
"Tenang saja mas,kamu sudah tandatangani surat perceraian kita". Ucap Adelia.
"Ha! Kapan Adelia? Hahahaha...Kamu jangan mengada-ada seperti itu,bilang saja kamu ingin membodohi ku kan? Hahahaha.... Tidak mempan sedikitpun, Adelia". Kata Alfan,mengejek Adelia.
"Ck, jangan harap kamu dapat tandatangani surat perceraian itu dari anakku. Kamu kira kami anak kecil,bisa di bodohi". Timpal bu Norma, tersenyum mengejek.
Adelia, mengambil akta perceraian mereka. Lalu, melemparkannya ke hadapan Alfan dan bu Norma. "Kamu sudah mendatangani surat perceraian itu,ketika kamu mabuk mas. Yuni, sudah membantuku". Adelia, tersenyum smrik.
"Makanya kami sudah menikah,karena tidak ada halangan apapun. Termasuk kamu mencegah kami,". Sahut Bimo, masih bertelanjang dada.
"Tidak,ini tidak mungkin". Kata Alfan, menggeleng kepalanya dan memegang akta perceraian dia dan Adelia.
"Apa! Kamu bercandakan Adelia,mana mungkin bisa". Bu Norma, terkejut mendengarnya.
"Mana mungkin bisa,bu. Lihatlah akta perceraiannya, sudah jelas dan sangat jelas". Ucap Adelia, dengan lantangnya.
"Kamu benar-benar jahat, Adelia. Tidak punya hati, kurang ajar kamu ha!". Teriak bu Norma, sambil menggoyangkan kursi rodanya.
"Kalian berdua keluarrrrr! Atau saya seret,ha!". Usir Bimo, dengan tatapan tajamnya. "Jangan pernah lagi,kalian menginjakkan kaki di rumah ini. Atau jangan sampai mengusik rasa istri saya, Adelia!". Bimo, menyunggingkan senyumnya dan penuh penekanan suaranya.
"Aaaarrgghh...Ini tidak benar,aku kecewa dengan mu Adelia. Awas kamu!". Bentak Alfan, langsung membawa ibunya keluar dari rumah. "Ayo,bu. Kita pulang saja, Adelia sudah sombong dan angkuh".
"Ck,dasar tidak tahu diri kamu Del. Enak banget nikah sama pria lain, pantesan aja kamu ogah menemui ibu di rumah sakit. Mulai detik ini,jangan ada berkomunikasi dengan kami". Bu Norma, masih memaki Adelia.
Bimo, menutup pintu rumahnya dan mengunci. Sedangkan Adelia, terduduk lemas dan memijit pelipisnya.
"Sudahlah jangan memikirkan mereka lagi,aku yakin sekali. Mereka berdua tidak akan mengganggu mu,karena malu". Bimo, merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
"Semoga saja mas,aku ingin tenang tanpa mereka. Kepalaku sakit sekali,". Adelia, bersandar di dada bidang suaminya. Lagi-lagi dia, salah tingkah dan menggerutu dirinya sendiri.
"Pindah dari sini,kalau kamu mau". Usul Bimo, mengigit bibirnya ketika melihat kancing baju Adelia terbuka.
"Tidak mas,aku di sini saja. Sekalian mengurus tanaman di belakang,". Tolak Adelia, langsung. Berkebun adalah hobinya sejak dulu, ketika masih di kampung halaman. sebelum dirinya diusir oleh paman dan bibinya.
"Besok kita ke K.UA. Sepertinya sudah beres, mungkin akad nikah akan diulang lagi". Kata Bimo, memecahkan keheningan. "Ngomong-ngomong tentang dirimu, apakah punya keluarga?". Tanya Bimo, penasaran.
"Di kampung halaman,masih punya paman dan bibi. Tetapi, mereka merampas harta orangtua ku. Mulai dari rumah,tambak,dan kebun sawah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dulu, mereka bilang orangtuaku banyak hutang. Gak tau mas,benar apa gaknya? Yang penting mereka tidak mengganggu kehidupan lagi,jauh lebih baik". Jawab Adelia, tersenyum manis.
Bimo, manggut-manggut mendengar cerita istrinya. Memberikan semangat kepada istrinya,jangan memikirkan macam-macam lagi.
******************
Matahari sangat panas, ditempuh oleh Alfan dan ibunya. Alfan, kepanasan dan lelah mendorong kursi roda.
"Sekarang kamu jangan memperdulikan, Adelia. Mendingan kamu cadi kerjaan yang bagus,lalu menikah dengan wanita jauh lebih cantik dan kaya dari Adelia. Jangan kalah kamu Fan,kita harus membalas keangkuhannya. Enak saja,dia mau merendahkan harga diri kita. Kalau bukan kamu, membawanya ke sini. Mana mungkin bisa,dia menikah dengan Bimo seorang PNS. Baru punya laki seorang PNS, sombongnya minta ampun". Ucap bu Norma, sungguh kesal karena sikap Adelia tak peduli dengannya lagi.
"Benar sekali bu, palingan cuman sebentar rumah tangga mereka. Aku yakin sekali, Bimo bakalan menceraikan Adelia. Geram sekali aku dengannya,masa menikah tanpa persetujuan kita". Alfan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kebingungan kemana mencari pekerjaan,kalau dia menikah dengan Adelia. Sudah pasti hidupnya terjamin, karena Adelia menanam sayur dan memiliki kebun petai berhektar-hektar.
Kalau panen petainya,hasil penjualan lumayan banyak dan tidak memikirkan pekerjaan lainnya. Alfan, sudah menanti sejak lama. Akan tetapi Adelia,malah menikah dengan pria lain.
Degggg.....
Alfan dan ibunya, terperangah melihat pintu rumah di rantai dan digembok.
"Loh,kenapa rumah ibu di gembok?". Kata Alfan,merogoh kantong celananya dan mengambil kunci rumah.
__ADS_1
"Siapa sih, pelakunya main gembok aja sama rumahku?". Bu Norma, calingukan mencari tetangganya dan ingin bertanya.
"Bu, kuncinya tidak pas". Alfan, berusaha membuka gembok dan tidak berhasil.
"Eee..Bu Norma dan Alfan, ngapain kalian balik ke sini lagi. Bukankah rumah ini, sudah di jual?". Salah satu ibu-ibu, berkata dan menghampiri mereka berdua.
"Apa!dijual?". Alfan dan ibunya, terkejut mendengar ucapan bu Sulis.
"Loh,kemarin pembeli rumah ini datang dan menggembok pintunya. Kata orang itu,rumah ini sudah di jual". Kata bu Sulis, mengulanginya lagi.
"Gak bu, pasti ini salah. Aku dan ibu, tidak menjual rumah ini. Pasti salah ini,". Alfan, membantah perkataan bu Sulis.
"Kalau gak percaya,tanya aja sama orang lain. Rumah ini, sudah di jual loh". Sahut ibu lainnya, membuat Alfan dan ibunya syok berat.
Alfan, terduduk lemas di lantai. Entah kenapa, kesialan yang di dapatkan."Aaaarrgghh... Pasti gara-gara Yuni,bu". Alfan, langsung kepikiran dengan mantan istrinya itu.
"Kurang ajar sekali,Yuni. Kita harus ke sana, temui dia dan rampas semua uangnya Fan. Berani sekali dia,menjual rumah kita". Bu Norma,terasa sesak di dadanya. Rumah semata wayangnya, sudah beralih ke tangan orang lain. Buliran air matanya, mengalir deras dan menangis meraung-raung.
"Kita kemana bu? Masa ngontrak,uang juga nipis". Alfan, bertambah lesu jadinya.
"Kita menumpang di rumah, Adelia. Enak saja, dia hidup tanpa beban. Masa kita biarkan Alfan,ayo kita ke tempatnya Adelia.sekalian dia harus mengurus ibu,kamu cari pekerjaan". Perintah bu Norma,entah kenapa tiba-tiba kepikiran Adelia.
"Beda bu, sekarang Adelia sudah menikah. Pasti kita di usir suaminya,kalau masih sendiri enak". Alfan, mengusap wajahnya dengan kasar. Baru juga mengejek Adelia dan memakinya. Masa kembali ke sana,sama saja dia merendahkan harga diri dan menumpang sementara.
"Alahhhh...Lawan aja,masa kalah sama Bimo. Kalau gak kamu cari sewa rumah sebesar ini,ibu gak mau tinggal di kontrakan sempit. Pokoknya perabotan rumah tangga,harus lengkap. Sama juga, keperluan ibu". Pinta bu Norma, membuat Alfan semakin frustasi.
"Gak bisa gitu dong,bu. Uang di ATM tinggal 30 juta,mana cukup sewa rumah besar. pasti perbulannya mahal,". Alfan,tak sanggup memengaruhi keinginan ibunya.
__ADS_1