
Bimo, tersenyum sumringah karena tidak ada yang mengganggu lagi."Aaah... Waktunya belah duren,". Gumamnya pelan, sambil merentangkan tangannya.
Hujan deras,hawa terasa dingin. Suasana yang pas untuk belah duren, Bimo langsung masuk kedalam kamar. Tak sabar untuk memiliki Adelia, seutuhnya. Pernikahan mereka sudah berlalu,namun tidak melakukan malam pertama.
"Aaciimm... Aaciimm...". Adelia, bersin-bersin yang duduk di tepi ranjang. Badanku tidak enak, sepertinya kena air hujan pulang tadi.Batinnya
Seketika tubuh Bimo, langsung melemas. Mana mungkin belah duren, nyatanya sang istri tak enak badan.
"Kamu sakit?". Tanya Bimo, menaruh tangannya di kening Adelia. "Panas, sudah minum obat belum?". Tanyanya lagi, khawatir dengan kondisi istrinya.
"Sudah mas,baru aja. Mungkin kena air hujan, waktu pulang tadi. Aaciimm....!". Adelia,melap hidungnya.
"Gagal deh". Gumam Bimo,yang sudah frustasi. Gairahnya sudah di ujung tanduk, ingin sekali dituntaskan sekarang. "Istirahat dulu, jangan mengerjakan macam-macam". Bimo, merebahkan tubuh istrinya.
"Maafkan aku mas, ditunda dulu yah". Kata Adelia, cengengesan. Pasti mas Bimo, kecewa berat karena tidak melaksanakan tugas itu.
"Sialan,kali ini kamu selamat. Semoga cepat sembuh,aku tagih janjimu itu". Kata Bimo, menyeringai tajam. Sabar,Bim. Jangan egois,kasian istri mu dan pahami keadaannya.
"Iy-iya mas,tapi pelan-pelan yah". Pinta Adelia, ketakutan melihat seringai tajam suaminya. Duhhh...Aku deg-degan sekali,kaya masih perawan aja. Tapi, sudah lama tidak melakukan hubungan itu. pasti sakit lagi,kaya malam pertama.
"Cukup,jangan membahas tentang itu. Lama-lama aku tidak bisa menahan diri,". Bimo, langsung menyelimuti seluruh tubuh istrinya. Astaga,jangan memancing reaksi ku Adelia. Aku tidak tau, sanggupkah menahan diri ini.
Sepertinya mas Bimo,kesal kepada ku. Aku Kan cuman panas badan,masa bersin-bersin. Kalau dia mau,gak papa. Batin Adelia, tersenyum kecil."Kemana mas?". Adelia, menahan Bimo pergi.
"Cari angin keluar, tidurlah. Aku akan kembali, setelah kamu tidur dan jangan cegah aku". Bimo, melepaskan cengkalan tangan istrinya.
"Sini saja mas,aku mohon. Dingin sekali,mau di peluk". Rengeknya Adelia, suaranya seakan-akan menggoda iman Bimo.
__ADS_1
Bimo, semakin frustasi karena istrinya. "Jangan Adelia,aku takut kebablasan. Sedangkan kamu tidak enak badan,jangan menyiksa ku". Pintanya Bimo, tetapi cengkalan tangan Adelia semakin erat.
"Gak papa mas,aku cuman panas sama bersin. Peluk aku mas,". Pinta Adelia, wajahnya merah merona. Jujur saja, dia sangat malu melakukan ini. Tetapi, tidak tega melihat suaminya.
Bimo,yang sudah lama menduda. Gai-rah dalam dirinya bergejolak sejak tadi,karena mendapatkan lampu hijau dari istrinya. Tidak mungkin menyia-nyiakan begitu saja, langsung melepaskan pakaiannya.
"Baiklah,kamu yang minta dan jangan menyesalinya". Seringai tajam, Bimo.
Glekkkk...
Adelia, susah payah meneguk air ludahnya. Tidak menunggu lama,dia sudah di bawah Kungkungan suaminya.
Baru saja Bimo, mencium seluruh wajah istrinya dan terhenti seketika.
"Lupakanlah,lain kali saja. Aku tau,kamu tidak enak badan. Mementingkan kewajiban sebagai istri, melayani suami. Tetapi,aku tidak egois cuman mementingkan diri sendiri. Cepat sembuh,baru aku menerkam mu". Bimo, mengecup kening Adelia.
Adelia, tersentuh hatinya mendengar ucapan sang suami. Matanya mulai berkaca-kaca, segitu sabarnya kah Bimo. Dia bersyukur memiliki seorang suami,yang memahami keadaannya. "Makasih mas,". Lirihnya pelan, mengelus lembut wajah suaminya.
Bimo,merasa senang akhirnya tidur berdua dan tidak sendirian lagi.
Hujan semakin deras,hawa dingin memasuki ruangan kamar. Tetapi, dua sepasang suami-isteri tidak merasakan Kedinginan. Malah semakin nyenyak tidur bersama, tidak memperdulikan keadaan sekitar.
***************
Sedangkan di tempat lainnya, Wulan mengamuk-ngamuk seperti wanita kesurupan.
"Aku tidak terima pak! Masa aku kalah sama, Adelia. Bu,bantu Wulan". Rengeknya Wulan, menghapus air matanya dengan kasar.
__ADS_1
"Mas,kamu kenapa banyak diam? Tidak memarahi keponakan mu itu, lama-lama dia ngelunjak loh. Masa calon mantu kita,di ambil Adelia. Ibu, tidak terima loh!". Sahut sang istri,yang kesal kepada pak Ramli.
"Hussssttttt....Jangan melakukan keributan di hadapan, Bimo. Biasa saja,dia merasa risih kepada kita. Semuanya bakalan terbongkar,jangan spesial Bimo menilai kita buruk. Tetapi,buat Adelia buruk di mata Bimo. Aku yakin sekali, Bimo akan malu dan melepaskan Adelia. Ayolah, bermain cantik dong". Pak Ramli, langsung membela dirinya.
"Ck, kelamaan pak. Aku tidak sanggup melihat Adelia, kelamaan bersama Bimo. pasti mereka tengah bersenang-senang. Gak terima aku pak,aku tidak terima!". Teriak Wulan,yang kesal.
"Diam,Wulan! Apa yang di katakan bapakmu,memang benar. Jangan melakukan kesalahan apapun, takutnya Bimo malah tidak menyukaimu. Jaga sifat bar-bar mu,yang kamu lakukan adalah mencari Keburukan Adelia. Lalu, ceritakan semuanya kepada Bimo. Agar Bimo, merasa jijik dengan Adelia. Lalu, Adelia di usir dari rumah itu. Kesempatan emas,kamu memasuki kehidupan Bimo". Usul ide sang ibu, mendukung anaknya.
"Baiklah,aku tidak akan kalah dengan Adelia. Awas kamu Adelia, merampas pria idamanku". Gerutu Wulan,menyeka air matanya.
"Aku heran sekali, darimana Adelia tau tentang kebun teh orangtuanya? Tapi,kebun teh itu sudah hangus terbakar. Masalahnya juragan Karno, tidak mau melepas tanah itu dengan harga murah". Pak Ramli, memegang dagunya dan nampak kebingungan.
"Kenapa gak di jual aja,pak. Lumayanlah uangnya buat ibu, shopping mall". Kata Irni, akhir-akhir ini di batasi uang belanjaannya.
"Gini bu,aku dengar-dengar ada seorang pengusaha sukses. Mau membeli lahan luas, katanya mau menanam sawit. Pasti mau membeli lahan itu, sangat luas. Berapa pun harganya, pasti di beli". Pak Ramli, menginginkan lahan itu kembali.
"Emangnya uang bapak, tidak cukup?". Tanya Wulan, mendengar uang matanya berbinar-binar.
"Kurang,cuman ada 20 juta. Sedangkan juragan Karno,mau 50 juta. Dulukan digadaikan seharga 40 juta,10 juta bunganya lah. Sayangkan,kalau di jual ke juragan Karno. pasti harganya murah,kalau di jual dengan seorang pengusaha. 200 juta, kemungkinan tembus". Pak Ramli, kebingungan mencari uang tambahan. Sudah mengusulkan ke sana kemari, tetapi tidak dapat.
"Aku coba pinjam ke Bimo, pasti ada pak. Uang tabungan ku,gak banyak soalnya". Kekehnya Wulan, tersenyum.
"Mana mungkin Adelia, mengizinkan Bimo meminjamkan uang kepada kita. Pasti Adelia, mempengaruhi pikiran Bimo". Sahut sang ibu, langsung.
"Gak salahkan,kita tanyakan dulu". Wulan, terlihat bersemangat.
"Cepat,kamu ngomong sama Bimo. Bapak,gak sabar menjual lahan itu. Kita mendapatkan untung banyak,". Bukan Wulan saja,yang bersemangat mendapatkan uang banyak. Tetapi,pak Ramli menginginkan juga.
__ADS_1
Dering ponselnya berbunyi,pak Ramli langsung mengangkat telpon dari anak buahnya menjaga tambak ikan.
"Apa! Mati semua?". Pak Ramli, melonjak terkejut mendengar ucapan anak buahnya. Dia terduduk lemas, seakan-akan tidak berdaya lagi. Sontak membuat sang istri dan anaknya, langsung bertanya karena takut.