
Di sebuah restoran mewah, dimana Adelia di ajak Bimo makan malam bersama.
Bermacam jenis makanan di meja, Adelia kebingungan mau yang mana.
Suasana yang romantis,alunan musik yang dimulai. Lilin-lilin kecil dan bunga mawar menghiasi sekililing ruangan.
"Mas, makasih yah. Sudah mengajak ku makan malam di sini, tempatnya bagus". Kata Adelia, malu-malu kucing.
"Sama-sama,aku senang kamu suka". Bimo, tersenyum dan mengelus lembut pipi istrinya. Tentu saja, suasananya sangat romantis. Aku sudah memesan tempat ini,di hiasi bunga mawar dan lilin.
Adelia,mana tau jika suaminya sudah memesan terlebih dahulu. Dengan rasa malu,gugup sekali,mulai menyantap hidangan yang disajikan.
Bimo, sesekali melirik istrinya sangat cantik malam ini. "Makan yang banyak". Kata Bimo, tersenyum manis.
Adelia, mengangguk pelan dan mengambil menu makanan lainnya.
30 menit kemudian, mereka berdua meninggalkan restoran mewah tersebut.
"Kemana lagi kita mas? Jalannya beda,bukan jalan pulang". Tanya Adelia, kebingungan dan menoleh ke arah suaminya.
"Kamukan istri ku, terserah dong mau di bawa kemana. Emangnya kenapa,kamu takut?". Tanya Bimo, tersenyum smrik.
"Gak,mas. Cuman aneh aja,mau jalan-jalan tapi sudah malam". Jawab Adelia, meremas ujung bajunya.
"Tenang saja, kamu tau kok nanti". Kekehnya Bimo, merangkul pundak istrinya sambil menyetir mobil.
Beberapa menit kemudian, Adelia mengerutkan keningnya. Saat sang suami, memasuki parkiran hotel.
"Hotel,mas?". Tanya Adelia,ketika Bimo mau turun dari mobil.
"Iya,kita akan menginap di sini. Anggap saja, bulan madu yang tertunda". Bisik Bimo, menggigit daun telinga istrinya.
Deggg....
Jantung Adelia langsung berdegup kencang, belum persiapan apapun. Rupanya Bimo, malah mengajak ke hotel untuk belah duren.
"Ayo,kita turun". Bimo, membukakan pintu mobil untuknya.
Adelia, terkejut mendengar ucapan sang suami yang sudah membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Kenapa,kamu gak suka?". Tanya Bimo,yang keheranan melihat sikap istrinya.
"Eee...Gak mas, cuman deg-degan aja". Kekehnya Adelia, sudah turun dari mobil. Tiba-tiba saja, Bimo menggenggam jemari tangannya.
Deggg....
Adelia,tak sanggup mengontrol detak jantungnya berdegup kencang. Melihat senyuman Bimo, begitu manis. Dia mengikuti langkahnya, masuk kedalam hotel.
Bimo,menuju ke resepsionis hotel dan mengambil kunci kamar.
"Rileks,jangan gugup". Bisik Bimo,menarik tangannya.
Astaga! Aku benar-benar gugup sekali,beda dengan mas Alfan dulu. Ketika malam pertama kami,aku menyerahkan mahkota selama ini yang aku jaga. Sekarang ketakutan,gugup,gelisah ku, melebihi kehilangan keperawanan. Batinnya Adelia, semakin erat menggenggam jemari tangan suaminya. "Mas,jangan kencang-kencang jalannya. Susah nih,aku pakai gaun panjang". Bisiknya, begitu menggemaskan bagi Bimo.
"Maaf,aku lupa sayang". Kata Bimo, sontak mata Adelia melotot sempurna mendengarnya.
"Apaan sih,mas?". Kata Adelia, pipinya sudah merah merona. Huuuff.... Tenang Adelia,jangan gugup seperti ini. Bukan yang pertama loh,ingat itu.
"Ayo, kita masuk. Kenapa diam,mau aku gendong sekarang?". Tanya Bimo, membuyarkan lamunan istrinya lagi.
Adelia, terkejut mendengar ucapannya dan langsung menggeleng kepala.
Mata berbinar-binar melihat sekeliling kamar hotel,yang akan mereka tempati malam ini. Aroma bunga mawar merah, menyeruak masuk kedalam hidungnya. Sangat romantis sekali, lilin-lilin kecil dimana-mana. Kelopak bunga mawar, berserakan di lantai dan berbentuk hati di atas ranjang.
Deggg....
Lengan Bimo, melingkar di perut Adelia. Dia memeluk dari belakang, membenamkan wajahnya di leher sang istri.
"Aku mau mandi dulu" Bisik Bimo,melerai pelukannya dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Adelia, memegang dadanya berdebar kencang. "Huuuff... Lama-kelamaan aku bisa mengidap penyakit jantungan,mas Bimo bisa aja seromantis ini. Makasih banyak mas,aku belum pernah seperti ini". Gumamnya pelan, sangat bahagia luar biasa.
Beberapa menit kemudian, Bimo sudah keluar dari kamar mandi dan di gantikan oleh Adelia. Dia tiba-tiba merasa gerah,ada baju piyama di lemari yang di sediakan oleh Bimo.
Adelia, memutar kran shower dan membasahi tubuhnya. Cukup lama dia berada di kamar mandi, memandang dirinya di pantulan cermin. Dadanya semakin berdebar kencang, tangannya sudah gemeteran ketika membuka handle pintu.
Ceklekk...
Selangkah demi selangkah, Adelia sudah keluar dari kamar mandi. Mata Bimo, tertuju kepada istrinya dan tersenyum. Dia berlahan mendekati tubuh istrinya,membelai lembut.
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu lagi, Bimo langsung menyambar bibir ranum sang istri. Ciuman Bimo, semakin agresif dan mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang.
Adelia, terkejut dengan sikap suaminya. Berusaha menyeimbangi ciumannya, membiarkan sang suami melepaskan jubah mandinya.
Glekkkk....
Bimo, menghentikan ciuman dan melihat pemandangan di bawah kungkungannya. Tubuh sang istrinya sudah polos,tak terhalang sehelai benang pun.
Wajah Adelia, memerah seperti kepiting rebus dan berusaha menutup aset pribadinya.
"Kenapa ditutupi, biarkanlah aku memandanginya". Kata Bimo, dengan suara seraknya.
"Hmmmm...Malu mas". Jawab Adelia,tak berani memandang wajah suaminya.
"hussssttttt...! Jangan malu sayang,aku ini suamimu". Bisiknya Bimo,mulai mengalihkan tangan Adelia.
"Uughhh..!". Lenguhan kecil,keluar dari mulutnya. Tak mampu menahan lagi,cukup lama Bimo bermain di dua gundukan silih berganti. Tangannya tak tinggal diam, meraba-raba di bagian bawah.
Adelia, mendongak ke atas matanya merem melek. "Massss....! Uughhh....Hmmmm!". Lenguhannya, sangat merdu sekali di dengar Bimo. "Pelan mas,aaahh!". Des-ahnya, ketika Bimo semakin mempercepat jarinya.
Bimo, menelusuri setiap lekukan tubuh istrinya. Tak ada yang di lewati,malam pengantin yang sudah lama tertunda.
Tiba dimana Adelia, langsung terdiam dan membeku. Melihat Bimo, tersenyum manis dan mengarahkan senjatanya.
Glekk...
Besar dan panjang,apa muat dan pasti sakit.Batin Adelia, bergidik ngeri melihat milik suaminya.
Bimo, menggesekkan miliknya dan menatap wajah sang istri. Dia tau, jika Adelia sangat tegang dan sudah lama tidak melakukan hubungan intim.
"Rileks sayang,jangan tegang nanti perih". Kekehnya Bimo, menahan diri dulu.
"Ssstttt... pelan-pelan mas, perih nih". Adelia, mencekram lengan suaminya.
"Susah sayang, sempit punya mu. Sabar yah,sakit sebentar kok". Bujuk Bimo,mulai menelusuri leher Adelia dan mencium bibirnya.
"Hhhmmmpptt....!". Adelia, menahan rasa perih di bagian bawahnya. Sedikit demi sedikit masuk sampai keseluruhan, merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
Bimo, memeluk erat tubuh istrinya dan memberikan ciuman bertubi-tubi. "Apa kamu menunda kehamilan, sayang". Tanya Bimo, sebenarnya dia ingin Adelia tak menunda kehamilan. Usianya tak muda lagi,mapan, cukup membahagiakan keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Tidak mas, aku ingin memiliki anak". Jawab Adelia, tersenyum dan mengelus lembut wajah suaminya. Dia memberikan ciuman bertubi-tubi,ada rasa malu yang ditahannya.
"Baiklah,kita mulai sayang. Harus sering-sering kita melakukannya,biar cepat jadi". Kekehnya Bimo,mulai menggerakkan pinggulnya.