Cukup Satu Kali

Cukup Satu Kali
Syok


__ADS_3

"Bagaimana Wulan,apa Bimo mau meminjamkan uangnya?" Tanya pak Ramli,sepagi ini.


"Gak ada pak, Bimo gak mau minjam uang kepadaku". Jawab Wulan, wajahnya nampak kusut.


"Pasti Adelia, sudah mempengaruhi pikiran Bimo. Jangan diam aja mas, ngelunjak keponakan mu itu. Dia sudah mengambil calon mantu kita,yang kaya raya itu. Sekarang malah kehidupan Adelia,yang enak dan Wulan gak ada". Sahut Irni, meletakkan secangkir kopi untuk suaminya.


"Iya,pak.Jangan diam aja, Adelia sudah merebut Bimo dariku". Wulan, menghentakkan kakinya karena kesal.


Pak Ramli,mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa, nyalinya ciut melawan Adelia yang berani menantang perkataannya.


"Bapak,mau kerumahnya juragan Karno. Mendiskusikan kebun itu,". Pak Ramli, langsung beranjak pergi keluar rumah.


"Pak Ramli,gimana tambak ikannya? Bulan ini,kami belum di gajih". Tanya Surya, salah satu anak buahnya mengurus tambak ikan.


"Benar,pak. Kami membutuhkan uang, untuk keperluan sehari-hari. Jangan lupakan jasa kami, meskipun ikan-ikan mati semua dan gagal panen". Sambung lainnya,juga.


"Pak Ramli,aku membutuhkan uangnya untuk beli susu anakku". Sahut lainnya.


Pak Ramli, menghela nafas panjang mendengar keluhan anak buahnya. "kalian ini, bisa mikir gak sih? Kita gagal panen, ikan-ikan mati semua. Lalu,uang darimana aku membayar kalian ha? Kalian yang salah, gak becus mengurus tambak ikan ku. Apa jangan-jangan,kalian pelaku sebenarnya. Awas saja,aku menyelidikinya. Pasti ada seseorang yang sengaja, menaruh racun agar ikanku pada mati semua".


"Loh, kenapa menyalahkan kami pak? Kami sudah lama Kerja di tambak ikan,pak Ramli. Mana mungkin, kami melakukan hal sekeji itu". Bantah Surya, langsung.


"Sama saja,pak Ramli memfitnah kami. Jangan menuduh sembarangan pak,kalau gak ada bukti". Sahut lainnya, sontak membuat pak Ramli geram mendengarnya.


"Ya sudah, pergi sana kalian. Gak ada uang membayar gajih kalian bulan ini, seharusnya paham dong. Ini malah menagih uang, tidak punya hati nurani! Sana, pergi! Kalian aku pecat". Bentak pak Ramli, emosinya menggebu-gebu disaat ini juga.

__ADS_1


"Huuuu....Payah,ini karma karena gak adil sama kita-kita. Makanya ikan pada mati". Kata Surya,tak terima dengan perlakuan bosnya itu.


Anak buahnya pak Ramli, meninggalkan rumahnya. Walaupun, dengan perasaan dongkol karena tidak mendapatkan gajih bulan ini.


Sepanjang perjalanan pak Ramli, selalu kepikiran masalahnya.


Motornya berhenti di depan rumah juragan Karno,dia merasakan sesuatu yang tidak beres.


Juragan Karno,nampak santai di ruang tamu.Pak Ramli,di persilahkan duduk.


"Juragan Karno,saya mau mendiskusikan kebun teh itu. Kita akan mendapatkan sama-sama untung besar,ada pengusaha sukses. Ingin membelikan lahan kebun teh,yang hangus terbakar. Harganya sampai 150 juta, pengusaha itu mau membelinya. Saya juga,bisa membayar hutang kepada juragan". Kata pak Ramli, cengengesan.


"150 juta, kapan orang itu berbicara dengan mu? Kenapa,saya tidak tau apa-apa?". Tanya juragan Karno,syok mendengarnya."Oh,apa jangan-jangan selama ini kamu menyembunyikan dari saya? Begitu,pak Ramli!".


"Juragan, juragan,bukan maksud saya apa-apa. Cuman belum saatnya, membicarakan soal ini. Bagaimana juragan,mau tidak berkerjasama dengan saya?". Pak Ramli, tersenyum smrik. "Cuman saya loh, yang tau siapa pengusaha itu".


"Lancang sekali kamu, Ramli! Asal kamu tau,tanah gosong itu sudah di tebus oleh Adelia. Keponakannya kamu Ramli,aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sertifikat kebun teh itu,atas nama ayahnya". Bentak juragan Karno, mengusap rambutnya ke belakang. Seandainya tau,ada yang membeli lahan itu. Kemungkinan dia, tidak akan mengiyakan perkataan Adelia. Masih tetap, mempertahankan lahan dan mendapatkan untung besar.


"Apa! Jangan membohongi saya juragan, ini sama saja penipuan". Bentak pak Ramli,dia menatap tajam ke arah juragan Karno.


"Saya tidak berbohong,kemarin Adelia menebus sertifikat kebun teh. Kalau saya tidak mau,maka jalur hukum yang saya hadapi. Mau tidak mau,saya menyerahkan sertifikat itu dan mendapatkan uang 50 juta. Kalau tau,ada yang membeli lahan itu. Mungkin saja,masih saya pertahankan dan memeras keponakan mu. Sekarang sudah terlambat,jangan sampai pengusaha itu menghubungi Adelia. Dia bisa mendapatkan untung besar,". Juragan Karno, memperingati Ramli.


Ramli, bergegas pergi dan pulang ke rumah. Dia harus ke kota dan menemui Adelia. Dengan cara apapun, sertifikat itu harus di dapatkannya.


"Bagus mas,kalau Adelia sudah menebus dari juragan Karno. Kita gak perlu keluar uang banyak, malah untung besar". Sahut Irni, mendengar cerita dari suaminya.

__ADS_1


"Iya,pak. Jangan mau kalah dengan Adelia,harus tegas dong. Adelia,mana berani sama bapak pamannya sendiri. Kita rampas sertifikat kebun itu,dapat uang banyak kita". Wulan, tersenyum sumringah dan tak sabar mendapatkan uang sampai ratusan juta.


"Nah,benar apa kata Wulan mas. Kita rampas sama-sama,jika perlu geledah tempat tinggalnya". Irni, semakin semangat saja.


"Masalahnya, rumah itu milik siapa? Mau taruh dimana wajahku ini, malu sama Bimo. Pasti nak Bimo, langsung ilfil sama kita. Tau sifat asli kita,yang tak wajar ini". Pak Ramli, menggeleng kepalanya mendengar ide istri dan anaknya.


"Alahhhh...Gak masalah pak, mendingan dapat uang daripada sama sekali. Masalah Bimo, gak papa dia ilfil sama kita. gampang kok,aku cantik dan pasti mendapatkan calon suami jauh dari Bimo". Sahut Wulan, langsung.


"Nah,aku setuju dengan ide anak kita mas. Lagian yah, Bimo sok belagu sama Wulan dan tidak mau membantu kita. Mendingan cari target baru lagi,yang penting uang mas". Bujuk Irni,kepada suaminya.


Akhirnya pak Ramli, menyetujui perkataan mereka. Langsung berisap-siap pergi ke kota, menemui Adelia dan merampas sertifikat itu.


Di tengah perjalanan pak Ramli, berhenti di pinggir. Matanya tertuju pada sebuah mobil,yang di kenalnya itu. Bergegas turun dari mobil,menuju warung kopi.


"Pak Yayah, ngapain ada sini? Lama tak jumpa". Pak Ramli, mengulurkan tangannya dan di sambut hangat oleh pak Yayah.


Pak Yayah,yang di kenal pak Ramli sebagai pengusaha sukses yang mau membeli lahan perkebunan teh itu.


"Alhamdulillah,baik pak Ramli. Saya ke sini,mau lihat-lihat kebun yang saya beli. Tapi,saya kecewa dengan pak Ramli karena sudah berbohong kepada saya". Ucap pak Yayah,tanpa ba-bi-bu lagi.


Mendengar ucapan beliau,pak Ramli kebingungan karena tidak tau sama sekali masalahnya. "Maksudnya apa yah,pak? Saya tidak paham sama sekali".


"Loh, kenapa gak tau pak? Kemarin bilang kebun teh yang gosong itu, miliknya pak Ramli. Tau-taunya milik orang lain, ngaku-ngaku milik sendiri". Pak Yayah,nampak kecewa dari raut wajahnya.


"Benar pak,itu kebun teh saya kok. Mana ada saya, berani membohongi pak Yayah". Kekehnya pak Ramli, sudah gelisah gusar.

__ADS_1


Pak Yayah, langsung menceritakan semuanya. Tanpa ada di tutupi lagi, mendengar ceritanya.


Sontak membuat pak Ramli,duduk lemas dan seakan-akan tak percaya. Amarahnya sudah memuncak, tak sabar menemui keponakannya itu.


__ADS_2