
"Mas, kenapa ibu masuk rumah sakit?". Tanya Yuni, menghampiri suaminya bersama orangtuanya masuk kedalam ruang inap bu Norma.
"Bukan urusanmu, Yuni!". Bentak Alfan, dengan nada tingginya. Ck,kenapa pembawa sial malah ke sini? Pasti ibunya yang memberitahu kepada,Yuni.
"Alfan, seperti itukah berbicara dengan anakku ha?". Sahut pak Warto,ayah kandungnya Yuni.
"Ck, namanya orang kota pak. Mana ada sopan santun sedikitpun, berbicara dengan istrinya.Bahkan di depan kita,". Sahut bu Yulis,ibu kandungnya Yuni. Beliau memang tidak menyukai Alfan,dari gerak-geriknya sudah tau sifat Alfan yang sombong.
"Diam! Pergi kalian dari sini,aku tidak butuh rasa simpati kalian". Bentak Alfan, mendelik ke arah mereka. Ck, keluarga miskin. Pantesan saja ibu tidak menyukainya,karena mereka sama pembawa sial dan sial.
"Tega kamu mas, marah-marah kepada kami. Sedangkan kamu apa,mas? Selingkuh dengan mantan istri mu, Devi. Ketika aku di rumah sakit, keguguran anak kita. Semua itu gara-gara kamu,mas". Isak tangisnya Yuni, matanya memerah memendam rasa bencinya kepada Alfan. "Aku tidak ikhlas dengan sikapmu, sampai kapan pun mas. Semoga kamu mendapatkan Karmanya yang setimpal".
"Oh, baguslah kalau kamu mengetahuinya Yuni. Aku bersyukur karena anak itu mati,dasar pembawa sial". Ucap Alfan, tersenyum smrik.
Degggg....
Yuni, semakin marah besar mendengar ucapan suaminya sendiri.
Plakkkk....
Bughhh...
Satu tamparan keras dari ibu mertuanya, satu bogem mentah dari pak Warto. Mereka berdua tidak terima dengan perkataan, Alfan. Sungguh keterlaluan sekali, sebagai suami anak mereka.
Alfan, tersungkur di lantai dan meringis kesakitan."Sial, aaarghhh....Awas kalian,". Gerutu Alfan, menatap tajam ke mereka.
"Kurang ajar sekali kamu, Alfan! Berani sekali menyakiti anakku,ha!". Pak Warto, menendang kaki menantunya itu.
"Talak aku sekarang mas,". Pinta Yuni, memalingkan wajahnya.
"Ck, dasar keluarga miskin kalian. Dengan senang hati aku talak kamu, Yuni! Kita bukan suami-istri lagi, sebentar lagi aku akan kembali kepada Adelia". Ucap Alfan, dengan lantangnya. Dia tersenyum sumringah, seakan-akan mengejek Yuni.
__ADS_1
"Jangan senang dulu mas,keluar dari rumah sakit ini. Kamu akan mendapatkan hadiah tamparan keras, kehidupan mu akan hancur". Sahut Yuni, tersenyum merekah.
"Hahahaha...Yang ada kamu, Yuni. Menangis kesegukan meratapi nasibmu, sudah bercerai dengan pria tampan seperti ku ini". Alfan, tertawa terbahak-bahak.
Beruntung di dalam ruangan, tidak ada orang lain. Sehingga tidak mengganggu pasien lainnya, tidak ditegur dokter atau perawat.
"Ayo,bu. Kita pulang,aku sudah puas balas dendam kepada pria seperti mas Alfan. Biar dia bersimpuh di kaki ku, tidak akan pernah bisa meluluhkan hati ini". Tegas Yuni, akhirnya mereka meninggalkan ruangan bu norma yang masih belum sadarkan diri.
Sedangkan Alfan, cekikikan tertawa mendengar ucapan Yuni.
Alfan, beberapa menghubungi Adelia dan mengirimkan pesan. Namun tak kunjung di balas,atau mengangkat telponnya. "Sial,awas kamu Adelia. Aku akan menuntut dirimu, karena lalai menjaga ibuku. Sekarang ibuku masuk rumah sakit,kamu harus bertanggung jawab dan menikah dengan ku". Gerutu Alfan, nampak frustasi karena memikirkan mantan istrinya itu.
"Tapi, darimana Yuni tau? Jika aku berselingkuh dengan Devi,apa jangan-jangan ada yang memberitahunya. Aaaarrgghh...Sial,kalau Devi melakukannya. Mati kutu aku,akan kehilangan Adelia selamanya". Alfan, mengusap rambutnya ke belakang.
*************
"Hemmm...Hemmm...". Adelia,bergumam bernyanyi sambil menyiram kebun di belakangnya. Bermacam-macam sayuran,yang dia tanamkan lumayan banyak.
"Ayo, sarapan dulu". Kata Bimo, memanggil Adelia di ambang pintu belakang rumah.
"Iya,mas". Jawab Adelia, langsung mematikan kran air. Sudah selesai juga,menyiram tanamannya.
Bimo, menata makanan di meja makan. 2 bungkus nasi kuning,aromanya harum terbungkus daun pisang.
Adelia, menuju meja makan dan sudah membersihkan tangan dan kakinya.
"Pagi ini,cuman nasi kuning saja yang ada". Kata Bimo, melirik sekilas ke arah istrinya.
"Gak papa mas, apapun aku makan". Jawab Adelia,dia memang tidak memilih hal makanan. Terpaksalah beli di luar,bahan stok makanan habis.
"Setelah selesai makan,kita beli stok makanan yah. Isi kulkas kosong melompong,cuman ada telor doang. Kalau uang yang aku kasih kemarin habis,kenapa gak bilang?". Tanya Bimo, keheranan dengan Adelia.
__ADS_1
"Mas,uang yang kamu kasih masih ada kok. Emang waktunya habis stok makanan di kulkas, rencananya mau beli kemarin. Karena ada kendala,gak jadi". Kekehnya Adelia, tersenyum kecil.
"Ha!Uang yang aku kasih kemarin gak habis?". Tanya Bimo, keheranan dan langsung di angguki Adelia. "Itu uangmu loh,kalau habis gak papa. Terus,kamu belanja pakai uang siapa? Uangmu kah?". Tanyanya lagi.
"Iya,mas. Aku gak enak loh,bukan siapa-siapa. Tapi,mas Bimo sudah ngasih uang banyak". Jawab Adelia, malu-malu kucing.
"Tapi, semua itu sudah hak mau Del. Berapa sisa uangnya,biar mas tambahkan?". Tanya Bimo,dia memang royal kepada keluarganya. Apa lagi kepada sang istri, seperti dulu terhadap Widya. Sampai sekarang Widya, menyesali perbuatannya karena meninggalkan Bimo.
"Hmmmm...Masih 2 juta lebih mas,". Jawab Adelia, tertunduk kepala.
Bimo, menepuk jidatnya karena Adelia begitu hemat dengan uang yang di berikan nya. "Belanja apa kamu, Del? Uang yang aku kasih belum habis".
"Eee... Belanja makanan mas,cuman itu saja". Jawab Adelia,mengulum senyumnya.
"Berikan nomor rekening mu,aku akan mengirim uang bulanan nantinya". Kata Bimo, langsung di geleng kepala oleh Adelia.
"Nanti saja mas,uang yang ada masih kok". Tolak Adelia, langsung.
"Oh, atau jangan-jangan kamu ingin aku selalu menemani belanja bulanan begitu? Oke, tidak masalah". Kedip mata Bimo, sontak membuat Adelia salah tingkah.
"Eee..Gak gitu mas,ayo kita makan sama-sama dulu". Alasannya Adelia, mengalihkan pembicaraan mereka berdua. Jangan di tanya lagi, jantungnya berdegup kencang.
Bimo, menyunggingkan senyumnya. "Adelia, aku pergi dulu yah. Setelah sarapan ini,ada perlu sebentar kok". Ucap Bimo, memberitahu dirinya akan pergi.
"Iya, mas". Jawab Adelia,merasa lega karena suaminya akan pergi.
"Ingat, jangan kemana-mana sebelum ijin dariku. Karena aku adalah suamimu,jangan pergi ke rumah mantan suamimu. Apapun alasannya, walaupun sekedar mantan ibu mertua mu. Kalau ada macam-macam, misalnya mantan suamimu memaksa nanti. Hubungi aku secepatnya,jangan takut". Kata Bimo, tidak akan membiarkan Adelia dekat dengan mantan suaminya atau berkomunikasi terlalu dekat.
"Iya,mas. Jangan lama perginya yah,aku yakin sekali. Mantan suamiku datang ke sini, apa lagi kalau bukan meminta bantuan kepada ku". Pinta Adelia, sebenernya malu sekali berkata seperti itu.
"Tenang saja,cuman sebentar kok". Bimo, tersenyum mendengar ucapan sang istri.
__ADS_1
Adelia, mengangguk pelan dan gelisah gusar. semoga suaminya cepat pulang, sebelum mantan suaminya datang. Mau mencegah kepergian Bimo,mana mungkin baginya.