istri saya, mematuhi perintah suaminya. Kamu tidak berhak mengatur kehidupan, Adelia.paham!].
Bimo, langsung membalas pesan dari Alfan. Berdecik pelan, melihat istrinya tengah mengotak-atik ponselnya juga.
"Kenapa semua pesan di hapus mas? Pasti ada chat macam-macam,yah". Adelia, mendelik tajam ke arah suaminya.
"Itu,pesan masuk sebelum kita nikah. Lalu,aku hapus semuanya lah. Lihatlah pesan mereka mulai tanggal berapa,aku sama sekali tak membalasnya. Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini sensi sama aku. Apa jangan-jangan kamu cemburu yah,sayang". Bisik Bimo, tepat di telinga Adelia.
Adelia, langsung mengubah posisi duduknya agak jauhan. "Aku takut mas,masih trauma atas kegagalan rumah tanggaku dulu". air bening mengalir di kedua pipinya, segera mungkin menghapusnya.
Bimo, mengangkat dagu istrinya dan saling tatap.
"Aku tau,apa maksud mu Del. Malah senang dengan sikapmu seperti ini, berarti mulai ada rasa kepada ku ini". Kata Bimo,cengir kuda.
Adelia, langsung memalingkan wajahnya. lagi-lagi jantungnya berdegup kencang, tangannya meremas benda pipih di tangan
Bimo, menelusuri wajah istrinya dan memberikan kecupan hangat di bibi Adelia. "Bolehkah, Adelia?". Lirih Bimo, dengan suara seraknya.
"Maafkan aku mas,baru datang bulan. Nunggu seminggu lagi,yah". Kekehnya Adelia, tersenyum sumringah.
Bimo, langsung terdiam dan memasang wajah masamnya. "Ck, menyebalkan". Gerutu Bimo, beranjak berdiri.
"Loh,mau kemana mas? Ngambek yah,hihihi...". Ledek Adelia,puas melihat tingkah suaminya yang kesal.
__ADS_1
"Mau mandilah, menjinakkan si otong sudah berdiri". Jawab Bimo,masuk kedalam kamar dan mandi.
Adelia, cekikikan tertawa mendengar jawaban sang suami. Matanya tertuju pada ponsel suaminya, tengah berdering tertera nama Jon.
***************
Prang!
Alfan, merasa kesal membaca pesan masuk. Dia mengira Adelia,yang membalasnya ternyata Bimo.
"Gimana Alfan, pasti Adelia mau kan? Mana mungkin membiarkanmu ibu, sendirian tanpa ada yang mengurusku". Tanya bu Norma, tersenyum sumringah.
"Yang balas pesan suaminya,bu. Dia tidak mengijinkan Adelia, mengurus ibu lagi. Belum lama menikah, sekadar sudah menguasai Adelia. Emangnya dia siapa?aku yang pertama kalinya menikah dengan Adelia,dia sok-sokan". Decak Alfan, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Loh,kalau dia gak mau ngurus ibu? Lalu, bagaimana kedepannya kita nanti? Masa ibu, sendirian di rumah ini. Gak ada yang masak,ngurus,terus mandiin ibu juga. Aaarghhh....Kenapa coba, Adelia nikah lagi?". Bu Norma,jadi kesal jadinya. "Kamus sih,malah menceraikan Yuni. Kalau dia ada,masih bisa berharap untuk jaga ibu. Ini malah berselingkuh dengan Devi, jelas-jelas ogah banget ngurus ibu".
Ngomong-ngomong soal Devi,dia kemana? Aku dengar-dengar Riko dan Sella,menjual Devi. Apa dia masih hidup? Aku seorang pria,di gilir sampai mau mati rasanya. Apa lagi Devi,sial aku malah meluapkannya. Batin Alfan, melamun sejenak.
"Alfan! Alfan!". Bu Norma, memanggil nama anaknya yang melamun.
"Ee...Iya,bu. Ada apa?". Tanya Alfan, membuyarkan lamunannya.
"Sekarang kamu ke tempat Adelia,bujuk agar dia mau mengurus ibu". Pinta bu Norma,yang geram kepada anaknya. "Lapar,mau makan ibu".
"Duhh... Nanti aja bu, Adelia mana mau mengurus ibu lagi. Kita sudah memakinya,malu bu". Tolak Alfan, langsung. "Ibu,tinggal dulu di sini. Mau cari Devi,siapa tau dia mau mengurus ibu. Lumayanlah buat gratisan,".
"Loh,ibu maunya Adelia Alfan! Gak mau yang lain, paham!". Bentak bu Norma,bersikeras tak mau di bantah kehendaknya.
"Cukup,bu! Aku pusing memikirkan pekerjaan, ibu malah macam-macam lagi. Sudahlah terima saja,siapa yang mau ngurus ibu. Jangan ngeyel bu,buat aku pusing aja. Mau aku taruh di panti jompo sekalian,agar ibu gak banyak minta-minta". Alfan, langsung meninggalkan ibunya.
__ADS_1
Bu Norma, seketika terdiam membisu. Setelah mendengar perkataan anaknya,lalu membiarkan Alfan pergi.